#Karya ini merupakan Karya Kreatif Modern
Setelah di-PHK dari pekerjaannya sebagai buruh, kehidupan Bara berputar 180 derajat. Kehidupan tak lagi berpihak kepadanya dan terpaksa harus menjadi pemulung yang selalu dihina oleh mertua.
Bara adalah laki-laki yang tak banyak bicara. Segala hinaan yang diberikan pun tak pernah ia balas. Hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Bara diberi tugas untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dia dibayar mahal untuk itu semua.
Bagaimana kisahnya? Mari ikuti series berlanjut dari Bacot System, ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Buaya Dikadalin
Bara menjentikkan jemarinya, membuat pria yang asik memamerkan kemampuan silat kampungnya mematung dengan tiba-tiba. Posisinya dalam keadaan berdiri dalam satu kaki, satu tangan dalam posisi horizontal, dan satu lagi dalam posisi vertikal.
Hal ini tentu membuat tanda tanya besar bagi kawannya yang lain.
"Min, Min? Kenape lu?" Ia segera mendekati temannya. Mencoba menepuk-nepuk lengan temannya, tetapi tak ada respon sama sekali.
Dengan wajah marah, ia menatap Bara. "Jadi, ini ulah elu? Tadi Rajak kabur juga gara-gara elu?" bentaknya dengan napas terburu.
"Sudah saya katakan, kalian tak akan bisa membohongi saya. Kalian itu hanyalah kadal kecil yang dilindas motor saja bisa koid tanpa dipedulikan orang lain. Jadi, tak mungkin kalian bisa mengadali saya!" Bara bersidekap dada menatap satu di antara yang masih aktif.
"Kurang ajar! Berani sekali kau?" Ia mengeluarkan celurit yang tadinya disimpang di dalam pakaian.
Bara hanya memasang wajah datar. Tak sedikit pun dalam matanya terbias rasa takut. Ia berjalan mendekati pria bercelurit itu. Hal ini membuat sang lawan sedikit gentar dan tanpa sadar ia melangkah kan kakinya ke belakang tetapi celurit itu digoyangkan ke arah kiri dan kanan.
"Kalau berani, maju lu!" ucapnya lagi, meski semakin lama ia terus berjalan mundur.
Bara menanggapi dengan santai sembari bersiul. Anehnya, siulan Bara membuat telinga lawannya terasa menjadi sakit. "Ini, saya lagi mendekat," jawabnya dengan santai.
Pria yang tadinya mengayunkan celurit untuk mengancam, kini menutup telinga, dalam rautnya jelas tergambar rasa sakit yang luar biasa.
"A-apa yang kau lakukan? Diam! Diam!" rintihnya. Ia mulai melemah dan belutut menutupi kedua daun telinganya dengan kuat. Akan tetapi, usahanya itu tampak sia-siap. Wajahnya mengerut dibarengi erangan pilu yang tak terbayangkan.
"Saya? Bukan kah saya mengikuti perintahmu?" Bara menatap pria itu dengan senyum sinis.
"Kau kenapa? Baru beberapa detik yang lalu bagaikan orang yang paling kuat di sini," ucap Bara dengan dingin. Bara melanjutkan siulannya.
"Aaaagggghht," jeritnya. Kedua tangan semakin ditekan dengan kuat menyisakan rasa nyeri yang luar biasa. Sejenak, ia melirik ke arah Bara yang kini tepat berada di hadapannya.
Kepalanya menggeleng dengan cepat. Ia merasa sangat takut kejadian kawan-kawan sebelumnya, akan menimpanya juga.
"Ampuuun! Ampuuun. Kami tidak akan mengulanginya lagi," rintih lawan Bara yang tersisa.
"Apa? Kau bilang apa?" Bara mendekatkan indera pendengarannya tepat di hadapan sang lawan. Ia memutar badan, tetapi tubuhnya terasa begitu kaku.
"Aaaampuun. Sudah ... Hentikaaaan!" rintihnya semakin nelangsa. Ia mencoba memutar badan berusaha untuk meninggalkan tempat ini, akan tetapi ternyata tubuhnya sudah terlalu kaku. Ia merasakan ketakutan hebat, bila Bara melakukan hal yang sama seperti rekan pendahulunya.
Tanpa ia sadari, ia pun terkencing di dalam celana. Hal ini tentu saja bisa dilihat oleh Bara secara langsung hingga membuatnya tertawa dengan garang.
"Ke mana-mana, negeri ini pasti memiliki sampah macam kalian. Jika kau tak pandai buang air dengan bersih, maka kau tak perlu berlagak sok jagoan seperti ini."
Bara berdecak, membuat pria yang tadinya mematung kembali bergerak memainkan celuritnya tadi. Saat menyadari celana rekannya sudah basah kuyup, baru lah di saat itu juga ia menghentikan mengayunkan benda tadi tersebut.
"Lu ngompol Jang?" tanyanya.
Tanpa pikir panjang, kawannya yang sudah basah di bagian sel4n9k4ng, memutar badan dan lari dengan terbirit-birit. Hingga membuat pria yang memegang celurit kebingungan dan mengejar temannya.
"Woooii, tunggu!"
Bara yang menjadi penyebab ini semua, tertawa dengan wajah garangnya. "Buaya dikadalin?"
...****************...
Karya berikutnya:
Napen: Retnosari
Judul: Kehidupan Kedua Istri yang Tertindas