NovelToon NovelToon
HARAPAN DALAM AIR MATA

HARAPAN DALAM AIR MATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Keluarga & Kasih Sayang / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Mengubah Takdir / Berbaikan
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arya wijaya

lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT GUGATAN

Namun Ibunya tak boleh curiga kepadanya, akhirnya Ia menjawab juga.

"Iya Aku tahu, tapi Aku belum sempat kesana, jam kapal ini kan tidak menentu Mah"

"Ya sudah Kamu hati-hati di jalan, Erwin Mamah mau bertanya satu hal boleh?"

Erwin agak merasa aneh dengan sikap ibunya, dari tadi Ia berbicara soal Novi, ibu Novi dalam benaknya bertanya ada apa dengan Ibunya.

"Mamah ingin bertanya apa?, bisa di percepat Mah obrolannya, karena Aku sudah mepet sekali dengan jam kerja"

"Kalau begitu nanti saja deh Mamah tanya Kamu, jika Kamu ada di darat, barulah nanti Mamah mendatangi Kamu"

"Baiklah kalau begitu, Aku tutup ya Mah"

"Iya ass...."

Baru saja Bu Maya ingin mengucapkan salam, Erwin sudah menutup panggilan itu.

"Astagfirullah, apa benar yang di katakan Novi, jika Erwin KDRT"

Ujarnya berkata dalam hati.

Namun tiba-tiba saja Bu Maya mendapati panggilan dari Pak Mardi untuk segera menyusulnya karena Ia saat ini sedang berada di rumah teman dekatnya.

"Mamah harus kesana Pah?"

"Iya Mah, ini teman lama Papah, nanti Papah kirim alamat lengkap nya yah"

Tak lama Pak Mardi mengirimkan alamat rumah teman dekatnya itu.

Bu Maya pun menyuruh supir untuk segera ke alamat ini.

Kini Kak Mai merasa tenang, karena semua adik-adik sudah jujur mengatakan permasalahan dalam rumah tangganya.

"Kalian adik-adik Kakak yang sangat Kakak sayang, tolong jika suami-suami Kalian tidak layak di jadikan kepala rumah tangga, maka perceraian adalah solusinya"

"Tapi Kak, jika A Erwin benar ingin berubah bagaimana?"

Tanya Novi.

"Itu terserah Kamu Novi, kalau Kakak lebih baik berpisah dari pada harus sakit hati lagi apalagi Kamu bukan hanya sakit hati tapi sakit hingga ke seluruh badan"

Kini terdengar suara Rian dan Al yang rewel karena lapar.

"Ya ampun sayang Maafkan Mamah ya, jadi tidak mengurus Kamu dengn baik"

Ucap Mai kemudian Ia pergi ke kamar untuk menyusui putranya.

Begitu juga dengan Asri yang kini pergi ke kamarnya untuk menyusui Rian.

"Rina mana Bun?"

"Ada bersama Azra, tumben sekali Ayah bertanya dimana anak-anak"

"Ya kangen saja, tidak mendengar celotehan Rina"

Asri memandangi suaminya dengan pandangan bermakna, di dalam hatinya berharap tidak hanya Erwin yang harus berubah, tapi juga sifat dan sikap suaminya pun harus berubah.

Tak lama datanglah seorang tamu tak di undang.

"Permisi"

"Iya Mas"

Jawab Irna sambil membuka pintu.

"Cari siapa ya Mas?"

"Oh Saya kurir Mbak, ini ada surat dari Tangerang"

"Tanggerang?"

Tanya dengan rasa keheranan Irna.

"Baik.. Saya terima, untuk Kak Mai kan?"

"Iya Mbak, silahkan tanda tangan disini ya"

Irna pun mengambil surat tersebut, walau Ia sungguh penasaran tapi surat itu untuk Kakaknya, Ia pun menunggu Kak Mai hingga selesai menyusui Putranya.

Sementara Irna mengajak semua anggota keluarga untuk makan siang.

"Ayo Kita makan, Kak Novi sudah ya lupakan dulu masalah Kakak, Kita makan siang dulu"

"Iya Dek"

Irna pun mengambil makanan untuk Suaminya, dan Mereka makan dengan saling menyuapi, pemandangan itu pun terlihat oleh Novi, dan membuat hatinya menjadi menangis kembali.

"Tante Novi kenapa menangis?"

Tanya Azra, dan Irna langsung menoleh lalu bertanya,

"Loh Kak, kan Aku bilang jangan bersedih lagi, sudah lupakan dulu masalah Kakak"

"Iya Irna, Kakak hanya sedih mengapa suami Kakak tidak seromantis Arif"

Arif pun merasa tak enak hati kini Kakak nya berbicara seperti itu.

