Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mencintaimu.
"Aku sudah bertanya padanya, dan dia tidak bisa menjawab. Bukankah itu sudah cukup bukti kalau Aldin memang hanya mencintaimu?" tukas Rere datar.
"Begitukah? Tapi aku rasa perasaan itu sekarang sudah berubah," ucap Zoya menarik salah satu sudut bibirnya.
"Maksudmu?"
"Aku saja bisa melihatnya kalau sekarang Aldin mencintaimu," kata Zoya lagi.
Rere mengerutkan dahinya tidak percaya, Aldin mencintainya? Tidak mungkin sekali rasanya.
"Kau mungkin tidak percaya, aku sangat mengenal Aldin. Dan tahukah kau, selama aku mengenalnya, tidak ada satupun wanita yang berhasil mendekatinya. Aldin hanya bisa dekat dengan wanita yang dicintainya, dan itu kau." Zoya sangat mengenal Aldin, pria dingin yang tidak tersentuh tapi memiliki hati yang lembut. Kini melihat Aldin begitu dekat dengan Rere, Zoya sangat merasakan perubahan itu.
Rere masih diam tidak percaya, apakah semua itu benar?
"Ibu, aku pulang Ibu."
Obrolan mereka terputus tatkala Rayden terlihat pulang dari sekolahnya. Bocah kelas satu SD ini begitu semangat pulang karena dijemput Ayahnya Dewa.
"Wah, pintar sekali anak Ibu." Zoya langsung bangkit untuk menyambut putra dan suaminya.
Dewa mengangkat alisnya saat melihat sosok Rere, ia menatap Zoya seolah bertanya kenapa wanita itu ada disini?
"Dia istrinya Aldin, tadi mereka dateng," ujar Zoya menjawab rasa penasaran Dewa.
"Istrinya Papi? Berarti dia Mami aku?" celetuk Rayden menatap Rere dengan mata hitamnya yang berbinar cerah.
Rere tersenyum kikuk saat mendengar sebutan itu. Mami?
"Iya 'kan Ibu? Kalau Tante ini adalah Istri Papi, dia Mami aku," kata Rayden dengan begitu polos.
"Iya, dia Maminya Rayden." Bukan Zoya ataupun Rere yang menjawab, melainkan Aldin yang terlihat datang bersama bayi mungil dalam gendongannya.
"Kau! Siapa yang menyuruhmu menyentuh putriku?" Dewa langsung menajamkan tatapannya begitu melihat putri kesayangannya digendong Aldin.
"Adik bayi, adik bayi, aku mau lihat Papi." Rayden melompat-lompat kegirangan saat melihat adiknya digendong Aldin.
"Nanti dulu ya, adik bayi lagi rewel, biar digendong Ibu dulu," kata Aldin menjelaskan dengan nada lembutnya. "Aku hanya menggendongnya Dewa, tidak ingin menculiknya," tukas Aldin melirik Dewa malas, sifat posesif pria itu sama sekali tidak hilang.
"Kau ini suka sekali mengurus anak orang, kau juga akan punya sendiri," cetus Dewa masih kesal.
Wajah Aldin sontak berubah murung saat mendengar ucapan Dewa. Pria itu memang tidak ia beritahu kalau ia sudah kehilangan anaknya.
Rere melihat perubahan dari wajah Aldin itu, perasannya mendadak tidak enak karena pria itu terlihat sangat sedih sekali, apakah benar Aldin menyayangi anak mereka yang telah tiada?
"Ehm Zoya, sepertinya Rayna haus,"kata Aldin mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
"Oh iya, ini sudah waktunya dia minum susu," kata Zoya.
"Biar aku saja yang menggendongnya, kau istirahat saja." Dewa tiba-tiba menyela dan langsung mengambil alih Rayna dalam gendongan Aldin.
"Aku juga minta di gendong," celetuk Rayden memasang wajah cemberutnya.
