Nayla Arthama seorang yang lugu, lemah, dan terlalu baik. Menjalani kehidupan yang begitu tragis, dikhianati oleh suami dan sahabatnya. Kedua orang tua, harta, bahkan nyawa yang satu-satunya ia miliki direnggut secara paksa.
Ia terbangun, dan kembali pada 3 tahun yang lalu sebelum menikah dengan suaminya. Kesempatan itu ia gunakan untuk merubah keadaan dan melakukan balas dendam.
Akankah Nayla berhasil merubah keadaan? Dan bagaimanakah cara dia membalas dendamnya?
***
Baca juga cerita My Son Is My Strength' yang sudah tamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naaila Qaireen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekhawatiran Abimayu
Nayla mengerutkan keningnya, kepalanya terasa pusing. Perempuan itu menggeleng kepalanya beberapa kali, seingatnya ia tidak minum yang berbau alkohol. Dan minuman terakhir yang ia teguk hanya juice jeruk saja.
Sepasang manusia menyeringai bagaikan iblis. Barra dan Maya memerintahkan seorang pelayan membawa keluar Nayla dari aula pesta. Kini keduanya benar-benar tidak bisa dihentikan.
Maya yang memang ingin menggunakan cara halus pada Nayla menjadi berubah pikiran, ia tidak puas dengan apa yang dilakukan oleh Abimayu. Menurutnya laki-laki itu memang tidak berguna. Susah sekali mengambil hati Nayla, dan terlihat malah dia yang tertarik dengan perempuan itu. Itu tidak bisa dibiarkan, ia pun menyusun rencana ini bersama Barra.
Nayla tidak menolak atas tawaran bantuan dari seorang pelayan perempuan, saat ini ia benar-benar pusing dan butuh seseorang yang menuntunnya. Perempuan itu tidak tahu saja kalau pelayan yang membantunya akan membawanya pada jebakan Maya.
“Aku akan memastikan kita tidak akan meninggalkan jejak.” Mereka berdua sudah merencanakan ini dengan matang.
“Tentu saja harus,” kata Maya mengepalkan tangannya. Rasa iri dan kebencian membuat aura kegelapan di sekitarnya, ia tidak lagi memiliki belas kasih.
Nayla dibawa masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Maya yang akan mengendarai mobil tersebut menuju hotel terdekat. Sedangkan Barra, laki-laki itu sedang menghapus jejak mereka agar tidak ada yang akan bisa mencium rencananya.
*****
“Target sudah meminum minumannya, Nona.”
Ucapan pelayan laki-laki itu membuat pikiran Abimayu langsung tertuju pada Nayla. Mungkin kah dia yang sedang dibicarakan? Perasaan pria itu tiba-tiba tidak enak.
Ketika pelayan itu berbalik, Abimayu dengan cepat bersembunyi pada tempat yang dijangkau nya. Laki-laki itu merogoh ponselnya lalu menekan ikon hijau.
“Aku ingin kau mencari keberadaan istri ku sekarang juga.” Kata Abimayu spontan.
“Istri? Apakah nona Nayla, Tuan.” Jujur saja Alex tidak mengerti dengan permintaan Abimayu, lalu apakah dia baru saja mengakui kalau Nayla adalah istrinya?
“Siapa lagi?!” Bentak Abimayu geram, pria itu menunjukkan taringnya. Sifat asli yang selama ini ia berusaha sembunyikan.
“Hah! Perasaan apa ini? Aku berlebihan sekali, Maya tidak akan mungkin melukai Nayla bukan?” gumam Abimayu.
Ucapan Abimayu sangat bertentangan dengan tindakannya, ia mengarahkan seluruh kekuatannya untuk mencari Nayla. Berulang kali ia mondar-mandir menanyakan keberadaan Nayla begitu pula dengan Alex. Dan keduanya pun memutuskan untuk melihat CCTV hotel. Namun sayangnya ia tidak bisa menemukan apa-apa di sana, seseorang telah lebih dahulu mengambil rekamannya. Ponsel Nayla tidak bisa ia hubungan, dan titik terakhirnya di hotel ini.
Rasa khawatir Abimayu kini tampak jelas, apalagi putaran memori kebersamaan mereka menghantuinya.
Momen ketika mereka terbangun dengan tak sengaja saling mendekap, momen Nayla menyiapkan bajunya, membantunya mengenakan. Apalagi dengan panggilan Nayla yang awalnya tidak ia suka tapi mampu membuat hatinya bergetar.
“Mas Abi.”
“Mas Abi.”
Panggilan itu terngiang-ngiang di telinganya.
Walaupun sama sekali tidak memiliki perasaan pada Nayla, ia yang seorang laki-laki saja tidak akan mungkin melakukan hal yang nekat— apalagi Maya yang seorang perempuan dan pernah bersahabat dengan perempuan itu.
“Semoga saja tidak terjadi apa-apa dan aku bisa cepat menemukannya.” Gumam Abimayu.
“Tuan, ada yang melihat kepergian nona Nayla. Dia dibawa pergi menggunakan mobil.” Kata Alex, membawa kabar yang tidak bisa dikatakan kabar baik. Karena itu artinya Nayla dalam bahaya.
Abimayu dan Alex dengan segera mencari keberadaan mobil itu.
“Bagaimana, hotelnya sudah di pesan bukan?”
“Sudah, Nona. Dan sesuai arahan, dipesan atas namanya.” Beritahu seseorang yang berada di seberang telepon.
“Bagus, sebentar lagi kami akan sampai.” Kata Maya menutup teleponnya.
