Rissa diceraikan oleh Arvin, suaminya demi menikahi selingkuhannya yang merupakan anak atasannya. Bukannya mendapatkan simpati karena telah diselingkuhi, Rissa semakin terpuruk karena orang-orang justru lebih mendukung Arvin dengan istri barunya. Mereka bahkan tega membully Rissa di tengah keterpurukannya.
Bagaimana Rissa membalas orang-orang yang telah menyakiti hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Imbalan
"Lalu apa yang kamu ingin aku lakukan?" balas Daniel tak kalah serius.
"Buat perusahaan-perusahaan itu mau bekerja sama dengan perusahaanku dan meninggalkan Wiratama." Seperti yang Rissa ketahui, nama Brown lebih ditakuti kalangan pebisnis dibanding nama Wiratama.
"Itu mudah," jawab Daniel cepat. "Lalu apa yang kamu tawarkan padaku sebagai imbalan? Kita bicara bisnis Baby."
Rissa terdiam seketika.
*
Rissa memunguti bajunya satu persatu kemudian membawanya ke kamar mandi. Dia ingin membersihkan tubuhnya sebelum memakai bajunya kembali.
"Pakai di sini saja Lily, aku sudah melihat seluruh tubuhmu," ucap Daniel sebelum Rissa menutup pintu kamar mandi. Pria itu tersenyum puas. Akhirnya dia bisa menikmati tubuh Rissa yang selama ini sangat diinginkannya.
Beberapa saat kemudian Rissa keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap. "Aku harap kamu menepati janjimu Daniel Brown!" ucap Rissa tegas sambil bersiap-siap untuk meninggalkan kamar Daniel.
"Tentu saja aku akan menepatinya karena kamu sudah memberi imbalan di muka," tersenyum menggoda. Perlahan Daniel membuka selimutnya lalu turun dari tempat tidur. Tanpa canggung pria itu berjalan di depan Rissa dengan tubuh polosnya. Rissa memutar bola matanya malas melihat tingkah Daniel.
"Jangan pergi dulu Baby, temani aku makan malam. Kamu sudah menguras tenagaku," ucap Daniel sambil memasuki kamar mandi dan sengaja tidak menutup pintunya.
Beberapa saat kemudian Daniel keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya. Dia kembali melenggang di depan Rissa dengan santainya menuju lemari lalu memakai pakaiannya di tempat itu juga.
"Kamu terus melihat tubuhku Lily, kamu ingin lagi?"
Rissa berdecak kesal. "Kamu terus lewat di depanku, mana mungkin aku tidak melihatmu?!" kilah Rissa padahal tubuh Daniel memang sangat menggoda. Lalu Rissa berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menunggu Daniel selesai berpakaian.
"Pesanlah makanan apapun kesukaanmu. Kita makan di sini saja."
"Kamu saja yang pesan, aku tidak tahu makanan kesukaanmu!" tolak Rissa.
"Baiklah." Daniel berjalan menuju telepon begitu selesai berpakaian. Setelah selesai memesan makanan Daniel pun duduk di sofa yang sama dengan Rissa bahkan mendekatkan tubuhnya pada tubuh Rissa.
Daniel memegang tangan Rissa lalu memainkan jemarinya seperti anak kecil. Biasanya Rissa mengusir Daniel jika dekat-dekat dengannya tetapi sekarang dia tidak bisa melakukannya. Mana mungkin dia tidak mengijinkan Daniel memegang tangannya, sementara laki-laki itu sudah menikmati seluruh tubuhnya.
"Kenapa kamu cemberut Baby? Kamu menyesal?"
"Tidak!" jawab Rissa singkat sambil pasrah membiarkan tangan Daniel mulai bergerilya di tubuhnya. Rissa sama sekali tidak menyesali keputusannya memberikan tubuhnya kepada Daniel. Jika itu cara untuk mempertahankan perusahaan dan bisa terus memberi nafkah ratusan pegawainya maka ini bukanlah sesuatu yang harus dia sesali.
"Apa kamu tidak menikmatinya tadi?"
"Tidak, bukan itu," jawab Rissa lagi.
"Jadi kamu menikmatinya?" tersenyum mesum.
"Oh ... God, Kemana arah pertanyaanmu Daniel Brown?!" pekik Rissa dengan wajah bersemu sekaligus kesal di saat yang bersamaan. Lalu dia melempar tangan Daniel dari tubuhnya.
Tidak mungkin Rissa tidak menikmati sentuhan Daniel di tubuhnya. Apalagi dia sudah menahan gairahnya sekian lama. Tetapi Rissa terlalu malu untuk mengakuinya. Dan Daniel sendiri hanya ingin menggoda Rissa dengan pertanyaannya karena dia tahu Rissa sangat menikmati keperkasaannya.
"Aku bercanda Baby," terkekeh melihat Rissa kesal. Senang sekali Daniel bisa menggoda Rissa seperti ini. "Tetapi aku melihat sepertinya kamu memang kesal padaku. Katakan apa salahku?"
