Tidak ada kisah Cinta di dunia ini yang seindah kisah novel..
Tidak ada yang tahu.. Seperti apa dan bagaimana proses masa depan kita terjadi..
Namun ada juga beberapa kisah yang serupa dengan kisah di novel..
Karena beberapa kisah novel memang pernah terjadi di dunia nyata..
"Kadang sesuatu yang kita lihat tidak sesuai dengan kenyataan.
Kebencian yang terlalu dalam ini membuatku terjatuh.
Tapi memang begitu kenyataannya laki-laki itu menyebalkan dan aku muak melihat tingkah gilanya itu, dasar laki-laki aneh dia!
Jika bisa saat itu juga aku mematahkan lehernya. Tapi, aku tidak bisa melakukannya. Karena aku...."
_Shica Mahali_
"Jangan dilihat dari luar. Maka kau akan semakin penasaran dengan apa yang ada didalamnya.
Aku menyesal telah menyakiti perasaannya.
Aku tidak mengira kalau ini buah dari kesalahanku.
Maafkan aku, boleh aku mengenalmu lebih jauh lagi?
Tapi aku......"
_Raihan Alfarizi_
PERINGATAN!!!
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucu Irna Marhamah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
".. Hari ini adalah awalan baru untukmu. Lupakan kesalahan dan penyesalanmu di belakang, mulailah dengan perjuangan yang baru, semangat baru, dan harapan yang lebih besar. Hadapi rintanganmu dengan senyuman di wajah. Selamat Ulang Tahun, dari teman yang selalu ada untukmu.. "
***
•••Raihan Alfarizi•••
Aku pergi ke sekolah seperti biasa. Tentu saja sekarang semangatku untuk bersekolah semakin tinggi.
Sekarang ada Shica yang menjadi sumber penyemangatku!
Sekarang, kami sudah akrab. Dia sebenarnya sangat baik jika aku tidak berbuat jahil padanya.
Dia hanya sedikit pemarah dan angkuh. Menurutku itu wajar mengingat dia seorang putri dari pengusaha kaya.
Aku menyukai Shica.
Meskipun aku tahu dia menyukai Argaa.
Pagi ini, Shica datang agak terlambat dariku.
Senyumannya begitu nyata terpampang dihadapanku. Sejuk sekali rasanya.
Setiap melihat senyumannya itu rasanya ingin sekali aku mendapatkan dirinya, dan menikmati bibir indah itu lagi.
Sungguh, aku masih ingat dengan jelas memori pada saat aku mendapatkan ciuman pertamanya.
Jangan berfikir aku pernah berbuat mesum sebelumnya. Aku belum pernah melakukan hal mesum.
Hanya berciuman saja itu wajar, kan?
"Raihan, jangan menatapku seperti itu. Seolah kau mau memakanku." katanya.
Aku ingin tertawa mendengarnya. Ya aku ingin memakanmu, sayang. Sangat ingin.
Hmm, dia menggoda imanku. Dasar perempuan.
"Hai, Shica." suara itu membuatku jengkel, siapa lagi kalau buka si cebol!
"Hai, Argaa." Dan parahnya lagi, Shica menjawab sapaan orang gila itu.
Mereka terlihat..... Ya, jatuh cinta.
Aku benci sekali melihatnya.
"Selamat ulang tahun, ya. Aku tahu ini terlambat, tapi aku mau memberikan kado ini." kata Argaa sambil memberikan kado yang berukuran sedang pada Shica.
Shica ulang tahun?
Kenapa aku tidak tahu?
Shica terlihat senang. Pipinya merona. Dia menerima kado dari Argaa.
Pemandangan ini membuat isi kepalaku benar-benar panas. Jika saja kepalaku terbuat dari kaca, mungkin sudah pecah sedari tadi.
"Terimakasih, aku senang sekali." kata Shica sambil memeluk kado tersebut.
Argaa tersenyum sangat.... Ehhhmmm, menjijikan.
