NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 7

Gelak tawa di ruang keluarga keluarga Atmaja Group belum juga reda.

Di sofa utama duduk Edward Wijaya, ayah Raymond sekaligus Presiden Direktur Atmaja Group. Di sampingnya, sang istri Diana Wijaya, yang sejak tadi tak bisa menyembunyikan senyumnya.

Di kursi tunggal dekat jendela, Kakek Surya Wijaya menikmati secangkir teh sambil sesekali terkekeh melihat tingkah putra dan menantunya.

Tak jauh dari sana, Nenek Ratna Wijaya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil merajut.

Dua adik Raymond, Richard Wijaya dan Raina Wijaya, juga ikut berkumpul. Mereka sama penasarannya dengan kabar yang baru saja dibawa kepala pengawal.

Diana memandangi foto Raymond yang terpajang di atas lemari, lalu tersenyum sendiri.

"Mas?" panggilnya. Edward menoleh.

"Menurutmu, Angela sukanya bunga atau cokelat?" Edward yang baru saja menyeruput kopi langsung tersedak. Diana buru-buru menepuk punggung suaminya.

"Pelan-pelan, Mas." Edward mengusap bibirnya dengan tisu.

"Pertanyaanmu kepagian."

"Lho, siapa tahu nanti kepakai."

"Kepakai buat apa?" Diana tersenyum tanpa dosa.

"Buat ngambil hati calon menantu."

"Mah!" Richard langsung tertawa sampai memegang perut. "Kasihan Kak Raymond. Belum jadian, calon istrinya udah disambut."

Raina ikut mengangguk sambil terkikik.

"Kalau Kak Raymond tahu, dia pasti langsung kabur." Diana mendelik ke arah kedua anaknya.

"Apaan, sih. Mama cuma antisipasi."

"Antisipasi apanya?" goda Richard.

"Kalau nanti Angela main ke rumah." Edward kembali memijat pelipis.

"Mah!"

"Apa lagi?"

"Mereka baru kenal dua hari."

"Iya."

"Terus?"

"Mama mikir jauh ke depan." Richard langsung menyela.

"Jauh banget, Mah." Raina menahan tawa.

"Besok-besok Mama sekalian pesan gedung nikahan."

"Hush!" Diana mencubit pelan lengan putrinya.

"Doain yang baik." Kakek Surya yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara.

"Mama mu ini kalau udah semangat, besok paling juga udah milih nama buat cicit."

Beliau menggeleng sambil tertawa. Semua langsung tertawa. Sedangkan Diana malah mengangguk serius.

"Kalau cucunya perempuan?"

"Mah!" Edward langsung memotong sebelum istrinya semakin jauh berkhayal. Belum sempat obrolan berlanjut, kepala pengawal kembali masuk membawa sebuah map.

"Tuan Edward." Ayah Raymond menengok.

"Ini laporan terbaru mengenai aktivitas Tuan Raymond." Diana langsung berdiri dan mengambil map tersebut.

"Sini, biar aku baca." Edward buru-buru menarik map itu lebih dulu.

"Hei, aku dulu."

"Mas!"

"Sebentar." Keduanya malah saling tarik map.

Richard sampai geleng-geleng kepala.

"Ra."

"Hm?"

"Orang kaya ternyata rebutan map juga." Raina mengangguk setuju.

"Kirain rebutannya saham perusahaan." Mendengar celetukan itu, Kakek Surya langsung tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha! Mulut kalian berdua persis ayah kalian waktu muda." Edward pura-pura batuk.

"Nggak usah bawa-bawa masa lalu." Ia membuka map itu, lalu mulai membaca.

"'Pukul 07.15, Tuan Muda menjemput Nona Angela di rumah kontrakannya.'" Diana langsung menepuk bahu suaminya.

"Tuh, kan!" Edward melanjutkan.

"'Pukul 07.48, Tuan Muda membukakan pintu mobil."Richard langsung siulan.

"Wih..."

"'Pukul 12.30, menemani makan siang.'" Raina sampai menutup mulut.

"Nggak mungkin." Edward membaca lagi.

