NovelToon NovelToon
AJIAN RAJAH

AJIAN RAJAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis / Kutukan / Misteri
Popularitas:709
Nilai: 5
Nama Author: Alvian Adi Pratamaa

Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.

"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Ratu Pantai Selatan

Hujan deras mengguyur Kota Malang malam itu. Tapi di dalam kamar kos Raka, yang ada cuma bau anyir darah dan asap dupa yang nggak habis-habis.

Raka duduk bersila di lantai. Di depannya, kepala Ki Broto masih nganga di atas nampan. Mata sinden-sinden yang meleleh udah Raka buang ke kloset, tapi suara tawa cekikikan mereka masih terngiang di telinga.

Kresek.

Raka noleh. Buku Rajah Ghaib kebuka sendiri. Halaman kuning itu sekarang nampilin gambar baru. Gambar pantai. Ombak. Dan sesosok wanita cantik pake kebaya hijau, berdiri di atas batu karang. Rambutnya panjang sepinggang, matanya kosong.

Di bawah gambar ada tulisan pake darah yang masih basah:

*"TUMBAL KE-3: NYI RORO KIDUL*

*LOKASI: PANTAI PARANGTRITIS, JOGJA*

*WAKTU: 3 HARI LAGI, SAAT PURNAMA*

*PERINGATAN: JANGAN TATAP MATANYA LANGSUNG"*

Raka ngeremas buku itu. "Jogja? Gila, jauh banget. Duit gue tinggal 50 ribu."

Krak... krak...

Tulang belakang Raka bunyi. Panas di punggungnya naik lagi. Lebih panas dari pas lawan Ki Broto. Dua titik di tulang ekornya sekarang nyala kayak bara. Khodam Macan kedua udah bangun.

Dan kali ini, Raka bisa denger suaranya. Suara geraman berat di dalam kepalanya.

_“Lapar... darah... pantai...”_

Raka megang kepala. "Diam lu anjing! Gue yang pegang kendali!"

_“Kau... budak... kami...”_

Tangan kanan Raka gerak sendiri. Nunjuk ke arah kepala Ki Broto. Jari-jarinya melengkung kayak cakar. Raka berusaha nahan, tapi tenaganya kalah. Tangannya nyambar kepala itu, terus diremet.

Prang!

Tengkorak Ki Broto pecah kayak kelapa. Otak dan darah muncrat ke tembok. Raka jerit, bukan karena jijik, tapi karena dia nggak bisa ngontrol badannya sendiri.

Dari pecahan tengkorak itu, keluar asap hitam. Asapnya ngebentuk wajah Ki Broto yang nyengir.

"Selamat datang di neraka, bocah," suara Ki Broto bergema dari asap. "Dua macan udah bangun. Lima lagi. Makin banyak tumbal, makin gila kau. Akhirnya badanmu jadi milik kami sepenuhnya."

Raka ngambil air wudhu di kamar mandi, terus nyiram ke asap itu. "Bacot!"

Sreeet! Asapnya ilang kena air. Tapi bisikan Ki Broto masih ada.

"Ratu Pantai Selatan nggak kayak aku, Rak. Dia bukan dukun... dia ratunya dedemit. Dia makan dukun kayak kita buat sarapan. Kau ke sana \= bunuh diri."

Raka buka HP. Ngecek saldo. Rp 52.431. Cukup buat naik bus ekonomi ke Jogja, tapi nggak cukup buat makan.

Terus dia inget. Di dompet Ki Broto tadi ada duit. Raka balik ke kamar, ngegeledah jas hujan Ki Broto yang udah sobek-sobek.

Dapet. Dompet kulit lusuh. Isinya KTP, jimat kecil, sama... gepokan uang merah. Raka ngitung. Rp 3.200.000.

"Anjing, dukun pasar malam kaya juga," Raka nyengir. Tapi senyumnya ilang pas liat foto di dompet. Foto Ki Broto lagi gendong anak kecil. Di belakang foto ada tulisan: "Untuk anakku, Bowo. Maaf Bapak jadi dukun."

Raka diem. Tangannya gemeter. Dia baru aja bunuh seorang bapak.

_“Jangan ceng,”_ geram macan kedua di kepalanya. _“Dia atau kau yang mati.”_

Raka masukin duit ke tasnya. "Gue nggak ada pilihan."

---

*3 HARI KEMUDIAN - PANTAI PARANGTRITIS, JAM 11 MALAM*

Raka turun dari bus di Terminal Giwangan. Badannya remuk. Tiga hari nggak tidur, cuma makan pop mie. Dua titik di punggungnya sekarang panasnya kayak disetrika. Dia tau, Khodam kedua udah nggak sabar.

