Kisah Revalina Hamid atau Adiva Briana Elang , selama terpisah dari keluarga kandungnya. Saudara kembar Adila Dyah Elang yang hilang saat usia 8 tahun tumbuh dengan identitas baru.
Keadaan merubah sifat dan watak mereka. Adiva yang lupa akan Siapa dirinya hidup dengan jati diri baru, sebagai Revalina Hamid Putri dari keluarga Hamid dari istri pertama. Putri yang selalu bikin masalah dengan ayahnya, saudara tirinya dan ibu sambungnya.
Adila anak perempuan yang ceria dan ceplas-ceplos dalam bicara , berubah menjadi pribadi yang pendiam dan introvert, mandiri pendiam, tenang dan selalu berhati-hati dalam bertindak setelah kembaran nya menghilang.
Bagaimana cara takdir bekerja untuk menyatukan anak-anak Raihan dan Raihana. Ikuti juga kisah cinta si kembar menemukan cintanya.
Juga kisah si kembar setelah terpisah dan berkumpul lagi. Juga kisah cinta mereka bersama sahabat-sahabatnya dan tidak ketinggalan kakak si kembar Satria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Menemani Bunda
"Bund?"Tanyaku sambil tiduran di paha bunda dengan memeluk perut bunda yang membuncit.
Ya kira-kira setahun lalu bunda menikah dengan salah satu anak buah papa. Serma Andi dan sekarang mereka tinggal di Surakarta mengikuti tempat dinas om Andi. Sekarang sudah ada calon adikku di perut bunda yang sudah berumur 7 bulan. Kebetulan hari ini aku libur semester dan ayah Andi ada tugas ke Malang selama seminggu. Dengan ijin papa mama aku tinggal di sini, untuk menemani bunda selama om Andi dinas luar kota.
"Bunda pernah ketemu Ayah gak ?" Tanyaku hati-hati, bagaimana juga ayah Iksan dulu juga sangat sayang padaku. Sebelum duo racun ibu dan anak itu menggodanya.
"Pernah kok, kemarin waktu periksa adikmu kami bertemu di rumah sakit!"
"Ayah yang jadi dokter kandungan bunda?" Tanyaku yang langsung duduk tegap.
"Ya enggak lah,bunda masih tahu diri. Mengingat perpisahan bunda tidak secara damai."
"Memang bunda dulu dan ayah sempat bertengkar apa, kok tidak damai?" Tanyaku sambil merebahkan kepalaku di bahu bunda.
"Bukan berantem tapi kan ayah sempat tidak mau menceraikan bunda. Mungkin kalau tidak ada bukti kdrt mas Iksan tidak akan pernah menceraikan bunda!" Ucap bunda sambil mencubit pipiku gemes.
"Dan bunda akan hidup dengan bayangan ayah dan duo racun itu," ucapku yang di sambut bunda dengan terkekeh.
"Sore-sore begini di sini bisa cuci mata ya Bun, yang lewat kebanyakan berbadan tegap ga ada yang kerempeng. Terus ramah-ramah lagi yang lewat, pada nyapa semua." Ucapku membuat bunda tertawa.
"Sama ajakan di rumah papa juga kan?"
"Tidak ada bunda, di rumah papa pada kaku-kaku semua. Bunda saja sejak menikah tidak pernah main lagi main ke rumah,di larang sama suami baru bunda ya?" Tanyaku penuh selidik.
Terdengar helaan nafas panjang dari bunda,"Bukannya dilarang tetapi bunda cuma ingin memberi kenyamanan buat suami Bunda." Ucap bunda sambil mengusap kepalaku.
"Emang Kenapa suami Bunda tidak nyaman?"
"Papa kamu tuh seorang jenderal sedangkan om Andi hanya seorang Bintara berpangkat Serma. Meski kedua orang tua mu, tidak mempermasalahkan pangkat bagaimana dengan orang lain."
"Jadi bunda dan Om Andi menjauhi kedua orang tuaku demi kenyamanan biar tidak digosipin orang lain?"
"Ya secara tidak langsung begitu."
"Tapi jangan jauhi aku."
"Kamu tetap putri bunda, bagaimana bunda bisa menjauhi kamu !".Ucap bunda bertepatan dengan sepasang manusia berjalan kearah kami.
"Assalamualaikum Bu Andi!"
"Walaikumsalam Bu Teguh, silahkan masuk kapten Teguh dan ibu !"Ucap bunda menyambut kedua tamunya dengan langsung berdiri.
"Tidak usah Bu Andi ada yang ingin saya sampaikan, mengenai Serma Andi." Ucap kapten Teguh yang masih berdiri di depan kami.
"Ijin bertanya ada apa ya kapten dengan suami saya?"
"Mobil yang di kendarai Serma Andi dan Letnan Taufik, beserta yang lain terlibat kecelakaan beruntun di ruas tol Solo Ngawi." Ucap lelaki dan bunda hanya diam.
"Bun! Bunda ga apa-apakan bunda harus kuat ada dedek di dalam perut bunda !" Bisikku pada bunda sambil menggenggam tangan bunda. Aku hanya ingin memberikan kekuatan kepada bunda.
"Sabar kita akan ke sana sekarang melihat mereka,"ucap Bu Teguh sambil mengusap bahu bunda.
"Ijin bertanya kapten suami saya sekarang ada di mana ya?"
"Berada di rumah sakit daerah di Solo,ayo Kita ke sana untuk melihat keadaan mereka dengan yang lainnya!"
