NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dua Ikrar

Cinta Dalam Dua Ikrar

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Pelakor jahat / Pihak Ketiga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:315.6k
Nilai: 5
Nama Author: viaeonni

⛔: Ini hanya fiksi, jika terdapat kesamaan nama, tempat atau kejadian, itu hanyalah kejadian yang tidak disengaja.

Wilona percaya ia memiliki segalanya—cinta, rumah tangga yang hangat, dan suami yang setia. Tapi semua runtuh saat seorang wanita datang membawa kenyataan pahit: ia bukan satu-satunya istri. Lebih menyakitkan lagi, wanita itu telah memberinya sesuatu yang tak bisa Wilona berikan—seorang anak.

Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, Wilona harus memilih: terpuruk dalam luka, atau berdiri dan merebut kembali hidupnya.


"Ketika cinta tak cukup untuk setia… akan kau pilih bertahan atau pergi?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon viaeonni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

Wilona baru saja hendak melangkah keluar ketika suara langkah kaki Aryan terdengar memburu dari belakang. Tangan kekar itu mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras, membuat tubuhnya terhentak mundur.

"Kamu nggak akan pergi ke mana-mana, Wilona!"

"Lepaskan! Kamu sudah menyakitiku cukup!" teriak Wilona berusaha melepaskan diri.

Namun Aryan seperti bukan lagi dirinya. Matanya merah, napasnya memburu, dan tubuhnya seperti kehilangan kendali. Ia menyeret Wilona masuk ke kamar lagi dengan paksa, pintu dibanting tertutup di belakang mereka.

Malam itu menjadi malam tergelap dalam hidup Wilona.

Aryan berubah menjadi sosok yang buas, kasar, dan beringas tangannya menekan, mendorong, dan memukul tanpa ampun. Wilona berteriak, menangis, meronta, tapi semua sia-sia.

Aryan memperlakukan Wilona dengan kasar malam itu, seolah tak peduli lagi bahwa yang ada di hadapannya adalah istrinya sendiri. Tak ada kelembutan, tak ada cinta, hanya amarah dan pelampiasan. Wilona hanya bisa diam, menahan sakit yang menghujam dibawa sana, tubuhnya terasa terbelah kala pria itu memasukinya tanpa perasaan.

Bibirnya pecah, pipinya memar, dan tubuhnya penuh luka yang bukan hanya di kulit, tapi juga di dalam hati.

Kehormatan dan harga dirinya dicabik-cabik.

Dan yang paling mengerikan, adalah tatapan kosong Aryan setelah semua itu terjadi. Seperti tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan.

Beberapa menit kemudian, pria itu terduduk lemas di lantai. Kepalanya tertunduk, kedua tangan menutupi wajahnya. Isaknya terdengar lirih, seperti anak kecil yang kehilangan arah.

"Aku tidak mengerti... Aku benar-benar tidak tahu kenapa aku bisa menjadi seperti ini..." ucapnya dengan suara bergetar, nyaris tak terdengar.

Itu bukan tangisan penyesalan. Itu adalah tangisan ketakutan. Tangisan orang yang baru saja kehilangan kendali.

Wilona memandang pria di depannya dengan tubuh gemetar. Setetes darah mengalir dari pelipisnya, namun sorot matanya tampak hampa, seolah jiwanya telah pergi jauh dari tempat itu.

Dengan suara lirih namun tegas, ia berkata,

"Kamu bukan manusia Aryan, kamu binatang, menjijikan."

"Kamu sakit mental..."

Plak

Tamparan keras kembali mendarat di pipi Wilona yang masih terbaring lemah, tubuhnya belum tertutup sehelai kain pun. Wajah Aryan yang semula diliputi penyesalan, berubah seketika menjadi penuh kemarahan. Tatapannya menusuk, sorot matanya gelap dan tak terkendali.

Wilona terisak pelan. Darah mengalir dari sudut bibirnya, namun ia tidak lagi menangis karena sakit, melainkan karena hati yang semakin hancur.

"Aryan… cukup…," suara Wilona nyaris tak terdengar saat pria itu mencengkeram pipinya.

Namun bukannya mereda, Aryan justru semakin kalap. Tangannya mencengkeram wajah Wilona begitu kuat, seolah ingin meremukkan tulangnya. Sorot matanya gelap dan penuh amarah.

