NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32. penangkapan reza dan cara untuk kembali ke dunia cerita

Beberapa hari setelah keterangan dan bukti diserahkan, suasana di kantor polisi menjadi tegang. Petugas kepolisian datang ke kediaman Reza untuk melakukan penangkapan sesuai proses hukum yang berlaku. Meskipun telah mempersiapkan diri, Reza tetap terlihat menunduk sesaat sebelum mengangkat wajahnya dengan keteguhan hati. Ia tidak melawan sama sekali, bahkan dengan sukarela menyerahkan diri.

Di depan ruang pemeriksaan, Leon, Dimas, Raka, dan Bimo hadir untuk menyaksikan jalannya proses tersebut. Sebelum dibawa masuk ke dalam ruangan, Reza sempat berhenti dan menatap Leon dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Leon, boleh bicara sebentar?” pinta Reza.

Leon mengangguk, lalu mendekat. Teman-temannya ikut mendekat untuk mendengarkan, terutama Bimo yang tampak memperhatikan setiap kata yang terucap.

“Gue tahu ini waktunya untuk gue mempertanggungjawabkan semuanya,” ucap Reza pelan. “Tapi sebelum gue dibawa, ada satu hal penting yang harus gue sampaikan soal dunia cerita itu.”

Leon terdiam, hatinya berdebar kencang. Ia mengingat kembali setiap momen yang ia lalui di sana, terutama sosok yang selalu hadir di pikirannya.

“Selama berada di sana… gue merasa menemukan bagian dari diri gue yang hilang,” ucap Leon perlahan, matanya menerawang jauh. “Di sana gue bertemu banyak orang, dan ada satu orang yang membuat gue mengerti arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia adalah Liora, putri Kerajaan Cahaya. Tanpa sadar, gue telah jatuh hati padanya. Rasanya bukan sekadar khayalan, tapi perasaan yang nyata dan sulit untuk dijelaskan.”

Reza mengangguk paham, lalu menghela napas panjang sebelum melanjutkan pembicaraannya.

“Gue mengerti perasaan lo, karena gue juga merasakan hal yang sama saat membaca tulisan lo. Tapi lo harus tahu satu hal penting. selama ini keberadaan lo di sana hanya dalam bentuk roh. Tubuh lo yang asli tetap terbaring tidak sadarkan diri di dunia ini. Itu sebabnya lo bisa merasakan segalanya, tapi tidak membawa perubahan apapun pada kondisi fisik lo di sini.”

Mendengar penjelasan itu, Leon tertegun. “Jadi… gue tidak pernah benar-benar ada di sana secara utuh?”

“Bukan begitu maksud gue,” sanggah Reza cepat. “Roh lo yang ada di sana tetap memiliki kesadaran dan perasaan yang sama seperti diri lo yang asli. Namun, ada cara lain yang belum pernah gue coba sebelumnya. Dengan bantuan energi yang cukup kuat dan bantuan dari buku catatan itu, sebenarnya lo bisa masuk ke dunia cerita itu bersama raga lo yang asli. Hanya saja, ada syaratnya. lo tidak bisa tinggal di sana terlalu lama. Kekuatan yang menghubungkan dua dunia ini terbatas. Jika lo melebihi batas waktu yang ditentukan, keseimbangan akan terganggu, dan lo tidak akan bisa kembali lagi ke dunia ini selamanya.”

Leon menatapnya dengan mata terbelalak. “Benarkah ada cara seperti itu?”

“Iya,” jawab Reza mantap. “Dan gue akan memberitahukan caranya. Pertama, lo harus berada di tempat yang sunyi dan bebas dari gangguan. Buka buku catatan itu di halaman paling terakhir, tempat di mana tulisan lo belum sempat diselesaikan. Bacalah dengan suara lantang kalimat yang tertulis di sana sambil memusatkan seluruh keinginan dan perasaan lo untuk kembali. Jika hati lo tulus dan ikatan lo dengan dunia itu masih kuat, pintu akan terbuka. Tapi ingat, waktu yang lo miliki sangat terbatas hanya sekitar tiga hari waktu di dunia cerita, yang setara dengan beberapa jam saja di dunia ini.”

Reza menjelaskan setiap langkahnya dengan rinci, memastikan Leon dan teman-temannya mendengar dengan jelas. Dimas dan Raka hanya mendengarkan dengan rasa penasaran, namun tidak ada niat buruk sedikit pun. Berbeda halnya dengan Bimo yang berdiri agak di belakang. Setiap kata yang diucapkan Reza dicatat dengan teliti di dalam pikirannya, matanya berkilat penuh ambisi yang tersembunyi. Informasi ini adalah apa yang selama ini ia cari cara untuk masuk ke dunia yang indah itu, tidak hanya sebagai roh, tapi membawa tubuhnya sendiri.

“Terima kasih, Za,” ucap Leon tulus. “Gue akan ingat semua yang lo katakan.”

“Gue cuma berharap lo menggunakannya dengan bijak,” balas Reza. “Jangan sampai keinginan lo justru membawa bencana, baik untuk lo sendiri maupun untuk keseimbangan dua dunia ini.”

Setelah percakapan itu selesai, petugas kepolisian membimbing Reza masuk ke dalam ruangan. Ia melangkah dengan kepala tegak, siap menerima apapun keputusan hukum nantinya.

Sementara itu, saat mereka berjalan pulang, Bimo berpura-pura tidak terlalu memikirkan penjelasan tadi. Namun di dalam hatinya, rencana yang telah ia susun sebelumnya kini semakin jelas. Ia tahu langkah apa yang harus diambil, dan ia bertekad untuk memanfaatkan celah itu secepat mungkin, sebelum Leon sempat mencobanya terlebih dahulu.

