Azimah gadis lulusan SMA yang harus berkorban demi kehormatan keluarganya. ia harus rela menjadi istri muda seorang pria kaya yang sudah kepala lima.
Dalam menjalani kehidupan poligami ia harus mengikuti serentetan peraturan yang merantai kebebasannya. Namun dengan keteguhan dan kecerdasannya ia dapat mengubah pemikiran suaminya dan para istri yang lain. Ia harus bertahan dan menunggu kebebasan dirinya datang dengan sendirinya tanpa melanggar norma-norma agama maupun hukum.
Di tengah kehidupan poligami yang menyiksa batinnya, ia bertemu dengan seorang pengacara tampan yang kemudian mendiami hatinya. Mampukah ia bersatu dengan pengacara tampan itu tanpa kata "selingkuh" ataukah ia memilih setia pada suaminya yang sah. Atau justru berlari dari kehidupan yang pelik.
Novel ini penuh dengan drama, skandal dan intrik para tokohnya. penuh misteri juga peristiwa tak terduga. Bagaimana akhir kisahnya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimi Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bubur Kacang Hijau
Aku berbaring dalam sakitku. Bukan fisikku, tapi hatiku. Aku merindukan sebuah kehangatan hubungan yang indah. Entah sebuah tali asmara atau kehangatan kasih sayang orang tuaku. Aku rindu kampung halamanku. Aku rindu semua yang telah kutinggalkan.
Saat melihat Romo memperhatikan Lestari dengan sejumlah kekhawatirannya, aku cemburu. Bukan karena aku cinta dengan Romo, bukan karena aku ingin diperlakukan seperti Lestari oleh Romo. Aku ingin mendapatkan perhatian yang seperti itu, tetapi bukan dari Romo. Aku pernah mendapatkan cinta itu, dari Firman. Bahkan aku rindu bagaimana caranya mengajakku kabur dipernikahanku dengan Romo.
Aku melihat kobaran api. Semakin lama semakin besar. Aku menoleh ke belakang, kulihat Romo memegang erat kakiku sampai aku terasa sakit. Tapi anehnya, Romo meringis seperti menahan sakit. Dia tidak bisa bangun. Ia tengkurap sambil berpegangan pada kakiku seolah memohon untuk tidak meninggalkannya. Tetapi au justru berusaha keras melepaskan kakiku darinya.
Api mengecil secara tiba-tiba dan padam. Kini aku tidak melihat kobaran api. Tetapi semua yang ada di sekitarku adalah sisa-sisa kobaran api. Aku ingin pergi dari sana tapi enyah kenapa kakiku tak bisa kulangkahkan. Disaat seperti ini ada dua tangan menggenggam tanganku. Yang satu tangan perempuan, satunya lagi tangan laki-laki. Namun sebelum kulihat wajah keduanya, mataku terbuka. Kudengar suara adzan subuh yang sangat keras. Tentu saja dari hapeku. Karena rumah ini jauh dari pemukiman apalagi Masjid atau Mushola.
***
Jam enam pagi. Seperti biasanya kami berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan bersama. Dan Mehmed terlambat lagi.
"Kenapa telat lagi?" Tanya Romo kali ini dengan nada sedikit kecewa.
Mehmed tidak menjawab. Sepertinya dia bingung karena tidak ada alasan yang tepat baginya untuk terlambat bangun.
"Tampaknya tugas-tugas dari sekolah memberatkan? Jika demikian Romo akan tegur pihak sekolah karena ini sangat memberatkan dan tidak menyehatkan kehidupan para siswa" Kata Romo.
Mendengar itu raut muka Mehmed bertambah panik. Ia pasti tak menyangka Romo akan bertindak sejauh itu. Aku tahu, Mehmed tidak mengerjakan tugas sekolah. Ia begadang bersama gadis itu di telepon.
"Tidak Romo, ehm ... Saya yang kurang pandai membagi waktu" Kata Mehmed gelagapan.
Untung saja Romo menerima alasan itu. Jika sampai Romo melapor ke sekolah, tamatlah Mehmed. Kulihat Mbakyu juga tampak gelisah. Kurasa ia mulai mempertimbangkan perkataanku kapan hari.
