Dari beranak-pinak, Bercucu cicit, Entah sudah keturunan ke berapa.
Mari kita simak silsilahnya;
SERUNI-ROY
MUHAMMAD IBRAHIM -EXCEL
RAYHAN - UZMA
ILYAS - NICTA
IDRIS - SORAYA
CAHAYA - PANGERAN AS'AD
JAMALUDDIN - PRILLY
ZAYRA -?
ZAHIRA -?
Menurut kalian siapa yang paling mumpuni?
Untuk saat ini saya pilih Jamaluddin, karena hanya dia yang mampu mengendalikan kekuatan iblis di dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L-viie Ann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNTUK KESEMBUHAN NATHALIE
Tuan Nata duduk sembari memainkan pena di sela jemarinya. Wajahnya datar dan sangat serius.
Beberapa staf ekslusif dan jajaran dewan direksi diam tidak ada yang berani bersuara. Mereka tegang karena sang CEO saat ini sedang tidak baik-baik saja.
" Apa yang mereka miliki? Sampai kita harus selalu kalah" Tuan Nata berbicara sendiri, tak ada yang berani menjawab, hanya saling melirik satu sama lain.
" Brunei airline, kian hari kian melejit. Sudah berapa generasi, tapi tetap saja tidak terkalahkan"
Putaran pena di sela jemarinya terhenti, helaan nafas panjang terhembus secara perlahan.
" Aku ingin kalian mencari tahu kelemahan Brunei airline. Aku tidak suka jika harus terus menerus berada di bawah mereka"
" Apa kalian mendengar ku? " Tuan Nata sedikit meninggikan suaranya.
" Baik Tuan! " Jawab beberapa staf hampir bersamaan.
" Baik, ku rasa miting kali ini cukup sampai disini. Silahkan kembali ke ruang kerja kalian"
Satu persatu staf berdiri kemudian keluar dari ruangan rapat. Hanya tersisa dua orang yang duduk di sebelah Tuan Nata.
" Bos, saya dengar-dengar mereka memiliki seorang peramal" Hendrik mengatakan apa yang ia ketahui saat bertandang ke Brunei airline.
Tuan Nata memutar bola matanya, ia termasuk orang yang kurang percaya dengan hal semacam itu.
" Lalu? apakah peramal itu kunci kesuksesan mereka? "
Hendrik dan Bima saling berpandangan, mereka tidak bisa memastikan jika karena peramal itu lah penyebab kesuksesan Brunei airline.
Tuan Nata bukan seseorang yang bisa percaya begitu saja, harus ada bukti yang bisa diterima oleh akal sehat.
" Bukti kan ucapan mu, bawa peramal itu ke hadapan ku " Tuan Nata memberikan perintah diluar ekspektasi Hendrik.
Dalam pemikiran Tuan Nata sekarang, semua bisa menjadi mungkin. Tapi dia harus membuktikan nya sendiri.
Tuan Nata bangkit lalu angkat kaki dari ruangan tersebut, meninggalkan Hendrik dan Bima yang bingung harus bagaimana dengan perintah atasan mereka?
" Kamu sih! Ngapain musti lapor sih " Bima menyalahkan Hendrik, ia merasa perintah Tuan Nata terlalu beresiko.
Hendrik hanya bisa menghela nafas berat. Ia bingung harus bagaimana?
Layla baru saja keluar dari bangunan besar milik Brunei airline. Ia bersiap untuk pulang, Hari ini sungguh sangat melelahkan buat Layla.
Proyek besar yang ditangani oleh Naya memiliki banyak saingan. Dia harus membantu Naya dengan maksimal agar bisa memenangkan tender.
Layla masuk ke dalam mobil pribadi nya, kemudian ia melajukan nya pelan keluar dari area parkir.
Si peramal hanya bisa meramal orang lain, tapi tidak bisa meramal dirinya sendiri. Ia tidak tahu jika sebuah mobil SUV hitam metalik sedang mengikuti nya.
Saat Layla akan memasuki gank menuju rumah nya, mobil itu mendahului kemudian berhenti di depan mobil Layla. Untung Layla tidak ngebut, sehingga ia bisa menginjak rem diwaktu yang tepat.
Tiga orang keluar dari dalam mobil SUV tersebut, lalu memaksa Layla membuka pintu.
Layla tidak bisa melawan saat salah satu orang itu berhasil memecahkan kaca mobil. Lalu membuka pintu serta menyeret Layla keluar.
Suasana yang lenggang sedikit membantu penculikan itu berjalan dengan baik. Mulut Layla disum pal sehingga ia tidak bisa menjerit minta tolong.
Layla dipaksa masuk mobil, kedua tangannya di ikat ke belakang punggung. Kepalanya di tutup kain hitam.
Layla panik, ia hanya bisa menangis. Beberapa saat kemudian, Layla merasakan mobil si penculik berhenti. Salah satu orang menarik nya kasar keluar dari dalam mobil. Kemudian menggiring Layla ke suatu tempat.
