SINOPSIS
Agung Aksara Gumilar, akuntan manajer di Sanjaya Group, perusahaan bonafid milik Alwin Sanjaya, ayah dari Bramasta Sanjaya, CEO B Group yang juga suami dari Adisti, adiknya.
Dikenal di publik setelah menjadi korban yang tertembak tak sengaja pada saat peristiwa perebutan kekuasaan dunia hitam antara Tuan Thakur dan Rita Gunaldi di The Ritz.
Saat dirinya koma, kedua orangtua Adinda yang sudah meninggal menitipkan anaknya untuk selalu dijaga dan dilindungi olehnya. Perjanjian di alam antah berantah terkait gadis remaja belia yang mampu menjungkirbalikkan dunianya.
Adinda, remaja yang selalu tengah berada dalam kesulitan saat bertemu dengannya dan dirinya selalu menjadi penyelamatnya. Hingga Adinda menjulukinya Power Ranger Hijau.
Agung dan Gank Kuping Merah harus menghadapi kenakalan remaja yang di luar batas, kebangkitan musuh lamanya dan keculasan musuh dalam menjegal software akuntansi karyanya.
Mampukah Adinda bertahan?
Seberapa kuat Power Ranger Hijau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ough See Usi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 – TIDUR YANG GELISAH
Bramasta dan Adisti adalah pasangan yang pertama datang di ruang rawat inap VVIP.
“Bawa apa, Dek?” tanya Agung sambil merapatkan bahunya ke bahu adiknya.
“Bawa diri lah... Kan Kakak mau traktir makan mie ayam...” Adisti mendorong balik bahu kakaknya.
Bramasta dari arah pantry berdehem, menghentikan aksi istrinya.
“Buk Istri....”
“Eh iya...,” Adisti terkekeh.
“Dih!” Agung menatap Bramasta dengan tatapan tidak terima, “Gue lagi kangen ke adik sendiri, Bang. Kangen... You know?”
“I know. But Disti is mine,” Bramasta tersenyum lebar penuh kemenangan.
“Ya ampun, Dek...,” Agung menatap Bramasta dan Adisti bergantian, “Adek kok punya suami kek gini banget...”
Raditya menghampiri sambil terkekeh.
“Hayo, mau ngatain apa ke suami Adek?” Adisti menatap galak pada Agung.
“Mereka selalu begini?” tanya Raditya.
Bramasta tertawa sambil mengangguk.
“Biasanya, diakhiri dengan Disti menangis kesal...”
“Oh my God. So sweet banget ya...” Raditya terkekeh lagi.
“Assalamu’alaikum...” Indra dan Anton datang berbarengan.
Para pria saling ber-hi five.
Agung mengecek pesan chat-nya. Lalu melakukan panggilan telepon dengan Adinda.
“Din, di mana?” jeda.
“Laaah kirain udah jalan dari tadi. Kenapa?” Jeda agak lama.
Agung tertawa.
“Ya udah. Jangan kelamaan ya. Sudah ada Bang Bram, Adek, Bang Indra dan Anton.” Jeda lagi.
“OK. Fii amanillah ya. Assalamu’alaikum.”
Agung meletakkan gawainya di atas meja.
“Kak, kenapa masih kaku sih ke Dinda? Bukan cuma Kakak saja sih. Dindanya juga. Apa gak pegal, pakai bahasa baku, sikap kaku dan jaim...,” Adisti menatap kakaknya.
Agung tidak menjawab. Dia menyandarkan punggungnya sambil bersidekap lalu menatap Bramasta dengan alis terangkat sebelah.
“Biarin atuh Buk Istri. Style-nya kan memang seperti itu. Setiap pasangan punya style masing-masing,” Bramasta merapikan pashmina istrinya.
“Kita dan Bang Leon-Kak Layla, stylenya sama. Extrovert. Gak segan memperlihatkan perasaan kita kepada orang lain,” Bramasta mendekatkan wajahnya pada Adisti, “Contohnya, seperti ini nih...”
CUP!
Bramasta mencium singkat bibir istrinya, membuat Adisti terkejut dengan mata melebar. Aksi Bramasta menimbulkan seruan protes dari semua pria di sana.
