Zheyara : "Aku berjanji akan membebaskan kalian dari lingkaran kematian ini, meskipun sedikit mustahil bagi diriku sendiri".
Misteri, ya dunia ini adalah misteri dan teka-teki dan orang yang paling banyak mengetahui semua misteri itu adalah perwujudan sosok misteri itu sendiri.
misterius, cover yang sangat menarik dari diri seseorang. Dalam diamnya, terdapat banyak rahasia yang dipendam, dalam sunyi banyak hal yang terusik, dan dalam sepi banyak sesuatu yang menari sehingga menciptakan suatu misteri.
"Aku tak akan membunuh kalian semua tetapi bukan berarti aku melupakan dendamku. Hanya saja aku merubah arah panah dendam itu menjadi 2 sisi yang sangat tajam sekaligus menyenangkan bagiku. Satu sisi membuatku menjadi kuat dan Istimewa, dan satu sisi lainnya membuat orang yang membenciku lebih terluka berkali" lipat untuk sekedar melihatnya daripada terluka karna pembalasan sebuah dendam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azyhra Angkasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi Bersama Peri Yiera
Zheya mengetuk pintu kamar Xialie dan ingin langsung membukanya. Tetapi berbarengan dengan itu ada seorang pelayan yang lebih dulu keluar membawa nampan kosong dari kamar itu.
"Bibi ... apakah ibu ada di dalam," tanya Zheya pada pelayan itu.
"Ah mengagetkanku saja, rupanya Tuan Putri sudah kembali. Permaisuri Xialie hari ini sedang tidak mau makan Tuan Putri."
"Permaisuri marah pada kaisar karena sudah dua hari mencari-cari Tuan Putri tetapi tak kunjung menemukan Tuan Putri juga," ucap pelayan itu.
"Iya Bi, ini memang salahku ... karena aku tak memberitahu kepergianku kepada kedua orangtuaku. Jadi mereka mencari-cariku."
"Kalau begitu aku masuk dulu ya, Bi. Terimakasih sudah menjaga ibuku saat aku tidak ada."
Pelayan itu pun tersenyum. "Ini sudah menjadi kewajiban seorang pelayan sepertiku Tuan Putri. Aku juga pamit untuk kembali ke dapur," ucapnya sedikit membungkukkan badan.
Zheya masuk dan melihat ibunya yang sedang terbaring dan meringkuk di kamar. Zheya pun menghampiri Xialie lalu memeluknya erat.
"Ibu aku sudah kembali. Maafkan aku karena lupa memberitahumu tentang kepergianku. Aku hanya membantu mencarikan penawar racun untuk Miangji."
"Aku kira juga kepergianku tidak akan lama dan bisa kembali di hari yang sama, itu sebabnya aku tak mengabari Ibu atau pun ayah."
"Tetapi ternyata dugaanku salah, perjalananku untuk mendapatkan penawar itu sangat sulit, sehingga membuatku harus menginap beberapa hari di sana," ucap Zheya berusaha menjelaskan pada ibunya.
Xialie pun berbalik badan dan membalas pelukan Zheya. "Tidak apa, Nak. Ibu hanya terlalu khawatir padamu," balas Xialie.
"Karenaku, Ibu jadi marah pada ayah. Dan sekarang aku sudah kembali, jadi aku minta Ibu bisa segera berbaikan dengan ayah. Lagipula ini bukan salah ayah... Bu," bujuk Zheya.
"Baiklah ... asal kau berjanji pada ibu untuk tidak pergi lagi," ucap Xialie luluh.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi, Bu. Tetapi aku punya satu tugas yang hanya ini cara untuk mencapainya," ucap Zheya sendu.
"Jadi benar? Kau akan pergi lagi meninggalkanku, Nak?" tanya Xialie sedih.
"Iya ibu, tetapi hanya beberapa minggu. Setelah aku sudah mampu menguasai semuanya aku akan segera kembali."
"Aku mohon Ibu memberikanku izin ya..." rayu Zheya.
"Tetapi untuk apa kau pergi? Tak bisakah kau tetap di sini saja bersama ibu? Kau kan baru saja kembali, Nak." ucap Xialie masih belum rela Zheya pergi lagi.
"Aku ingin pergi untuk berlatih beladiri dan belajar berkultivasi. Maaf jika aku tidak punya waktu yang cukup banyak bersama ibu. Tetapi aku ingin bisa melindungi Ibu, ayah, dan keluarga kita," ucap Zheya lirih.
Setelah berfikir dan menimbang-nimbang cukup lama Xialie pun akhirnya berbicara. "Ibu mengizinkanmu, asal kau memiliki orang yang dapat dipercaya untuk menjaga dan mengawasimu," ucap Xialie memberi syarat.
"Baiklah, Ibundaku yang sangat Zheya cinta ... terimakasih. Kalau soal itu Zheya sudah mempersiapkannya sebelum Ibunda menyuruhnya." Zheya mengecup kedua pipi Xialie.
"Hmm... Aku dengar dari pelayan pengantar makanan tadi bahwa ibu tidak mau makan, karena merajuk? Apa itu benar," tanya Zheya memastikan.
"Itu tidak benar," sahut Xialie cepat.
"Sudah, ibu tidak usah malu padaku. Sekarang biar aku yang menyuapi ibu. Nanti ibu bisa sakit kalau tidak makan."
"Dan kalau Ibu sampai sakit karena tidak mau makan, Zheya akan marah dan tidak mau pulang menemui Ibu," ancam Zheya memasang wajah masam.
"Cih, anakku ini ternyata sudah bisa balik mengancam. Siapa yang mengajarimu? Pasti ini ulah ayahmu," selidik Xialie.
"Ya memang," balas Zheya singkat.
Siang hari itu mereka habiskan dengan bercengkrama berdua. Kini tiba waktunya menjelang sore, Zheya harus bersiap-siap.
_Di kamar_
Zheya sudah selesai menyiapkan diri dan juga segala keperluan yang harus ia bawa.
Setelah semuanya ia rasa sudah beres. Zheya segera berpamitan kepada ayah dan ibunya lalu pergi meninggalkan istana.
Zheya berdiri di depan gerbang kekaisaran, menunggu kehadiran peri Yiera. Ia berharap peri itu menjemputnya.
Karena Zheya sendiri pun tak tahu bagaimana cara mendatangi peri itu. "Lagipula, peri itu juga pasti akan mencariku jika aku tak lebih dulu mendatanginya."
"Mustahil rasanya jika peri itu melepaskanku begitu saja, mengingat dia sendiri adalah peri penjaga yang sedang mengandalkanku untuk membantunya," gumam Zheya tetap bersikap tenang.
Benar saja tak lama kemudian Zheya melihat Peri Yiera yang sedang menghampirinya. "Kau ini memang bocah menyebalkan, mau ikut denganku pun harus aku juga yang menjemputnya," peri Yiera berdecak sebal.
"Maaf Peri, aku tidak tahu cara menemuimu. Kau juga belum memberitahu caranya kan?" tanya Zheya dengan senyum lebarnya.
"Cih, ayo cepat pegang tanganku. Lebih baik kita segera ke sana. Aku malas berdebat lama-lama dengan bocah menyebalkan sepertimu."
Peri Yiera membuka portal lintas dunia miliknya, lalu terbang membawa Zheya bersamanya.
Semangat Thor 💪
smngt
smngt thor
naik ke atas pohon.