Dinda yang berawal mengetahui jika rumah tangganya selalu baik-baik saja, ternyata salah. Kehadiran orang ketiga membuatnya harus berpisah dengan suaminya, yang bernama Dimas.
Awalnya ia rapuh, namun ketika ucapan Dimas penuh dengan penghinaan terhadap Dinda, akhirnya ia bangkit untuk mencari kehidupannya sendiri.
Dimas yang menyesal dengan perbuatannya, perlahan mendekati kembali Dinda untuk meminta maaf. Namun, adanya kehadiran seorang pria yang selalu menjadi pelindung Dinda.
Siapakah dia? Saksikan terus ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Suryan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21 Pernikahan Dimas
Deretan bunga mawar putih menghiasi di setiap sudut gedung, hiasan demi hiasan menambah kesan keindahan bagi yang melihatnya.
Betapa terlihat sinar bahagia dari wajah Lidya, yang kini terrbalut gaun pengantin berwarna putih dan polesan make up yang berpadu semakin membuatnya percaya diri.
'Aku sangat cantik, beberapa jam lagi aku akan menjadi Nyonya Adhinata. Ya, itu panggilanku nanti'. Lirih hatinya percaya diri.
Berbeda dengan Dimas yang kini tengah bergelut dengan perasaannya sendiri, ia merasa ini bukan hal yang membuatnya bahagia.
Orang tua Dimas pun demikian, namun karena tuntutan tanggung jawab Dimas terhadap Lidya, mereka tak bisa berbuat apapun.
**
Setelah ijab qabul terucapkan, sepasang pengantin tersebut menempati tempat resepsi. Meskipun pernikahan mereka tak semewah pernikahannya dengan Dinda, namun undangan menyebar ke beberapa rekan bisnisnya.
Ucapan selamat turut membanjiri mereka berdua, hanya senyuman kaku yang Dimas tampakkan.
Saat Dimas tengah bersalaman dengan beberapa tamu undangan, terdengar suara obrolan orang tuanya dengan seseorang. Suara itu tak asing di telinga Dimas, setelah ia menoleh ke arahnya, ternyata itu Dinda.
Ah, betapa bahagianya ia kini meskipun ia tak merasa bahagia dengan pernikahannya, tetapi dengan kedatangan Dinda membuat obat ke kakuannya saat itu.
'Kevin? Kenapa harus ada dia di antara aku dengan Dinda? Pengganggu'. Celotehnya dalam hati. Baru saja ia nampak berbinar bahagia melihat Dinda, namun tak selang beberapa menit kebahagiaanya pun harus terhenti dengan adanya Kevin di sisi Dinda.
"Selamat atas pernikahannya, Pak Dimas. Semoga menjadi keluarga yang bahagia". Ucap Kevin sambil berjabat tangan dengan Dimas.
"Terimakasih, Pak Kevin". Balasnya dengan tersenyum, seakan semuanya baik-baik saja.
"Setelah ini, jaga istri Bapak dengan baik dan jangan mengejar yang bukan hak Anda lagi". Sindir Kevin dengan senyumnya.
Dimas merasa kesal dengan sindirannya, deretan giginya di tekan kuat pertanda emosinya yang tertahan.
'****, masih saja dia membuatku kesal'. Gumam hatinya.
"Selamat, Pak Dimas atas pernikahannya". Ucap Dinda yang kini berada tepat di depannya.
Dimas tak bisa berkata-kata dengan penampilan Dinda kali ini, seakan matanya tak berkedip sama sekali menikmati keindahan yang terpancar dari gadis yang telah ia campakan.
"Terimakasih Dinda, tapi ini bukan keinginanku. Aku janji kepadamu setelah ini, aku akan kembali kepadamu". Ucap halu Dimas.
Mendengar hal tersebut, Dinda hanya menyernyitkan dahinya seraya bingung dengan kelakuan Dimas yang semakin hari semakin membuatnya ketakutan.
"Tidak usah Pak Dimas, perbaiki saja pernikahanmu yang sekarang. Semoga bahagia". Balas Dinda.
Lidya pun menatap lekat Dinda dengan kebencian. Tak terima dengan ucapan Dimas, Lidya pun membuka suaranya.
"Mungkin Mas Dimas salah berucap, maksudnya setelah berpisah denganmu ia akan selalu menjaga pernikahannya denganku. Benarkan Mas?" Ucap Lidya dengan tatapan mengintimidasi.
Namun Dimas tak berkutik, ia hanya diam dan hanya mengulurkan tangannya ke depan Dinda, bermaksud untuk bersalaman.
"Mungkin tak perlu bersalaman, nanti tangan suamiku tertular sial olehmu". Ucap Lidya yang menepis tangan Dimas agar tak bersentuhan dengan Dinda.
Dinda hanya tersenyum miris dengan kelakuan pasangan pengantin tersebut, untung saja ia membawa stok kesabaran yang banyak sehingga hatinya seakan kebal meskipun ia di hina sekalipun.
