Kevin adalah seorang menantu sampah di keluarga Istrinya.
Tapi tidak ada yang tahu kalau dia adalah pewaris dari Keluarga Gregorious, salah satu keluarga terkaya di dunia.
Tapi karena mengalami amnesia, maka bahkan Kevin sendiri tidak tahu akan asal usulnya hingga sebuah panggilan menyapanya. "Tuan muda... "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bengcu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Percayalah Padaku Bianca
Yopi Poluan dan Gideon Tham langsung sumringah saat melihat Bianca dan Milea kembali masuk dalam ruangan.
Tapi mereka berdua sama-sama mengerutkan kening mereka karena melihat Kevin yang mengikuti langkah Bianca dan Milea untuk masuk ke dalam ruangan ini.
Di luar memang tidak ada lagi penjagaan sehingga Kevin bisa masuk dengan leluasa ke dalam ruangan ini.
Bianca sudah mendekati Gideon dan berkata, "maaf, tapi kami putuskan untuk menerima kekalahan kami. Mungkin di masa depan kami akan mencoba lagi tetapi sekarang ini kami menerima kekalahan kami."
"Tunggu, Pak Yopi. Bianca tidak sungguh-sungguh dengan kata-katanya ini. iya kan, Bianca?" kata Milea sambil memegang tangan Bianca dan dengan wajah penuh permohonan.
Kemudian Milea berbisik, "kita bisa melakukan ini, Bianca. Pak Gideon sudah menyerahkan proyek itu, atau kita bisa masuk menjadi sub kontraktornya pak Gideon. Kita manfaatkan kesempatan ini, Bianca, please ..."
Bianca terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Sebenarnya dia dan Milea tidak mengetahui kalau Kevin sudah mengikuti dari belakang tetapi walaupun tidak mengetahui keberadaan Kevin di belakangnya, tapi Bianca tetap menggeleng kepalanya dengan tegas.
"Tidak, Milea. Aku tidak mau. Kita bisa mendapatkan proyek lain di tempat lain. Ayo kita pergi."
"Jangan, Nona Bianca. Manfaatkan kesempatan ini." Yopi menunjuk ke arah Gideon. "Pak Gideon ini sudah ikhlas memberikan proyek itu ataupun ikhlas meminta perusahaan kalian untuk kerjasama menggarap proyek ini, jadi apalagi yang Anda takutkan? Iya kan?Daripada Anda harus mencari proyek lain lagi, memulai ikut tender lagi dari awal, itu akan susah, Nona Bianca."
Bianca menatap Yopi dan berkata, "aku bukan nona lagi. Sudah kubilang, aku seorang nyonya yang berbahagia dari suamiku yang baik. Jadi, jangan panggil aku nona. Dan mengenai proyek ini, aku merasa sudah gagal, jadi, untuk apa lagi kalian menahan aku?"
"Tapi aku ikhlas dan tulus meminta Anda untuk bekerjasama denganku, dengan perusahaanku, Bianca." Gideon sengaja menghapus kata 'nona' saat dia memanggil Bianca ini.
"Aku tidak bisa, Pak Gideon. Maaf, tapi aku merasa perusahaanku yang belum berpengalaman ini tidak sanggup untuk mengikuti kinerja perusahaanmu yang sudah besar dan sudah memiliki track record banyak sebagai perusahaan konstruksi," tegas Bianca
Milea masih berusaha membujuk Bianca tapi Bianca sudah membalikkan tubuhnya.
Saat Bianca membalikkan tubuhnya itu, saat itulah dia melihat Kevin yang nampak baru habis menelpon seseorang.
"Kita pulang, suamiku." Milea sengaja menyebut kata suami dengan keras supaya Yopi, Milea maupun Gideon tahu kalau dia sangat bangga kepada suaminya.
"Please, Bianca, please. Kita harus mengambil kesempatan ini. Kita harus mengerjakan proyek ini, Bianca," pinta Milea.
"Milea betul, Bianca. Kamu jangan menyerah dulu. Kamu memiliki kesempatan untuk mendapatkan proyek ini, jadi jangan menyerah dulu. Apalagi aku tahu kalau selama berbulan-bulan ini, kamu mempersiapkan segala sesuatu untuk mendapatkan proyek di dinas ini. Iya kan?" kata Kevin sambil tersenyum.
Kevin sangat bangga kepada Bianca karena sikap Bianca yang rela tidak mendapatkan proyek daripada mendapatkan proyek itu, tapi adalah hasil pemberian dari orang yang menyukainya ataupun orang yang menyukainya itu mengajak kerjasama bisnis yang membuat Bianca tidak nyaman.
Karena itu, Kevin jadi sangat bangga kepada Bianca. Dia menatap Bianca dan tersenyum penuh cinta ke arah Bianca.