"Ya ampun Kak, Aku minta maaf yah, harusnya Aku gak melakukan keromantisan disini"

"Gak apa-apa kok Dek, di satu sisi Kakak bahagia melihat kebahagiaan Kalian, Arif... tolong Arif batalkan niat Kamu berpoligami, karena Kamu harusnya bersyukur bisa mendapatkan sosok wanita seperti Irna"

Arif hanya tersenyum hangat dan menjawab,

"Insyaallah Kak Novi, Aku akan berusaha semampu ku"

Irna menatap suaminya saat bertanya seperti itu.

"Sudah-sudah katanya jangan ada kesedihan dulu saat ini, kok malah Kalian yang mellow"

Mereka pun tersenyum bersama kemudian menikmati makan siang dengan tenang.

Tak lama Kak Mai keluar dari kamar dan menggendong Al putra sulungnya.

"Kak Mai"

Panggil Irna yang sedang duduk di meja makan.

"Iya Dek.. Kenapa?"

"Ini loh ada surat katanya dari Tanggerang, tapi Aku tidak tahu isinya apa"

Mai pun menerima surat itu, lalu Ia membuka surat tersebut dan membacanya dengan seksama.

"Jadi ini akhirnya"

Ucap Mai berkata dalam hati, dengan raut wajah bersedih.

Melihat kesedihan dari raut wajah Kakaknya, Irna pun penasaran apa isi surat tersebut.

"Kak kenapa? Kok tegang sekali, terus Kakak kenapa bersedih?"

Mai memandangi Irna dengan tatapan sedih, kemudian Ia memberikan surat itu pada Irna.

Irna segera membacanya, betapa terkejutnya Irna saat tahu isi surat tersebut adalah surat gugatan cerai dari Mas Hasan.

"Astagfirullah, apa ini benar Kak?"

Tanya Irna yang merasa tak percaya.

"Benar.. Dan inilah akhir dari pernikahan Kakak"

"Ya Allah Kak, Aku ikut bersedih"

Arif hanya bisa menyimak pembicaraan Mereka dengah penasaran Arif pun mengambil surat tersebut di atas meja dan membacanya.

"Kak Hasan menggugat Kak Mai?"

"Iya Arif, dan ini lah kenyataannya, ternyata sebesar apapun rasa cinta Kita pada seseorang, kalau bukan Kita tujuannya, pasti Dia akan melepas Kita"

Ungkap kesedihan Kak Mai, lalu Kak Mai memandang wajah anak-anaknya, entah apa yang akan Dia lakukan setelah ini, dan bagaimana caranya membesarkan dan membiayai kehidupan anak-anaknya kelak.

Begitupun Novi, Dia hanya bisa diam termenung dan mungkin surat perceraian selanjutnya adalah dirinya dengan suaminya.

Tak lama Asri pun pamit untuk kembali ke rumah karena Ia harus mengerjakan tugas mencuci dan menyetrika.

"Aku pulang ya Kak, Dek"

Semuanya hanya menganggukkan kepalanya, tak ada yang menjawab, merasa aneh Asri pun bertanya,

"Kalian semua kenapa, apa ada masalah lagi?"

"Ini kak"

Novi memberikan selembar amplop coklat.

"Apa ini?"

Dan ketika Asri mengetahuinya, Ia pun di buat syok akan isi surat tersebut.

"Astagfirullah Mas Hasan benar-benar ingin menceraikan Kakak?"

"Iya Asri, Kakak memang pantas mendapatkannya, karena Kakak sudah melanggar perintah dari suami"

"Tapi harusnya tidak seperti ini, masa hanya karena Kak Mai pulang ke rumah Ibu, Mas Hasan menceraikan Kakak, apa masalahnya sih kak, padahal Kakak gak kabur jauh, Kakak disini menemani Ibu hingga nafas terakhir"

Asri sepertinya saat ini geram dengan Hasan, karena sungguh apa yang di lakukannya saat ini seperti anak kecil dan mempermainkan pernikahan.

"Kak sudah ya jangan sedih, Kami semua adik-adik Kakak, akan bersama-sama membantu Kakak, merawat anak-anak Kakak"

Ucap janji Asri kepada Kakaknya, setelah itu Ia mencium semua anak-anak Kak Mai, dengan berkata,

"Azra, Kamu Kakak dalam keluarga, sama hal nya seperti Kak Mai, Dia Kakak Kami, Azra harus bisa membuat bahagia Mamah ya"

"Iya Tante, Aku sebenarnya sudah mengerti, kemarin Papah marah-marah dan melarang Mamah pergi kesini, Aku tahu Mamah sedih waktu itu, dan Aku juga berjanji akan membahagiakan Mamah saat itu juga"

"Anak pintar, Tante harus pulang, jaga Mamah dan adik-adik yah"

"Iya Tante"

Asri beserta keluarganya pun pulang ke rumah.

