Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Manusia Salju
"Oma, Opa." Sapa Ryu saat menghampiri Oma Mila dan Opa Abraham. Ia pun memeluk dan mengecup Kakek dan Neneknya itu.
"Hallo, Sayang." Sapa Mama Mila yang membalas pelukan Ryu. Sementara itu, Gladys masih berdiri di tempatnya sambil tersenyum manis ke arah Keluarga Ryu.
"Kenalin, ini Gladys." Ujar Ryu yang memperkenalkan wanita di belakangnya.
Gladys pun menyalami Oma Mila dan Opa Abraham d ngan sopan. Setelah itu, ia mengikuti Ryu menyalami satu persatu keluarga Ryu. Setelah selesi menyalami keluarganya, Ryu pun menarik kursi untuk Gladys dan mempersilahkan Gladys duduk, sebelum ia ikut duduk di sebelah gadis cantik itu.
"Kak Kia beneran balik ke Singapore, Mom?" Tanya Ryu pada Gita.
"Iya. Dia harus bantu handle Perusahaan baru Suaminya. Makanya dia gak bis lama - lama di sini." Jawab Gita.
"Sayang banget. Padahal belum sempet main sama little princess." Kata Ryu.
"Cuma Abang aja yang belum sempet main. Kalo kita sih, udah. Aku malah hampir tiap hari." Cerocos Aslan yang hanya di tanggapi dengan wajah malas oleh Ryu.
"Oh iya, ini aku manggil calon Kakak iparku apa nih? Kakak, Nona, atau Sayang?" Kata Aslan sambil menatap wajah Ryu yang ada di sebelahnya.
"Panggil yang sopan, Aslan. Dia calon Kakak Ipar kamu, jangan sembarangan manggil dia." Kata Ryu sambil menatap tajam ke arah Aslan yang justru tertawa geli.
"Ciyee! Gitu aja cemburu, padahal aku cuma bercanda loh, Bang." Kekeh Aslan sambil merangkul Abangnya.
"Yang sabar ya, Kak, ngadepin Abangku. Dia emang suk emosian, maklum, udah tua." Kata Aslan sambil cengar - cengir ke arah Gladys yang ada di sebelah Ryu.
"Bang Ryu baik, selama ini gak pernah marah ke Kakak." Jawab Galdys sambil tersenyum ke arah Aslan. Kini ia mengerti mengapa Ryu terus mewanti - wantinya agar tak usah memperdulikan Aslan.
"Aduh, manis banget. Ada yang belain nih, sekarang." Ledek Aslan sambil menjawil dagu Ryu yang wajahnya memerah.
Tak hanya Aslan, kini semua keluarganya pun terkekeh geli melihat reaksi Ryu yang baru di bela oleh calon istrinya. Termasuk juga Gladys yang ikut tersenyum saat melihat reaksi salah tingkah Ryu.
"Gantian gue ngerjain lo!" Kekeh Gladys dalam hati,
"ini Abang kalau habis di bela pacar gini, rasanya pasti kayak mau bilang, Adek.... Abisin aja duit Abang, Dek! Kamu mau apa, Sayang? Abang belikan semuanya." Ledek Aslan yang membuat tawa mereka pecah.
"Abang jahit mulutmu, kalau gak mau diem." Tegur Ryu sambil memiting leher Adiknya.
"Ryuga, Aslan... Sudah cukup." Tegur Gian.
"Kebiasaan banget anak dua ini. Gak tau dimana tempat, kalau ketemu pasti berantem." Komentar Fey yang merasa jengah sendiri melihat tingkah dua putrnya.
"Abang itu, Bun, yang emosian." Sahut Aslan.
"Kamu yang rese!" Sergah Ryu yang membela diri.
"Maklumin aja ya, Gladys. Mereka berdua dari dulu emang kaya gitu. Yang satu jahil, satunya emosian." Kata Oma Mila.
"Iya, Oma." Jawab Gladys sambil tersenyum.
"Jadi, kalian kenal dimana?" Tanya Opa Abraham.
"Kami gak sengaja ketemu waktu Ryu berkunjung ke kantor BIN, Opa." Jawab Ryu dengan jujur. Mereka memang pertama kali bertemu saat Ryu sedang menemani Elno datang ke kantor BIN.
"Oh, Gladys kerja di kantor BIN?" Tanya Opa Abraham.
"Benar, Opa." Jawab Gladys.
"Keren banget ya, calon menantu keluarga Aditama. Gak kaleng - kaleng." Puji Gita.
"Seleranya Ryu memang keren sih." Kekeh Rio sambil mengacungkan jempol ke arah Keponakannya itu.
"Tapi Oma beneran kaget, gak tau kapan pacarannya, tau - tau denger kabar kalau kalian berdu mau nikah dari Yanda dn Bunda kalian." Kata Oma Mila.
