Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PENYESALAN DI BUKIT RAYA
Sementara di sudut ksatrian yang lain, malam ini sepertinya akan menjadi malam terpanjang dalam hidup Kolonel Victoria Reins Mari. Malam yang berdesau sunyi, seakan membawa takdir yang berputar mundur, membuat sejarah lama terasa terulang kembali namun dalam versi dan dimensi yang sepenuhnya berbeda.
Setelah menyelesaikan kunjungannya yang emosional untuk menemui sang adik—Lettu dr. Shaneen Kamila Mari, Sp.KFR—serta memandangi sepasang keponakan kembarnya yang tertidur lelap, Victor memilih untuk segera kembali ke rumah jabatan dinas. Sebuah bangunan kokoh berarsitektur kolonial yang sudah ia tempati hampir tiga bulan pertama ini sejak resmi dilantik sebagai Komandan Pusat Pendidikan Militer Satria Garda.
Sebenarnya, posisi mentereng sebagai pusat komando di ksatrian ini baru saja ia renggut. Sebelum mendarat di Kota Bukit Raya, Victor hidup laksana seorang pengembara tak berarah, menjelajahi bumi ibu pertiwi dari satu pulau terluar ke pulau lainnya demi menenggelamkan diri dari ingatan masa lalu. Tiba-tiba saja, setelah surat perintah mutasi terakhir turun, dia berada di sini.
Kota Bukit Raya, sebuah wilayah yang terkenal masih sangat asri dan terjaga dengan bentangan alam hijaunya yang menonjol. Cuaca dingin dan sejuk pada malam hari sudah jangan ditanya lagi, sanggup menusuk hingga ke tulang belulang siapa pun yang tidak terbiasa. Namun tetap saja, ketika siang hari menyapa, ada kok sedikit rasa panas yang dipancarkan oleh terik matahari, meski tingkat kegarangannya jelas tidak sepanas atmosfer kota pusat pesisir.
Sembari melangkah di atas lantai marmer rumah jabatannya yang sunyi, lagi-lagi, Victor mengingat ucapan tajam namun jujur dari adiknya, Shaneen. Jauh di dalam lubuk hatinya, Victor menyadari bahwa Shaneen adalah orang yang paling berhak marah atas keputusannya di masa lalu. Bagaimanapun juga, Shaneen sudah pasti tahu betul mengenai hubungan spesial yang dulu sang kakak bangun bersama salah satu sahabat karibnya itu. Bahkan, jika mau jujur pada sejarah, Shaneen-lah yang terlibat paling dalam sebagai mak comblang di awal kedekatan mereka. Tentu saja, Victor-lah yang duluan menyukai dan mengejar wanita manis itu.
Hubungan persahabatan antara Ayuni Ameera Bakri, Shaneen Kamila Mari, dan Yunita Eka Wardhana sudah terikat begitu kuat, bahkan sudah seperti saudara kandung yang lahir dari rahim yang sama. Bagi mereka bertiga, orang tua dari salah satu di antara mereka adalah orang tua bagi yang lainnya juga.
Victor menghentikan langkahnya tepat di depan jendela besar yang menghadap langsung ke arah barisan pohon trembesi ksatrian. Bayangan malam itu kembali datang tanpa diundang, merayap masuk ke dalam benaknya seperti kabut tebal yang mencekik.
Malam itu, lima tahun yang lalu, adalah malam di mana semesta seolah runtuh dan sepenuhnya memihak pada perpisahan yang dingin. Gema suara Ayu di seberang telepon kabel kala itu masih terngiang sangat jelas di telinga Victor, mencabik-cabik seluruh ketenangan jiwanya yang saat itu sedang berada di tengah tugas piket malam ksatrian.
"Aku ingin ketemu, malam ini juga," ucap Ayu lewat telepon waktu itu. Suaranya terdengar begitu dingin, namun ada getaran rapuh yang sangat kentara, mencoba menyembunyikan badai air mata yang siap tumpah.
"Sayang, ada apa? Tidak bisakah besok saja? Keadaan di barak sedang mendesak dan tidak bisa ditinggalkan," jawab Victor kala itu, berusaha memberikan pengertian rasional sebagai seorang perwira muda yang terikat mati oleh aturan dinas dan rantai komando yang ketat.
"Kalau kamu gak mau temuin aku malam ini, maka kamu gak akan pernah lihat aku lagi." Kalimat itu diucapkan Ayu dengan nada yang sangat bergetar, disusul suara isakan kecil yang akhirnya lolos berbarengan dengan runtuhnya pertahanan pertamanya.