'Kalau saja Pak Kevin tidak memaksaku datang bersamanya, aku pasti tak mau hadir'. Gerutu Dinda dalam hati.
**
Sebelum datang ke acara pernikahan Dimas, Kevin mengajak Dinda ke sebuah butik. Ia mengatakan bahwa ada beberapa pekerjaan yang mengharuskannya pergi ke sana.
Dinda yang tak mengetahui apapun rencana Kevin, hanya menyetujuinya. Setelah sampai di butik yang Kevin tunjuk, Dinda pun masuk dengan santainya membuntuti Kevin.
"Berikan gaun yang terbaik untuknya, kami akan segera pergi ke pesta pernikahan. Jangan membuatku kecewa dengan pekerjaan kalian". Ucap Kevin dengan tegas dan berwibawa.
Dinda nampak mengerjapkan matanya berkali-kali, ia sangat kebingungan dengan ucapan Kevin. Pesta? Pesta siapa maksudnya? Kenapa harus pergi dengannya?
Meskipun hatinya bertanya-tanya, namun Dinda menuruti apa yang Kevin perintahkan. Ia hanya bisa menenangkan hatinya sendiri.
Setelah cocok dengan gaunnya, Kevin melanjutkan perjalanannya menuju salon. Tak jauh dari butik tersebut, sehingga tak harus menunggu lama akhirnya mereka sampai.
Meskipun Dinda bertanya kepadanya berkali-kali, Kevin tak menjawab hanya menyunggingkan senyuman. Sangat menyebalkan sekali bukan?
**
Beberapa jam kemudian, Dinda menghampiri Kevin. Melihat itu, Kevin sangat bangga terhadap sekretarisnya tersebut yang terlihat sangat cantik.
"Sangat cantik.." Puji Kevin yang tak henti memandangi Dinda.
"Kita sudah serasi, seperti sepasang kekasih. Ayo kita pergi ke pesta pernikahan mantan suamimu, dia akan terlihat menyesal dengan penampilanmu yang sekarang". Ucap Kevin dengan semangatnya, namun membuat Dinda terkejut.
"Apaa?? Pernikahan mantan suamiku? Kenapa tidak berbicara dari awal? Kalau tahu begitu, saya tidak akan ikut". Kesalnya dengan memanyunkan bibir yang terlihat menggemaskan di mata Kevin.
Bagaimana Dinda tak merasa terkejut? Karena sebelumnya ia tak mengetahui kapan pernikahan Dimas akan di gelar. Sabar ya, Dinda.. Sifat Kevin memang sangat menjengkelkan.
**
Kevin melihat raut wajah Dinda yang kesal, mengetahui hal tersebut ia pun mengepalkan tangan. Diraihnya ponsel yang tersimpan di saku celananya, beberapa obrolan singkat terdengar oleh Dinda. Hanya saja ia tak mengerti maksud dari ucapan Kevin tersebut.
"Kau jangan terlihat kesal dulu, ada beberapa kejutan yang harus kau lihat saat ini". Bisik Kevin dengan santai.
Dinda tak memperdulikan ucapan Kevin, ia hanya fokus dengan pandangannya yang mengarah ke beberapa tamu undangan.
Namun, tiba-tiba suara jeritan terdengar dari arah kursi pengantin. Dinda menoleh ke arahnya, terlihat Lidya yang tengah panik dengan adanya beberapa ulat bulu yang berada di kepalanya. Ia kemudian mengacak rambutnya tak beraturan dan berlari untuk meninggalkan pesta tersebut.
Sayangnya, sepatu hak tinggi yang ia pakai patah mengakibatkannya tersungkur mengenai sebuah wadah yang berisikan minuman. Sehingga bukan hanya rambutnya saja yang terlihat acak-acakan, penampilannya pun sangat kacau.
"Sangat menyedihkan ya, mungkin itu karma untuk seorang pelakor sepertinya". Bisik wanita yang berada di belakang Dinda.
Perselingkuhan Dimas sudah tercium oleh beberapa rekan kerjanya, karena Heru pernah memakinya di perusahaan. Mengakibatkan semua karyawan melihatnya secara langsung.
"Itu perbuatan Anda, Pak Kevin?" Tanya Dinda dengan tatapan tajam yang mengintimidasi.
"Mungkin iya, karena saya tak suka dengan mulut seorang penghina". Ucap santai Kevin dengan menyeruput minuman yang sudah tersedia.
"Astagfirullah.." Ucap Dinda yang beristigfar dengan kelakuan Kevin hari ini.
"Saya hanya bercanda, lihatlah! Semua orang yang ada di sini bahkan ada yang tertawa. Tandanya saya menghiburnya dan masih ada pahala di dalam ke usilan saya". Ucap Kevin yang memang tak merasa bersalah.
Dinda hanya memperbanyak istighfar dan mengelus-elus dadanya yang memang berdetak kencang. Khawatir terjadi apa-apa terhadap Lidya, apalagi sampai kejadian ini tercium oleh Dimas. Bahwa yang mengacaukannya adalah atasannya sendiri.
good dinda