Semenjak Kamu pergi.. Tak tau bagaimana lagi harus menata hati ini. Hancur berkeping terasa hampa tanpa kamu disini. Begitu sakitnya hati, membelenggu jiwa yang entah sampai kapan akan berakhir. Aku sangat menyayangimu Yara, kini aku kehilanganmu, kamu tinggalkan ku bersama dua buah hati kita hingga aku menemukanmu Zalfa Arshila.
Seluruh yang ada pada dirimu tak ubahnya seperti Yara istriku yang telah tiada. Bayangan Yara melekat kuat dalam dirimu. Tapi kusadari.. Shila dan Yara adalah dua orang yang berbeda. Apa rasaku ini karena kedua anak ku atau kah kamu memang mengisi ruang hatiku.. Yang jelas saat ini yang kutahu.. ada sosok baru di hidupku, yaitu kamu Zalfa Arshila.
Lanjutan Kisah cinta Kapten Rivaldi Alfario. Happy reading!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Seorang Rival.
Rival mengangkat badan Shila agar bisa duduk di meja ruang kerjanya. Rival mendekatkan bibirnya ke bibir Shila. Istri Rival itu langsung mengalungkan lengannya di leher Rival. Tangan Shila bermain di tengkuk Rival dan masuk ke sela kerah leher sampai punggung.
"Kamu bikin semrawut pikiran dan hati Abang"
Rival langsung ******* bibir manis Shila saat merasakan kontrol dirinya mulai hancur perlahan. Shila melepas pelan pagutan suaminya.
"Sabar bang, nanti di rumah saja!"
"Terlalu lama, 'dia' nggak mau nunggu" suara parau Rival sudah tidak karuan.
"Masa Abang mau lakukan disini??" tanya Shila.
Hati Rival dikuasai penuh dengan libido nya yang mulai meninggi seperti orang kerasukan tak mempedulikan ucapan istrinya. Rival membuka jilbab Shila lalu membuka kancing baju Shila dengan tidak sabar. Rival yang sudah merasa gerah dengan kelakuan liarnya itu membuka kancing baju seragamnya dengan kasar. Nafas memburu kian menjadi.
Cekleeekk...
Tak sengaja Oka melihat 'adegan berbahaya' abangnya itu, ia kaget bukan main lalu menutup perlahan pintu ruangan Danki. Telinganya menempel sekilas karena suara kecil dan asing dari bibir istri Danki membuatnya salah tingkah. Ia memilih pergi daripada pikirannya semakin kotor.
"Kampret betul si Abang. Bisa-bisanya mau nengokin anak di kantor. Ganas juga si Abang sesuai dengan julukannya" Oka menepuk dahinya.
Oka berjalan dengan pikiran melayang. Sebagai pria dewasa melihat hal itu tentu saja membuat isi kepalanya kemana-mana.
bruuggh
"Aduuuhh"
Oka menabrak seorang gadis hingga terjatuh di depan luar pos kesatrian. Ia berjalan melamun sampai tidak sadar kemana ia melangkah kan kaki.
"Maaf mbak, saya nggak sengaja" kata Oka.
"Nggak apa-apa pak" jawabnya sambil menunduk membereskan dagangan kue yang berserakan. Gadis itu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.
"Biar saya ganti yang rusak!" Oka merasa tidak enak.
deg..deg..
Jantung Oka berdetak kencang saat melihat wajah gadis penjual kue di hadapannya.
"Nggak perlu pak, saya pamit dulu" ucap gadis itu dengan terburu-buru.
"Saya beli semuanya!!!!" kata Oka.
"Bapak yakin??" tanya gadis itu dengan wajah berbinar.
"Iya benar, cepat bungkus!!!"
Tak lama gadis itu sudah membungkus kue yang gadis itu bawa.
"Siapa namamu? besok datang lagi ya!" perintah Oka penuh maksud terselubung.
"Nama saya Melati pak" jawab gadis itu.
"Waahh..saya belum tua" protes Oka.
Gadis itu tersenyum menunduk, tapi wajah Oka yang memerah karena malu.
"Lanjut di rumah saja ya dek! Abang ada apel siang nih" Rival memakai pakaiannya dengan cepat.
"Iihh.. Abang" Shila nampak cemberut. Rival tau sekarang istrinya yang merasa kurang.
"Abang janji nanti lanjut di rumah. Sekarang Abang sibuk ambil apel siang ini lho dek" Rival kalang kabut mencari sabuknya yang entah ia lempar kemana. Wajah Shila masih di tekuk, nampak sekali wajah Shila yang kecewa.
"Maaf sayang, Abang mengecewakan. Nanti Abang ganti" sesal Rival sambil tangannya mengambil jilbab Shila lalu memakaikan di rambut Shila.
"Tunggu Abang di rumah!!" Shila memalingkan wajah. Rival mengecup puncak kepala Shila.
"I love you" Rival terpaksa meninggalkan Shila diruangannya karena waktu apel sudah sangat mepet.
______
Shila menutup pintu ruangan suaminya.
***
"Saya baru lihat Bu Danki baru keluar dari ruangan Abang" tanya Oka pura-pura tidak tau saat menegur Rival.
