Satu... dua... tiga..."
Gua merem, terus ngebuka mata lagi. Angka yang ada di layar hologram tablet lipat di depan gua masih sama. Gak berubah, gak berkurang nolnya, dan tetep bikin mual.
[Harga Eceran Resmi: 120.000.000 KRW (Termasuk Pajak)]
"Seratus dua puluh juta won..." Gua ngegandeng dagu pakai kedua tangan, natap angka itu kayak lagi natap musuh bebuyutan di kehidupan lalu. "Ini mah bukan sekadar mahal, tapi udah gak ngotak buat kantong orang kayak gua."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.konspirasi
"Uhuk! Uhuk!"
Gua langsung tersedak ludah sendiri pas denger omongan Jinho. Rasa pusing di kepala gua mendadak ilang setengah, diganti sama rasa pengen ngakak yang luar biasa.
"Agen rahasia? Narapidana militer?!" Gua maksain diri buat duduk di pinggiran kasur, nyeka keringat di dahi. "Gila ya, imajinasi orang-orang zaman sekarang kreatif banget. Memori masa lalu gua emang pendekar, tapi bukan berarti gua agen boga lakon kayak di film-film!"
"Tapi netizen telanjur kemakan narasi itu, kampret!" Jinho buru-buru muter monitor laptopnya ke arah gua.
### **[BREAKING NEWS] Asosiasi E-Sports Korea Tuntut Investigasi ID 'SwordGod77' Atas Dugaan Penggunaan Teknik Bela Diri Terlarang di Dunia Nyata**
* **[Artikel Resmi]:** Pergerakan *interupsi sempurna* dan manipulasi anatomi virtual yang ditunjukkan oleh 'SwordGod77' saat melawan Valkyrie_Rose dinilai melampaui kurikulum refleks atlet game pada umumnya. Pihak otoritas menduga adanya keterlibatan individu dengan latar belakang pelatihan militer tingkat tinggi atau spesialis taktis yang menggunakan identitas palsu.
* **[Komentar - 45,210 Likes]:** Nah, kan! Gua udah bilang gak ada gamer normal yang bisa mikir buat tabrakin dua pedang *rapier* di tengah kombo secepat itu. Gerakan itu murni insting membunuh yang cuma didapet dari medan perang asli!
* **[Komentar - 31,005 Likes]:** Wah, kalau beneran mantan agen rahasia, gokil banget sih. Dari megang senapan asli sekarang beralih megang pedang virtual demi hadiah seratus dua puluh juta won wkwk.
Gua cuma bisa geleng-geleng kepala ngeliat forum yang makin gak waras itu. Tapi di sisi lain, gua paham kenapa mereka sampai se-panik itu. Di dunia yang damai ini, seni bela diri murni yang tujuannya buat bertahan hidup di medan perang emang udah punah. Begitu gua keluarin sedikit aja teknik dasar *Sword God*, logika mereka langsung error.
"Biarin aja mereka nyari," ucap gua santai sambil jalan ke arah kulkas kecil, nyari sisa air dingin. "Identitas legal gua kan bersih. Gua cuma warga sipil miskin yang numpang tinggal di kosan sempit lu. Polisi juga bakal gabut kalau meriksa latar belakang gua."
"Iya sih, tapi efek sampingnya..." Jinho nelan ludah, mukanya keliatan makin tegang. "...babak 8 besar besok malam bakal jadi neraka yang sesungguhnya buat lu."
Gua neguk air dingin langsung dari botolnya. "Kenapa? Siapa lagi sekarang?"
Jinho ngetik sesuatu di keyboard, lalu nampilin profil lawan gua berikutnya di bagan turnamen. Begitu gua liat gambarnya, gua langsung nahan botol air gua di udara.
Di layar, terpampang foto karakter dengan zirah serba hitam pekat yang dikelilingi aura kabut kegelapan. Senjatanya bukan pedang, bukan juga tameng, melainkan sebilah sabit besar (*scythe*) yang matanya memancarkan warna merah darah.
**[ID: Ghost_Reaper (Lv. 65 - Necromancer/Death Knight)]**
"Dia adalah juara bertahan LFG musim lalu," ucap Jinho, suaranya mengecil. "Nama aslinya Choi Do-hyun. Berbeda sama semua lawan yang udah lu hadapi, dia punya kelas tersembunyi (*Hidden Class*). Dia gak cuma bertarung pakai senjata, Ji. Dia bisa ngebangkitin mayat monster atau pemain yang udah mati di area pertandingan buat jadi budaknya."
Jinho natap gua dengan pandangan yang sangat serius. "Dan tebak apa peta (*map*) pertandingan buat babak 8 besar besok?"
Gua diem, nunggu Jinho ngelanjutin.
"**'Lembah Tulang Tua'**. Itu adalah *map* kuburan masal yang dipenuhin ribuan bangkai monster purba. Singkatnya... itu adalah kandang utamanya *Ghost_Reaper*. Di sana, jumlah pasukannya gak bakal ada habisnya."
Gua naruh botol air ke atas meja. Pandangan gua beralih ke telapak tangan gua sendiri yang masih agak gemeteran karena capek.
Ngebangkitin mayat? Menguasai ribuan pasukan tulang di sebuah lembah?
Mendadak, memori kehidupan lalu gua kembali berputar. Gua teringat pertarungan terakhir gua di puncak Gunung Tengkorak, di mana gua harus berhadapan sama Raja Penyihir Hitam dan jutaan pasukan mayat hidupnya sebelum gua akhirnya mati karena kehabisan tenaga. Pertarungan yang bikin gua bereinkarnasi ke dunia modern ini.
Rasa trauma yang tipis sempat lewat di dada gua, tapi sedetik kemudian, rasa itu langsung digilas habis sama gairah bertarung yang membara jauh lebih hebat dari sebelum-sebelumnya.
Gua ngepalin tangan gua keras-keras sampai buku jari gua memutih.
"Ngebangkitin pasukan di dalam lembah, ya?" Gua ngeluarin seringai lebar yang keliatan sangat haus darah—senyuman asli dari sang *Sword God Wanderer* pas nemu takdir lamanya yang kembali memanggil.
Gua nengok ke Jinho, mata gua berkilat tajam di balik remang-remang lampu kamar.
"Jinho, besok malam... lu gak perlu beliin gua senjata apa-apa lagi."
"Hah? Terus lu mau tarung pake tangan kosong?!" Jinho melongo.
"Kagak," sahut gua dingin sambil jalan ke arah kasur. "Besok malam, gua bakal tunjukin ke juara bertahan itu... gimana cara sebilah pedang biasa memotong rantai kematian."