“Woiyyyy! Hargai kami sebagai jomblo fisabilillah!” protes Indra.
“Mata suci gue ternoda!” Anton dengan lebay menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.
“Mata suci, mata suci...,” Agung mencibir, “Gue pernah mergokin Lu lagi nonton JAPP.”
Para pria tertawa. Anton wajahnya memerah. Hanya Adisti yang tidak mengerti tampak bingung.
“Nggak...Waktu itu gak sengaja lewat beranda gue...” Anton membela diri.
“Halah... gak sengaja apaan. Kalau gak sengaja kan langsung skip. Ini sih dipantengin sampai kelar.”
Para pria tertawa lagi.
“Bro, nonton dikit itu bikin penasaran, tahu. Gue kan ingin tahu endingnya bagaimana...,” Anton membuat alasan.
Mereka tertawa lagi.
“Bagi link dong, Ton!” Indra membuat suasana semakin meriah.
“Berarti Lu juga nonton dong juga, Gung?” Raditya tertawa.
Agung menggerakkan kedua telapak tangannya dengan cepat.
“Gak Bang, Gue gak nonton. Gue cuma mengawasi Anton doang...”
“Mengawasi bagaimana sih maksudnya, Kakak Ipar?” Bramasta menyengir lebar ke arah Agung yang terlihat serba salah.
“Ya gitu deh. Mengawasi. Seperti guru mengawasi siswa yang sedang ujian...”
Semuanya tertawa lagi.
“Suer, gue gak kebayang seperti apa pengawasan yang Lu maksudkan,” Indra tertawa sambil mengusap sudut matanya yang basah.
“Ngomong-ngomong, semalam kamu kenapa, Gung?” tanya Raditya sambil tersenyum lebar.
Agung memandang tidak mengerti.
“Tidur kamu gelisah. Beberapa kali memanggil Adinda. Mesra banget manggilnya,” Raditya tersenyum lebar.
“Ciyeeee,” Bramasta bereaksi.
“Gimana Bang? Gimana? Suaranya kek gimana...? Anton antusias.
“Din... ah... Dinda... Hhhhh...” belum selesai Raditya berbicara, tubuhnya langsung ditubruk Agung.
Tubuh Raditya terjengkang tetapi tertahan oleh sandaran punggung sofa. Agung masih memeluknya.
“Bang.. Plis Bang. Jangan diterusin. Gue ngeri dengan si Adek,” bisik Agung di telinga Raditya.
Raditya terbahak.
“Udah.. Lepasin gue.”
“Jangan diterusin, OK? Nanti Adek cerita-cerita ke Dinda, gue malu, Bang...,” Agung masih berbisik.
“Isssh! Udah Gung. Jangan bisik-bisik lagi. Geli gue!” Raditya berusaha melepaskan diri dari pelukan Agung.
Semuanya tertawa melihat aksi mereka berdua.
Gawai Bramasta berbunyi. Pesan chat masuk.
“Bang Leon gak jadi ikut. Dia harus pulang,” Bramasta meletakkan lagi gawainya ke saku jaket denimnya.
“Bang Hans bagaimana?” Adisti melipat kakinya di atas sofa.
“Masih di jalan...”
“Jadi, semalam Lu mimpi indah, Bro?” Indra menepuk punggung Agung sambil menyengir lebar.
“Isssh,” Agung menepis tangan Indra, “Malah balik lagi ke bahasan itu...”
“Gue lagi atret nih, Bro,” Indra tertawa yang membuat semuanya ikut tertawa.
“Parkirin, Ton..,” Raditya tertawa, “Gawat kalau nabrak.”
“Jadi... sebelum subuh ada yang mandi dong tadi...,” Bramasta tertawa.
Raditya mengangguk.
“Pas bangun juga kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Hangover. Seperti yang mabuk,” keterangan Raditya membuat semuanya tertawa.
“Edisi masih ngumpulin nyawa itu Bang... Belum down to the earth,” Anton tertawa sambil menatap Agung yang dongkol.
“Sebenarnya gue mimpi ditimpuk pakai sepatu Adinda yang terbakar...,” Agung mengusap rambutnya.
