NovelToon NovelToon
DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

DUNIA GILA,AKU IKUTAN GILA

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi
Popularitas:547
Nilai: 5
Nama Author: WA_19019

Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ANTAR BERKAS,MALAH JADI KURIR KAMBING

Sehari setelah hari yang penuh kejadian aneh itu, aku dan Ojak sudah siap-siap duduk santai di ruang depan, pikirnya hari ini bakal lebih tenang. Ternyata harapan cuma tinggal harapan, suara Pak Harun lagi-lagi memecah ketenangan:

“Bima! Ojak! Masuk sini cepat!”

Aku dan Ojak saling pandang, sama-sama menghela napas panjang.

“Kok rasanya kita bukan pegawai, tapi asisten khusus yang siap dipanggil kapan aja ya?” gumam Ojak sambil berjalan masuk.

Begitu di dalam ruangan, Pak Harun sudah menyodorkan dua amplop besar dan satu kantong plastik yang terasa agak berat.

“Ini dia tugasnya. Antar ke dua tempat sekaligus: pertama ke Jalan Mawar Nomor 99, kedua ke Jalan Kenanga Nomor 77. Yang di kantong ini surat-surat tambahan, hati-hati jangan sampai remuk atau basah. Kalau beres, boleh pulang lebih awal. Kalau kacau, yah… kalian tahu sendiri hadiahnya apa.”

“Siap Bos! Kali ini kita janji bakal selesai dalam waktu singkat!” jawabku percaya diri.

“Janji lagi… jangan sampe salah lagi jalannya,” celetuk Pak Harun sambil ketawa kecil.

Kami berangkat berdua saja, motor sudah dinyalakan, semangat juga lumayan tinggi.

“Nah, kali ini cuma dua tempat, gampang kan?” kata Ojak sambil melajukan motor.

“Gampang katamu, lihat saja nanti kalau dunia ini gak punya rencana lain buat kita,” jawabku sambil memegang erat barang-barang di pangkuan.

Sesampainya di Jalan Mawar Nomor 99, kami melihat rumahnya cukup luas, di halaman belakangnya malah terdengar suara mbeekkk...mbeekkk. Aku mengetuk pintu, dan yang keluar adalah seorang bapak paruh baya yang wajahnya agak panik.

“Selamat siang, Pak. Kami dari Kantor Jasa & Konsultasi Harun & Rekan, mau antar berkas ini,” kataku sopan.

Bapak itu menerima amplopnya, membuka sebentar, lalu tiba-tiba menepuk dahinya sendiri.

“Syukurlah kalian datang! Kebetulan sekali, saya lagi butuh bantuan. Ada urusan mendadak harus ke kota sebelah, tapi ada seekor kambing ini harus diantar ke rumah saudara saya di Jalan Kenanga Nomor 77 persis sama dengan alamat tujuan kalian yang kedua! Kalau bisa tolong sekalian bawa kambing ini ya, terima kasih.”

Aku dan Ojak langsung melongo. “Maksudnya… kambingnya juga kita bawa?” tanya Ojak gak percaya.

“Iya, cuma biar sekalian jalannya, jalannya juga lurus kok. Nanti sampai sana langsung diserahkan aja sama istrinya,” pinta bapak itu dengan wajah memelas.

Karena gak enak menolak dan takut dianggap gak bisa membantu, akhirnya kami setuju. Begitu kambing itu dipegangi dan dibawa ke samping motor, mulailah petualangan konyol itu.

“Wah, tugas kita makin lengkap nih: bukan cuma kurir berkas, tapi sekalian jadi kurir hewan juga,” kata Ojak sambil ketawa sambil memegang setang motor.

“Jangan bercanda, kambing ini rewel lho, takutnya loncat atau berontak di tengah jalan,” jawabku sambil memegang tali kambing erat-erat.

Belum jalan jauh, kambing itu tiba-tiba berhenti mendadak dan mulai mengunyah daun pohon yang ada di pinggir jalan, menarik tali sampai aku terhuyung-huyung.

“Woy! Jangan sembarangan makan! Kita ini lagi kerja, bukan jalan-jalan cari rumput!” bentakku sambil menarik tali pelan tapi tegas.

Ojak malah makin terhibur. “Dia pikir kita lagi ajak dia piknik kali ya. Sabar Bim, namanya juga hewan, dia gak bisa baca perjanjian kerja.”

Baru bisa melaju lagi, tiba-tiba kambing itu mengembik keras dan melompat sedikit karena dikejutkan oleh klakson mobil yang lewat. Akibatnya, tali lepas dari tanganku dan kambing itu langsung lari masuk ke kebun sayur warga di pinggir jalan!

“Astagfirullah! Lari kemana dia?!” teriakku panik.

