"Lima tahun pengabdianku dibalas dengan pengkhianatan menjijikkan di atas ranjang hotel."
Gaby Fritzyara hancur saat memergoki Gavin, tunangannya, berselingkuh dengan Luna adik kandungnya sendiri. Bukannya dibela, sang Ayah justru membuangnya dan menyebut Gaby sebagai anak tidak berguna.
Namun, badai besar datang menjemputnya. Edgar Emiliano Addison, sang Iblis Korporat sekaligus ayah kandung Gavin, mengulurkan tangan. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menjadikannya seorang Ratu.
"Jadilah istriku, Gaby. Mari kita buat mereka merangkak di bawah kakimu."
Kini, Gaby kembali sebagai Nyonya Besar Addison. Ia bukan lagi wanita penurut yang bisa diinjak-injak. Ia kembali untuk melakukan audit berdarah pada hidup Gavin dan menghancurkan masa depan Luna.
Bagi Gaby, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat mantan tunangannya bersimpuh, mencium tangannya, dan memanggilnya dengan satu sebutan baru: "MAMA."
bukan buku ****-****...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arenna Noir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKMATNYA MENIKAH DENGAN AYAH MANTAN TUNANGANKU
Perjalanan pulang malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam-malam sebelumnya. Di dalam kabin Rolls-Royce Phantom yang kedap suara, hanya terdengar alunan musik klasik instrumental yang berputar lirih.
Gaby menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Edgar, sementara tangan besar pria itu menggenggam jemarinya dengan erat di atas kursi kulit. Penjelasan Edgar di kantor tadi benar-benar menghapus kabut ketakutan di benak Gaby.
Kini ia tahu, pria yang dinikahinya bukan hanya sekadar kaya, melainkan seorang penyintas yang berhasil membangun takhtanya sendiri di atas puing-puing pengkhianatan keluarga.
Begitu mobil mewah itu memasuki gerbang tinggi kediaman Addison, lampu-lampu taman yang temaram menyambut mereka. Rumah itu terlihat begitu megah, namun bagi Gaby, kini rumah ini memiliki arti yang berbeda. Ini bukan lagi sekadar tempat pelarian setelah dikhianati oleh Gavin dan Luna, melainkan benteng pertahanannya yang baru bersama Edgar.
"Kita sudah sampai, Sayang," bisik Edgar lembut, mengecup pelipis Gaby sebelum pintu mobil dibukakan oleh pengawal dari luar.
Gaby turun dengan bantuan tangan Edgar. Kelelahan setelah seharian penuh menguras emosi dan tenaga di ruang audit akhirnya mulai terasa menggelayuti pundaknya. Mereka melangkah beriringan memasuki lobi rumah yang luas dan berlantai marmer berkilau.
Namun, begitu melangkah melewati pintu utama, atmosfer hangat yang mereka bawa dari luar mendadak menguap. Di lobi yang sunyi itu, kepala pelayan paruh baya bernama Pak Danu sudah berdiri menunggu dengan wajah yang tampak tegang dan sedikit pucat.
"Selamat malam, Tuan Besar Edgar, Nyonya Besar Gaby," Pak Danu membungkuk dalam, namun nada suaranya terdengar cemas.
Edgar, yang memiliki kepekaan instan terhadap perubahan situasi di rumahnya, langsung menghentikan langkah. Matanya menyipit tajam. "Ada apa, Danu? Kenapa wajahmu seperti melihat hantu?"
Pak Danu melirik Gaby sekilas dengan tatapan ragu, sebelum kembali menunduk menatap lantai. "Maaf, Tuan... Dua jam yang lalu, setelah berita tentang penyegelan perusahaan kosmetik keluarga Wijaya dan penahanan Manajer Gavin beredar di media bisnis, ada seseorang yang datang ke rumah ini."
Jantung Gaby mendadak berdesir aneh. Seseorang? Siapa lagi yang berani datang setelah Eleanor diusir dengan kasar tadi pagi?
"Siapa?" tanya Edgar, suaranya mendadak turun beberapa oktav, menjadi sangat dingin dan mengintimidasi.
"Tuan Wijaya, Tuan..." jawab Pak Danu dengan suara bergetar. "Beliau adalah Papa dari Nyonya Gaby. Beliau datang dalam keadaan sangat panik dan histeris setelah mengetahui nona Luna Wijaya ikut terseret dalam kasus hukum. Saat ini, beliau menolak untuk pergi dan sedang menunggu di ruang tamu samping."