Tapi kata-kata Kevin itu dan senyuman Kevin ini malah ditanggapi lain oleh Bianca. "Kenapa kamu bilang begini? Kenapa kamu ingin supaya aku tetap mengambil proyek ini padahal aku tahu jelas kalau kamu mendengar pembicaraanku dengan Milea kalau ada maksud-maksud tersembunyi dari seseorang kepadaku untuk memberikan proyek ini kepadaku."
Kevin jadi gelagapan melihat mata melotot Bianca dan mendengar kata-kata Bianca yang matanya terlihat menyala ke arahnya itu.
"Aku sengaja tidak mengambil proyek itu karena aku menghargai kamu sebagai suamiku, karena aku tahu jelas kalau ada sesuatu yang tersembunyi dalam pemberian proyek itu kepadaku tapi kenapa kamu malah berkata seperti ini kepadaku, Kevin!" Bianca semakin melotot ke arah Kevin.
"Aku tidak bermaksud demikian, sayang. Aku cuma merasa sayang kalau kamu harus melepaskan proyek di sini."
"Aku tidak mau lagi dengan proyek ini! Sudah, aku mau pergi dari sini."
Tiba-tiba sesuatu terjadi. Kepala dinas yang tadi sudah keluar dan hanya mewakilkan semuanya kepada Yopy Poluan, kini masuk lagi ke dalam ruangan ini dengan wajah panik.
Kemudian buru-buru kepala dinas mendekati Bianca dan berkata, "kami melakukan kesalahan. Ternyata perusahaan Anda, memang yang lebih pantas menjadi pemenang dari lelang proyek itu dan bukan perusahaannya Pak Gideon."
Milea langsung bersorak gembira mendengar hal itu, tetapi tidak bagi Bianca.
Bianca masih berpikir kalau ini adalah salah satu trik lain dari Gideon maupun Yopi dan kepala dinas di kantor ini untuk memberikan proyek itu kepada Bianca padahal ada iming-iming Bianca harus mau bersama Gideon pada akhirnya.
Karena itu, Bianca langsung menjawab dengan ketus. "Kami tidak mau lagi dengan proyek itu, pak. Kami akan mencoba di dinas lain dan di kementerian lain yang bisa lebih menghargai kami dari aspek pekerjaan kami dan bukan karena hal-hal yang lain."
Setelah berkata seperti itu, Bianca menatap sewot kepada semua orang dalam ruangan ini, kepada kepala dinas, Yopi, Gideon maupun kepada Kevin yang dianggapnya lebih mementingkan materi daripada cinta kasih.
Saat Bianca sudah mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar, ini membuat kepala dinas sangat panik. "Please, please. Percaya padaku. Kalianlah pemenang proyek ini yang sebenarnya. Jangan pergi, tanganilah proyek ini, please."
Sebenarnya, kepala dinas ini baru saja mendapatkan telepon langsung dari menteri yang merupakan atasannya di pusat yang memerintahkan dirinya untuk memberikan proyek kepada Bianca karena itu dia sangat panik saat melihat sikap Bianca ini.
"Aku tidak butuh proyek ini, pak. Aku bisa mendapatkan proyek di tempat lain. Aku tidak mau mendapatkan proyek ini dengan syarat aku harus dekat dengan pemilik proyek ini yang sebenarnya."
"Bukan begitu, Nyonya Bianca tapi kamu memang kamu dan perusahaan kamu memang adalah pemenang tender proyek ini sementara perusahaannya Pak Gideon dinyatakan kalah dalam lelang terakhir dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan Pak Gideon atau siapapun karena memang Anda adalah pemenang sejati dari proyek ini."
Mendengar kata-kata dari kepala dinas ini, Bianca terdiam. Dia tidak juga melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini, dia mencoba mencerna akan apa yang terjadi.
"Apalagi akal bulus mereka ini? Apakah setelah aku mengerjakan proyek, barulah aku dipaksa untuk kerjasama dengan Gideon? Apakah seperti itu yang mereka rencanakan?"
Melihat kebimbangan Bianca ini, Kevin langsung mendekati Bianca dan memegang tangan Bianca serta berbisik. "Ambillah proyek ini, sayang. Kamu sudah mendapatkan proyek ini."
"Kamu sih tidak tahu. Mereka sejak tadi ingin aku kerjasama dengan Pak Gideon itu. Nampaknya mereka masih ingin melakukannya lagi. Aku tidak suka dengan pandangan mata Pak Gideon itu kepadaku."
"Percayalah padaku, Bianca. Feelingku mengatakan kalau kali ini, proyek itu betul-betul jatuh padamu."
"Bagaimana caranya aku mempercayai itu, Kevin?"