"'Pukul 15.10, kembali ke mobil hanya untuk mengambil kotak bekal milik Nona Angela.'"

Ruangan kembali hening. Richard berkedip beberapa kali.

"Sebentar?" Richard menggantung kalimatnya. "Kak Raymond, rela balik cuma gara-gara bekal?" Raina mengangguk pelan.

"Kayaknya..."

"Kak Raymond beneran kena." Raina sengaja menggantung kalimatnya dan tersenyum jahil. Diana langsung memegang dada.

"Aduh ! Anak Mama akhirnya jatuh cinta."

Edward masih berusaha menyangkal.

"Belum tentu." Semua langsung menoleh kepadanya.

"Belum tentu gimana, Yah?" tanya Richard sambil menyeringai. Edward berpikir keras.

"Mungkin, dia lagi baik hati." Ruangan mendadak sunyi. Detik kemudian

"Hahahaha!"

Semua tertawa bersamaan. Bahkan Nenek Ratna yang sedari tadi diam ikut terkekeh.

"Edward," "Beliau menggeleng pelan. "Dari kecil sampai sekarang, Raymond itu baik."

"Iya."

"Tapi," Nenek Ratna tersenyum penuh arti. " dia nggak pernah sebaik ini sama perempuan." Kalimat itu langsung membuat Edward menyerah. Ia mengembuskan napas panjang.

"Oke."

"Aku kalah." Diana langsung bersorak kecil.

"Yes!" Lalu ia menangkup kedua tangannya di depan dada.

"Semoga Angela betah sama Kak Raymond." Richard langsung nyeletuk,

"Yang penting, Semua menoleh. "Angela kuat dulu menghadapi sifat datar Kak Raymond."

Satu ruangan kembali dipenuhi gelak tawa.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Rumah keluarga Wijaya terasa begitu hangat.

Dan semua itu, berawal dari seorang mahasiswi sederhana bernama Angela yang, tanpa disadari, mulai mengubah putra sulung keluarga Wijaya sedikit demi sedikit.

****

Malam itu, suasana di ruang keluarga memang sudah kembali tenang. Namun ternyata, ketenangan itu hanya berlangsung sekitar lima menit. Diana Wijaya tiba-tiba berdiri dari sofa sambil menepuk kedua tangannya.

"Aku punya ide!" Edward Wijaya yang sedang membaca laporan perusahaan langsung menurunkan kacamatanya.

"Tolong jangan." Diana mengerutkan dahi.

"Lho? Aku aja belum ngomong."

"Justru itu." Edward menghela napas pasrah. "Kalau kamu bilang 'aku punya ide', biasanya rumah ini nggak bakal tenang."

Richard yang sedang bermain gim langsung mengangkat kepala.

"Fix! Mama mau bikin operasi rahasia."

Raina mengangguk cepat.

"Seratus persen." sahut Raina. Diana melotot ke arah kedua anaknya.

"Kalian ini, ya."

"Aku cuma pengin tahu_ " Ia menoleh ke kepala pengawal. "Angela orangnya seperti apa?" Kepala pengawal tampak salah tingkah.

"Maaf, Nyonya," ucapan terjeda sejenak "Saya belum berani mendekat." sambungnya.

"Kenapa?"

"Saya takut ketahuan Tuan Muda." Richard langsung tertawa.

"Kasihan Om Surya belum apa-apa udah takut sama Kak Raymond." Kepala pengawal hanya tersenyum kecut.

"Bukan takut, Tuan Richard."

"Terus?"

"Saya ingin umur saya panjang." Sontak satu ruangan kembali pecah oleh tawa.

Bahkan Edward sampai menepuk-nepuk sandaran sofa sambil tertawa kecil.

"Nah, itu baru jawaban jujur." Diana masih belum menyerah.

"Kalau begitu..." Ia menoleh ke Richard dan Raina bergantian. "Kalian aja yang ke kampus." Richard yang sedang minum jus langsung menyemburkan minumannya.

"Mama!"

"Apa?"

"Mau nyuruh kami jadi mata-mata?"

"Bukan."

"Terus?"

"Pengamat." Raina langsung memegangi perutnya karena kebanyakan tertawa.