"Aku akan ke Mataram hari ini, ada beberapa urusan sedikit, Lestari, kamu mau ikut?" Romo menawari Lestari.
Lestari melirikku. Seolah ia bertanya padaku apa yang seharusnya ia putuskan. Tapi aku segera menunduk agar ia memutuskan sendiri. Sebenarnya aku ingin ia menolak agar lebih kuat janin yang dikandungnya.
"Saya, belum begitu sehat Romo, maaf" Jawab Lestari.
"Hmm begitu, Azimah?"
Aku? Romo menawariku? Tidaaaak aku tidak mau. Lebih baik aku di gudang bersama tikus-tikus itu ketimbang mendampinginya ke kota. Aku takut dia akan menggauliku seperti pada Lestari.
"Oh....eh...iya Romo" Aku tak bisa menolak. Aku tak punya alasan. Jika aku menggunakan kuliahku sebagai alasan, ia tentu akan melapor ke kampus.
"Maaf Romo, jika boleh, aku ingin Azimah di rumah saja. Aku butuh perawatan darinya" Kata Lestari.
Apa? Dia menyelamatkanku? Apa dia tahu aku benci pernikahan ini? Apa dia tahu bagaimana aku ingin segera lepas dari Romo? Kenapa tiba-tiba dia begitu baik padaku.
"Oh..iya juga, baik....Bune, ikut saya"
Dan Mbakyu mengangguk. Aku lega. Selesai sudah. Aku selamat. Jadilah Mbakyu menemani Romo hari itu ke Mataram, salah satu kota di Nusa tenggara Barat.
Setelah mobil Mbakyu dan Romo meninggalkan rumah, Lestari berlari sekencang-kencangnya menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur. Aku berlari mengikutinya meningalkan Jenny yang berdiri terpekur menyaksikan kami berlari. Kudengar dari luar, Lestari muntah-muntah. Ini adalah hal yang lumrah bagi seorang wanita yang tengah hamil pada trimester pertama. Hal ini karena tubuh sedang adaptasi dengan sesuatu yang baru.
Lestari keluar. Aku segera membantunya ditemani dua pelayannya, membawanya ke kamarnya. Kubaringkan ia di kasurnya.
"Apa kandunganku lemah, kenapa aku selalu pusing dan mual-mual tiap pagi?" Tanya Lestari.
"Tidak juga Mbak. Ini wajar bagi perempuan hamil. Selama tiga bulan ke depan Mbak Lestari harus benar-benar ekstra menjaga kandungan ini. Karena janin masih lemah, rawan keguguran"
Lestari mendengarkanku dengan seksama.
"Jika makan daging dan sesuatu yang berlemak Mbak Lestari akan sering muntah. Karena itu mintalah kedua pelayan Mbak untuk menyediakan menu yang segar. Nanti akan aku kasih menu sehari-hari untuk ibu hamil" Kataku menenangkan.
Dua pelayan Lestari mengangguk santun.
"Azimah, kenapa aku baru bisa hamil padahal usia pernikahanku sudah menginjak tahun ke tujuh dengan Romo?" Tanya Lestari.
Ini yang juga ingin ku ketahui. Bagaimana bisa dia baru hamil padahal usianya sudah hampir kepala empat.
"Bisa karena keturunan, karena obat-obatan kimia atau kandungannya ada penyakit. Apa Mbak Lestari pernah konsultasi ke dokter kandungan?"
Lestari menggeleng.
"Aku tidak kepikiran ke sana" Katanya.
"Dalam waktu dekat kita harus ke dokter kandungan untuk USG, agar kita tahu kondisi awal janin" Kataku.
"Kenapa? Apa kamu saja tidak bisa?"
"Aku tidak punya alatnya, kita akan keluar dengan alasan lain. Besok atau lusa bagaimana?"
Lestari mengangguk. Lestari adalah pasien pertamaku tempatku mempraktekkan ilmu yang kudapat dari perkuliahan. Aku begitu bersemangat mendampinginya. Sampai aku lupa, bahwa dia adalah maduku, bahwa dia pernah membentakku tanpa perasaan.
***
Di dapur.
Bubur kacang hijau sangat baik untuk ibu hamil. Biasanya ibu hamil sangat rentan dengan bau amis. Sedangkan makanan yabg segar akan membuat lambungnya membaik sehingga mengurangi rasa mual pada ibu hamil.