"Tutup mulutmu!" bentaknya, napasnya memburu tak teratur. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu padaku! Belum cukup aku perlakukan kamu seperti ini?! Mau aku sobek mulutmu, hah?!"

Dengan kasar ia mendorong wajah Wilona ke arah samping, membuat tubuh perempuan itu terhempas lemah ke bantal. Wilona menggigit bibirnya, menahan tangis, dan menahan nyeri di sekujur tubuhnya.

"Ayo, bilang sama aku!" bentak Aryan sambil mencengkeram kedua pipi Wilona dengan kasar, memaksanya menatap tepat ke arah wajahnya. Napasnya memburu, mata merah membara oleh amarah yang membuncah. "Dari mana kamu dapat foto-foto itu?! Siapa yang berani-beraninya membantumu dan mendorongmu untuk melawan aku? Jawab, Wilona!"

Cengkramannya begitu kuat hingga wajah Wilona terasa nyeri. Ia mencoba menarik diri, tapi Aryan tidak memberinya ruang untuk bergerak.

Sore tadi, Wilona memang mengirimkan surat gugatan cerai bersama beberapa lembar foto yang membuktikan perselingkuhan Aryan, bukti yang ia dapatkan dari Amanda. Kini, keputusannya itu menjadi bumerang. Ia tahu betul, di hadapannya kini bukan lagi seorang suami, tapi pria yang kehilangan kendali dan bisa melakukan apa saja, bahkan membunuhnya jika ia terus diam.

"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memberimu foto-foto itu?!"

Wilona menelan ludah, tubuhnya gemetar hebat, tetapi ia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh. "Aku... aku hanya ingin kamu berhenti membohongi aku, Aryan…" bisiknya lirih.

"Jawab yang jelas!!" pekik Aryan tepat di depan wajahnya, suaranya menggema di seluruh sudut rumah. Tangannya semakin menekan rahang Wilona, membuat wanita itu meringis kesakitan.

"Amanda… yang memberikannya," akhirnya Wilona mengaku dengan suara nyaris tercekat.

Aryan terdiam sejenak. Rahangnya mengeras. Matanya menatap kosong, namun berbahaya.

"Amanda…" gumamnya pelan. Lalu, tanpa peringatan, dia melempar Wilona ke atas tempat tidur dan berjalan mondar-mandir di kamar seperti harimau yang marah.

"Jadi dia yang berani-beraninya menusukku dari belakang," desisnya. "Bagus… sangat bagus…"

Wilona hanya bisa menatap nanar dari sudut ranjang, tubuhnya masih gemetar hebat. Napasnya pendek-pendek, tercekat oleh ketakutan yang membungkus seluruh dirinya. Ia memeluk lututnya erat, berusaha menenangkan diri meski jantungnya berdebar begitu kencang.

Di depannya, Aryan terus berjalan mondar-mandir, langkahnya berat dan tak beraturan. Pria itu meracau sendiri, suaranya naik turun tak karuan, seakan berbicara dengan bayangannya sendiri. Sungguh gila.

Wilona menelan ludah, ketakutan setengah mati. Ia mengenali pola itu. Tatapan kosong yang tiba-tiba berubah tajam, gerakan tak terkontrol, dan amarah yang meledak tanpa alasan. Penyakit bipolarnya pasti kambuh. Kali ini lebih parah, lebih menyeramkan.

Tatapan itu tajam, gelap, penuh amarah sama persis seperti yang pernah Wilona lihat. Saat Aryan menyeretnya dari kedai kopi dulu, membawanya pergi dengan cara kasar, tanpa memedulikan protesnya.

Perjalanan penuh emosi itu berakhir dengan kecelakaan. Dan sejak hari itu, hidup Wilona tak pernah sama lagi. Ia kehilangan bukan hanya harapannya, tapi juga bagian dari dirinya yang tak tergantikan.

Kini, melihat sorot mata yang sama, Wilona hanya bisa menahan napas. Ketakutan itu kembali, membungkam seluruh logikanya.

Air mata menetes perlahan di pipinya. Dalam hatinya, ia hanya bisa berdoa agar malam ini cepat berlalu dan ia bisa keluar dari neraka ini dengan selamat.

