NovelToon NovelToon
PENGGANTI

PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Angst / Pengganti
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: nona yeppo

Yura, gadis kesepian yang tiba-tiba harus pulang ke desa tempat nenek nya tinggal selama ini. Sang ibu yang akan menikah lagi menjadi salah satu alasan untuk kepindahannya.


Ia tidak banyak bicara, hanya menurut dan mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.


Namun siapa sangka, kepindahannya ke desa membuatnya memiliki kehidupan baru yang lebih berwarna. Ia bahkan bertemu dengan gadis yang memiliki nama yang persis sama dengan namanya.


Lantas, akankah Yura berhasil menemukan kebahagiaan walaupun harus hidup berdampingan dengan gadis yang seolah memiliki ikatan dengannya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nona yeppo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masa Lalu Penuh Luka

Nenek yang menyadari kehadiran Yura disampingnya segera menutup buku yang diperhatikan oleh cucunya itu.

Ia melepas kacamatanya, lalu memasukkannya pada kotak sebagai tempat penyimpanan. Disana masih terdapat sebuah kain kecil sebagai lap jika sewaktu-waktu kacamata tua itu berdebu.

"Mama mu itu sangat menderita nak,, " Nenek memulai ceritanya.

"suaminya meninggal saat usia kandungannya masih tiga bulan. "

"Nenek memutuskan untuk membiarkannya pergi, katanya ia sangat tersiksa jika terus berada di antara bayangan suaminya. "

"ada alasan mengapa nenek tidak pernah melangkahkan kaki dari desa ini, "

"tapi belum sekarang, " ucapnya panjang lebar.

"hanya lima bulan ia menjalani kehidupan rumah tangga nya, namun takdir berkata lain. "

"ia harus menjada di usia yang masih sangat muda.. "

Setelah mendengar cerita nenek, Yura memilih untuk termenung didalam kamarnya. Tapi sebelum itu, ia sudah membawa album foto yang ia minta dari sang nenek.

Satu persatu ia buka lembaran demi lembaran. Terlihat foto usang yang hampir memudar. Namun Yura masih bisa menggambar garis-garis wajah itu didalam bayangannya.

"pasti papa" tunjuknya pada seorang pria yang berdiri tepat disamping gapura. Namun bentuk nya masih berbeda, hanya tulisan nya yang sama. Mungkin sudah puluhan tahun yang lalu.

Foto pernikahan kedua orang tuanya pun tak luput dari sorotan mata jernihnya. Ia ingat, dirumahnya tidak ada foto keluarga yang terpajang selain foto kelulusannya sewaktu wisuda TK.

"sekalipun mama mengalami kepahitan, mengapa melampiaskannya padaku,? " tanya Yura pada foto itu.

Sang mama terlihat membencinya, tapi selalu menahannya disamping nya bagaikan patung bernafas yang tidak perlu bicara.

Ditengah keheningan, ponsel Yura yang tergeletak sembarang itu berbunyi. Sebuah panggilan suara dari Steven.

"kak Steven,, !!? " Tentu Yura sangat gembira. Ia telah menanti panggilan ini selama berminggu-minggu lamanya.

Ia melipat kaki nya hampir berjongkok sangking antusiasnya. Padahal orang yang bicara dengannya berada sangat jauh dibelahan dunia yang lain. Tidak akan bisa melihatnya.

"ra, maaf. aku baru bisa menghubungi mu.. " terdengar sahutan dari sana.

Kalimat yang selalu mampu mendebarkan jantung Yura. Pria itu selalu meminta maaf terlebih dulu untuk setiap tindakan nya.

"tidak kak, Yura juga tidak menghubungi kakak, " sanggah Yura.

"bukankah itu daya tarikmu ra? " ucap Steven terkekeh.

Yura juga tersenyum bahagia. Semua masalah boleh datang, asal kak Steven nya ada. Begitulah prinsip yang ia pegang.

Namun dibalik itu, Yura sangat tahu kondisinya. Hubungan ini hanya lah semu, tidak akan ada akhir yang bahagia. Yura hanya ingin memanfaatkan waktu yang ada saja. Ia tidak berani berharap lebih, karena itulah ia selalu menahan diri supaya tidak terlalu mencolok. Ia memilih memendam perasaannya.

"bagaimana sekolah kakak? apa baik-baik saja? "

Terdengar suara nafas Steven yang menembus gendang telinga Yura. Sangat berat, sampai siapapun yang mendengarnya pasti akan turut merasakannya.

"apa kita lari saja ra? " ia malah bertanya_bukannya menjawab pertanyaan Yura.

"ini saja ponsel ku baru dikembalikan setelah aku selesai mendaftarkan sekolahku. Semuanya disita ra.. "

"kak, jangan seperti itu, pasti ada jalan yang terbaik,, " ucap Yura sambil bertanya juga didalam hatinya. "akankah mungkin? "

Terdengar lagi suara nafas Steven, namun kali ini adalah suara tawa. "kau masih sangat kecil Yura, tahu apa kamu tentang itu? "

Yura hanya ikut tertawa, walau dihati agak menusuk. Kedua nya meneruskan obrolannya selama kurang lebih satu jam.