Mendengar nama Papanya disebut, tubuh Gaby mendadak kaku. Tangannya yang berada di dalam genggaman Edgar perlahan mendingin. Ingatannya langsung melayang pada bagaimana sang Papa selalu mendewakan Luna selama ini, bagaimana sang Papa selalu menganggap Gaby sebagai anak yang kaku dan hanya bisa bekerja tanpa bisa memberikan kebanggaan visual seperti adiknya. Dan sekarang, pria itu datang ke rumah suaminya, pasti untuk memohon atau mungkin menuntut agar Gaby melepaskan Luna dari jeruji besi.
Edgar merasakan perubahan emosi istrinya. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Gaby, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatan absolut yang ia miliki.
"Surat penahanan dan tuntutan hukum itu dikeluarkan oleh Divisi Audit Pusat atas namaku, Danu," ucap Edgar dingin, menatap Pak Danu dengan pandangan yang mematikan. "Kenapa kau membiarkan orang asing masuk dan mengganggu ketenangan istriku di rumah ini?"
"Maafkan saya, Tuan Besar... Beliau terus berteriak di depan gerbang dan mengatakan bahwa jika Nyonya Gaby tidak menemuinya, beliau akan membawa masalah keluarga ini ke media massa untuk menghancurkan nama baik Nyonya Gaby sebagai anak durhaka. Saya terpaksa mengizinkannya masuk ke ruang tamu samping agar tidak memicu keributan di luar gerbang," jelas Pak Danu dengan tubuh yang semakin membungkuk, ketakutan setengah mati menghadapi amarah sang penguasa Addison.
Gaby menarik napas dalam-dalam. Kilat kerapuhan yang sempat muncul di matanya kini berganti dengan riak ketegasan yang dingin. Ia melepaskan genggaman tangan Edgar perlahan, lalu menatap suaminya dengan tatapan mata yang tegak dan berani.
"Mas... biarkan aku menemuinya sendiri," ucap Gaby lembut namun sarat akan ketetapan hati. "Ini adalah urusan masa lalu dari keluarga Wijaya yang belum kuselesaikan. Tadi pagi kita sudah menyelesaikan urusan dengan mantan mertuamu dan Gavin. Sekarang, biarkan aku menyelesaikan bagianku dengan ayah kandungku sendiri."
Edgar menatap Gaby dengan pandangan dalam, mencoba menilai apakah istrinya benar-benar siap menghadapi tekanan emosional dari orang tuanya sendiri. Setelah melihat tidak ada lagi keraguan di wajah cantik Gaby, Edgar akhirnya mengangguk.
"Aku akan menemanimu, Gaby," ucap Edgar tegas, menolak untuk membiarkan istrinya berdiri sendirian. "Aku adalah suamimu. Di depan pria yang menyebut dirinya ayahmu itu, aku akan memastikan dia tahu bahwa kau tidak lagi berdiri di bawah otoritasnya, melainkan berdiri di atas takhta bersamaku."
Gaby tersenyum tipis, rasa syukur yang luar biasa kembali membuncah di dadanya. "Terima kasih, Mas."
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu samping yang dibatasi oleh pintu kaca besar yang menghadap ke arah kolam ikan koi. Begitu pintu digeser terbuka, sosok seorang pria paruh baya dengan setelan jas yang tampak kusut dan wajah yang dipenuhi garis-garis stres langsung bangkit dari sofa kulit.
Pria itu adalah Tuan Wijaya, Papa kandung Gaby dan Luna.
Wajah Tuan Wijaya tampak sangat merah, matanya berkilat penuh amarah yang bercampur dengan kepanikan yang luar biasa. Namun, begitu melihat sosok Edgar Addison yang berjalan tegap di samping Gaby dengan aura dominan yang mencekam, langkah kaki Tuan Wijaya yang hendak merangsek maju mendadak terhenti di udara. Keberanian yang tadinya meledak-ledak di dada pria paruh baya itu langsung menyusut drastis menghadapi tatapan sedingin es dari sang penguasa Addison Group.
"Gaby!" panggil Tuan Wijaya, suaranya bergetar antara murka dan ketakutan. "Apa-apaan semua ini, Gaby?! Kamu benar-benar sudah gila, hah?!"