“Kejar! Jangan sampai merusak tanaman orang, nanti kita ditagih!” seru Ojak langsung mematikan mesin motor.

Kami berdua lari mengejar kambing itu sambil berteriak memanggil, sementara si kambing malah makin asyik melompat-lompat dan memakan daun-daun kubis yang segar. Warga yang punya kebun keluar melihat, malah ketawa-ketawa melihat tingkah kami yang bingung dan kewalahan.

“Tenang saja Nak, biarkan saja dia kenyang dulu, nanti juga kalo sudah kenyang dia mau pulang,” kata si pemilik kebun sambil tertawa.

“Maaf Pak, kami gak sengaja bawa dia lari, dia sendiri yang lari,” jawabku sambil napas terengah-engah.

Butuh waktu hampir sepuluh menit sampai akhirnya kami bisa menangkap dan mengikat kambing itu kembali dengan lebih kuat. Wajah kami penuh keringat, rambut acak-acakan, dan baju sedikit kotor kena tanah.

“Nah, sekarang kita sudah kayak orang baru pulang dari ladang ya, bukan kurir kantor lagi,” kata Ojak sambil mengelap keringat di dahi.

“Ini baru namanya tantangan sesungguhnya. Lebih sulit dari baca alamat yang terbalik,” jawabku sambil masih mengatur napas.

Setelah kejadian itu, kami jalan lebih pelan dan hati-hati. Akhirnya sampai juga di Jalan Kenanga Nomor 77, tujuan kedua sekaligus tempat tujuan kambing itu. Kami disambut oleh seorang ibu yang langsung terkejut melihat barang bawaan kami.

“Wah, kalian bawa apa saja? Berkas sekaligus kambing?” tanyanya sambil tertawa melihat penampilan kami yang berantakan.

“Iya Bu, titipan dari Pak Slamet tadi, sekalian sama berkas dari kantor kami,” jawabku sambil menyerahkan semuanya.

Setelah semuanya diterima dengan selamat dan diberi air minum sebagai ucapan terima kasih, kami pun pamit kembali ke kantor. Di perjalanan pulang, rasanya badan lelah tapi perut terasa nyeri karena menahan tawa sepanjang peristiwa itu.

Setelah semuanya beres dan kami pamit pulang ke kantor, rasanya kaki terasa berat, baju agak kotor kena tanah, tapi hati malah terasa ringan dan geli sendiri mengingat kejadian tadi.

Begitu masuk ruangan Pak Harun dan kami ceritakan semuanya mulai dari dititip kambing, hewan itu lari masuk kebun, sampai kami kejar-kejaran sambil bikin warga ketawa.Pak Harun malah terbahak-bahak sampai tangannya mukul meja pelan.

“Wah, ini baru rekor kerja paling unik! Dari kurir berkas jadi kurir hewan, terus jadi penangkap kambing pula. Kalau saya kasih gelar ‘Pegawai Serba Bisa’, kalian memang paling pantas!” katanya sambil masih menahan tawa.

Beliau malah mengeluarkan uang lebih sebagai tambahan, sekalian bilang kalau hari ini kami boleh pulang lebih awal buat bersih-bersih diri.

Di jalan pulang, matahari sudah condong ke barat, angin sore berhembus sejuk menyejukkan badan yang lelah. Kami melaju santai sambil sesekali tertawa sendiri mengingat tingkah kambing tadi yang seolah-olah sengaja bikin kami pusing.

“Untung saja cuma kambing, Bim. Kalau dititip kerbau, bisa bisa kita yang dibawa lari dia,” kata Ojak sambil nyengir.

“Iya juga ya. Tapi seru juga rasanya, lebih berkesan daripada cuma antar surat terus pulang,” jawabku setuju.

Dalam hati kali ini aku berpikir beda dari biasanya:

Dunia ini memang jarang kasih jalan yang lurus dan mulus terus. Kadang ada saja hal tak terduga yang muncul di tengah tugas. Kalau kami pusing, marah, atau mengeluh, rasanya pasti berat dan menyebalkan. Tapi karena kami jalani saja dengan santai dan tetap tertawa, kekacauan itu berubah jadi kenangan yang lucu dan gak bakal mudah dilupakan. Hari ini bukan cuma selesai kerja, tapi pulang bawa cerita yang beda dari biasanya.

1
Ananda Anggit
bagus ceritanya 👍
Wulandari Ayuningtyas: makasih😁
total 1 replies
tazayaa
semangat kakk💪💪
Wulandari Ayuningtyas: kakak juga semangat y
total 1 replies
tazayaa
bima udah pesimis aja ni doanya ga dikabulkan🤣🤣
Wulandari Ayuningtyas: wkwk karna pasti ada aja kejadian konyol kak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!