Suara nenek lah akhir nya yang membuat komunikasi itu terputus. Yura pamit jika harus mengerjakan tugas sekolahnya. Masih berbohong.

Sejauh mereka berkomunikasi, Yura masih belum bercerita tentang kepindahannya ini. Rasanya sangat sulit jika harus menambah beban Steven lagi.

"sampai kapan kebohongan ini akan bertahan? "

Yura melihat nenek nya membawa barang belanja. Segera ia menghampiri untuk membantu.

"kau sudah mandi sayang? " tanya nenek yang dijawab anggukan oleh Yura.

"kenapa tidak mengajak ku, ini sangat berat,, " tanya Yura.

"tak apa, nenek sudah terbiasa. anggap saja olahraga,, " jawab nenek Lea.

Yura membantu menyusun dalam diam, semua yang ia ingin tanyakan masih tersusun rapi didalam otak nya.

"bagaimana sekolahmu sayang, pasti berat ya,, " tanya nenek.

"tidak kok nek, semua aman. " ucap Yura menenangkan.

...****************...

Malam berganti, pagi menyambut. Matahari malu-malu menyapa dari ufuk timur. Suasana dipedesaan sangat menyegarkan, membuat Yura memiliki semangat baru.

Saat ia keluar kamar, ia sudah disambut oleh nenek yang lalu lalang memasak didapur. Tubuh renta nya masih sangat gesit melakukan semua pekerjaan nya.

"Biar aku bantu nek, " ucap gadis itu.

"tidak perlu sayang, mandi saja... " sambil mendorong pelan tubuh sang cucu.

Yura yang diperlakukan semanis itu tentu saja merasakan sedikit perasaan aneh didadanya. Bangun pagi disambut oleh suara orang terdekat, pasti sangat menyenangkan.

Setelah selesai mandi, ia mendapat tugas baru dari sang nenek yaitu mengantarkan lauk pauk kerumah mewah diujung sana.

"rumah aneh itu lagi, " sebut Yura didalam hatinya.

"Pakai sepeda saja, walaupun itu terlihat dekat, namun jauh jika berjalan kaki" ucap nenek memberi ultimatum.

Yura menurut, ia melihat bekal yang sudah tergeletak sempurna didalam keranjang sepeda, juga kunci rumah yang tergantung di stang sepedanya.

Rumah mewah bertingkat itu hanya diberi pagar pendek sepinggang saja. Sangat pendek untuk ukuran rumah semewah ini. Mungkin karena dipedesaan tidak sebrutal orang-orang yang tinggal dikota.

Semua tampak nya masih aman dan bersih dari tangan para preman jalanan.

Terlihat lampu-lampu hias dihalaman luas nya masih menyala, pertanda orang yang didalam seperti nya masih terlelap seperti kata nenek tadi.

"anak itu tidak akan terbangun jika tidak dibangunkan.. " ucap nenek beberapa menit yang lalu.

Dengan segera Yura membuka pagar, lalu berjalan masuk dan membuka pintu rumah. Sesaat setelah pintu terbuka, pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah foto keluarga yang berukuran sangat besar menghiasi dinding putih susu itu.

Ups, "pria aneh itu,, "

Yura lalu memandang sekitar, terdapat beberapa ruangan yang sudah dapat dipastikan adalah kamar.

Tapi ada yang janggal, seseorang tertidur disofa lengkap dengan selimut tebalnya. Terlihat ujung kaki nya yang tidak kebagian selimut tebalnya.

"apa aku letakkan saja lalu pulang? " pikirnya.

Namun sesaat setelah melangkah satu langkah, Yura teringat lagi perkataan neneknya. "ingat, dia hanya sendirian, jadi harus bangun. Dia bisa bolos sekolah jika tidak bangun. "

Kembali Yura memutar badannya, pria itu pasti Liam si anak menyebalkan yang mengganggu nya di hari pertama nya sekolah.

Pertama ia menepuk pelan kaki satunya yang terbungkus selimut. Namun tidak ada tanda-tanda akan terjadinya pergerakan.

Yura menghela nafasnya kasar, kembali pukulan yang sedikit keras mendarat, namun kali ini tepat dibahu.

"mmm... " Hanya dibalas dengan gumam-an tidak jelasnya.

Setelah dua kali percobaan yang berakhir gagal, akhirnya Yura memutuskan untuk memukul nya saja.

Dengan cepat ia meraih sapu yang berdiri balik pintu.

"plak... " suara nya sangat renyah menyapa telinga.

Sedangkan pria yang terkena pukulan itu segera terduduk sempurna. Rasa ngantuk nya menguap begitu saja tergantikan oleh rasa nyeri di lengannya.

"nenek, tumben main pukul,, " keluhnya sambil mengucek mata.

Namun sedetik kemudian ia hampir terjatuh dari duduknya saat menyaksikan bahwa bukan nenek-nenek yang berada dihadapannya.

Terlihat wajah masam Yura yang masih memegang sapu ditangannya. Lengkap dengan mata yang melotot sempurna.

"ka-kamu,,? "

.

.

.

Bersambung....

1
anggita
like👍iklan☝., Liam, Yura.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!