"Iya, tadi dia pusing, jadi saya temani dia di ruangan" jawab Rival sambil mengecek layar ponselnya.
"Oohh.. kirain..Abang minta jatah" tampang Oka di buat sepolos mungkin.
Rival kaget dan menoleh ke kiri dan ke kanan dengan panik.
"Woohooo... benar nih bang" tanya Oka penuh selidik.
"Bisa diam tidak?? itu urusan empat kali empat" tegur Rival.
"Hahahaha... Danki" ledek Oka.
***
Rival pulang dari kantor langsung menuju tempat 'isi peluru'.
Bini ngambek mah susah. Kalau Shila yang ngamuk..udah..nggak ada obatnya. Oke Val.. demi istri tercinta apapun harus di jalani.
Rival melaju cepat agar bisa cepat pulang juga.
"Astagfirullah.. paite ampuunn tenan" keluh Rival.
Rival mengecap bibirnya masih terasa pahit di mulut. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum licik.
"Nggemeske tenan to Kowe ndhuk" gumamnya dalam hati membayangkan Shila istrinya.
***
Rival selesai mandi karena ia pulang malam hari ini. Arben dan Abrian ikut Randy dan Naya di rumah Oma buyut. Setelah sholat, Rival melihat Shila sedang menyetrika baju seragamnya dan masih tetap dengan mode cemberut. Rival mendesah penuh sesal disana.
"Masa Abang dapat cemberut dari tadi sich" kata Rival sambil mepet duduk memeluk Shila. Istrinya masih diam sambil terus menyetrika.
"Ya sudah lah kalau masih marah. Padahal Abang mau genapin yang kurang tadi" Rival mencabut kabel setrika itu. Shila hanya melirik dengan pandangan kesal lalu menumpuk pakaian yang sudah di setrika.
"Ini nih, kebanyakan gensi. Jangan coba sok cari gara-gara dek, Abang patil baru tau rasa kamu. Bisa meriang sampai besok pagi"
Shila mencibir mengikuti gaya bibir Rival.
"Eeehhh.. nakal.. Abang buat meriang benar kamu ya" Rival mengangkat Shila sampai ke dalam kamar.
Shila mulai tertawa kecil. Rival tau istrinya itu tidak benar-benar marah, hanya ingin bermanja saja dengannya karena sudah tiga bulan tidak merasakan belaiannya dan Rival pun juga sangat menikmati moment pribadinya itu.
"Abaaanngg..iihh, begini Abaaanngg!!!!!" suara manja Shila baru terdengar, suara yang sangat khas mengacak-acak insting kejantanan seorang king cobra.
"Weehh..bini Abang. Abang bisa pakai sarung terus nih kalau begini caranya"
________
________
Shila tidur nyenyak sekali, Rival tersenyum lega melihat istrinya sudah bisa terbuka menginginkan ini dan itu dari dia.
Tidur yang nyenyak ya sayang. Abang senang kamu sudah lebih terbuka sama Abang.
"Lain kali katakan dengan jelas kalau kamu merindukan Abang. Jangan kamu tahan"
Rival mengecup kening Shila lalu ikut tidur pulas bersama istrinya. Shila seperti samar mendengar perkataan Rival dan tertanam di dalam hatinya hanya saja matanya sulit terbuka karena ia terlalu lelah.
***
"Dek.. besok USG yuk!! Abang pengen lihat si dedek" ajak Rival.
"Iya bang. Shila juga penasaran" ucapnya senang.
Rival mendatangi rumah sakit dan ternyata ini adalah jadwal praktek dokter Farhan. Rival masih belum bisa memaafkan tentang kejadian sakitnya Yara hingga istrinya itu meninggal. Rival merasa kecolongan dan rasa bersalah itu selalu terasa di hatinya.
"Val... ada apa kamu kesini?" tanya dokter Farhan tapi sesaat kemudian ia melihat Rival menggandeng seorang wanita yang sedang hamil.
"Ini istrimu?" tanya Farhan lagi.
"Kita pulang!!!" ajak Rival menarik tangan Shila sedikit kasar. Farhan menghela nafasnya melihat Rival berjalan menjauhi nya.
"Aaww.. sakit bang" lirih Shila. Rival melepaskan tangannya. Rival membuang nafas memburu yang menyesakan, ia tak bisa menahan emosinya.
"Dia tidak jujur saat istri Abang ada masalah pada kehamilan nya. Yara berjuang dan meninggal dalam kesakitannya dan Abang tidak bisa berbuat apapun. Banyak penyesalan di hati Abang dek" Rival mengepal kuat mengingat saat Yara akan pergi meninggalkannya.
Hati Shila kembali tertusuk namun ia tidak ingin Rival semakin sedih. Ia tau suaminya sedang tertekan saat ini.
"Val.. kita harus bicara. Ada hal yang harus kamu tau"
Rival menatap mata Farhan seolah menyimpan banyak dendam kesumat.
-------
"Cepat katakan!!!!"
"Yara ingin merahasiakan semua ini" ucap Farhan membuka pembicaraan.
.
.