Matanya masih menatap takut ke arah Aryan, yang kini telah mengenakan celana dan kemejanya. Gerak langkah pria itu tenang, namun sorot matanya sulit ditebak, campuran antara kegilaan dan kepemilikan yang mencekam.

Saat Aryan mendekat ke sisi ranjang, tubuh Wilona spontan meringkuk, mencoba menjauh sebisa mungkin.

"Jangan takut, Sayang... Kamu masih milik Mas di sini," gumam Aryan dengan suara lirih yang dingin.

Tangannya menyentuh rambut Wilona, membelainya dengan lembut namun penuh tekanan yang mengancam. "Mas akan buat perhitungan dengan Amanda. Dia yang menyebabkan semua ini... Dia yang harus bertanggung jawab atas kondisimu sekarang."

Senyumnya terlihat tipis, tetapi lebih menyeramkan daripada menenangkan. Lalu, tanpa diduga, Aryan menunduk dan mengecup kening Wilona. Bibirnya menyentuhnya dengan perlahan, bukan dengan kasih, tapi dengan obsesi yang membingungkan.

Wilona memejamkan mata, berharap segalanya segera berakhir. Namun saat ia kembali membuka matanya, pria itu sudah melenggang pergi, meninggalkan dirinya dalam keadaan menyedihkan. Namun, ia merasa lega seolah ia terbebas dari penyiksaan di neraka.

BERSAMBUNG.....

JANGAN LUPA BERI LIKE, KOMEN DAN VOTE

DUKUNGAN TEMAN-TEMAN SEMUA SANGAT BERHARGA.....LOVE YOU ALL.....

1
Maria Magdalena
apa labar dgb klrg somplak alias klrg danu
Maria Magdalena
semoga maknya Aryan tahu suaminya selingkuh nggak bunuh diri 😁😁😁
Ira Nadira
thorrr you oke kan??? ceritanya kok gantung?!
Ira Nadira
salah paham lagi😔😔
Ony Syahroni
bagus ceritanya thor,lanjut
𝗔𝗧𝘂𝗮 𝗞𝗼𝗲𝗶𝗻𝗮𝘁𝗮
𝑩𝒆𝒓𝒔𝒂𝒎𝒃𝒖𝒏𝒈... 𝑻𝒂𝒑𝒊 𝒅𝒊 𝒄𝒐𝒗𝒆𝒓 𝒅𝒆𝒑𝒂𝒏 𝒖𝒅𝒂𝒉 𝒆𝒏𝒅... 𝑺𝒆𝒃𝒆𝒏𝒂𝒓𝒏𝒚𝒂 𝒂𝒅𝒂 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏 𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒔𝒊𝒉 𝒄𝒆𝒓𝒊𝒕𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒊𝒏𝒊? 𝑺𝒂𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒌𝒂𝒍𝒂𝒖 𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒅𝒊𝒍𝒂𝒏𝒋𝒖𝒕𝒌𝒂𝒏... 𝑷𝒂𝒅𝒂𝒉𝒂𝒍 𝒔𝒆𝒓𝒖... 😄😄😄
Aghitsna Agis
thor ini ada kelanjuranda nga kejudulain
Aghitsna Agis
kon fr marlina dr farah mungkin kan dr marlina lg dipenjara
Maria Magdalena: authornya sedikit typo
total 1 replies
Aghitsna Agis
kalau desain bisa kerjakan firumah wilona kecuali terjun menjahit jgn dampai ujjbg2nya jenyesal
Aghitsna Agis
alasan itu suntik untuk menyembuhkan
Aghitsna Agis
kapan ya lita tauhu suaminya srlingkuh
Hera sasuwe
👍
MamDeyh
Ini beneran END/Cry/.. Masih gantung ceritanya
Maria Magdalena: ceritanya gantung
total 1 replies
Linda Liddia
Udah lama banget gak up
MamDeyh
Kok END kak?
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
Kasih Bonda
next Thor semangat
Rismawati Damhoeri
nasehatin Celina pinterr, tpi kamusendiri Wilona....?
Rismawati Damhoeri
gayaa lah kamu Wilona, nasehatin Celina, suami pertamamu jadi ambil pelakor..
Lydia
Lanjut Author. Terima Kasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!