Dan parahnya Shica terlihat suka melihat senyuman menjijikan itu. Padahal aku juga bisa senyum lebih manis dari dia.
Bu Sindi memasuki ruangan. Si cebol segera duduk dibangkunya.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikum salam."
Bu Sindi duduk di meja guru. Aku berbisik pada Shica.
"Kenapa kau tidak bilang, kalau kau ulang tahun?" tanyaku menggerutu.
Kulihat Shica mendelik kesal padaku. "Lalu aku harus bilang padamu dan minta kado darimu. Tidak peka!" kata Shica menggerutu.
Aku terkekeh.
Benar juga, ya.
Shica terlihat kesal. Aku mengerti dia kesal karena aku tidak tahu dia sedang ulang tahun.
"Emm, Shica. Selamat ulang tahun yaa." kataku berbisik padanya.
Kulihat dia tersenyum dengan pipi merona.
"Terimakasih, doanya mana?" tanya Shica dengan manja.
Oh ekspresinya benar-benar membuatku geli.
"Doaku untukmu, semoga kau tidak marah-marah terus. Nanti, kau cepat tua dan cantiknya hilang, kalo kamu cantiknya hilang gimana kata orang. Tuan Alfarizi yang tampan memiliki istri yang pemarah dan tua." godaku.
Selanjutnya, yang kurasakan adalah nyeri di pinggangku. Apalagi kalau bukan cubitan capit kepitingnya Shica yang benar-benar super sakit.
"Aww, sakit tahu." kataku menggerutu.
"Itu baru permulaan Tuan Alfarizi, selanjutnya kau akan merasakan hangatnya lubang kuburmu." bisik Shica.
Errrr, mengerikan sekali.
"Shica, Raihan. Apa kalian mendengarkan penjelasanku?" tanya bu Sindi.
Seketika kami menoleh kearahnya.
"I.. Iya, Bu." jawab Shica.
"Kalau begitu, jelaskan ini." kata bu Sindi sambil menunjuk abjad-abjad di papan tulis.
Ya, itu sulit di jelaskan karena itu menurutku lebih mirip dengan bahasa alien.
H2O
Mi
La
Na
H+
3G
4G
Apapun itu, menurutku benar-benar tidak mengerti sama sekali.
Aku dan Shica saling pandang.
"Tidak mengerti!" teriak kami berbarengan.
◆◆◆
Sepulang sekolah, aku langsung memasuki area parkir.
"Raihan!"
Aku terkejut, dan menoleh. Ternyata Shica yang memanggilku.
"Iya?" tanyaku.
"Besok kamu sekolah, kan? Kamu gak akan ingkar janji, kan?" tanya Shica dengan ekspresi memelas.
Oh, aku sangat tidak tahan dengan ekspresi itu.
"Tentu saja, bukankah aku sudah mendapatkan ciuman pertamamu? Ya, sebagai bayarannya." kataku menggodanya.
Kulihat pipinya langsung memerah. "Jangan keras-keras! Dasar menyebalkan, kau." gerutu Shica sambil menatap garang padaku.
Aku terkekeh. "Baiklah, baiklah, maafkan aku." kataku sambil mengibaskan tanganku di depannya.
Dia terlihat begitu kesal. "Jangan-jangan, sebelumnya kau juga pernah berciuman dengan perempuan lain," kata Shica sambil menatapku penuh selidik.
Aku terhenyak. "Apa? Tuduhan macam apa itu?" tanyaku menggerutu.
"Benarkan? Dasar laki-laki menyebalkan, kau. Kau pernah melakukannya?" dia terlihat kesal.
"Emm..memangnya kenapa?" tanyaku.
"Dasar, kau. Kemesumanmu itu tingkat dewa!" gerutu Shica kemudian berlalu pergi.
Aku tersenyum melihat ekspresi kesalnya tadi. Aku yakin dia masih kesal karena aku menciumnya.
Atau, dia kesal karena menuduhku pernah berciuman dengan perempuan lain?
Apa dia cemburu?
