Mahesa seorang OB culun dan miskin mendapatkan kitab sakti dan merubah hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Pahlawan Berkedok OB
Di ujung area parkir basement B2 yang remang-remang, Mahesa sedang mendorong tong pel berodanya dengan gerakan yang lambat dan teratur. Tudung jaket longgarnya ditarik jauh ke depan, hampir menutupi seluruh bingkai kacamata kosong yang bertengger di hidungnya. Ia sengaja mengambil sif lembur di lantai bawah tanah malam ini karena ingin menikmati ketenangan pasca-ketegangan dengan Alena siang tadi. Namun, indra pendengaran super yang dimilikinya dari Kitab Inti Jagat mendadak menangkap frekuensi suara jeritan melengking yang sangat ia kenali dari balik pilar beton nomor 45.
"Lepasin gua... hiks... Papa... tolong Alena, Pa..." suara parau yang ketakutan itu menggema samar, memotong keheningan basement.
Mahesa langsung menghentikan gerakan mengepelnya. Sepasang mata tajamnya yang setajam elang berkilat di balik bayangan tudung jaket. Melalui celah di antara dua mobil SUV yang terparkir, ia melihat pemandangan horor di sudut lorong, Pak Joko si sopir sudah terkapar bersimbah darah, sementara Alena, sang nona besar yang sombong siang tadi, kini sedang dicengkeram erat oleh tiga pria bertopeng kain rajut, bersiap dibekap dengan sapu tangan putih.
"Sial, itu kan anak pemilik gedung yang tadi siang marah-marah," gumam Mahesa lirih dengan suara berat aslinya, dahi tegapnya berkerut melihat situasi yang teramat sangat berbahaya itu.
Secara sadar, Mahesa tahu bahwa jika ia maju sebagai seorang office boy biasa, ia tidak akan memiliki kekuatan hukum yang cukup untuk berhadapan dengan senjata api. Namun secara emosional, batin luhurnya menolak keras untuk membiarkan seorang wanita—seberapa pun menyebalkannya dia siang tadi—disiksa dan diculik di depan matanya sendiri. Aliran hawa murni di bawah pusarnya mendadak bergolak panas, menyalurkan energi dahsyat ke seluruh sendi-sendi otot tubuhnya.
"Oke, Sa. Gunakan ilmu meringankan tubuh. Tumbangkan mereka cepat, tapi jangan sampai ada yang lihat wajahmu," bisik Mahesa menasihati dirinya sendiri dengan nalar yang sangat logis.
Ia meletakkan gagang pelnya dengan sangat senyap, mengambil ancang-ancang bersila rendah, lalu menghentakkan kaki kets usangnya ke lantai semen.
Wusss!
Dalam hitungan milidetik, Mahesa menjelma menjadi seberkas bayangan abu-abu yang bergerak secepat angin, melesat membelah jarak tiga puluh meter dalam sekejap mata. Kecepatannya yang di luar nalar manusia membuat gesekan angin di sekitar pilar beton berbunyi mendesing pekat.
Tepat saat sapu tangan berisi kloroform itu tinggal berjarak beberapa sentimeter dari bibir Alena yang menangis, si pemimpin penyerang merasakan sebuah hantaman angin yang luar biasa padat menghantam pergelangan tangan kanannya.
Krek!
"Aghhh! Tangan gua!" jerit si pemimpin penyerang histeris saat tulang pergelangan tangannya bergeser akibat kibasan tangan tak kasatmata Mahesa. Sapu tangan putih itu terlempar ke udara sebelum sempat menyentuh Alena.
Sebelum penyerang kedua yang memegangi lengan kanan Alena sempat menyadari apa yang terjadi, sebuah tendangan melingkar yang super cepat dan bertenaga raksasa mendarat telak di tulang rusuknya.
Bugh!
Tubuh pria kekar itu melayang setinggi dua meter di udara, menabrak pilar beton nomor 45 dengan suara debuman yang sangat keras sebelum akhirnya jatuh terkapar tak sadarkan diri dengan mulut berdarah.
"Heh! Siapa lu?! Keluar lu, bajingan!" teriak penyerang ketiga panik, melepaskan cengkeramannya dari lengan Alena lalu mencabut revolver dari pinggangnya, menembak membabi buta ke arah bayangan abu-abu yang bergerak melingkar di sekeliling mereka. Bang! Bang!
Suara tembakan itu menggema memekakkan telinga di dalam basement, namun peluru-peluru itu hanya mengenai dinding semen kosong. Di mata para penjahat dan Alena yang sedang syok, penolong itu sama sekali tidak berwujud manusia, mereka hanya melihat embusan angin kencang yang membawa bayangan kabur bertudung jaket tanpa bisa memperlihatkan wajah sama sekali.
Mahesa melesat di balik punggung penyerang ketiga, membetulkan letak tudungnya dengan satu tangan, lalu melepaskan satu pukulan lurus ke arah tengkuk pria tersebut.
Plak!
Pukulan itu murni diarahkan menggunakan bagian belakang telapak tangannya untuk menghindari kematian, namun energi murni di dalamnya cukup untuk membuat saraf kesadaran pria bertopeng itu padam seketika. Pria itu ambruk ke lantai semen seperti karung beras yang dijatuhkan.
