Sejak lama Yordan menyimpan rasa pada Amara, namun rasa itu harus dia simpan dalam-dalam dikarenakan ada sesuatu perbedaan mendasar antara mereka.
Sedih dan sakit tentu saja dia rasakan kini. Omong kosong jika, cinta tak harus memiliki, tapi ia sadar, cinta tak boleh memaksakan diri.
Bisakah Yordan menghapus rasa yang selama ini ia simpan ataukah ia akan menyerah sehingga cinta itu akan menemukan jalannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mengapa berpisah
Dia menutup mata kembali. Berpura -pura tidur. Memberikan kesempatan pada Amara untuk mengeluarkan beban yang tersimpan di dadanya. Dengan demikian, secara tidak langsung dia telah menolong gadis itu untuk keluar dari belenggu yang mengimpit dadanya.
Kasihan sekali bukan, membiarkan gadis secantik Dia, harus menderita.
Yordan masih bertahan untuk menutup mata rapat-rapat. Agar Amara leluasa dalam bercerita.
Semua kata-kata mengalir begitu saja. Seakan-akan dia sedang membacakan sebuah cerita pada anak kecil yang sedang bersiap-siap tidur. Hanya saja, dia bercerita dalam versi dewasa.
Sesekali dia tersenyum. Namun bukan di bibir. Melain tersembunyi dalam hatinya yang terdalam. Takut ketahuan sehingga cerita Amara akan berhenti tiba-tiba. Tidak asyik bukan....
Kadang Yordan bergidik ngeri, saat Amara berkata akan menghukum berat pada orang yang mempermainkan pacarnya, atau kekasihnya, atau pasangannya. Sangat-sangat sadis. Tapi mungkin saja itu sebanding dengan rasa sakit yang mereka berikan pada orang yang mereka sakiti.
Tapi siapakah lelaki yang dimaksud oleh Amara?
Arif kah...atau dia punya pacar yang lain yang tidak mampu dia ceritakan pada siapa pun. Termasuk pada papa Marthen.
Jika benar, itu adalah Arif. Beruntung sekali dirinya. Dia mempunyai kesempatan untuk mendekatinya kembali.
Kalau kemarin, Mereka terhalang oleh iman yang tak sama. Tidak untuk hari ini dan seterusnya. Mimpi Yordan yang bertemu dengan Mama Alesha, seakan membukakan sesuatu yang selama ini dia cari dan rindukan.
Mama... Sosok yang menjadi inspirasinya selama ini. Mama yang penyayang dan sabar. Tapi sayang, Papa dengan sangat kejam mengusir Mama dari rumah. Yordan tidak tahu pasti alasan papa berbuat demikian. Itu urusan orang dewasa. Yang sulit dipahami oleh seorang anak kecil seperti dirinya.
Meski begitu, Mama masih selalu mengunjunginya. Dia mencuri-curi kesempatan agar tujuannya tercapai. Saat Papa keluar kota, saat dirinya di sekolah, atau ketika papa sedang di kantor. Agar dia dapat melepaskan rindu kepada dirinya.
Papa Marthen benar-benar ingin memisahkan Yordan dengan Mama Alesha. Akhirnya, Dia mengirim Yordan ke Indonesia, hidup bersama nenek Yohana. Meski demikian, Mama Alesha selalu menghubunginya melalui chatting atau video call.
Yang Yordan tidak mengerti, meskipun bertahun-tahun Papa dan Mama berpisah, mereka tidak juga menikah lagi. Papa masih setia dengan kesendiriannya. Demikian juga dengan Mama. Kadang Yordan bertanya, mengapa tidak berkumpul bersama lagi seperti dulu.
Sampai suatu ketika, papa menjemputnya dengan berlinang air mata.
“Bersiaplah, Mama ingin bertemu denganmu,” kata Gabriel kepadanya pada waktu itu.
Yordan sangat senang. Dia melonjak kegirangan. Dia pun segera mempersiapkan diri dengan memakai baju yang terbaik. Serta membawa pula piagam-piagam penghargaan yang selama ini dia raih. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya adalah anak yang berbakti, meski tidak berada di sampingnya. Dia ingin menunjukkan semua itu pada orang yang sangat menyayanginya.
“Untuk apa kamu membawa semua itu. Tidak perlu!” kata Papa Gabriel.
Yordan terdiam seketika. Dia menatap papanya dengan penuh tanya. Bekas-bekas bulir air mata masih tampak terlukis di wajah Papa Gabriel, membuat Yordan tak kuasa untuk tidak mematuhinya.
Yordan pun segera mengambil barangnya tersebut dan akan membawanya ke dalam rumah.
“Sudah nggak apa-apa. Kamu bawa saja,” cegah Gabriel, membuat Yordan bisa bernafas lega.
“Masuk!” perintahnya kemudian.
