NovelToon NovelToon
Dinyatakan Mandul, CEO Ini Tak Tahu Punya Anak Kembar

Dinyatakan Mandul, CEO Ini Tak Tahu Punya Anak Kembar

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / One Night Stand / Wanita perkasa / Anak Genius
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

Reynard Sutanto.
CEO termuda Sutanto Group. Konglomerat paling berkuasa se-Indonesia. Dijuluki "Dewa Bisnis" oleh seluruh dunia usaha.
Tapi di balik semua itu, ada satu rahasia yang membuatnya tak pernah bisa tidur nyenyak: tiga tahun lalu, dia divonis mandul. Selamanya.
Akibat racun yang diberikan seorang wanita dari keluarga Goh, Reynard kehilangan kemampuan untuk memiliki keturunan. Pewaris tunggal Sutanto Group... tanpa pewaris. Dia memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu selama tiga tahun, menyerah pada takdir.
Sampai suatu hari, di sebuah pesta biasa di BSD City, matanya jatuh pada seorang anak laki-laki berusia tiga tahun.
Wajah anak itu... persis seperti dirinya.
Alis tegas. Tatapan tajam. Garis rahang yang sama. Seolah seseorang mengecilkan Reynard Sutanto dan menaruhnya di tubuh balita.
Anak itu bernama **Bobo**. Dan ibunya? **Meilan Mulyadi** -- seorang single mother yang tinggal di kontrakan sempit di Serpong, berjuang mati-matian menghidupi anak kembarnya: si kecil Bobo yang jenius dan Lala yang menggemaskan.
Meilan bukan wanita biasa. Di balik penampilannya yang sederhana, tersembunyi kecerdasan luar biasa dan keberanian yang membuat tujuh preman keok dalam satu malam. Dari nol, dia membangun kerajaan bisnis -- mulai dari resep restoran sampai brand fashion "Cantika" -- semua dengan otaknya sendiri.
Tapi masa lalunya menyimpan luka yang tak pernah sembuh: sebuah gudang tua di Jakarta Timur, satu malam yang mengubah segalanya, dan seorang pria yang wajahnya tak pernah bisa dia ingat...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33: Berangkat ke Surabaya

Ia merasa ada seseorang yang menyiapkan jalan pulang sebelum badai datang.

Tiga hari kemudian, badai itu benar-benar terasa di jalan.

Meilan berangkat ke Surabaya dengan dua mobil. Mobil pertama membawa Meilan, Bobo, Lala, Yan, Hugo, dan Sari. Mobil kedua dikemudikan Bayu, dengan Bima duduk di kursi depan sambil terus memantau rute. Yanto tetap di BSD untuk membantu Patrick mengurus jadwal anak-anak dan persiapan Asap Dapur selama mereka pergi.

Bobo masih harus banyak istirahat, jadi kursi belakang diubah menjadi tempat duduk nyaman dengan bantal kecil. Lala duduk di sebelahnya, satu tangan terus menempel di selimut kakaknya.

"Lala, tanganmu berat," gumam Bobo.

"Biar Ko Bobo tidak hilang."

Bobo terdiam, lalu membiarkan tangan itu tetap di sana.

Hugo duduk dekat jendela. Sejak pagi ia lebih diam daripada biasanya. Tubuhnya yang bulat bersandar pada pintu, matanya menatap jalan seolah setiap papan nama bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Meilan memperhatikan lewat kaca spion. "Hugo, mabuk jalan?"

"Tidak." Hugo cepat menggeleng. "Aku cuma... tidak suka lewat sini."

Mobil mereka memang melewati jalur pinggiran yang menghubungkan area lama menuju Surabaya. Di satu titik, jalan itu mendekati Kota Tianhe, tempat masa lalu Hugo pernah terbakar bersama seluruh keluarganya. Meilan tidak berniat berhenti, tetapi rute alternatif ditutup karena perbaikan jalan.

Sari meraih botol minum. "Minum sedikit, Hugo."

Hugo menerima botol itu dengan dua tangan. "Aku tidak takut."

Yan yang duduk di sampingnya menatap sebentar, lalu berkata polos, "Kalau takut, bilang saja. Mama tidak marah."

Wajah Hugo memerah. "Aku bilang tidak takut."

Lala menoleh. "Hugo, Lala juga takut waktu Ko Bobo operasi."

Hugo membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia akhirnya berbisik, "Sedikit saja."

Meilan tidak memaksa. Ia hanya menoleh ke Bima melalui interkom mobil.

"Jangan berhenti di area Kota Tianhe."

"Siap, Bu Meilan."

Namun rencana berubah ketika satu truk kecil mogok di depan jalan sempit. Mobil mereka terpaksa melambat. Di sisi jalan ada warung tua dan bengkel ban. Beberapa pria duduk di bangku plastik, merokok sambil menatap mobil asing yang terlalu rapi untuk lewat tempat itu.

Hugo tiba-tiba menegang.

Seorang pemuda kurus di depan bengkel berdiri. Matanya melebar saat melihat wajah Hugo melalui kaca.

"Hugo?"

Hugo langsung menunduk.

Pemuda itu maju satu langkah. "Hugo Hartono? Kamu masih hidup?"

Sari memeluk bahu Hugo. Meilan menekan tombol kunci pintu.

"Bayu," suara Bima terdengar dari interkom, dingin, "posisi kanan."

Mobil kedua bergerak lebih dekat, menutup celah di samping. Tetapi pemuda itu sudah berlari mendekat sambil berteriak ke arah warung.

"Itu anak Hartono! Dia belum mati!"