Detik itu juga, seluruh logika militer yang biasanya diagung-agungkan oleh Victor menguap begitu saja ke udara. Sambungan telepon terputus sepihak setelah Ayu menyebutkan sebuah alamat kafe kecil di pinggiran kota yang menghadap langsung ke laut lepas—sebuah tempat terpencil yang tanpa pernah mereka sadari sebelumnya, akan menjadi saksi bisu dari pertemuan pertama sekaligus terakhir bagi kisah cinta yang mereka bangun bertahun-tahun.
Victor menempuh perjalanan malam itu dengan tekanan tinggi dalam mengendara. Mobilnya membelah jalanan sepi yang gulita dengan kecepatan yang jauh di atas rata-rata, mengabaikan segala rambu keselamatan. Setir di genggaman tangan besarnya terasa begitu dingin, seirama dengan tetesan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis dan rahang tegasnya. Dadanya bergemuruh hebat, dihantam oleh rasa khawatir yang teramat sangat atas keselamatan wanita cantiknya.
Begitu kakinya menginjak pelataran kafe pinggiran laut yang remang-remang oleh lampu hias yang temaram, mata tajam Victor langsung menangkap sebuah siluet yang sangat ia kenal di ujung sana. Di sudut paling ujung, menghadap langsung ke hamparan ombak hitam yang berdebur kasar, seorang wanita duduk termenung membelakangi pintu masuk. Ayu sudah berganti kostum malam itu. Tidak ada lagi seragam loreng kaku yang biasa membungkus tubuh tegapnya saat berdinas. Ia hanya mengenakan sebuah hoodie kain yang tampak sangat kebesaran di badannya yang mungil, membuat sosoknya terlihat puluhan kali lipat semakin rapuh di tengah embusan angin laut yang kencang.
"Sayang?" ucap Victor sangat lirih, hampir berupa bisikan, saat langkah kaki panjangnya akhirnya sampai di samping tempat duduk Ayu.
Ayu langsung menengok dan mendongak. Begitu sepasang mata bulat besarnya menangkap sosok tinggi menjulang milik Victor, ia tidak mampu lagi menahan diri. Ayu langsung berdiri dan menghambur seketika, memeluk erat tubuh raksasa setinggi 195 sentimeter itu dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Matanya yang jernih sudah sejak beberapa jam lalu tampak bengkak, sembap, dan memerah. Begitu wajah halusnya menubruk dada bidang Victor yang kokoh, tangisnya yang sempat reda kini pecah kembali tanpa bisa dibendung. Ia semakin mempererat pelukannya di pinggang Victor, meremas kain seragam pria itu seolah takut jika ia melonggarkan genggamannya sedetik saja, Victor akan menjelma menjadi asap putih dan menghilang selamanya diterpa angin laut.
"Sayang, ada apa?" tanya Victor di sela-sela ia membalas pelukan hangat tersebut. Perbedaan tinggi badan yang mencapai puluhan sentimeter itu membuat tubuh mungil Ayu seolah tenggelam sepenuhnya di dalam dekapan protektif Victor. Pria itu berkali-kali menundukkan kepala, menciumi pucuk kepala Ayu dengan penuh penyayangan dan kelembutan, mencoba sekuat tenaga untuk meredam getaran hebat yang menjalar di seluruh tubuh wanitanya.
Namun, Ayu belum sanggup untuk membuka suara atau bercerita. Ia masih terus tenggelam dalam tangisannya yang semakin sesenggukan, menumpahkan segala rasa sesak, tertekan, dan sakit yang menyumbat dadanya selama berhari-hari akibat tekanan dari keluarganya sendiri.
"Katakan, ada apa?" Victor perlahan, dengan sangat lembut, mengurai jarak di antara pelukan mereka. Ia menangkup wajah oval Ayu dengan kedua tangan besarnya yang kasar, memaksa mata sembap yang basah itu untuk memandang lurus ke dalam manik matanya. Hati Victor seakan berdenyut ngilu, seperti diiris sembilu tajam, saat melihat air mata yang terus mengalir deras membasahi pipi halus wanita yang amat ia cintai itu.
"Ayo katakan, ada apa?" tanyanya sekali lagi dengan raut wajah yang mencerminkan rasa khawatir yang luar biasa.
"Aku mau kita pergi," ucap Ayu di sela-sela isak tangisnya yang memburu.
"Iya, tapi kenapa?"
"Pokoknya bawa aku pergi dari sini..."