1
Sarah
Ini karya yang bagus sih, Kak Anggita. Aku suka sama pesan tentang menerima takdir dan Leon yang akhirnya sadar tempatnya itu di dunia nyata. Aku juga suka sama endingnya yang kerasa adem banget terus penuh dengan pesan saling memaafkan juga. Aku juga suka sama proses tentang sihir Reza itu yang akhirnya beneran ditunjukkan awal mulanya. Saran aku sebagai pembaca bener-bener ditampung dan dipertimbangkan. Ceritanya santai dan ringan banget. Aku pasti bakal rate sih, Kak. Meski bukan sekarang. 👍
Sarah
Nah ’kan~
Aku sudah mencium baunya. /Doge/
Sarah
Laki-laki juga boleh nangis, kok. Kalian kan juga manusia. Cuma turun-turunin ego aja~
(Dan jangan di tempat umum juga sih~) 😌
Sarah
Ia, tempatmu di sini, Leon. Kecuali kalau kamu bener-bener mati di dunia nyata terus isekai. Jodohmu cari yang satu dimensi aja. 😂
Sarah
Sejak awal juga sebenarnya aku bingung...
Nanti kalau Leon jadi sama Liora... gimana??
Tinggalnya dimana?
Terus kalaupun ada jembatan antara dua dunia... bingung juga sih...
maksudku...
Di dunia cerita dia beristri, putri dari kerajaan cahaya pula.
Sementara di dunia nyata ibu-ibu masih suka nanya, “Leon kapan nikah?” 😭
Sarah
Baru tau kekuatan dukun bisa untuk isekai... mau juga dong... 😭
Sarah
Meskipun aku kritik bukan berarti aku benci yah.
Semangat yah, aku kasih 2 bunga deh./Rose/👍
Sarah
Sayangnya kematian Liora masih terasa kurang emosional. Kurang pendalaman emosi sama reaksi karakter lain (selain Leon. Zarek, Valgus, Raja, semuanya juga orang terdekat Liora. Padahal mereka orang yang bahkan lebih lama bersama Liora, Tapi yang di highlight paling terpukul... Leon doang. Zarek reka Liora sejak lama, Valgus... dulunya musuh tapi sekarang temannya juga, Raja... ya... bayangin aja, putri kesayangan lu satu-satunya mati di hadapan lu. Harusnya yang paling terpukul gak cuma Leon doang. Reaksi karakter lain gak langsung tegar dan suruh Leon balik. Masih ada tahap renungan dulu pasca tubuh Liora memudar.)
Mana scene pas matinya itu kayak masih berada cepet banget.
Paling kekurangan besar cerita ini... dramanya sih.
(Ya... lain kali aja aku jabarkan lebih jelas soal ini.)
Sarah
Aku jadi bertanya-tanya lagi, Leon ini sebenarnya penulis hebat atau amatir sih? Kalau di bilang yang udah jago rasanya gak mungkin deh. Karena ya... dunia cerita dia ajak se-gak jelas itu. Dan jujur tokoh-tokoh di dunia ceritanya Leon masih kerasa kaku kurang natural dan ada vibe klise nya juga. Tapi, dipuji guru yah?... bagus dong tulisannya.
Atau apakah gini...
Tulisan yang dimaksud kayak tulisan yang tugas-tugas gitu, tapi kalau buat nulis novel masih belum...?
Sarah
Gue pikir bakal di bogem. Untung kagak. Biasanya kan gitu di cerita-cerita film/novel. 😂
Ya... meskipun emang salah, kalau dia langsung nge-bogem juga Dimas jadi ikutan salah. Bayangin aja baru bangun, masih di RS, terus dipukul. /Facepalm/
Sarah
Kamu masih punya ortu dan temen-temenmu, Leon...
Sarah
Wait, meskipun aku gak terlalu sedih sih tapi... agak gak nyangka juga dia bakal mati sekarang. 😦😮
Sarah
Jangan lupa mie instan, Bang~ 😌
Sarah
Mon maap, Leon udah berapa hari di dunia cerita yah? Takut gak bisa balik eyy. Asaan udah lamaa. /Scowl/
Sarah
Nama, thor. Biasakan huruf awal kapital.
Sarah
Masa selamanya? Nanti layu dong. 😂
Wulandari Ayuningtyas
Semangat thor💪
Ananda Anggit: semangat💪💪
total 1 replies
Sarah
Kalau menurutku... Bimo emang gak sejahat itu sih, dia iri aja itu mah. Coba pikirin deh, 5 tahun koma... tidak sadarkan diri, titik paling tak berdaya, itu bukan waktu yang singkat lho. Dalam jangka waktu itu kalau Bimo mau, dia bisa aja bunuh Leon. Diam-diam tinggal cabut alat-alat rumah sakit yang ada badannya, atau bisa lewat cara apa aja asal diam-diam. Udah deh, bisa wassalam itu Si Leon. Tapi meski 5 tahun, tapi dia gak ada niatan bunuh Leon. Padahal itu waktu yang panjang banget untuk merencanakan sesuatu...
Sarah
Tapi, aku masih bertanya-tanya... soal Leon yang awalnya ingetnya dia anak kost dan sebelum masuk cerita dia lagi di kamar kost-an. Padahal nyatanya dia sama sekali gak pernah nge-kost?
Sarah
Nah, mulai lebih make sense nih. Good job. 👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!