#Terkadang yang kita anggap obat ternyata adalah luka terhebat#
Novel ini menceritakan seorang laki laki yang bernama Raka Pratama. Raka pernah berpacaran dengan seseorang 5 tahun. Tetapi Ia menjalin hubungan dengan perempuan yang Pondasi hidup nya berbeda. Sehingga Membuat kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka. Dan akhirnya, Ia memilih menyerah.
Luka di hati Raka yang masih basah tersebut , Ia malah bertemu dengan perempuan yang sedang patah hati. mengapa begitu? Rara baru saja mendapatkan kabar bahwa kekasihnya itu dijodohkan dengan perempuan lain. Padahal mereka berdua sudah memikirkan untuk lanjut kejenjang lebih serius.
Dua orang yang sudah patah, bertemu dalam keadaan rapuh. Tanpa sadar mereka saling menjadi sandaran. Bagaimana mereka mengatasi perbedaan dan tekanan dari orang sekitar? Apakah mereka bisa saling menyembuhkan atau justru saling melukai atau bahkan orang yang mereka temui adalah " Jodoh Orang lain "?
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Ikutin terus yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elga Rista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Kristiana tidak menjawab.
Ia hanya memaksakan senyum kecil.
Senyum yang sama sekali tidak membuat hati Raka tenang.
Dan justru itu yang paling menakutkan.
Karena apa pun yang belum keluar dari bibir Kristiana…
Itu adalah sesuatu yang bisa mengubah seluruh arah hubungan mereka.
Sesuatu yang tidak bisa ditarik kembali.
Setelah selesai makan . Kristiana masih duduk di seberang Raka dengan wajah yang tampak lebih lelah dari semalam. Kedua matanya sembab, seolah kurang tidur. Dari caranya menunduk, Raka tahu ada sesuatu yang berat yang ia sembunyikan.
"Rak… aku mau cerita,” ucapnya lirih.
Raka mengangguk pelan. “Aku dengerin.”
“Aku kemarin berantem sama Mama dan Papa,” ujar Kristiana, suaranya serak. “Berat, Rak. Capek banget.”
"Mereka menyuruh ku segera menikah. Dan menyuruh kamu segera menikahi aku." lanjutnya lagi
Raka menegakkan duduknya. Raka menahan napas.
“Tapi itu bukan cuma permintaan, Rak.”
Kristiana mengangkat wajahnya, dan air mata yang ia tahan jatuh juga. “Itu tuntutan.”
Keheningan menekan meja makan itu.
“Aku sudah dewasa Raka,” lanjutnya, suaranya memecah. “Mama bilang… umurku sudah pantas untuk menikah. Dan kalau kamu memang sayang sama aku, kamu harus nunjukkin.”
Raka memejamkan mata, berat. “Kristi…”
“Aku tahu kamu punya keyakinanmu sendiri,” Kristiana menepuk dadanya, “tapi aku juga punya orang tua. Dan aku tidak mau ngecewain mereka."
"Aku sudah dewasa Raka. Aku juga capek kalau harus nunggu terus, aku juga butuh kepastian,"
"Dan mereka… mereka bilang kalau kamu nggak datang meminang aku… lebih baik kita putus.”
Raka tak mampu berkata apa-apa.
Kristiana menatapnya, merah dan patah. “Rak, kamu mau… menikah sama aku?”
Pertanyaan itu meluncur seperti batu besar yang menghantam dada.
Raka membuka mulut, tapi tak ada satu kata pun yang keluar.
Diam.
Hanya diam.
Dan diam itu lebih menyakitkan dari penolakan.
Kristiana tersenyum kecil pucat dan menyedihkan. “Udah. Aku ngerti dari arti diam kamu.”
“Kristi, bukan gitu maksudku—”
“Aku pulang dulu.”
“Biar aku antar.”
Kristiana menggeleng cepat. “Nggak perlu. Aku naik taksi aja.”
Raka berusaha berdiri, tapi Kristiana menahan tangannya.
“Jangan ikut. Aku butuh sendiri.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Raka duduk sendirian.
Di restoran yang kini terasa seperti ruang kosong yang membeku.
Raka menatap meja tanpa fokus. Dadanya penuh rasa bersalah, takut, cinta, dan keyakinan yang saling bertabrakan.
Ia menunduk.
Pikirannya berputar.
Kenapa cinta membuatnya terasa seperti sedang memilih siapa yang harus ia lukai?
Dalam diam, ia bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah cinta harus diperjuangkan sampai hancur?
Atau harus dilepas sebelum semuanya terlambat?
KEESOKAN PAGINYA.....
Aroma telur dadar memenuhi ruang kecil itu. Rara duduk di lantai sambil memegang roti bakar, sementara Nayla buru-buru merapikan jilbabnya.
Mereka pun segera Sarapan. Sarapan pagi terasa lebih hangat dari biasanya. Rara mengunyah pelan roti bakarnya sementara Nayla sibuk menyiapkan kopi sachet.
“Kamu masih kepikiran soal kemarin?” tanya Nayla sambil menuangkan air panas kedalam gelas kopinya.
“Masih sih,” jawab Rara, berusaha tersenyum. “Tapi aku nggak mau mikirin Dhian pagi-pagi. Mood-ku bisa rusak.”
Nayla mendelik. “Bagus! Energi buat kerja jangan dibuang buat cowok yang bikin hati kamu amburadul.”
“Kamu ini…” Rara tertawa kecil.
“Kamu kelihatan mendingan,” ujar Nayla sambil duduk di kursi yang berada didepan meja makan dan membawa kopinya
“Lumayan,” jawab Rara. “Setidaknya aku bisa tidur.”
Nayla cengengesan.
Sarapan berlangsung hangat. Keduanya sudah siap untuk berangkat saat ponsel Rara tiba-tiba bergetar keras di meja.
Siapakah itu......
(BERSAMBUNG......)
------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti terus kisahnya di bab selanjutnya ✨
Jangan lupa beri komentar, saran, dan like
Karena dukungan kalian merupakan semangat untuk author membuat cerita. Terima Kasih sudah membacanya❤️