Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Malu
...----------------...
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyentuh wajahku dengan kehangatan yang kontras dengan dinginnya perasaan yang mulai merayap di dadaku sejak bangun tidur. Aku bangkit dari sofa, meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Hari ini adalah hari ketujuh sejak uang itu berpindah tangan ke rekening Iksan. Seharusnya, sesuai janji, Iksan sudah memberikan laporan laba pertama hari ini.
Aku memutuskan untuk melakukan rutinitas yang dulu sering kulakukan di Jakarta: lari pagi. Sebelum melangkah keluar, aku berdiri di depan pintu kamar Astrid. Dengan ragu, kuketuk pintu itu pelan.
"Strid? Gue mau lari pagi bentar ya. Mungkin sekalian beli bubur ayam buat sarapan kita," ucapku.
Hening sejenak di balik pintu, sebelum suara lirih Astrid terdengar, "Iya."
Aku pun pergi. Udara Bandung yang segar dan pepohonan hijau di sepanjang jalan kompleks perumahan seharusnya memberiku ketenangan, namun pikiranku justru melayang pada Iksan. Mengapa sampai detik ini dia belum menghubungiku? Biasanya, dia selalu antusias memberikan update jika ada perkembangan bisnis.
Aku menepi di bawah pohon rindang, mengeluarkan ponsel dari saku celana training ku. Aku menekan ikon panggil pada nomor Iksan.
Tut... tut... tut...
Tidak ada jawaban. Aku mencoba sekali lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Rasa curiga yang selama ini kucoba tekan dengan logika "dia pasti sibuk" kini mulai membesar menjadi bola api di perutku. Jari-jariku sedikit gemetar saat aku menatap layar ponsel yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Kenapa lu nggak angkat, San? Apa yang terjadi?
Aku kembali ke rumah dengan perasaan hambar. Bubur ayam yang kubeli terasa hambar di lidah. Aku hanya bisa melamun di meja makan, menatap kosong ke arah piring yang isinya hampir tidak tersentuh.
"Ka, lu kenapa?" tanya Astrid pelan saat melihatku hanya mengaduk bubur tanpa memakannya.
"Gak apa-apa, Strid. Cuma lagi kepikiran kerjaan," jawabku bohong.
Astrid menatapku tajam, seolah dia bisa membaca kegelisahan yang kusembunyikan. Dia tidak bertanya lebih lanjut, namun tatapannya membuatku semakin merasa menjadi orang paling pengecut di dunia. Sepanjang hari, aku tidak bisa fokus. Aku terus melamun, berdiri di depan jendela, menatap jalanan kosong di depan rumah, berharap melihat mobil Iksan datang. Harapan itu sia-sia. Rumah itu tetap sunyi.
Malam harinya, saat Astrid sudah masuk ke kamarnya, aku merasa kegelisahanku sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku harus tahu kebenarannya. Aku mengambil ponsel, mencari kontak teman lama kami seseorang yang dulu sering nongkrong bareng aku dan Iksan.
"Halo, Rian? Sorry ganggu malem-malem," sapaku setelah sambungan terhubung.
"Oh, Arka! Tumben lu nelpon. Ada apa, Ka?"
"Gue mau nanya, lu ada kabar soal Iksan gak? Beberapa hari ini dia susah banget dihubungin."
Hening sejenak di seberang sana. Suara Rian terdengar berubah drastis, menjadi lebih berat dan penuh rasa tidak enak. "Lu... lu belum denger kabarnya, Ka?"
"Kabar apa?" jantungku berdegup kencang, seolah bisa lepas dari dadaku.
"Iksan udah pergi, Ka. Dia beneran cabut dari Jakarta. Katanya dia udah pindah ke China dua hari lalu. Bahkan dia udah ganti nomor, mutus semua komunikasi sama anak-anak di sini. Banyak temen-temen yang nyari dia karena dia punya masalah hutang di sana-sini. Gue pikir lu tahu, soalnya kan lu yang paling deket sama dia."
Duniaku runtuh saat itu juga. Ponsel yang kugenggam terasa sangat berat, seolah baru saja menjadi bongkahan batu.
"China? Lu yakin, Yan?"
"Yakin, Ka. Gue denger dari temen yang kerja di bandara. Dia pergi lewat jalur yang nggak biasa. Sorry, Ka, kalau lu punya urusan sama dia, gue rasa itu urusan yang nggak akan pernah selesai."
Telepon terputus. Aku mematung di ruang tengah yang gelap. Kakiku lemas, hingga aku jatuh terduduk di lantai dingin. "China? Kabur? Putus komunikasi?"