"Mah... Itu beda tipis." Edward buru-buru mengangkat telunjuk.

"Nggak ada yang boleh ke kampus."

"Mas..."

"Nggak."

"Tapi aku penasaran." Edward menggeleng tegas.

"Kalau Raymond tahu kita nyuruh orang ngawasin Angela, yang ada dia pindah rumah. Mama mau itu terjadi?" Beliau menatap istrinya penuh arti. Richard langsung mengangguk cepat.

"Setuju."

"Kak Raymond paling nggak suka dicampurin urusan pribadinya." Diana mendengus pelan.

"Iya juga, sih."

Tepat saat itu, ponsel Edward berdering. Beliau melihat nama penelepon di layar.

Raymond.

"Eh, anakmu nelepon," katanya sambil memperlihatkan layar ponsel kepada Diana.

Diana langsung mendekat.

"Cepat Lospeker" Edward mengangkat panggilan, lalu menyalakan pengeras suara.

"Ray."

"Ya, Dad."

Suara Raymond terdengar tenang dari seberang.

"Rapatnya sudah selesai?"

"Sudah."

"Bagus." Edward mengangguk pelan.

"Capek?"

"Biasa." Diana yang sudah tak sabar langsung menyela.

"Raymond!"

"Hm?"

"Kamu udah makan malam belum?"

"Sudah."

"Apa makannya?"

"Masakan hotel." Diana langsung menghela napas.

"Ya ampun. Besok pulang ke rumah ya"

"Nanti lihat jadwal."

"Bukan nanti." Diana mulai mengeluarkan jurus andalannya. "Mama kangen."

Ruangan langsung hening.

Richard menutup mulutnya sambil berbisik pada Raina,

"Senjata pamungkas keluar." Raina mengangguk.

"Kalau itu biasanya ampuh." Benar saja.

di ujung telepon, Raymond terdiam beberapa detik.

"Oke." Diana langsung tersenyum lebar.

"Yeay!"

"Tapi malam."

"Nggak apa-apa." Edward yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.

"Ray."

"Ya, Dad."

"Jangan terlalu banyak kerja."

"Iya."

"Jaga kesehatan."

"Iya." Diana kembali menyela.

"Terus..." Edward langsung melirik istrinya.

"Jangan." Diana pura-pura tidak dengar.

"Angela sehat, kan?"

Seketika, ruang keluarga membeku. Richard memejamkan mata. sedangkan Raina langsung menepuk dahinya. Edward menutup wajahnya dengan telapak tangan.

Sementara di ujung telepon, tidak terdengar suara apa pun selama beberapa detik.

Raymond akhirnya bertanya dengan nada datar.

"Mama tahu dari mana nama Angela?" Diana refleks menutup mulut.

"Waduh..."

Richard langsung berbisik,

"Mama keceplosan." Edward mengembuskan napas panjang.

"Habis sudah." Di seberang telepon, Raymond mulai curiga.

"Dad. Ada yang mau jelasin?" Edward menoleh tajam ke arah istrinya. Diana nyengir kaku.

"Itu..."

"Apa?"

"Mama cuma," Belum sempat Diana menemukan alasan, Kakek Surya yang sedari tadi menikmati pertunjukan itu justru tertawa lepas.

"Hahaha!" Beliau mengambil ponsel dari tangan Edward.

"Raymond."

"Iya, Kek."

"Kakek cuma mau bilang satu."

"Apa?"

"Selamat." Raymond mengernyit.

"Selamat untuk apa?" Kakek Surya tersenyum penuh arti.

"Akhirnya, ada juga perempuan yang bikin seluruh keluarga heboh hanya dalam waktu dua hari."

Di ruang keluarga, semua orang langsung menahan tawa sambil menunggu reaksi Raymond sedangkan di ujung telepon, untuk pertama kalinya malam itu, Raymond benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Di ujung telepon, Raymond mengembuskan napas pelan.

"Kek."

"Ada apa?" sahut Kakek Surya santai.

"Kalian nyuruh orang ngawasin aku?"

Begitu kalimat itu keluar, seluruh ruang keluarga langsung saling pandang. Richard buru-buru menggeleng.

