NovelToon NovelToon
THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

THE ELITE OF UNDERGROUND SOCIETY

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:245
Nilai: 5
Nama Author: zayyana

Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.

sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.

Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.

apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahasa Asing di Meja Makan

"Tempat ini terlalu panas, Father. Dan udaranya... gosh, sangat lembap," keluh Miya Fynezayn sembari mengibaskan kipas lipat sutra hitamnya yang berenda halus.

Miya berdiri di tengah penthouse mewah berlantai dua yang menghadap langsung ke arah cakrawala gedung-gedung tinggi Jakarta. Dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter dan lekuk tubuh yang begitu proporsional sebuah definisi nyata dari body goals yang kerap digilai remaja seusianya Miya tampak menonjol. Rambut pirang ikalnya yang berkilau keemasan malam ini ditata dalam sanggul modern yang rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah kaukasiannya. Kulitnya putih bersih tanpa cela, memancarkan kemewahan yang kental.

Di ujung meja makan marmer panjang, seorang pria bertubuh kekar dengan setelan jas mahal sedang memotong daging steaknya secara metodis. Pria itu adalah Viktor Fynezayn, kepala kartel mafia Eropa Timur yang baru saja memindahkan basis operasionalnya ke Asia Tenggara.

"Kau harus membiasakan diri, Miya," sahut Viktor tanpa mendongak, suaranya berat dan bergetar tenang. "Kita tidak sedang berlibur. Indonesia adalah wilayah baru yang sangat basah untuk bisnis kita."

"Tapi kenapa aku harus masuk ke sekolah lokal?" Miya melangkah mendekat, langkah kakinya berdentik ritmis di atas lantai granit. Logat asingnya terdengar sangat kental, dengan penekanan huruf 'R' yang samar khas penutur bahasa Inggris Eropa. "SMA Garuda Bangsa? Seriously? Aku bisa melanjutkan home schooling dengan tutor dari London."

Miya menarik kursi makan dengan sekali sentakan, duduk dengan tegak seraya melipat kedua tangannya di atas meja. Bibirnya yang penuh dipulas lipstik warna nude berkelas, sedikit mengerucut menunjukkan kekesalannya.

"Ini bukan sekadar sekolah, my daughter," Viktor meletakkan pisau dan garpunya dengan dentingan pelan yang bergaung di ruangan yang sepi. Dia menatap putri tunggalnya dengan mata birunya yang sedingin es. "Itu adalah tempat di mana anak-anak penguasa lokal berkumpul. Kau harus berada di sana. Cari tahu siapa saja mereka, terutama... keluarga Breynerlanz."

Miya menaikkan sebelah alisnya yang terukir sempurna. "Breynerlanz? Mafia lokal yang menguasai pelabuhan itu?"

"Ya. Mereka mengunci akses logistik kita di utara. Aku butuh kau menjadi mata dan telingaku di sekolah itu. Masuklah tanpa menarik perhatian. Jangan mencolok," perintah Viktor tegas.

Miya mendengus pelan, senyum sinis terukir di sudut bibirnya yang merah muda. "Tidak mencolok? Father, lihat aku. Sangat sulit bagi seorang Fynezayn untuk menjadi tidak terlihat di antara kerumunan orang-orang lokal."

"Kau pasti bisa, Miya. Gunakan otak jeniusmu itu," potong sebuah suara wanita dari arah tangga.

Elena, ibu Miya, berjalan turun dengan keanggunan seorang mantan balerina. Dia mendekati putrinya, mengusap bahu ramping Miya yang malam itu mengenakan gaun satin pendek berwarna zamrud. "Dan ingat satu hal. Jangan mencoba meretas data murid-murid di sana lagi. Kau hampir memicu alarm siber mereka semalam."

