“Hasil karya Allah itu selalu indah, tidak ada yang jelek dan Dia scriptwriter terbaik. Apa yang kamu takutkan?” tanya Yusuf pada Silvia.
Sikap dan tutur kata Yusuf selalu indah, seindah tatapan sayu matanya. Tanggung jawabnya kepada Silvia sebesar ketaatannya kepadaNya.
Kendati demikian, hati Silvia masih terus terpaut pada Andrew–masa lalunya yang ia yakini lebih baik dari Yusuf. Pekerjaan Yusuf juga menjadi pemicu keraguan hati Silvia untuk bisa hidup bahagia.
Lantas, apakah nantinya Silvia bisa mencintai Yusuf dan menerimanya sebagai suami?
Tadabbur cinta, “Meniadakan luka dengan mendekatiNya.”Sebuah karya dalam kemasan novel yang akan mengajak para jomblo merenungi, memahami cinta yang sesungguhnya. Mencintai dan memiliki tanpa melukai hati dan menodai ajaranNya.
Menjadi taman bacaan dan obat galau para jomblo yang sedang jatuh cinta, di era modern yang mengedepankan materialisme dan menganggap hedonisme sebagai satu-satunya cara, hidup bahagia.
ig @menu.kenanganmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa Zifara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memantau Istri Di Tempat Karaoke
Mencintai tanpa bisa memiliki memang sakit. Tetapi memiliki tanpa dicintai, jauh lebih sakit. Yusuf sedikit menyesal dengan keputusannya menikahi Silvia. Keyakinan hatinya dengan jawaban istiqoroh yang ia dapatkan, kini mulai ia ragukan.
Air mata tak lagi mampu ia bendung. Yusuf tumpahkan semuanya, di dalam rumah yang kini kosong tanpa penghuni selain dirinya.
"Ya Rabb ... Kenapa hatiku sangat sakit? Padahal ini adalah pilihanku. Kalaulah aku salah mengartikan mimpi itu, beritahu aku segera, Ya Rabb. Aku tidak sanggup menutupi lukaku lagi. Bahkan kalau harus bersandiwara di hadapan banyak orang. Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya dengan suara lirih sembari menitikkan air mata.
Tidak lama dari keluhannya, Yusuf berdiri–pergi menuju tempat wudhu yang ada di dekat kamar mandi rumahnya. Dia ingin hatinya tenang, agar mampu berpikir jernih tanpa emosi.
Duduk termenung seorang diri di sebuah ruangan khusus. Menghadap kiblat, bersila sembari memandangi sebuah kaligrafi berlafadz “Allah” yang merupakan hasil karyanya sendiri, beberapa tahun yang lalu. Masih dengan jubah birunya, dia kembali berdiri dan keluar dari ruangan itu. Mengambil kunci mobil, lalu pergi menyusul Silvia.
Meski ia sendiri tidak tahu kemana Silvia pergi, tetapi ia berusaha nekat mencarinya sampai ketemu. Beruntungnya, ada seorang santri yang menghampirinya saat ia mengunci pintu rumah.
"Mau kemana, Gus?"
"Nyusul istri saya."
"Nyusul, apa nyari?" Santri itu tersenyum.
"Ma–maksud kamu?"
"Afwan, Gus. Ana tadi nggak sengaja melihat Neng Silvia dijemput laki-laki lain dan sepertinya sedang ada masalah dengan Gus. Terlihat dari tatapan mata Gus Yusuf dan gaya bicara Neng Silvi yang memanggil nama Gus," ucap santri.
Yusuf tidak mungkin mengelak. Dia terpaksa bicara apa adanya bahwa semua yang santri itu katakan adalah benar.
"Afwan, Gus. Karena ana penasar, jadi ana mengikuti mereka sampai mereka berhenti."
Terkejut. Pemuda pemilik julukan 'Gus' itu tiba-tiba tersenyum, kembali sumringah.
"Alhamdulilah ... Kamu bisa antar saya ke tempat itu?" tanya Yusuf. Sang santri hanya menganggukkan kepalanya–isyarat bersedia.
Mereka pergi hanya berdua, mengendarai mobil Yusuf. Selama perjalanan, Yusuf mencoba membuang unek-uneknya kepada santri itu. Dia bernama Alwan–santri teladan kepercayaan abinya sejak tiga tahun yang lalu.
"Saya minta tolong, masalah ini jangan sampai bocor ke orang lain, ya. Meskipun itu abi dan umi," ucap Yusuf.
"Insyaallah, Gus. Memangnya laki-laki itu siapa?"
"Dia mantannya Silvia. Sebenarnya, saya menikahi dia secara paksa. Sebenarnya Silvia tidak pernah mencintai saya. Dia masih menunggu kabar dari mantannya yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar."
"Tapi ... Karena mamanya sedang koma dan ingin sekali melihatnya segera menikah, jadi dia terpaksa menerima lamaran saya," kata Yusuf.
Sebagai lelaki tulen, tentu saja Alwan paham bagaimana sakitnya diperlakukan seperi itu oleh orang yang disayangi. Tidak habis pikir, perempuan seanggun Silvia, ternyata bisa menjadi ratu tega untuk pasangannya sendiri.
"Kenapa nggak Gus Yusuf ceraikan saja?" tanya Alwan seraya memandangnya yang sibuk menyetir mobilnya.
"Tidak ada kata cerai di kamus hidup saya. Saya yakin, suatu saat nanti akan tumbuh cinta dengan sendirinya. Ya ... Meskipun sebenarnya saat ini saya sudah kelelahan dengan sikap dan tabiat Silvia yang kekanak-kanakan."
Hening. Hanya ada suara hatinya yang terus berdzikir dan berdoa untuk keselamatan Silvia yang pergi hanya berdua saja dengan Andrew.
Hingga Alwan menyerunya untuk berhenti, tepat di sebuah bangunan mewah, bertingkat. Di bagian depan bangunan itu terdapat lampu-lampu cantik yang berwarna-warni, menyala menghiasi bangunan megah tersebut.
Yusuf tercengang. Dia menoleh Alwan dengan tatapan yang mengisyaratkan ketidak yakinannya dengan tempat yang ditunjukkan oleh Alwan.
"Kamu yakin mereka kesini?" tanya Yusuf.
"Iya, Gus. Bilahi, ana nggak bohong. Mereka tadi berhenti dan masuk ke tempat ini."