"Sayang, tenanglah dulu. Katakan padaku, ada apa sebenarnya yang terjadi?"
Ayu menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata Victor, mencari secercah ketegasan dan keberanian yang sangat ia harapkan keluar dari pria itu untuk melindunginya. Dengan suara yang hampir habis, Ayu melontarkan sebuah kalimat,
"Kalau ada orang lain yang melamar aku... gimana?"
Pertanyaan singkat itu seketika membuat seluruh tubuh Victor terdiam membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang semula menangkup hangat wajah Ayu mendadak terasa kaku laksana batu. Ia hanya bisa memandangi wajah cantik yang berada di genggaman tangannya itu dengan tatapan mata yang sepenuhnya kosong dan kehilangan arah. Lidah perwira elit itu mendadak kelu, terkunci rapat oleh kenyataan. Kalimat yang keluar dari bibir Ayu barusan adalah sebuah vonis mati yang mutlak bagi seluruh masa depan dan mimpi-mimpi indah yang pernah mereka rajut bersama di bawah sumpah cinta.
Lama mereka berdua terasing di dalam keheningan malam yang pekat, hanya ditemani oleh deru ombak laut yang saling berkejaran, sebelum akhirnya Victor perlahan mendekatkan wajah tirusnya. Ia mencium pucuk kepala Ayu dengan dalam dan rasa bersalah yang teramat dalam, lalu kembali menarik tubuh mungil yang bergetar itu ke dalam pelukan eratnya. Sungguh, pada detik yang krusial itu, Victor benar-benar tidak tahu harus menjawab apa untuk menenangkan wanitanya. Ambisinya yang terlampau besar, serta ketakutan masa mudanya akan karier militernya yang terhambat karena tembok perbedaan keyakinan di mata keluarganya kala itu, telah mengunci mati mulutnya untuk mengatakan kata 'bertahan' atau 'ayo kita berjuang bersama'.
"Sayang... apa pun yang terjadi kedepannya dalam hidupmu, aku akan terus mendoakan yang terbaik sepanjang sisa hidupmu," bisik Victor dengan suara yang teramat pelan, sebuah kalimat pasrah yang menandakan bahwa ia telah memilih untuk kalah sebelum sempat mengayunkan pedang di medan pertempuran restu.
Mendengar kalimat itu, Ayu tersentak hebat. Rasa sedihnya seketika menguap, digantikan oleh rasa kecewa dan amarah yang membuncah dari dasar dadanya. Ia mendorong kuat-kuat dada bidang Victor, menciptakan jarak di antara mereka. Matanya yang sembap menatap Victor dengan pandangan tidak percaya sekaligus penuh luka.
"Maksud kamu apa?! Kamu mau menyerah begitu saja?!"
"Maafkan aku ya, Maaf," hanya untaian kata maaf itu yang mampu keluar dari bibir Victor, terdengar begitu lemah dan mengakhiri segalanya.
Mendengar kata maaf yang terdengar begitu final dan kaku, Ayu kembali runtuh. Tangisnya kembali pecah dalam bentuk sesenggukan yang menyakitkan. Ia tahu persis makna di balik jawaban pria yang amat ia cintai itu. Victor telah memilih untuk mundur. Pria itu telah memilih untuk menyelamatkan jalannya sendiri menuju puncak karier militer dan membiarkan Ayu berjalan sendirian menuju pelaminan yang dibangun oleh pria pilihan orang tuanya.
"Dasar jahat!" jerit Ayu tertahan, suaranya pecah di tengah deru angin malam. Tangannya yang mungil mengepal kuat, memukul-mukul dada bidang Victor bertubi-tubi dengan sisa tenaga yang ia miliki, meluapkan seluruh rasa sakit hati, kehancuran, dan kekecewaan yang luar biasa karena merasa dikhianati oleh janji-janji manis masa lalu. Victor tidak sedikit pun menghindar atau menahan tangan Ayu. Ia tetap diam berdiri kokoh laksana batu karang, membiarkan dadanya dipukuli sepuasnya oleh Ayu, sembari terus berusaha mendekap tubuh mungil itu dengan erat, membiarkan rasa bersalah yang amat besar itu mengalir dan mengunci sukmanya seumur hidup.
Sebenarnya, jika lembaran memori itu diingat kembali di dalam kesunyian rumah jabatannya malam ini, hubungan mereka bukanlah sebuah kisah yang berjalan tanpa adanya perjuangan sama sekali. Keluarga besar Victor sendiri sebenarnya amat menyayangi dan menerima kehadiran Ayuni Ameera Bakri dengan tangan terbuka.