Tanpa protes, Yordan segera masuk ke dalam mobil. Setelah menutup pintu mobil dengan rapat, Gabriel pun menuju belakang kemudi. Dia segera menghidupkan mesin. Tak lama kemudian mobil itu pun berjalan, membelah keramaian kota menuju bandara.
Begitu tiba di bandara, Papa Gabriel tak mau buang-buang waktu. Dengan setengah berlari Papa Gabriel dan Yordan menuju landasan pacu. Di sana telah menunggu pesawat pribadi kepunyaan Papa Gabriel.
Di sana mereka sudah disambut oleh pilot serta awaknya yang tengah bersiap-siap menerbangkan pesawat. Begitu papa Gabriel dan Yordan masuk, pesawat itu pun terbang.
“Kita akan ke mana, Papa?”
“Pulang, menemui mamamu,” jawab Gabriel dengan suara yang hampir tak terdengar. Yordan pun terdiam. Dia tidak ingin mengganggunya lagi.
Perjalanan yang sangat panjang dari Jakarta menuju Brazil. Hampir 10 jam, kita berada di udara. Selama itu pula, Gabriel tak sedikit pun memejamkan mata. Air matanya tampak menggenang. Sesekali Gabriel menyekanya.
“Papa, mengapa menangis?” tanya Yordan.
“Tidak apa-apa. Tidurlah!” jawab Gabriel. Tangannya yang berotot membelai lembut kepala Yordan, sampai dia tertidur.
Cukup lama Yordan tertidur. Dia baru terbangun ketika tangan yang sama menyentuh pipinya dengan lembut.
“Yordan bangun. Kita sudah sampai,” suara papa Gabriel membangunkannya.
Pesawat telah mendarat di Brazilia, ibukota negara Brazil.
Yordan pun menguap dengan suara kencang, sambil menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan, untuk mengusir rasa kantuk yang masih menghinggapinya.
“Benarkah kita sudah sampai, Pa?” tanya Yordan setengah sadar.
“Ya,” jawab Gabriel singkat.
Gabriel menggandeng tangan Yordan dan menuntunnya berjalan, menuruni anak tangga pesawat.
Tiba di landasan, Gabriel sudah tidak sabar lagi. Barang-barang dia serahkan kepada pengawalnya. Dia pun berjongkok di hadapan Yordan.
“Naik ke punggung papa,” kata Gabriel.
Yordan pun segera melompat ke punggung Papa Gabriel. Dia merasakan langkah kaki Papa Gabriel sangat cepat, keluar bandara. Sebuah mobil sedan telah menanti mereka, lengkap dengan sopirnya.
Begitu mereka datang, ia segera membukakan pintu mobil.
Gabriel pun menurunkan Yordan di tempat duduk belakang. Sedangkan dia menuju tempat duduk di samping sopirnya.
“Ayo cepet, semoga kita tidak terlambat,” kata Gabriel dengan rasa khawatir.
Dengan patuh, sopir itu menuruti permintaan Gabriel. Dia menyalakan mesin mobilnya dengan segera. Dia pun mengatur laju kendaraannya ke mode sangat cepat. Sehingga tak perlu waktu, lama mereka telah sampai di tempat tujuan. Sebuah rumah sakit terbesar di kota Brasilia.
“Papa?” Ada rasa khawatir yang menghinggapi Yordan sehingga dia tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
“Iya Yordan. mamamu sakit, ia dirawat di sini," jawab Gabriel dengan sendu.
Yordan dan papa Gabriel berlari bersama menyusuri lorong-lorong rumah sakit menuju kamar di mana mama Alesha dirawat.
“Papa, mama sakit apa?” tanya Yordan saat mereka berada di lift.
Papa Gabriel tidak menjawab. Dia memandang Yordan dengan mata sendu.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di tempat tujuan. Sebuah kamar perawatan sekelas VVIP.
“Masuklah!” Gabriel melepaskan Yordan seorang diri masuk ke dalam. Sedangkan dia sendiri tertahan di tempat. Dia menunggunya di luar.
Berbagai perasaan berkecamuk dalam diri Yordan. Sekali lagi dia menengok ke arah Papa Gabriel.
“Anak laki-laki harus berani,” katanya menyemangati.
Dengan ragu, Yordan membuka pintu.
Beberapa pasang mata pun menyambutnya dengan tatapan penuh selidik. mereka terlihat sedih.
"Maaf," ucapnya pelan.
"Yordan, kamu kah itu?" tanya seorang wanita paruh baya yang duduk di samping tempat tidur perawatan.
"Ya, Nek. Aku Yordan. putra mama Alesha." Rupanya mereka tidak mengenalinya lagi. mungkin karena terlalu lama mereka tidak pernah bertemu. Semenjak dia pindah ke Indonesia.
"Yordan, ke sinilah. mama Alesha telah menunggumu."
aku dah sabar menunggumu ❤️
jangan bosan untuk baca karyaku. ♥️