Pantai Parangtritis sepi. Cuma ada suara ombak sama angin yang bawa bau amis. Langit purnama, bulat sempurna. Bagus buat ritual, kata Mbah Wiryo dulu.

Raka jalan ke arah pantai. Pasirnya dingin. Di kejauhan, di atas batu karang gede, ada sesosok berdiri.

Kebaya hijau. Rambut panjang. Nggak gerak meski angin kenceng.

Raka ngerasa hawa dingin nyusup ke tulang. Ini beda sama Mbah Wiryo atau Ki Broto. Ini... auranya berat banget. Kayak ditindih gunung.

Dari arah laut, muncul kabut putih. Kabutnya jalan sendiri ke arah Raka, ngebentuk lorong. Di ujung lorong, wanita berkebaya itu ngangkat tangan, manggil.

Raka nggak mau jalan. Tapi kakinya gerak sendiri. Langkah demi langkah, masuk ke lorong kabut.

Dinginnya nembus jaket. Raka bisa liat napasnya sendiri ngebul.

Sampe di depan batu karang, Raka dongak. Sekarang dia bisa liat jelas wajah wanita itu.

Cantik. Cantik banget. Tapi matanya... kosong. Item semua, nggak ada putihnya. Kayak dua lubang sumur.

"Raka Putra Hendrawan," suaranya merdu tapi menggema, kayak dari dalem gua. "Akhirnya kau datang. Bapakmu sering cerita tentangmu."

Raka kaget. "Bapak gue? Lu kenal bapak gue?"

Wanita itu senyum. Senyumnya bikin bulu kuduk berdiri. "Aku Nyi Roro. Penjaga Ketiga. Dan aku... yang ngutuk bapakmu dulu."

BLEDAR!

Petir nyambar di atas laut. Ombak tiba-tiba gede, ngamuk ngehempas karang. Raka hampir jatuh.

"Ngutuk? Maksud lu?" Raka teriak ngelawan suara ombak.

Nyi Roro turun dari karang. Dia nggak napak pasir. Melayang sejengkal di atas tanah. Kakinya nggak keliatan, ketutup kebaya panjang.

"20 tahun lalu, bapakmu datang ke sini. Minta Rajah Ghaib ke aku. Syaratnya: dia harus numbalin anak perempuannya yang baru lahir ke laut. Dia setuju."

Darah Raka berdesir. "Anak... perempuan? Gue nggak punya adik..."

"Karena bapakmu ingkar janji," Nyi Roro nyambung. Suaranya berubah dingin. "Dia nggak tega numbalin bayinya. Dia palsuin ritual. Sebagai gantinya, dia numbalin 7 perawan lain. Aku marah. Aku kutuk dia. Kutukannya: 7 Penjaga harus mati, termasuk aku. Kalo nggak, semua keturunan Hendrawan bakal mati dimakan macan."

Raka jatuh dengkulnya ke pasir. Jadi... bapaknya bukan pahlawan. Bapaknya pengecut yang ngorbanin orang lain. Dan sekarang Raka yang nanggung.

"Terus adik gue...?" Raka berbisik.

Nyi Roro ngambang muterin Raka. "Diselamatin Mbah Wiryo. Dibawa pergi. Sekarang dia... ada di dekatmu. Ngawasin."

Raka nengok kanan kiri. Pantai kosong. Cuma ada dia, Nyi Roro, sama suara ombak.

_“Bunuh... dia...”_ geram dua macan di punggung Raka. Panasnya udah sampe ubun-ubun. Kulit Raka mulai muncul bulu halus.

Raka ngeluarin jimat kayu. "Gue nggak mau bunuh lu. Kasih tau di mana adik gue!"

Nyi Roro ketawa. Tawanya melengking, bikin kaca mobil di parkiran jauh pecah. "Bodoh. Kau pikir kau bisa milih? Rajah udah milih kau. Kau bunuh aku, atau dua macan itu keluar dari punggungmu dan makan orang se-Malang!"

Ombak tiba-tiba naik. Tingginya 5 meter. Nyi Roro ngangkat kedua tangan. Air laut ngebentuk jadi ratusan tangan, mau nyekek Raka.

Raka gigit bibir sampe berdarah. Darahnya netes ke pasir.

SRET!

Dua bilah cakar sepanjang 30cm nongol dari punggung tangan Raka. Cakar macan. Hitam, keras, kayak baja.

_“Akhirnya...”_ desis macan di

kepalanya.

Raka nggak bisa nahan lagi. Dia meraung. Suaranya bukan suara manusia lagi. Suara macan.

Dan dia menerjang Nyi Roro.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!