Kedua orang tua Victor bahkan mendukung penuh hubungan mereka berdua tanpa pernah mempermasalahkan latar belakang suku ataupun status. Yang menjadi tembok raksasa terbesar dan paling mustahil untuk digempur kala itu justru berasal dari pihak keluarga Ayu sendiri, yang begitu menaruh keberatan yang amat keras mengenai perbedaan keyakinan di antara mereka berdua.
Di masa-masa sulit penuh tekanan itu, Victor sebenarnya sempat memberanikan diri mendatangi keluarga besar Ayu bersama orang tuanya untuk mencoba menjajaki kemungkinan hubungan ke arah yang lebih serius. Namun, penolakan keras, dingin, dan tegas yang mereka terima dari pihak keluarga Ayu membuat hubungan kedua sejoli itu lama-kelamaan bertransformasi menjadi sepasang kekasih yang berjalan meraba-raba di dalam kegelapan, seolah melangkah di atas jalan buntu yang tak kunjung menemukan cahaya terang untuk bersatu.
Setidaknya, di dalam pembelaan batinnya, Victor merasa dirinya sudah pernah berusaha sekali untuk maju. Namun, ekspektasi dan maunya Ayu tidak sesederhana itu. Ayu menginginkan seorang pria yang tidak akan mundur hanya karena satu kali penolakan. Ayu ingin Victor terus maju menerjang badai, mendobrak pintu restu orang tuanya berulang kali, membuktikan keseriusan dan keteguhan cintanya sampai hati keluarga Ayu benar-benar luluh oleh waktu. Namun, ego masa muda, ambisi pribadi, dan ketakutan Victor akan masa depan karier militernya yang ia khawatirkan akan terhambat di tengah jalan membuat pria itu memilih mengambil langkah seribu—mundur dan menyerah di tengah jalan.
Bahkan, saking hancur dan berantakannya hubungan mereka saat itu, Shaneen yang merupakan adik kandung Victor sendiri sampai ikut mengamuk dan memarahi kakaknya habis-habisan tanpa memedulikan pangkat. Shaneen menangis histeris di depan Victor ketika Ayu akhirnya datang menghubunginya, mengabarkan dengan senyum getir bahwa ia menyerah dan akan segera menikah dengan pria pilihan orang tuanya yang seiman. Shaneen tahu betul betapa hancurnya hati Ayu, dan ia mengutuki kakaknya sebagai seorang pria pengecut yang tidak becus mempertahankan wanita setulus sahabatnya itu.
Hingga hari pernikahan Ayu tiba beberapa tahun lalu, Victor memilih untuk mengasingkan diri, tidak hadir di barisan tamu undangan karena ia tahu betul hatinya yang rapuh tidak akan pernah sanggup melihat Ayu bersanding di pelaminan bersama pria lain. Namun, sebagai tanda penghormatan terakhir atas nama cinta yang pernah membakar jiwanya, serta sebagai bentuk doa yang tak pernah putus bagi keselamatan sang wanita, Victor mengirimkan sebuah hadiah pernikahan rahasia yang ia titipkan lewat tangan Shaneen.
Hadiah itu adalah sebuah jam tangan pintar (smartwatch) dengan strap berwarna putih netral. Sebuah benda fungsional dan berguna yang sengaja Victor pilih agar bisa melingkar di pergelangan tangan Ayu, menemaninya sepanjang waktu saat wanita itu bertugas melakukan operasi di lapangan. Melalui hadiah yang tak pernah ia ketahui apakah dihargai atau tidak itu, Victor berbisik pada semesta yang sepi bahwa ia akan selalu mendoakan yang terbaik untuk wanita yang amat ia cintai, meski waktu mereka di dunia nyata telah resmi usai.
Victor mengembuskan napas panjang, menutup dompet kulitnya yang kembali ia buka, dan memasukkannya kembali ke dalam saku seragamnya. Matanya menatap keluar jendela, menembus kegelapan malam Kota Bukit Raya yang sejuk. Waktu terbukti telah terus bergerak maju tanpa pernah peduli pada hati yang tertinggal di belakang. Dan besok pagi, waktu yang kejam itu akan memaksa dua hati yang pernah patah dan hancur berantakan ini untuk kembali berdiri berhadapan, bukan lagi sebagai sepasang kekasih di tepi laut, melainkan sebagai dua orang perwira yang terikat di bawah sumpah setia pada ibu pertiwi di dalam ruang rapat komando.