“Hahaha, ya ... lekaslah sampai. Aku tidak sabar menunggumu.” Kata laki-laki itu penuh maksud. Ia tengah menunggu disalah satu kamar hotel bersiap menerima pekerjaan yang sangat menguntungkan baginya.
Sampai di sana, mobil itu terparkir dengan rapi. Perempuan dengan dres merah serta hak tinggi senada turun dengan sorot mata tajam membuat sekitarnya merasakan aura kuat serta tak tersentuh.
“Bawa dia.” Kata perempuan itu pada salah satu laki-laki berbadan kekar yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka.
Laki-laki berbadan kekar itu membaringkan tubuh Maya di sebuah kamar hotel yang perempuan itu pesan sendiri atas nama Nayla.
Ya, itu Maya. Rencana perempuan itu berbalik pada dirinya. Semua rencana jahat yang ia susun dengan rapi kini ia nikmati sendiri.
Jangan pikir Nayla bisa terjebak lagi oleh jebakannya, kalau itu terjadi apa gunanya orang yang selama ini Nayla bayar untuk mematai perempuan itu juga Barra.
Rencana yang mereka kira tersusun rapi ternyata memiliki banyak celah yang mereka sendiri tidak ketahui. Buktikan Elis sang pengawal dengan mudah mengganti posisi dengan pelayan yang berpura-pura menolong Nayla ketika saat ia dinaikkan ke atas mobil.
Nayla sendiri tidak benar-benar pusing, apalagi mabuk. Ia sudah menukar gelasnya minumannya dengan yang lain tanpa orang lain tahu.
Lantas Elis membalikkan keadaan, ia mengambil kesempatan ketika Maya lengah saat bertelepon tadi. Jarum suntik dengan obat yang sama dalam minuman Nayla ia tancapkan pada leher Maya. Nayla yang memang sadar dengan cepat mengambil alih kemudi.
“Tuan, mobilnya mengarah pada hotel Y.” Alex sudah mendapatkan lokasi pemberhentian terakhir mobil yang membawa Nayla. Namun sialnya mereka dihadang oleh kemacetan kota.
“Aku tidak mau tahu, kita harus sampai di sana dengan cepat.” Suara Abimayu terdengar berat, perasaannya semakin gelisah memikirkan Nayla. “Cepat cari jalan pintas Alex! Maya pasti akan melakukan sesuatu.”
“Kalau itu terjadi memangnya kenapa? Anda akan melakukan sesuatu?” tanya Alex di bawah tekanan Abimayu. Laki-laki itu sampai tidak memikirkan pertanyaan yang kini membuat Abimayu terdiam.
Nayla memandang wajah Maya yang mulai menampakkan reaksi obatnya, perempuan itu bergerak seperti cacing kepanasan.
“Kau yang menuntut ku menjadi seperti ini, maka jangan salahkan aku jika melakukan hal yang sama.” Pandangan Nayla kosong, ia mengingat semua kejahatan yang dilakukan Maya selama ini. Dan apa yang dilakukan oleh Maya hari ini sungguh keterlaluan, sampai rasa maaf dan simpati yang dimilikinya hilang.
“Nona, tuan Abimayu menuju ke sini.” Elis masuk mengembalikan kesadaran Nayla.
Nayla memandang Maya sekali lagi, lalu ia beralih pada laki-laki yang bertelepon dengan Maya tadi. Laki-laki itu awalnya di sewa oleh Maya, tapi memilih mengkhianatinya karena tawaran lebih beras dari Nayla.
“Lakukan.” Usai mengatakan itu, Nayla dan Elis serta laki-laki berbadan kekar itu keluar.
“Akhh ... akh ....”
Suara-suara itu saling satu menyahut, bahkan orang di luar kamar sampai bisa mendengarnya dengan samar.
Barra yang baru tiba tersenyum merendahkan. “Cih, dasar murahan. Dia sangat menikmati rupanya.” Kata Barra mencemooh pada suara erotis yang dikira milik Nayla. Ia pun cepat menyingkir dari sana karena melihat kedatangan Abimayu.
“Kamar 201 atas nama nona Nayla sepertinya di sana, Tuan.” Tunjuk Alex membuat Abimayu segera ke sana.
Tanpa diperintahkan Alex langsung menendang pintu itu, dan alangkah terkejutnya ia melihat sang kekasih tengah digagahi oleh laki-laki lain. Tubuh Maya tampak sangat menikmati, dan itu jelas bukan pertama kali ia melakukannya.
“Menjijikkan!” umpat Abimayu, entah bagaimana perasaan laki-laki itu sekarang. Alex menutup pintu itu kembali, sehingga menimbulkan suara bedebam.
Tak lama dari itu, Nayla keluar dengan rambut acak-acak dengan pipi yang merah terlihat seperti sisa tamparan.
“Argh.” Ia jatuh terduduk, dari kamar sampingnya yang tidak jauh dari kamar Maya.
“Nay!” melihat Nayla dalam keadaan seperti itu Abimayu lekas ingin bangun dari kursi rodanya, laki-laki itu memegang sandaran besinya.
“Tuan, kaki Anda.”
Suara Alex mengurungkan niatnya, ia mendorong kursi rodanya dengan cepat menuju Nayla.
“Apa yang terjadi pada mu?” tanya Abimayu terlihat sangat khawatir, ia meraih tubuh Nayla lalu membawanya dalam pelukan. Kursi rodanya hampir saja tidak stabil kalau saja tidak ada Alex yang menahannya.
*****
Bersambung...