"Bilang bukan! Bilang bukan!"

Raina ikut mengibas-ngibaskan tangan ke arah ibunya.

"Ma, jangan ngomong jujur!"

Diana langsung berbisik panik.

"Ayah, jawab apa?"

Edward memijat pelipis.

"Yang bikin masalah siapa, yang disuruh jawab aku."

Kakek Surya justru tertawa kecil.

"Nggak."

"Nggak?"

"Kakek cuma kebetulan... punya mata dan telinga di mana-mana."

Raymond langsung paham.

"Itu artinya iya."

"Hahaha!" Kakek Surya malah tertawa makin keras. "Anak ini memang susah dibohongi."

Edward akhirnya mengambil alih ponsel.

"Ray."

"Iya, Dad."

"Kamu jangan salah paham."

"Kalian lagi nyelidikin Angela?"

"Bukan."

"Terus?" Edward melirik istrinya yang masih senyum-senyum sendiri.

"Mama kamu... cuma terlalu semangat."

Diana langsung protes.

"Lho! Aku ini peduli." Richard nyeletuk pelan,

"Peduli level seratus." Raina menimpali,

"Kurang dikit jadi intel."

"Hei!" Diana melempar bantal sofa ke arah kedua anaknya. Richard menangkap bantal itu sambil tertawa.

"Mah, sakit!"

"Itu bantal!"

"Iya sih..." Suasana kembali ricuh.

Di seberang telepon, terdengar helaan napas pasrah dari Raymond.

"Dad."

"Hm?"

"Tolong jangan ganggu Angela."

Kalimat itu membuat semua orang langsung diam. Tak ada lagi yang bercanda. Edward mengangguk pelan, meski Raymond tak bisa melihatnya.

"Kamu tenang saja. Nggak ada satu pun dari kami yang akan mengganggunya."

Raymond kembali berkata dengan nada tenang.

"Dia orang biasa."

"Iya."

"Dia nggak suka jadi pusat perhatian."

Edward melirik Diana. Sang istri langsung mengangguk cepat, memberi isyarat bahwa ia mengerti.

"Kalau begitu..." Edward tersenyum tipis. "Kami janji, nggak akan ada yang mendekatinya tanpa izinmu."

Raymond terdiam beberapa saat.

"Terima kasih."

Richard langsung membelalakkan mata. Ia menepuk pelan bahu Raina.

"Ra."

"Hm?"

"Tadi...Kak Raymond bilang apa?"

"'Terima kasih'." Raina ikut melongo.

"Buset...Kak Raymond lagi baik banget hari ini."

Kakek Surya kembali terkekeh.

"Bukan." Beliau mengelus jenggotnya pelan.

"Dia bukan lagi baik."

"Terus?"

"Dia lagi takut." Semua langsung menoleh.

Diana mengernyit.

"Takut?" Kakek mengangguk pelan.

"Takut gadis itu pergi sebelum dia sempat mengenalnya lebih jauh." Kalimat sederhana itu membuat ruang keluarga kembali sunyi.

Bahkan Edward pun tak lagi bercanda. Di ujung telepon, Raymond tidak membantah.

Ia juga tidak mengiyakan, namun diamnya

sudah menjadi jawaban yang paling jelas.

Kakek Surya tersenyum penuh kemenangan.

"Raymond."

"Iya, Kek."

"Kalau memang suka..." Beliau berhenti sejenak."...jangan kebanyakan mikir." Raymond mengernyit.

"Maksud Kakek?"

"Kamu ini cucuku." Kakek tersenyum geli.

"Pintar ngurus perusahaan."

"Pintar cari uang."

"Tapi urusan perempuan..." Beliau menggeleng pelan. "...nilainya nol." Richard langsung tertawa terbahak-bahak.

"Hahaha! Setuju banget!" Raina ikut mengangguk.

"Kak Raymond mana pernah deket sama cewek." Edward tersenyum geli.

"Bahkan waktu SMA_," Beliau sengaja menggantung kalimatnya. Raymond langsung menyela.

"Dad."

"Hm?"

"Jangan bahas masa lalu." Richard langsung penasaran.