"Sama! Aku juga. Aku malah baru tau barusan." Sahut Aslan.
"Sengaja kamu gak di kasih tau, karena kamu itu perusuh." Jawab Ryu dengan senyuman meledek.
"Kalian udah dekat berapa lama?" Tanya Opa Abraham.
Ryu pun menyenggol tangan Gladys dan memintanya untuk menjawab pertanyaan dri Opanya.
"Sudah dua tahun, Opa." jawab Gladys.
"Kalian berdua yakin, mau nikah dalam waktu dekat?" Tanya Opa Abraham lagi.
"Gladys cukup yakin menikah sama Bang Ryu, Opa." Jawab Gladys sambil melirik ke arah Ryu yang juga tak sengaja melirik ke arahnya.
"Dua tahun itu terbilang singkat loh, Nak. Kamu udah beneran yakin sama Ryu?" Kini Gita angkat suara.
"Tuh, Kak. Mending pikir baik - baik lagi deh. Soalnya Abang ini gak sebaik kelihatannya." Kata Aslan yang mulai menjadi kompor.
"Abang selalu baik kok. Walaupun kedekatan kami terbilang singkat, tapi Abang selalu baik sama Gladys dan keluarga Gladys. Abang juga selalu nunjukkin keseriusannya buat nikahin Gladys." Jawab Gladys yang tak sepenuhnya dusta.
Ya, Ryu memang selalu bersikap baik dan sopan pada kedua orang tuanya. Ryu bahkan bisa menjadi teman ngobrol yang seru untuk Bapaknya.
"Syukurlah kalau kalian sama - sama yakin, Bunda seneng banget dengernya." Kata Fey sambil tersenyum ke arah Ryu dan Gladys.
"Jadi, kapan rencananya kalian akan menikah?" Tanya Gian.
"Secepatnya, Yanda. Kalau bisa, dalam minggu - minggu ini." Jawab Ryu tanpa keraguan.
Hal itu terlihat jelas dari tatapan dan juga nada bicaranya. Gladys sendiri sampai menoleh karena terkejut dengan jawaban Ryu. Namun, ia sadar jika misi mereka ini memang harus segera di jalankan.
"Serius! Gak ada sesuatu di antara kalian berdua, kan? Maksudnya, Abang gak bikin Kak Gladys hamil duluan, kan?" Tanya Aslan dengan netra terbelalak.
"Ch! Abang ini bukan bajingan! Abang gak mungkin ngehamilin anak gadis orang." Sahut Ryu sambil menjitak kepala Adiknya.
"Ck! Kan aku cuma tanya aja." Kata Aslan sambil mengusap kepalanya.
"Habisnya kok buru - buru banget. Kan bikin curiga." Cicit Aslan kemudian.
"Ya bagi kamu buru - buru. Kalo bagi Abang yang udah ngejalanin hubungan ini, tentu udah Abang pikirin matang - matang semuanya." Jawab Ryu dengan tenang.
Obrolan mereka terhenti sejenak saat pesta di mulai. Mereka mengikuti acara demi acara yang ada di pesta pernikahan itu dengan tenang. Ryu pun sesekali mencuri pandang ke arah Gladys yang tampak menikmati acara.
"Kamu mau acara resepsi kayak gini?" Tanya Ryu yang berbisik pada Gladys.
Tak langsung menjawab, Gladys justru salah fokus dengan ucapan Ryu yang terdengar lembut di telinganya.
"Ini terlalu rame." Jawab Gladys.
"Lalu?" Tanya Ryu.
"Aku juga bingung. Kita dengar apa kata keluargamu aja." Jawab Gladys.
Secara pribadi, Gladys tentu ingin pernikahan hanya di lakukan secara intimate saja. Namun, ia juga memikirkan bagaimana kedua mertuanya. Tentu saja ada kemungkinan mereka tak akan bis melakuan pernikahan secara sederhana. Mengingat bagaimana status keluarga Aditama.
Obrolan mereka kembali berlanjut setelah acara inti selesai dan jamuan makan malam di mulai. Sambil mengobrol santai, Ryu memotong - motong steak di piring, kemudian menukarnya dengan piring milik Gladys.
Mendapat perlakuan spesial seperti itu, tentu membuat jantung Gladys berdetak ratusan kali lebih kencang. Namun, ia berusaha mengontrol dirinya, agar tak menimbulkan kecurigaan.
Sementara itu, Fey dan Gian terlihat saling senggol ketika melihat perlakuan manis Ryu pada Gladys.
"Ternyata manusia salju kita, udah mulai mencair." Bisik Gian.
"Iya, Bie. Ternyata pria kaku kayak dia, bisa juga bersikap manis ke pasangannya." Sahut Fey yang juga berbisik pada suaminya.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author