Aku mencoba membuatkan bubur kacang hijau untuk Lestari. Aku belum pernah membuatnya, Ibuku uang sering membuatkan untukku. Sayangnya saat itu aku eggan membantunya, sekarang aku ingin membuatnya, aku harus mencari resep di internet terlebih dahulu.
"Sudah selesai Nyonya, silahkan dicoba" Kata Marni.
Tentu saja Marni yang membuatkan, aku hanya memandu dari hapeku. Padahal sebenarnya Marni sudah bisa membuatnya. Ia mungkin berfikir ada resep baru tentang bubur kacang hijau. Nyatanya sama saja. Ia pasti merasa lucu.
"Nyonya, apa benar Nyonya Lestari hamil?" Marni bertanya.
"Sstt..jaga bicaramu, jangan sampai ada yang dengar" Kataku.
"Anda ingin melindunginya?"
"Hmm tidak juga, aku hanya ingin tahu siapa yang akan bertindak jahat dengan kehamilan Mbak Lestari, lagipula dia pasien pertamaku. Anggap saja aku sedang mempraktekkan ilmuku" Kataku.
Aku membawa bubur itu sendiri menuju kamar Lestari yang letaknya lebih dekat dengan kamarku dibanding kamar istri lainnya.
"Adik Azimah" Panggil seseorang.
Aku tahu siapa yang memanggil, dan apa tujuannya. Aku berhenti agar dia tidak curiga. Aku berbalik arah. Benar saja, Jenny ada di belakangku.
"Apa itu? Waw...bubur kacang hijau. Boleh aku coba?" Kata Jenny.
Aku bingung. Jika aku melarangnya dia pasti akan bertanya untuk siapa bubur ini. Dan jika kujawab untuk Lestari pasti akan banyak pertanyaan lagi.
"Mbak Jenny mau? Ambil aja" Kataku.
"Beneran? Yuk dimakan bareng" Ajaknya.
Haduh gimana ini. Dia menyeret tanganku menuju kamarku. Mau tak mau aku meneruskan ajakannya.
"Hmmm buku-bukumu banyak bener Adik Azimah" Komentar nya melihat buku-buku masih berserakan di meja.
"Maaf masih berantakan" Kataku sambil membereskan satu persatu buku-buku itu dan kukembalikan ke rak.
"Apakah berat menjadi mahasiswa Dik?" Tanya Jenny yang kurasa hanya basa-basi.
"Tidak, pada dasarnya saya memang suka belajar"
"Wow...amazing"
Dalam beberapa waktu kami terdiam.
"Bagaimana kondisi Lestari? Apakah serius?" Tanya Jenny.
Pertanyaan itu membuatku menghentikan aktivitasku. Dia pasti sedang memancing informasi.
"Adik Azimah.... Aku menduga Lestari itu sedang hamil. Bagaimana menurutmu?"
Sudah kuduga ia pasti curiga dengan keadaan Lestari yang sering mual di pagi hari.
"Aku belum tahu Mbak, aku sudah sarankan dia ke dokter tapi Mbak Lestari masih ragu" Jawabku yang entah darimana kudapat ide begitu.
"Oh, tapi kan Adik Azimah ini mahasiswa kebidanan, pasti tahu lah tanda-tandanya" Kilah Jenny.
Aku tahu ia sedang berusaha keras.
"Aku tidak punya alatnya Mbak. Itulah kelemahanku yang kuliah dari rumah. Tentu sangat berbeda dengan yang kuliah tatap muka" Jawabku. Aku senang dengan jawabanku karena membuat dia terdiam tak berkutik.
Karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, Jenny pamit dengan berbagai alasan. Aku mempersilahkan, aku selamat, tapi sayang bubur yang seharusnya kuberikan pada Lestari telah habis dimakan Jenny. Aku pun segera bergerak cepat mencari penggantinya. Buah-buahan segar juga baik untuk ibu hamil. Kali ini kuminta pelayan Lestari yang mencarikan sendiri agar tidak menaruh curiga pada siapapun.
***
cerita baguuusss...
seruuu...
sukses trs tuk karya2nya 💕💕💕💕