Oh, aku senang sekali.
Aku segera pulang ke rumah.
◆◆◆
Aku terkejut melihat Lala bermain dengan boneka kuda yang besar dan boneka beruang yang besar juga.
"Kakak," aku memanggil kak Riska. Aku mencarinya ke ruang tengah.
Kulihat kakak sedang berbicara dengan seorang perempuan berambut panjang berombak.
"Kak,"
Kakak dan perempuan itu menoleh ternyata, Shica. Dia cantik sekali dengan gaya rambutnya yang baru.
"Shica?"
"Hai, Raihan." sapa Shica. Oh pipiku mulai memanas.
"Baru pulang? Kamu mandi dulu sana. Masa mau memakai seragam sekolah saat teman perempuanmu berkunjung." kata kak Riska.
Aku tersenyum geli mendengarnya, kemudian aku segera mandi dan memakai pakaian rumah.
Aku mengambil kotak kado kecil yang sengaja aku buat tadi di rumah temanku.
Aku membeli isinya dan membuat kotaknya spesial untuk Shica.
Ya, meskipun isi dan ukurannya tidak sebagus pemberian Argaa.
Aku memasuki ruang tengah. Kak Riska beranjak dari duduknya.
"Kakak mau kemana?" tanya Shica.
"Kakak mau buat teh manis dulu, kamu ngomong aja sama Raihan, ya." kata kak Riska sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
Aku tersenyum geli melihatnya.
Aku-pun duduk berhadapan dengan Shica.
Sunyi..
Shica malah melihat ke sekeliling. Entah apa yang dia cari.
Padahal, jelas yang tampan ini ada dihadapannya.
"Oh, ya. Kamu gak bilang mau kemari." kataku memulai pembicaraan.
Shica memusatkan perhatiannya padaku. Kulihat kedua pipinya merona.
"Aku mau memastikan saja kalau besok kamu akan sekolah." kata Shica sambil mengalihkan pandangannya lagi ke lantai.
Aku tersenyum. "Sudah kubilang.."
"Jangan bahas soal yang itu," potong Shica dengan tatapan memperingatkan.
Aku terkekeh. "Aku pasti sekolah. Karena sekarang ada penyemangat baruku," kataku sambil mengalihkan pandanganku.
"Apa penyemangatmu?" tanya Shica heran.
"Tentu saja, dirimu." jawabku.
Kupastikan sekarang pipinya merona merah. Aku suka pipinya yang otomatis memerah itu.
"Kenapa kamu menunduk kebawah? Apa yang kau cari? Aku ada disini, tataplah aku." kataku.
"Memangnya kenapa? Kau mau aku lihat? Dasar mesum!" gerutu Shica.
Aku tertawa mendengar kekesalannya. "Kamu juga yang membawa boneka kuda dan beruang itu?" tanyaku.
"Itu boneka unicorn dan boneka panda. Dasar kau ini tidak bisa membedakannya," gerutu Shica.
Aku tertawa.
Aku membawa kado kecilku dan memberikannya pada Shica.
"Mungkin tidak sebesar dan tidak sebagus dari Argaa. Tapi, sungguh ini dariku. Aku membuatnya sendiri. Sebenarnya, dibantu temanku, sih." kataku sambil menggaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal.
Aku memberikan kado kecil itu pada Shica. Shica menerimanya.
"Selamat ulang tahun." kataku.
Kulihat Shica tersenyum.
"Terimakasih, Raihan."
By
_Ucu Irna Marhamah_
Sicha sebenar tidak pernah mencintai reynaldi, dengan jelas dia menunjukkan dia masih mencintai pria lain didepan suaminya, hak reynaldi tidak dia berikan tapi saat reynaldi mengambil paksa sicha berkoar sebagai korban, tapi pada satu jadi istri raihan dia senang hati beri hak raihan selalu bermeraan dengan raihan
Sicha tidak layan untuk reynaldi seharusnya reynaldi bisa dapat wanita yang lebih menghargainya