Udara berubah dalam sekejap.

Dua pria dari warung berdiri. Satu orang mengeluarkan ponsel, yang lain berjalan ke arah belakang bengkel. Bima turun dari mobil kedua sebelum mereka bisa mendekat. Bayu menyusul, tubuhnya menutup pintu mobil Meilan.

"Tetap di mobil," kata Bima melalui kaca.

Meilan menoleh pada anak-anak. "Semua menunduk. Jangan buka pintu. Sari, pegang Lala."

Bobo ingin bangun, tetapi Meilan menekan bahunya lembut. "Bobo, duduk."

Anak itu menggertakkan gigi kecilnya, lalu patuh.

Hugo gemetar. "Aku tidak kenal mereka."

"Mama tahu."

Di luar, pemuda bernama Jerry itu tampak panik setelah melihat Bima. Ia tidak terlihat seperti penyerang, lebih seperti orang yang baru melihat hantu. Tetapi teriakannya sudah cukup memancing orang yang salah.

Dari belakang bengkel, sebuah van abu-abu mendadak bergerak. Dua pria bertopeng turun, langsung menuju pintu sisi Hugo.

Bayu menghadang lebih dulu.

Tidak ada adegan panjang. Satu pria mencoba membuka pintu mobil, Bayu memelintir pergelangan tangannya dan mendorongnya ke kap van. Bima menendang pisau kecil dari tangan pria kedua sebelum benda itu sempat menyentuh kaca. Anak-anak hanya mendengar bunyi keras, teriakan tertahan, dan suara Sari membaca doa pelan di samping mereka.

"Mama," bisik Lala.

"Tutup mata, Sayang."

Hugo menangis tanpa suara. Yan memegang lengan bajunya, tidak tahu harus berkata apa, tetapi tidak melepaskan.

Dalam waktu kurang dari dua menit, kedua pria bertopeng sudah terkapar dengan tangan diikat kabel plastik. Jerry berdiri pucat di pinggir jalan.

"Aku tidak tahu," katanya gemetar. "Aku cuma kenal dia. Aku kira semua orang bilang dia mati..."

Meilan turun setelah Bima memberi isyarat aman. Wajahnya dingin.

"Siapa yang menyuruh mereka datang?"

Jerry menggeleng panik. "Aku tidak tahu, Bu. Sungguh. Setelah keluarga Hartono... setelah kebakaran itu, banyak orang aneh datang cari kabar. Aku cuma teman kecil Hugo."

Sebelum Meilan menjawab, terdengar suara gedoran dari dalam van.

Bima membuka pintu belakang.

Tiga perempuan berada di dalam, tangan mereka diikat. Yang pertama tampak paling muda dan tetap berusaha duduk tegak meski wajahnya pucat. Yang kedua kurus, ada memar lama di pergelangan tangannya. Yang ketiga menunduk, matanya bergerak cepat seperti menghitung jalan keluar.

Bayu memotong ikatan mereka satu per satu.

"Nama?" tanya Meilan singkat.

Perempuan pertama mengangkat dagu. "Shirley Lim."

Nama itu membuat Bima menoleh. Keluarga Lim di Surabaya bukan keluarga kecil.

Perempuan kedua menjawab lebih pelan, "Yuli."

Yang ketiga menatap Meilan beberapa detik sebelum berkata, "Vicky Hartanto."

Meilan menangkap jeda kecil itu. Vicky terlalu cepat menenangkan diri untuk seseorang yang baru saja dibebaskan. Tetapi saat itu prioritasnya bukan membongkar kebohongan kecil, melainkan memastikan semua orang hidup.

"Bawa mereka ke mobil kedua. Kita tidak berhenti di sini lagi."

Bima segera menghubungi pos polisi terdekat dan mengirim lokasi dua pria bertopeng yang sudah diikat. Bayu memotret van, nomor rangka, dan barang-barang di dalamnya sebelum pintu ditutup kembali. Meilan tidak mau meninggalkan jejak berantakan yang bisa diputarbalikkan menjadi masalah baru.

"Kita serahkan orangnya, bukan ceritanya," katanya pada Bima. "Cerita lengkap nanti, setelah anak-anak aman."

Bima mengangguk. "Saya paham."

Shirley mencengkeram lengan Meilan ketika hendak dibantu berdiri. "Tunggu. Anda menyelamatkan saya. Kalau Anda ke Surabaya, cari saya. Keluarga Lim punya beberapa ruko kosong di kawasan perdagangan lama. Saya bisa memberikannya untuk Anda pakai."

Meilan menatapnya.

Dalam kondisi diculik, pakaian kusut, wajah pucat, Shirley masih bicara seperti seseorang yang terbiasa menghitung nilai tawar. Bukan sombong. Bertahan.

"Untuk apa?"

Mata Shirley mengeras.

"Untuk membalas orang yang membuat saya berakhir di van ini."

Di dalam mobil, Lala membuka sedikit matanya. Bobo menatap dari balik kaca, wajahnya pucat tetapi fokus.

Meilan memandang jalan menuju Surabaya yang masih panjang.

Ternyata badai belum menunggu mereka tiba di kota.

Badai itu sudah naik ke mobil sejak setengah perjalanan.

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
ciee meilan🤣
falea sezi
anak kecil uda kriminal😓 uda gede jd tukang perkosa anak orang😒
Ninik Ozen
ceritanya tambah seru.lanjut thor
Kamilatul Asfa
kak anak 3 THN bknnya sehrsnya msh cadel🤔🤔🤔
falea sezi: g selalu deh anak ku aja dlu umur setaun uda g cadel🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!