Semuanya menjadi masuk akal sekarang. Laporan investasi itu, janji keuntungan, angka-angka fiktif semuanya adalah skenario besar untuk menguras habis sisa hidupku. Aku bukan hanya ditipu, aku telah dihabisi. Dan yang lebih parah, aku telah menyeret rumah peninggalan orang tua Astrid ke dalam skenario busuk ini.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku terduduk di lantai, hingga aku mendengar suara pintu kamar terbuka. Astrid muncul dengan wajah mengantuk yang perlahan berubah menjadi kekhawatiran saat melihatku terduduk hancur di lantai.
"Ka? Lu kenapa? Ada apa?"
Aku mendongak, mataku memerah, bukan karena marah, tapi karena kehancuran yang tak tertahankan. Aku merasa ingin berteriak, tapi suaraku hilang. Aku harus jujur. Jika aku tidak jujur sekarang, aku akan selamanya menjadi iblis dalam hidupnya.
"Strid..." suaraku parau. "Iksan... dia kabur, Strid. Dia pergi ke China. Uang itu... uang hasil jual rumah lu... semuanya dibawa kabur sama dia."
Aku menceritakan semuanya. Tentang telepon Rian, tentang hilangnya Iksan, tentang kebodohanku yang tidak mau mendengarkan peringatannya dari awal. Aku merangkak di lantai, menangis di depan kakinya, memohon ampun dengan cara yang paling hina. "Gue bodoh, Strid. Gue udah hancurin semuanya. Gue bener-bener gak guna!"
Astrid berdiri mematung di depanku. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Hanya ada keheningan yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan apa pun. Matanya yang tadi menatapku dengan kekhawatiran kini perlahan berubah menjadi kekosongan yang dingin.
Dia menatapku dengan tatapan yang sangat kecewa, seolah dia sedang melihat bangkai yang membusuk. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa sedikit pun kasihan, dia berbalik badan.
"Strid! Jangan tinggalin gue!" teriakku, mencoba meraih ujung pakaiannya.
Dia tidak berhenti. Dia tetap melangkah menuju kamar, lalu menutup pintu dengan bunyi klik yang keras sebuah suara yang menandai akhir dari segalanya.
Aku ditinggalkan sendirian di ruang tamu yang luas dan kosong itu. Depresi menyerangku dengan ganas. Aku merasa seolah seluruh oksigen di rumah ini ditarik paksa. Aku merenung hingga larut malam, hingga cahaya lampu jalan yang masuk melalui jendela menjadi satu-satunya sumber penerangan.
Aku adalah Arka Albian. Dulu, aku adalah putra mahkota Albian yang diagungkan. Sekarang? Aku adalah pria yang kehilangan uang, kehilangan rumah, kehilangan sahabat, dan yang paling parah, aku baru saja kehilangan satu-satunya orang yang masih bersedia menatap wajahku.
Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang sama yang menandatangani berkas investasi bodoh itu. Tangan yang sama yang menjual motor Astrid demi sebuah mimpi kosong. Aku merasa ingin menghilang dari dunia ini.
Rumah besar di Bandung ini, yang tadinya kupikir sebagai simbol awal perjuanganku, kini berubah menjadi penjara yang menampung keputusasaanku. Aku meringkuk di lantai, memeluk lututku sendiri, membiarkan malam semakin larut. Di dalam kamar, aku tahu Astrid mungkin sedang menangis, atau mungkin dia sudah tidak bisa lagi menangis karena rasa sakitnya sudah mencapai batas.
Aku tidak berani mengetuk pintu kamarnya lagi. Aku tahu, pintu itu tidak akan pernah terbuka untukku lagi. Aku sendirian dalam gelap, menanggung beban kehancuran yang kubuat sendiri. Aku merenung hingga fajar hampir menyingsing, membiarkan rasa penyesalan menggerogoti jiwaku sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi rencana masa depan. Tidak ada lagi investasi. Tidak ada lagi harapan. Hanya ada aku, kegelapan, dan kenyataan pahit bahwa hidupku telah benar-benar tamat di tangan orang yang paling kupercaya.
Duniaku bukan lagi berwarna-warni. Dunia ini abu-abu, dingin, dan tidak memberiku ruang untuk bernapas. Aku menutup mata, berharap saat aku bangun nanti, semua ini hanyalah mimpi buruk yang akan berakhir. Namun jauh di lubuk hatiku, aku tahu ini bukan mimpi. Ini adalah konsekuensi. Dan konsekuensi ini adalah hukuman seumur hidup yang tidak akan pernah bisa kuhapus.
Di tengah sunyi malam, aku hanya bisa berbisik pada dinding-dinding rumah besar ini, sebuah kata yang sia-sia: "Maafin gue, Strid. Maafin gue." Tapi kata maaf itu hanyalah angin lalu yang tidak akan pernah sampai pada hati yang sudah terlalu hancur. Aku menutup mata lebih rapat, membiarkan depresi dan penyesalan menyelimuti seluruh tubuhku, hingga aku benar-benar terkubur dalam kegelapan yang kuciptakan sendiri.
...----------------...