"Kamu sama Papi aja, udah kenalan sama Mami belum? Ayo kita kenalan dulu." Aldin sendiri langsung menggendong Rayden agar anak kecil itu tidak merasa iri dengan Adiknya. "Namanya Mami Rere," kata Aldin mengajak Rayden menghampiri Rere yang hanya diam mematung.
"Hai Mami Rere, namaku Dewangga Rayden Alexander, Mami bisa memanggilku Rayden." Rayden langsung memperkenalkan dirinya dengan nama lengkap seperti biasa.
"Halo, namannya bagus sekali," ucap Rere tersenyum manis, ia gemas sekali melihat Rayden yang sangat tampan, padahal umurnya baru 8 tahun, tapi pria itu sudah menunjukkan pesonanya sendiri.
"Mami terimakasih sudah sudah mau menjadi istri Papi, dia Papi yang terbaik yang pernah aku kenal. Aku harap, Mami juga akan menyayanginya seperti aku menyayanginya," ujar Rayden dengan begitu polosnya, ia memang sangat menyayangi Aldin karena pria itu adalah sosok yang pertama kali ia kenal sebagai seorang Ayah.
Rere hanya meringis, ia melirik Aldin, ia baru sadar jika pria itu sejak tadi terus menatap dirinya.
"Rayden nggak sayang sama Ayah?" ujar Dewa lagi-lagi cemburu melihat putranya begitu menyayangi Aldin.
"Sayang, aku sayang semuanya. Ayah yang paling terbaik," sahut Rayden beralih mendekati Ayahnya lalu memeluk kakinya merayu.
"Kau lihat? Dia pintar sekali jika seperti ini, ajaranmu 'kan?" ucap Dewa mengerlingkan matanya menggoda pada Zoya.
"Mana ada, bukankah dia persis sepertimu?" bantah Zoya.
"Mirip kita berdua pastinya," kata Dewa menaikturunkan alisnya menggoda.
"Sudah jangan menggodaku, kau tidak malu disini ada orang," bisik Zoya memperingatkan. "Oh ya, Aldin, Rere, sebentar lagi jam makan siang, kalian makan disini sekalian ya?" ucap Zoya menawarkan.
"Untuk apa kau memberi mereka makan siang? Uang Aldin banyak, biarkan dia mengajak istrinya makan diluar, enak sekali dia tidak keluar uang makan disini," seloroh Dewa dengan wajah pura-pura kesalnya, tapi ia hanya menggoda saja.
"Dasar, kau mulai perhitungan ya? Baiklah, aku akan mengajak istriku makan di restoran mewah, jangan iri nanti kau," sahut Aldin mendesis jengkel.
"Lakukan saja, aku nanti juga akan melakukan hal yang sama," kata Dewa tidak mau kalah.
Tingkah mereka berdua itu sontak saja memaksa senyum dibibir Rere dan Zoya tersenyum manis. Satu hal yang Rere nilai dari tingkah mereka, sebenarnya mereka ini sudah berbaikan, hanya saja masih merasa gengsi.
Setelah berpamitan, Aldin dan Rere segera berjalan keluar. Mereka hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang. Rere bingung harus memulai pembicaraan darimana, sesekali ia melirik Aldin yang hanya fokus menyetir.
"Jadi, mau makan siang romantis dimana?" Aldin tiba-tiba bertanya hal yang sangat nyeleneh.
"Makan siang romantis?" Rere tersenyum tipis, makan siang romantis cukup terdengar menggelikan, bukankah biasanya makan malam romantis?
"Aku tidak mau kalah dengan Dewa," kata Aldin lagi.
"Mereka sepertinya sangat bahagia," kata Rere ikut merasakan bagaimana kehidupan rumah tangga Zoya yang begitu bahagia. Dengan suami yang tampan dan anak-anak yang manis, benar-benar hidup yang sempurna.
"Kita juga akan seperti itu nantinya," ujar Aldin melirik Rere dengan tatapan sendunya.
"Al, sepetinya kita harus-"
"Aku mencintaimu."
Happy Reading.
TBC.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