Miya memutar bola matanya, gestur yang manja namun tetap terlihat elegan. "Aku hanya penasaran, Mother. Ada enam akun murid baru yang proteksi datanya gila-gilaan. I mean, totally blank. Bahkan sistem enkripsi buatanku ditendang keluar dalam waktu tiga menit."

"Itu artinya, kau bukan satu-satunya predator yang dikirim ke sekolah itu," cetus Viktor sembari meneguk wine merah dari gelas kristalnya. "Makanya, jaga sikapmu. Jangan biarkan mereka tahu siapa kau sebenarnya. Di sekolah itu, kau hanyalah putri dari seorang pengusaha properti asing yang sedang berinvestasi di Jakarta. Paham?"

Miya terdiam sejenak. Dia mengambil garpu, menusuk sepotong kecil buah stroberi dari mangkuk perak di tengah meja, lalu mengunyahnya dengan perlahan. Otaknya yang cerdas langsung bekerja, menganalisis situasi. Enam data yang dikunci rapat. Sekolah elit yang dipenuhi anak-anak koruptor, jenderal, dan pebisnis hitam. Ini bukan lagi sekadar sekolah, ini adalah papan catur rahasia.

"Baiklah, aku akan bermain," ucap Miya akhirnya. Suaranya terdengar lebih berwibawa, meluruhkan kesan manja yang dia tunjukkan sebelumnya. Dia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah sang ayah. "But under one condition."

"Apa itu?" tanya Viktor.

"Aku tidak mau dikawal oleh orang-orang berbadan besar berbaju hitam itu sampai ke depan gerbang sekolah. It's so berbicara, eh, maksudku... mencolok. Aku akan menyetir mobilku sendiri," tuntut Miya dengan perpaduan bahasa Indonesia yang agak kaku di beberapa kata.

Elena tertawa kecil, menggelengkan kepalanya melihat keras kepala sang putri. "Biarkan dia, Viktor. Setidaknya sebuah mobil sport mewah masih terlihat normal untuk anak ekspatriat kaya di Jakarta."

"Oke," jawab Viktor pendek. "Tapi pengawal tetap akan mengawasimu dari jarak dua ratus meter. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan nyawamu, mereka akan langsung bertindak."

Miya berdiri dari kursinya, membuat gaun satinnya bergoyang mengikuti lekuk tubuhnya yang menawan. Dia berjalan menuju balkon luar, membiarkan embusan angin malam Jakarta menerpa wajahnya dan memainkan rambut pirang ikalnya. Dari ketinggian lantai empat puluh ini, kota Jakarta tampak seperti hamparan lampu yang tak berujung, indah namun menyimpan banyak sekali kegelapan di bawahnya.

"SMA Garuda Bangsa..." Miya menggumamkan nama itu dengan pelafalan asingnya yang khas.

Dia mengambil ponselnya dari saku gaun, menatap layar yang menampilkan logo sekolah tersebut sebuah lambang burung garuda berlapis emas yang tampak megah. Tangannya bergerak menyentuh layar, mencoba membuka kembali catatan kegagalan peretasannya semalam. Bayangan enam berkas kosong yang dilindungi protokol militer itu terus mengusik rasa ingin tahunya.

"Siapa pun kalian yang bersembunyi di balik dinding enkripsi itu..." Miya tersenyum misterius, matanya yang berwarna biru jernih berkilat penuh tantangan di bawah temaram cahaya bulan. "Mari kita lihat, seberapa pintar kalian menyembunyikan cakar kalian di depan siswi baru ini."

Dengan gerakan anggun, Miya membalikkan tubuhnya, melangkah kembali ke dalam ruangan dengan ketegasan yang murni diwarisinya dari darah seorang Fynezayn. Topeng barunya telah siap. Besok, dia bukan lagi pewaris kartel yang ditakuti di Eropa. Besok, dia hanyalah Miya, si gadis pindahan yang kaya, cantik, berwibawa, dan siap mengamati setiap gerak-gerik di dalam sangkar emas bernama Garuda Bangsa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!