"Baik kapten dan ibu terimakasih, saya ganti baju sebentar." Ucap Bunda langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
"Kamu siapa ya? Sepertinya saya baru lihat kamu hari ini?" Tanya Bu Teguh kepadaku, sambil memperhatikan penampilanku dari atas ke bawah.
"Saya anak angkat yang dulu di asuh bunda dengan suami pertamanya Bu."
"Oo pantes baru lihat hari ini!"
"Iya saya baru datang kemarin."
"Bu Andi saya cuma mau memberi tahu jika ada tamu menginap lain kali laporan ya bu!" Ucap Bu Teguh begitu bunda keluar dan sedang mengunci pintu.
"Maaf ibu saya tidak tahu, karena Reva putri saya jadi saya pikir tidak perlu." Ucap bunda sambil menunduk, aku yang melihat hanya berdecak dan itu tak luput dari perhatian suaminya.
Bodoh amat macam-macam sama aku, aku akan mengadukan ke papa.
"Meskipun dia putrimu, tapi kan dia tidak ada di kartu keluargamu. Jadi kamu wajib lapor!" Ucap Bu Teguh.
"Ayo Ma berangkat kasihan ditunggu yang lain!" Ucap Kapten Teguh memberitahu istrinya.
"Hai kamu tidak bisa ikut dengan kami, karena mobil kami telah penuh!" Ucap Bu Teguh dengan gaya sombongnya.
"Oh tidak masalah ibu saya bisa naik motor kok." Jawabku santai sambil menunjuk motor yang sepertinya Bunda lupa untuk masukin.
"Ini kunci STNK ada di tempat biasa. Jangan ngebut hati-hati di jalan !" Ucap bunda sambil menyerahkan kunci motornya, sebelum berjalan mengikuti suami istri tadi yang sudah pergi.
Setelah mereka semua pergi, baru aku masuk kembali kedalam rumah untuk mengambil jaket,tas ranselku dan helm, serta sepatuku. Karena mengendarai motor membuatku tiba duluan di rumah sakit.
Aku segera mencari ruang perawatan Om Andi dengan berbekal informasi dari resepsionis.
"Permisi !" Ucapku sambil membuka pintu, nampak ada 5 orang di dalam ruangan. Tapi hanya 2 orang yang tidur di ranjang pasien.
Ah sialan kenapa lelaki semua isinya ? Ah bodoh amat gw gak kenal ini.
"Cari siapa ya mbak ?" Tanya seseorang dengan luka di kedua tangannya, yang sedang duduk di kursi.
"Saya mencari Serma Andi ada!"Tanyaku sambil menunduk, karena ada 2 orang yang tidak memakai baju.
"Wah Serma Andi ternyata suka daun muda juga?"
"Wah tak bilang ke istrimu ko Di!"
"Adik temu gede mu opo Di." Mendengar ucapan-ucapan yang tida bermutu itu, ingin rasanya aku menjahit mulut mereka.
"Reva di sini, ayo sini!" Begitu mendengar suara Om Andi aku langsung mengakat kepalaku dan berjalan ke arahnya.
"Reva kesini sama siapa?" Tanya Om Andi ,begitu aku berdiri di sampingnya.
"Sama bunda,tapi bunda naik mobil dengan rombongan." Ucapku sambil menaruh helm di lantai.
"Om tidak apa-apa hanya kaki om patah dikit."
"Syukur deh, kasihan bunda kalau harus ngurusin om yang sakit." Ucapku sambil melirik ke sekitar ku, karena tidak ada suara. Padahal orangnya tidak berkurang sama sekali, membuaku tidak nyaman.
"Om kenapa sekamar harus rame-rame sih. Bukan sendiri saja ruang perawatannya ?" Tanyaku lirih.
"Eh dek Abang bilangin ya, yang terluka parah itu hanya 2 orang. Habis ini kami juga pergi, setelah keluarga mereka datang!"Aku tidak menjawab atau menoleh melihat orang yang berucap, aku hanya mendengus mendampingnya.
"Reva tidak boleh mendengus begitu tidak sopan !" Tegur Om Andi bertepatan dengan rombongan bunda yang datang. Karena ruangan yang ramai aku memilih keluar dan duduk di kantin hingga satu jam aku baru kembali.
"Dia Keluarganya mana bun?" Tanyaku menujuk seseorang yang tidur di brankar di¹ samping om Andi.
"Letnan Taufik belum menikah dan Keluarganya ada di Bandung, paling para tentara yang masih Single yang bergantian merawatnya apa." Jelas bunda sambil merapikan barang-barang om Andi.
"Bun pindah kamar perawatan saja ya, biar bunda nyaman merawat Om Andi !"
"Di sini saja ada teman ngobrolnya, kalau pindah kamar, kalau pasiennya tidur bunda ga ada teman ngobrol."
"Tapi besok pagi aku pulang Bun, Bunda gak ada yang menemani lagi?"
"Tida apa-apa, Bunda bisa kok merawat suami bunda. Lagian kata dokter kalau besok hasil Rontgen besok tidak apa-apa , mereka semua bisa langsung pulang."
Aku dan bunda ngobrol sampai malam hari, saat malam tiba aku ajak bunda menginap di hotel setelah 2 tentara muda datang menggantikan kami menjaga mereka.
Setelah esok hari dokter memberi bahwa hasil Rontgen baik-baik saja,kami semuanya merasa lega dan aku bisa langsung pulang.
.