"Kamu mengeluarkannya di dalam Dan?! Bagaimana kalau aku hamil?!" ucap Rissa bersungut-sungut. Padahal sejatinya bukan urusan Daniel jika Rissa sampai hamil. Rissa sendiri yang datang dan memberikan tubuhnya secara sukarela kepada pria itu sebagai imbalan atas bantuan yang dia berikan. Jadi kalaupun Rissa sampai hamil itu adalah tanggung jawabnya sendiri.
Tetapi bukannya khawatir, Daniel justru tertawa mendengar pertanyaan Rissa. "Hamil ya hamil saja. Aku akan bertanggung jawab," jawab Daniel dengan santainya seperti biasa. Rissa benar-benar tidak habis pikir dengan pria di sampingnya ini. Dia terlihat sangat santai menjalani hidupnya seperti tidak ada masalah yang terlalu serius baginya.
"Justru itu yang aku inginkan. Dengan begitu aku bisa menikahimu," bisik Daniel kemudian. Entah kenapa Rissa tersentuh mendengarnya.
Dulu Arvin yang berstatus suaminya tidak percaya jika dia hamil, dan menyebutnya bersandiwara demi mempertahankan rumah tangganya. Sekarang Daniel mau bertanggung jawab untuk bayi yang bahkan belum ada di dalam perutnya. Kontras sekali dua pria dalam hidup Rissa ini.
Tiba-tiba mata Rissa terasa panas. Segala sesuatu yang menyangkut anak selalu bisa membuatnya kembali ke dasar jurang penderitaannya.
Melihat perubahan raut wajah Rissa Daniel pun segera memeluknya. "Menangis saja kalau kamu ingin menangis," ucap Daniel lembut. Akhirnya Rissa menangis sesenggukan di pelukan Daniel.
"Aku ingin mereka menderita! Aku bahkan rela melakukan hal hina seperti ini agar bisa membalas dendamku! Aku tidak peduli jika kamu menganggapku perempuan murahan karena memberikan tubuhku secara sukarela hanya demi sebuah kerjasama. Aku tidak peduli itu!"
Daniel diam. Dia membiarkan Rissa menangis di pelukannya sepuas hatinya. Entah apa yang ada di pikirannya tetapi yang jelas dia tidak suka melihat Rissa menangis seperti ini.
"Baby, kamu memelukku erat sekali. Aku takut ada sesuatu di bawah sana yang berdiri lagi." Tidak ada waktu yang tidak tepat bagi Daniel untuk tidak menggoda Rissa. Dengan segera Rissa mendorong tubuh Daniel menjauh darinya.
"Aku akan pulang sekarang!" merajuk karena Daniel terus menggodanya bahkan ketika dia sedang menangis sesenggukan. Tepat di saat yang bersamaan pintu di ketuk. Sepertinya makanan mereka datang.
"Temani aku makan, setelah itu kamu boleh pulang!" ucap Daniel tegas dengan tatapan mengintimidasinya. Kalau sudah begini Rissa tidak berani membantah.
Lalu mereka berdua makan dengan tenang, tetapi hanya untuk beberapa saat karena Daniel tidak bisa untuk tidak mengganggu Rissa.
"Bagaimana kalau aku menginginkan tubuhmu lagi Lily? Apa aku harus berharap agar kamu m mengalami kesulitan agar minta bantuanku?" celetuk Daniel tiba-tiba.
Rissa melotot mendengarnya.
"Kenapa melotot kepadaku? Imbalan yang kamu berikan atas bantuanku sangat menggiurkan Baby," memberi penjelasan karena Rissa terus melotot kepadanya. "Tapi kamu hanya boleh meminta bantuan padaku, dan imbalan seperti itu juga hanya boleh kamu berikan kepadaku!"
"Cukup Dan! Itu yang pertama dan terkahir kalinya! Aku pulang sekarang!" Rissa benar-benar kesal.
"Kamu marah Lily?"
Rissa sudah meraih tas dan kunci mobilnya. "Pastikan kamu menepati janjimu Daniel Brown karena kalau tidak ... " Rissa tidak tahu harus mengancam Daniel dengan apa karena laki-laki itu punya segalanya dan juga jauh di atasnya.
"Kalau tidak apa Lily?"
"Kalau tidak, mungkin kamu tidak akan melihatku lagi seumur hidupmu!" hanya itu yang bisa Rissa gunakan untuk mengancam Daniel entah berpengaruh atau tidak.
"Kamu bisa pegang janjiku!" jawab Daniel tegas. "Sering-seringlah kesulitan, aku akan dengan senang hati membantumu," tersenyum mesum kemudian.
semangat 👍
first blood
tripple kill
langssun maniac dan savace
🙀🙀🙀
dulu ngmg nya sangat sakit hsti
dan karin anjing betina