Gaby tidak langsung menjawab. Ia berjalan dengan tenang, lalu duduk di salah satu sofa tunggal dengan keanggunan seorang Nyonya Besar. Edgar berdiri kokoh di belakang sofa tempat Gaby duduk, meletakkan satu tangannya di sandaran kursi istrinya, bertindak sebagai pelindung mutlak yang mengintimidasi Tuan Wijaya dari ketinggian.
"Duduklah, Papa. Jangan berteriak di rumah suamiku," ucap Gaby dengan nada suara yang sangat datar, kosong dari emosi kehangatan seorang anak. "Dan katakan dengan jelas, bagian mana dari tindakanku yang membuat Papa menyebutku gila?"
Tuan Wijaya mengepalkan tangannya, menatap Gaby dengan pandangan tidak percaya. "Kamu masih bertanya?! Perusahaan kosmetik kita... perusahaan yang Papa bangun dengan susah payah, hari ini disegel oleh tim hukum Addison Group! Dan adikmu... Luna! Adik kandungmu sendiri sekarang ditahan di kantor polisi atas tuduhan penampungan dana ilegal dan pencucian uang! Bagaimana bisa kamu setega itu pada keluargamu sendiri, Gaby?!"
Tuan Wijaya melangkah selangkah mendekat, mengabaikan tatapan mematikan Edgar demi menyelamatkan putri kesayangannya. "Papa tahu kamu sakit hati karena Gavin memilih Luna! Papa tahu kamu kecewa! Tapi pernikahanmu dengan Tuan Edgar ini... bukankah ini sudah lebih dari cukup untuk membalas dendam?! Kamu sudah jadi orang kaya sekarang, Gaby! Kenapa kamu harus menghancurkan masa depan adikmu sendiri?! Tarik kembali tuntutan itu sekarang juga!"
Mendengar tuntutan yang begitu egois dari mulut ayahnya, Gaby menyunggingkan sebuah senyuman sinis yang teramat dingin. Rasa sakit yang dulu sering ia rasakan setiap kali Papanya membela Luna kini sudah mati rasa, digantikan oleh kepuasan yang luar biasa karena ia memegang kendali penuh.
"Menghancurkan masa depan Luna?" Gaby mengulang kalimat itu dengan nada meremehkan. "Papa salah besar. Bukan aku yang menghancurkan masa depannya, melainkan keserakan dan kriminalitas yang dia lakukan bersama Gavin."
Gaby melipat kedua tangannya di depan dada, menatap langsung ke dalam mata Papanya yang mulai berair karena frustrasi. "Apakah Papa tahu dari mana datangnya dana segar tiga puluh miliar rupiah yang selama setahun ini menyokong perusahaan kosmetik Papa agar tidak bangkrut? Uang itu adalah uang hasil korupsi dan manipulasi anggaran yang dilakukan Gavin di divisi pemasaran Addison Group! Adik kesayangan Papa itu memanfaatkan ketololan Gavin untuk mencuri uang dari perusahaan suamiku!"
"T-tapi Luna tidak tahu apa-apa! Dia hanya menerima bantuan dari tunangannya!" Tuan Wijaya mencoba mencari pembelaan yang rapuh.
"Dia tahu segalanya, Papa!" suara Gaby mendadak meninggi, tajam seperti pecahan kaca. "Luna memalsukan kuitansi vendor, menggunakan nama perusahaan Papa sebagai vendor fiktif untuk mencuci uang tersebut! Dan dia melakukan itu semua sambil menertawakan aku di belakangku! Dia merebut Gavin bukan karena cinta, tapi karena dia butuhtangan Gavin untuk merampok uang Addison Group demi membiayai gaya hidup mewah kalian!"
Gaby bangkit dari duduknya, berdiri tegak menghadapi ayahnya sendiri dengan aura otoritas yang tidak bisa dibantah. "Selama lima tahun aku bekerja keras, membantu keuangan keluarga, dan merapikan pembukuan perusahaan Papa tanpa pernah mengeluh. Tapi apa yang Papa berikan? Papa selalu menganggap Luna yang terbaik hanya karena dia pandai bersolek dan bermuka dua! Dan sekarang, setelah dia terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang yang merugikan perusahaan suamiku, Papa datang ke sini dan memintaku untuk menjadi seorang pengkhianat?!"
Tuan Wijaya terdiam, wajahnya pucat pasi mendengar fakta hukum yang begitu telanjang. Ia memandang ke arah Edgar Addison yang sejak tadi diam namun memancarkan aura intimidasi yang menekan dadanya hingga sesak.