Si pemimpin penyerang yang memegangi tangannya yang patah, mencoba merogoh pisau komando di sepatunya dengan tangan kiri yang tersisa. "Gua bunuh lu, Setan!" raungnya dengan penuh amarah dan kengerian teramat sangat mengenaskan.
Mahesa tidak memberikan kesempatan. Ia muncul tepat di depan pria itu dalam posisi membelakangi cahaya lampu neon, memastikan wajah tampannya tetap tersembunyi sepenuhnya di dalam kegelapan tudung jaket. Dengan satu sapuan kaki yang presisi, ia menjatuhkan keseimbangan si pemimpin, lalu menekan titik syaraf di dada pria itu hingga ia langsung pingsan tak berkutik di samping van hitamnya.
Seluruh aksi pertempuran luar biasa itu berlangsung sangat cepat, rapi, dan profesional—hanya memakan waktu total empat detik saja. Keempat pembunuh bayaran terlatih kiriman rival bisnis itu kini telah tumbang total tanpa sempat melihat satu pun guratan wajah sang pahlawan.
Alena yang kini terduduk lemas di lantai semen dengan punggung menyandar ke pilar beton, menangis terisak-isak dengan tubuh yang bergetar hebat. Matanya yang sembab menatap ke depan dengan pandangan kosong yang dipenuhi rasa syok yang mendalam. Di depannya, dalam keremangan cahaya basement, ia hanya bisa melihat siluet tubuh seorang pria yang sangat tinggi, tegap, dan berwajah misterius di balik tudung jaket longgar yang membelakangi lampu.
"Lu... lu siapa? Tolong... tolong jangan sakiti gua... hiks..." ratap Alena dengan nada suara yang sangat manja, lirih, dan kehilangan seluruh keangkuhannya, memohon keselamatan dari sosok bayangan di depannya.
Mahesa tetap diam seribu bahasa. Ia tidak ingin getaran suara berat aslinya membuat Alena menaruh kecurigaan di kemudian hari. Dari balik kegelapan tudung jaketnya, sepasang mata tajam Mahesa melirik sekilas ke arah Alena untuk memastikan wanita itu tidak terluka secara fisik, lalu pandangannya beralih ke arah Pak Joko yang mulai melenguh pelan di lantai, menandakan sang sopir akan segera siuman.
Mendengar suara langkah kaki beberapa petugas satpam yang berlarian dari arah pos jaga lobi utama karena mendengar suara tembakan tadi, Mahesa tahu bahwa tugasnya di sini telah selesai dengan sempurna.
"Ada suara tembakan dari arah B2! Cepat cek ke sana!" terdengar teriakan sayup-sayup petugas keamanan dari kejauhan lorong.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Mahesa membalikkan tubuh tegapnya. Dengan satu hentakan kaki yang ringan tanpa suara, ia kembali mengaktifkan ilmu meringankan tubuhnya, melesat pergi meninggalkan sudut parkiran itu bagai kepulan asap yang ditiup angin kencang, menghilang di balik kegelapan deretan mobil yang terparkir sebelum para satpam tiba di lokasi kejadian.
Ketika tiga petugas satpam bersenjata lengkap akhirnya sampai di pilar nomor 45, mereka hanya menemukan Alena yang sedang menangis histeris di samping empat penjahat bertopeng yang sudah terkapar pingsan tak berdaya dengan kondisi senjata yang berserakan.
"Nona Alena! Astaga, Nona tidak apa-apa?! Apa yang terjadi di sini?!" pekik kepala regu satpam panik, langsung berlutut untuk membantu Alena berdiri.
Alena memegangi kepala satpam itu dengan cengkeraman tangan yang gemetar hebat, matanya menatap liar ke arah koridor kosong tempat bayangan bertudung tadi lenyap. "Tadi... tadi ada bayangan... hiks... dia cepat banget kayak hantu... dia yang hajar semua penjahat ini dalam sedetik... tolong cari dia... hiks... dia yang selamatin gua..." rancau Alena dengan emosional yang meledak-ledak di sela tangisnya, masih sangat terguncang oleh misteri sosok pahlawan berkedok jaket longgar yang baru saja merenggut paksa dirinya dari ambang kematian berdarah.
Sementara itu, di sudut bilik toilet karyawan lantai bawah tanah yang sepi, Mahesa sedang berdiri di depan wastafel, membasuh kedua telapak tangannya dengan air dingin yang mengalir. Ia merapikan kembali rambut acak-acakannya, membetulkan letak bingkai kacamata kosongnya hingga melorot, dan sengaja membungkukkan kembali punggung tegapnya agar terlihat lesu seperti sedia kala. Sembari menatap pantulan dirinya di cermin usang, Mahesa mengembuskan napas panjang dengan kelegaan jiwa yang mutlak, penyamarannya tetap aman, nyawa orang telah tertolong, dan rahasia besar tentang kekuatan Kitab Inti Jagat di dalam dirinya tetap terkunci rapat di bawah bayangan kelam Gedung Graha Subroto malam ini.