"Eh, eh!"

"Kak Raymond waktu SMA kenapa?" Edward menyeringai jahil.

"Dulu ada cewek yang nembak dia." Richard langsung maju ke depan.

"Terus?"

"Raymond jawab..." Edward menahan tawa.

"'Maaf, saya sedang fokus belajar.'" Satu rumah langsung meledak oleh gelak tawa.

"Hahaha!" Raina sampai memegang perutnya.

"Ya ampun...Pantes sampai sekarang jomblo."

Diana ikut mengangguk sambil tertawa.

"Makanya Mama hampir putus asa."

Di seberang telepon, Raymond hanya bisa mengembuskan napas panjang.

"Kalian sudah selesai?" Edward masih tertawa kecil.

"Udah."

"Kalau begitu aku tutup."

"Ray."

"Hm?" Diana buru-buru mengambil ponsel.

"Mama cuma mau bilang satu."

"Apa?"

"Jangan bikin Angela nunggu terlalu lama."

Raymond terdiam. "Laki-laki keluarga Wijaya "...kalau sudah menemukan seseorang yang bikin nyaman, jangan sampai dilepas."

Diana tersenyum hangat.

Beberapa detik berlalu.

Lalu terdengar jawaban singkat dari Raymond.

"Iya, Ma." Panggilan pun berakhir.

Diana memeluk lengan suaminya sambil tersenyum puas. Edward menggeleng geli.

"Kenapa senyum-senyum?" Diana menatap foto Raymond sekali lagi.

"Perasaan Mama nggak pernah salah."

"Hm?"Ia tersenyum penuh arti.

"Sebentar lagi ...rumah ini bakal lebih sering kedatangan tamu spesial." Richard langsung nyeletuk,

"Semoga tamunya tahan sama wajah datar Kak Raymond."

"Richard!" Bantal sofa kembali melayang. Dan untuk kedua kalinya malam itu, rumah keluarga Wijaya dipenuhi tawa tanpa henti.

****

Sementara di sisi lain kota. Mobil Raymond akhirnya memasuki halaman mansion keluarga Wijaya. Lampu-lampu taman yang hangat menerangi jalan masuk, sementara beberapa pelayan sudah berbaris rapi menyambut kedatangannya.

"Selamat malam, Tuan Muda."

Raymond hanya mengangguk tipis.

"Malam." Baru dua langkah memasuki ruang utama...

"Raymond!" Suara itu menggema ke seluruh ruangan. Raymond berhenti. Ia bahkan belum sempat melepas jasnya. Diana Wijaya sudah berlari kecil menghampiri dengan senyum yang begitu lebar. Edward yang berjalan di belakang istrinya langsung menggeleng.

"Ma , pelan-pelan."

"Sebentar." Diana berdiri tepat di depan Raymond. Ia menatap putra sulungnya dari atas sampai bawah.

"Ada apa, Ma?" Raymond mengernyit , Diana memiringkan kepala ke kanan.

"Nggak ada."

"hah?" Raymond terlihat bingung.

"Mama cuma lagi lihat."

"Lihat apa?"

"Kamu demam nggak?" Raymond spontan menyentuh dahinya sendiri.

"Nggak." Diana ikut menempelkan telapak tangannya ke dahi Raymond.

"Hmm... normal." Richard yang baru turun dari tangga langsung cekikikan.

"Tes pertama lolos." Raymond menoleh.

"Maksudnya?" Raina ikut muncul sambil membawa semangkuk popcorn.

"Kak..."

"Hm?"

"Kamu yakin masih Kak Raymond?" Raymond makin bingung.

"Kenapa?"

"Soalnya kata Mama, Kakak sekarang suka senyum". Raina menahan tawa.

Raymond terdiam. Lalu, Richard langsung maju sambil pura-pura mengamati wajah kakaknya.

"Sebentar..." Ia menyipitkan mata.

"Mana senyumnya?" Raymond menatap adiknya datar.

"Richard."

"Iya?"

"Kalau nggak ada kerjaan..."

"Hm?"

"...bantu Dad cek laporan keuangan."

Richard langsung mundur dua langkah.

"Hehe..."