“Ditimpuki sampai Lu mende sah keenakan gitu, Gung?” Indra tertawa keras.
Agung tertawa.
“Awalnya doang sih ditimpukinnya...”
Semuanya tertawa.
“Bilangin ke Bunda loh!” Adisti memicingkan matanya.
“Bilangin sonoh. Kakak gak takut. Bunda juga gak bakal gimana-gimana. Mimpi yang wajar bagi laki-laki yang sudah akil baligh.”
“Ya udah, bilangin ke Dinda aja!”
“GAK BOLEH!” semuanya berbicara serentak pada Adisti, membuatnya terkejut.
Bramasta memegangi kedua pipi istrinya. Menatap langsung pada matanya.
“Buk Istri gak boleh ceritain ini ke Dinda, ya. Hargai Kakak Disti. Jaga marwah Kakak di depan gadis yang disukainya.”
Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Bramasta.
“Iya..iya...,” Adisti melepaskan pegangan tangan suaminya dari pipinya, “Disti gak bakal cerita.”
“Nah gitu dong. Jadi adik yang baik,” tangan Agung menepuk-nepuk kepala Adisti.
Suara salam membuat mereka semua menoleh ke arah pintu. Hans dan Baby Andra masuk dengan Hana di belakangnya.
Baby Andra langsung menjadi rebutan mereka. Baby Andra memilih digendong oleh Anton. Tubuhnya melonjak-lonjak dalam gendongan Hans dengan tangan terjulur pada Anton.
“Calon bapak nih..” Anton menggendong Baby Andra lalu menyibak rambut depan yang menutupi alisnya, “Gue kalau jadi bapak bakalan jadi hot daddy, ya?”
Adisti dan Hana bertukar pandang lalu tertawa. Semetara para pria meringis mendengar ucapan Anton.
“Diiyain aja daripada sawan dianya,” kata Agung.
Suara pintu digeser lalu wajah Adinda muncul sambil mengucap salam. Agung menghampiri Adinda sambil menjawab salamnya.
“Ciyeee. Beda euy sambutannya saat Dinda datang dengan kita-kita yang datang...” protes Anton.
“Beda bagaimana?” tanya Agung pura-pura tidak tahu.
“Dinda datang, disambut. Disamperin,” Anton mencibir, “Giliran kita? Hmmm!”
“Ya iyalah,” Agung tersenyum lebar, "Calon ma’mum yang datang harus disambut dong.”
“Om Agung kenapa?” Adinda menatap intens pada Agung.
“Kenapa apanya?”
“Kenapa dari tadi senyum-senyum seperti itu? Tatapan mata Om Agung juga beda...”
Semuanya tertawa kecuali Agung. Agung mengerucutkan bibirnya. Lalu berjalan ke arah sofa tengah tempat mereka berkumpul.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Hans.
“Belum buka, Bang. 2 jam lagi,” Adisti mengambil alih Baby Andra dari Anton.
“Din, ke taman yuk. Ada yang mau saya bicarakan,” Agung berdiri sambil menatap Adinda yang terperangah.
“Lah, terus kita bagaimana?” Hans membuka kotak camilan yang dibawa Adinda.
“Tunggu aja di sini. Gak bakalan lama. Sekalian nunggu jam buka tukang mie ayamnya,” Agung berjalan menuju pintu.
Di dekat pintu, ia berdiri menunggu Adinda. Adinda menatap Adisti, bertanya lewat sorot matanya. Adisti mengangkat bahu. Lalu dengan gerakan kepala meminta Adinda untuk menghampiri Agung.
.
*bersambung*
🌺
Adinda mau diajak ngobrol atau diajak mojok, Gung?🤭
🌺
Jangan lupa like dan minta update.
Yang belum ❤➕ ataupun belum beri ⭐5, yuk buruan.
🌺
Utamakan baca Qur’an.
🌷❤🖤🤍💚🌷
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
thor kenapa gak dibikin novel pasti best seller.. sumpah lengakp banget nih novel..
Trus hasil operasi plastik om Michael di Korea nya, ada novelnya yg lain??
Saya tunggu novel2 berikutnya.
Semangat🫰🫰🫰