Bu Maya kini telah sampai di lokasi yang sudah dikirimkan oleh suaminya.

"Benarkan ini lokasinya, ini Pak ongkosnya"

Bu Maya memberikan uang pecahan besar, dan saat sedang menunggu kembalian Bu Maya melihat Erwin Putranya berjalan ke suatu tempat.

"Itu kan Erwin, kok Dia disini katanya di Rosalia"

Baru saja Bu Maya ingin berteriak memanggil sang anak, si Pak supir kini berbicara memberikan kembalian.

"Iya Pak, terimakasih ya"

Erwin masih nampak dalam penglihatan ibunya, merasa curiga Bu Maya pun mengikutinya dari belakang.

Erwin pun sampai di rumah Citra si selingkuhannya, Erwin mengetuk pintu dan Citra membukakan pintu tersebut.

"Hay sayang, lama sekali sih datangnya"

Ucap Citra berbicara dengan suara manjanya.

Bu Maya syok mendengar perkataan itu, hingga matanya terbelalak lebar.

"Ayo masuk, Aku sudah siapkan jamu yang biasa Kamu minum dan obat ini"

Citra menunjukkan obat gila itu di depan wajah Erwin, dan Erwin merespon dengan tersenyum genit pada Citra.

"Aduh di dalam saja yuk, sudah gak tahan nih"

Melihat kejadian itu di depan mata Bu Maya, kini Bu Maya menjadi mengerti kesedihan dan penderitaan menantunya itu.

"Astagfirullah Erwin, apa yang baru saja Kamu lakukan Nak"

Tak puas hanya dengan melihat hal itu, Bu Maya kini penasaran apa yang akan di lakukan Erwin di dalam rumah wanita itu.

Dan baru saja ingin melangkah, Pak Mardi menelpon istrinya bertanya sudah sampai dimana keberadaannya.

"Pah.. Sekarang Papah kesini ya, Mamah sedang melihat Erwin berada di rumah wanita sambil bermesraan Pah"

Pak Mardi pun terkejut mendengar berita itu, demi mengetahui kebenarannya, Pak Mardi pamit pada teman lamanya dan segera mendatangi istrinya berada.

1
Lita Pujiastuti
tinggalkan Erwin, Nov...
Lita Pujiastuti
Kenapa laki² hanya menuruti nafsu saja. Semoga pd kena HIV...biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
walau kepepet butuh biaya utk ibunya. Tapi caranya gk gitu jg, Citra
Lita Pujiastuti
Mbak, kok tidak update²?...saya tunggu lhooo...
Arya wijaya: makasih bnyk ya mbak sudah mampir di di cerita novel ku🥰
total 2 replies
Lita Pujiastuti
Erwin mmg harus segera ditinggalkan..biar tahu rasa
Lita Pujiastuti
Payah kamu, Win. Tunggu saja, suatu saat Novi akan meninggalkanmu jika kamu masih lanjut dg Citra
Lita Pujiastuti
ansknya gk ada masa gk lihat
Lita Pujiastuti
pil kuning yg dosisnya dikurangi...
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam
Lita Pujiastuti
Istiqomah, Erwin....awas, bisa kehilangan Novi klo kamu kambuh
Lita Pujiastuti
Alhamdulillah, ada jln terang utk Mai
Lita Pujiastuti
Hasan paling menyebalkan diantara menantu yg lain...licik
Lita Pujiastuti
Jauhi Citra, Win. Dia biang kerok semua masalahmu...jgn mau dibodohi lg dg obat²an dan jamu itu..
Lita Pujiastuti
semoga semua kakak beradik itu kisahnya berakhir bahagia
Lita Pujiastuti
Erwin ra nggenah... istri buat jaminan utang...
Lita Pujiastuti
,si Feey...pelit tryt
Lita Pujiastuti
Ceritanya bagus, problematik kalangan menengah bawah...bukan CEO seperti kisah kebanyakan di noveltoon..
Lita Pujiastuti
Mau aja, Mai...
Lita Pujiastuti
Erwin harus ke dokter dan mulai rehabilitasi. sepertinya dia konsumsi. narkoba
Lita Pujiastuti
Kerja lagi aja, Asri ..
Lita Pujiastuti
Kenapa punya suami gk ada yg bener, sih....ini jln terbaik cerai. Walau dlm agama sebenarnya harus dihindari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!