"Nggak usah." Edward yang melihat tingkah kedua putranya langsung tertawa kecil.

"Masuk dulu. Makan malamnya masih hangat." Raymond mengangguk.

Baru saja ia hendak melangkah, Diana kembali menghadangnya.

"Sebentar." Raymond mengembuskan napas pelan.

"Iya, Ma?"

"Mama cuma mau tanya satu hal."

"Apa?"

"Angela suka masakan rumah nggak?"

Ruangan mendadak sunyi. Richard langsung memejamkan mata.

"Mulai..." Raina memasukkan segenggam popcorn ke mulutnya.

"Ini dia." Raymond memandang ibunya beberapa detik.

"Ma."

"Hm?"

"Aku juga baru kenal dua hari."

"Oh iya." Diana menepuk dahinya sendiri. "Mama lupa."

"Mah, jangan-jangan besok Mama nanya golongan darah Angela." Richard langsung nyeletuk,

Diana berpikir sejenak.

"Eh...Itu penting juga."

"MA!" Kini Raymond yang berseru.

Semua langsung tertawa, bahkan para pelayan yang berdiri di sudut ruangan sampai menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan senyum. Raymond hanya bisa menggeleng pelan.

"Kalian aneh." Edward terkekeh.

"Bukan kami."

"Terus?"

"Kamu."

"Lho?"

"Kamu itu berita paling heboh hari ini."

Raymond mengangkat sebelah alis.

"Hanya karena aku mengantar teman?"

Edward belum sempat menjawab. Kakek Surya yang baru keluar dari ruang baca lebih dulu bersuara.

"Bukan." Semua menoleh, kakek berjalan santai sambil membawa tongkat kayunya.

"Yang bikin heboh bukan karena kamu mengantar seorang gadis." Beliau berhenti tepat di depan Raymond. Kakek tersenyum penuh arti

"Tapi, karena akhirnya ada gadis yang berhasil membuat cucuku melakukan sesuatu yang bahkan keluarganya sendiri nggak pernah berhasil minta." Raymond mengernyit.

"Contohnya?" Kakek menghitung dengan jari.

"Nganter, temenin belajar, balik lagi cuma gara-gara kotak bekal, rela kehujanan, sampai lupa waktu." Beliau menatap Raymond lekat-lekat. "Itu semua bukan sifatmu."

Richard langsung mengangguk semangat.

"Betul!"

"Biasanya Kak Raymond kalau orang ketinggalan barang..." Ia menirukan suara datar kakaknya. "'Besok juga ketemu.'" Sontak satu ruangan kembali pecah oleh tawa.

Raymond memijat pelipisnya.

"Richard."

"Iya, Kak?"

"Kamu banyak waktu luang?" Richard langsung berdiri tegak.

"Nggak."

"Besok ikut Dad ke kantor." Senyum Richard langsung lenyap.

"Lho?"

"Kenapa gue?" Edward menepuk bahu putra bungsunya sambil tertawa.

"Salah sendiri, mulutnya nggak ada rem."

Richard langsung menatap Raina.

"Tolongin gue." Raina malah tertawa makin keras.

"Nggak mau." Melihat rumah yang dipenuhi tawa, Raymond mengembuskan napas pelan.

Entah sejak kapan, suasana rumah yang biasanya terasa formal dan penuh pembahasan bisnis, mendadak berubah seperti arena komedi keluarga. Dan semua kekacauan itu berawal dari satu nama.

Angela.

Raymond menggeleng kecil sambil tersenyum tipis yang nyaris tak terlihat.

Melihat senyum itu, Diana spontan memekik pelan.

"Mas! Lihat!" Edward menoleh.

"Apa lagi?"

"Raymond senyum!" Semua orang serempak menoleh ke arah Raymond. Raymond yang sadar sedang diperhatikan langsung kembali memasang wajah datarnya.

"..."

Richard menunjuk kakaknya sambil tertawa.

"Tuh, ketahuan!"

Raymond menghela napas panjang.

"Aku jadi nyesel pulang."

Sontak satu rumah kembali dipenuhi gelak tawa yang terdengar hingga ke halaman mansion.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!