Layla di dorong untuk duduk, penutup kepala nya di buka. Layla memicingkan matanya, keadaan dalam ruangan itu sangat terang benderang.
Setelah beberapa kali mengerjapkan matanya, barulah ia bisa melihat isi ruangan tersebut. Layla terbelalak kaget, bukankah pria yang tengah duduk menatapnya adalah salah satu lawan bisnis Naya tadi pagi.
Beberapa orang berdiri, tubuh mereka tegak bagai seorang patriot. Lengan mereka berotot, kedua tangan mereka terlipat di balik punggung.
" Apakah kau yang disebut peramal itu? " Tuan Nata bertanya, Layla tidak sembarangan menjawab. Ia diam menunggu untuk tahu situasi.
Tuan Nata memberi kode dengan gerakan kepala. Seseorang dari salah satu pria yang berdiri, pergi keluar. Tak lama kemudian pria itu kembali dengan bersama seorang gadis kecil yang duduk di kursi roda.
Pria itu mendorong gadis itu mendekati Layla.
" Lepaskan ikatan nya " Tuan Nata memberikan perintah lagi.
Satu lagi pria lain bertindak melaksanakan perintah Tuan Nata. Melepaskan ikatan tangan Layla.
" Coba kau ramal dia " Tuan Nata meminta Layla untuk meramal gadis itu, Layla ragu. Tapi kali ini situasi nya tidak memberikan pilihan lain. Toh hanya meramal kan?
Akhirnya Layla menyentuh tangan gadis kecil tersebut. Layla terperangah, nafasnya tertahan dalam waktu beberapa saat.
Tuan Nata merasa sedikit khawatir melihat ekspresi wajah Layla, ia bangkit dari duduknya. Melangkah perlahan mendekati Layla.
Setelah mendapatkan penerawangan, Layla melepaskan tangan nya.
" Kenapa? Apa yang kamu lihat? " Tuan Nata melayangkan pertanyaan begitu Layla menyudahi ritualnya.
Layla menggeleng lemah, ia tidak sanggup untuk mengangkat wajahnya. Tuan Nata menyergap rahang gadis peramal itu, ia mengangkat wajah Layla agar melawan tatapan matanya.
" Aku tidak suka jika orang yang ku ajak bicara menundukkan wajahnya. Cepat jawab! Apa yang kamu lihat? Hah? " gertak Tuan Nata dengan menekan ucapan nya.
Layla sedikit ngeri, ia menelan saliva. Tuan Nata menepis wajah Layla kasar.
" Di dia tidak akan... bi bisa bertahan" Layla menjawab, bibirnya bergetar ketakutan.
Tuan Nata tercengang, dadanya bergejolak hebat. Kakinya terangkat menen dang kursi yang diduduki oleh Layla. Sehingga membuat tubuh Layla terhempas ke lantai.
" Papa... " Suara lemah anak kecil itu terdengar. Dan berhasil meluluhkan hati Tuan Nata.
" Iya sayang" Tuan Nata bertekuk lutut di hadapan putri semata wayangnya itu.
Nathalie, tersenyum tipis. Wajahnya yang pucat berusaha nampak ceria.
" Papa tidak usah marah, Kalau itu sudah takdir Nathalie, maka kita harus menerimanya Papa "
Tuan Nata terenyuh mendengar kalimat putri kecilnya, ia langsung merangkul Nathalie dengan erat.
" Tidak sayang, apapun akan Papa lakukan untuk kesembuhan mu. Percaya lah!!" Tuan Nata memejamkan matanya, hatinya sangat sakit.
Belum lagi ia menerima kema Tian sang istri di saat melahirkan Nathalie. Sekarang dia harus dipaksa untuk kehilangan putri semata wayangnya.
Tidak! Itu tidak akan terjadi. Meskipun harus menentang takdir, Tuan Nata akan terus berusaha menyembuhkan Nathalie.
Layla beringsut bangun, tubuhnya kesakitan. Tapi ia tetap berusaha untuk berdiri sendiri.
" Hanya ada satu jalan, tapi aku yakin ini akan berhasil"
Tuan Nata membuka matanya, ia menoleh ke belakang tepat dimana Layla berdiri.
" Katakan cepat!!" Teriak Tuan Nata tegas.
" Kau pasti tahu dengan Jamaluddin, dia salah satu Calon kandidat untuk menjadi CEO di Brunei airline" Layla memberi tahu.
Tuan Nata mencoba berpikir, selama ini ia hanya tahu tentang Naya dan Rizal. Tapi dengan Jamaluddin? Dia hanya mendengar namanya saja.
" Kenapa dengan dia? " Tuan Nata tidak perduli siapa Jamaluddin, Dia hanya ingin tahu apa hubungannya dengan cara penyembuhan Nathalie?
" Dia punya seorang putri, aku yakin putri Jamaluddin bisa mengobati nya"