"Tuan Edgar..." Tuan Wijaya beralih memohon kepada Edgar, menjatuhkan harga dirinya demi putri bungsunya. "Saya mohon... kasihanilah keluarga kami. Gaby adalah istri Anda sekarang. Tolong lepaskan Luna... kami akan mengembalikan uang itu secara dicicil..."
Edgar Emiliano Addison akhirnya bersuara. Suara baritonnya yang berat dan bergaung rendah langsung memotong kalimat Tuan Wijaya seperti kapak yang membelah kayu.
"Uang tiga puluh miliar rupiah bukanlah nominal yang kecil, Tuan Wijaya," ucap Edgar dengan nada santai namun sarat akan kekejaman yang mutlak. "Akan tetapi, yang lebih menjijikkan bagiku bukan soal uangnya, melainkan fakta bahwa anak perempuan keduamu telah berani menusuk istriku dari belakang dan mengotori nama baik Addison Group dengan tindakan kriminalnya."
Edgar melangkah maju, berdiri tepat di samping Gaby, lalu merangkul pundak istrinya dengan posesif. "Setiap ucapan dan tindakan istriku di perusahaan adalah perintahku. Gaby adalah Pimpinan Audit Pusat yang sah, dan keputusannya untuk memenjarakan Luna serta menyegel aset perusahaan Anda didukung penuh oleh seluruh tim hukum terbaik kekaisaran Addison."
Edgar menyipitkan mata elangnya, menatap Tuan Wijaya dengan pandangan merendahkan yang teramat dalam. "Ucapanku bisa dipegang karena aku adalah pria mahal, Tuan Wijaya. Dan sebagai pria mahal, aku tidak akan pernah membiarkan tikus-tikus kecil dari keluarga Anda merusak integritas atau menyakiti wanita yang telah kupilih untuk memegang takhta di sampingku. Jika Anda berani mengancam akan membawa masalah ini ke media untuk menyebut istriku anak durhaka... maka besok pagi, aku pastikan seluruh sisa aset pribadi Anda akan disita, dan Anda akan ikut membusuk di sel yang sama dengan putri bungsu kesayangan Anda."
Ancaman dingin dan mutlak dari Edgar Addison itu seketika meruntuhkan seluruh sisa kekuatan Tuan Wijaya. Pria paruh baya itu melangkah mundur dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia menyadari bahwa malam ini, ia tidak sedang berhadapan dengan Gaby yang penurut dan selalu mengalah. Ia sedang berhadapan dengan Nyonya Besar Addison yang baru, wanita yang kini dilindungi oleh naga paling kejam di dunia bisnis.
"Gaby... kamu... kamu benar-benar tega..." Tuan Wijaya berbisik dengan air mata yang menetes, memandang Gaby dengan tatapan penuh penyesalan yang terlambat.
"Aku hanya melakukan tugasku dengan profesional, Papa," jawab Gaby dingin, berputar membelakangi ayahnya. "Pak Danu, kawal Tuan Wijaya keluar dari properti ini. Dan pastikan dia tidak akan pernah bisa melewati gerbang depan lagi tanpa izin tertulis dariku."
"Baik, Nyonya Besar," jawab Pak Danu yang langsung muncul dari balik pintu bersama dua pengawal berbadan besar.
Tuan Wijaya akhirnya digiring keluar dalam keadaan hancur total, meninggalkan ruang tamu yang kembali sunyi. Gaby menghela napas panjang, menutup matanya sejenak untuk membuang sisa-sisa beban emosional dari masa lalunya yang kini telah runtuh sepenuhnya.
Edgar memutar tubuh Gaby lembut, menarik wanita itu ke dalam dekapan hangatnya. "Kau melakukannya dengan sangat baik, Sayang. Sangat berkelas," bisik Edgar, mengecup puncak kepala Gaby dengan rasa bangga yang luar biasa.
Gaby tersenyum dalam pelukan suaminya, menyandarkan seluruh berat tubuhnya pada dada bidang Edgar. Malam ini, di balik pintu istana Addison yang megah, Gaby tahu bahwa bayang-bayang masa lalunya telah selesai dieksekusi tanpa sisa. Kini, ia siap melangkah ke depan, bukan lagi sebagai korban pengkhianatan, melainkan sebagai penguasa wanita tertinggi di samping sang pria mahal.