NovelToon NovelToon
Diary Zia

Diary Zia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Pengkhianatan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Emma Alhabsyi

Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.

Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.

Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DZ~04

Hari semakin sore, namun, para santri masih sibuk dengan urusan masing-masing sambil menunggu azan Asar.

Di teras asrama, Zizan dan Ares tengah melepas lelah. Sebuah piring berisi gorengan hangat, satu toples kerupuk, dan seteko es teh manis menemani mereka. Keduanya duduk lesu, menyandarkan punggung pada pagar asrama. Dengan wajah mengenaskan setelah terkuras energinya dalam kerja bakti di kompleks tetangga.

Glek! Glek! Glek! "Alhamdulillah, segar sekali!" jerit Ares lirih.

Ia meneguk segelas air es teh dengan rakus demi menuntaskan dahaga yang menyerang tenggorokan sejak tadi. Tanpa berfikir panjang Ares langsung merebahkan tubuhnya di atas lantai. Dinginnya ubin seketika mengalir ke tubuhnya, meredakan rasa lelahnya.

Zizan hanya tersenyum tipis melihat kelakuan sahabatnya. Ia meneguk sedikit air, sekadar membasahi tenggorokan yang kering. Matanya kemudian tertuju pada sepotong gorengan yang sejak tadi begitu menggoda selera.

Namun, baru satu gigitan masuk ke mulut, sebuah kejutan dari arah belakang mendadak meruntuhkan ketenangannya.

"Dor!" Sebuah tepukan keras berhenti di pundak Zizan.

"Astaghfirullahalazim!", dadanya berdegup kencang karena terkejut. "Hih! Mau apa, sih?" ketusnya dengan tatapan tajam.

Dafa tertawa tanpa dosa, lalu mengambil posisi duduk di dekat dua santri yang sedang kelelahan itu. "Kamu dipanggil Abah. Nanti setelah salat Asar, kamu di suruh ke dalem," ujar Dafa, seketika mengubah suasana santai menjadi tegang.

"Hah?! Serius?" tanya Zizan, mendadak ragu.

"Iyalah serius. Buat apa aku bohong? Tadi Abah menelepon. Kebetulan cuma aku yang ada di kamar. Beliau nyari kamu, Zan, dan perintah aku buat sampaiin pesan ini," jelas Dafa meluruskan kesalahpahaman.

"Kira-kira ada apa, ya? Jangan-jangan karena kejadian tadi pagi? Apa Abah diam-diam tahu kalau aku belum ngaji padahal udah waktunya? Atau jangan-jangan, Mas Ares yang laporin ke Abah? Duh, tamatlah riwayatku!" Rentetan kalimat itu berputar di kepala Zizan. Kejadian pagi tadi kembali terbayang, membuat rasa cemas yang berlebihan di benaknya.

"Udahlah, Zan. Santai aja. Bisa jadi Abah cuma mau minta bantuanmu buat keperluan lain. Nggak usah terlalu cemas. Pikiran buruk itu sering banget jadi kenyataan karena kita sendiri yang mengundangnya. Jadi, berpikirlah positif. Tapi, kalau emang Abah tanya soal kejadian tadi pagi... aku nggak mau ikut campur, ya!" Kalimat bijak yang meluncur dari mulut Ares, sayangnya berakhir dengan kepasrahan egois khas dirinya.

"Yee! Itu, kan, juga gara-gara kamu! Awas, ya, kalau aku sampai kena marah sama Abah. Kamu yang akan aku seret!" ancam Zizan gemas sambil mengepalkan tangan ke wajah Ares.

"Sebenarnya kalian ini lagi ngomong apa, sih?" Dafa menatap bergantian dengan dahi berkerut, sama sekali tidak memahami peristiwa menegangkan yang menimpa Zizan pagi tadi.

"Suara Abah... nggak terdengar marah atau mencurigakan, Daf?" tanya Zizan, masih mencari kepastian.

"Enggak kok, rasanya biasa saja."

"Oke, bismillah. Semoga aman dan nggak terjadi apa-apa." Zizan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir kekhawatiran yang ada hatinya.

"Nah, dengerin tu!" sahut Ares yang masih tergeletak di lantai.

"Diam kamu!" Zizan refleks memukul kaki Ares menggunakan pecinya.

***

Jam dinding di dalam ruangan telah menunjukkan pukul empat sore, menandakan ibadah jamaah solat Asar telah usai. Zia yang sudah duduk di ruang tamu pribadi ndalem menatap jarum jam yang berputar dengan debaran jantung yang semakin tak karuan. Panggilan dari Abah selalu berhasil memberikan ketegangan.

Selama beberapa menit, Zia hanya terdiam dan menunduk dalam keheningan. Langkah kaki Abah terdengar berjalan di hadapannya. Alih-alih langsung menjelaskan maksud pemanggilan tersebut, Abah justru bergumam kalimat yang meninggalkan tanda tanya besar di kepala Zia.

"Oh, belum datang?" ucap Abah lirih, lalu melanjutkan langkahnya.

Zia terdiam tanpa kata apapaun, namun isi kepalanya seramai pasar malam. "Belum datang? Maksud Abah bagaimana? Bukankah aku yang berwujud manusia ini udah ada di sini? Apa ada orang lain yang dipanggil? Jangan-jangan Mas Charis juga dipanggil? Mungkin... mungkin ingin membahas perjodohan kita?! Haduh, aku belum persiapan lahir batin, belum menyiapkan jawaban-jawaban estetis kalau nanti ditanyakan perihal itu! Atau mungkin justru orang lain? Tapi kenapa harus melibatkan aku?" untaian pertanyaan berputar tanpa henti di kepala Zia, membuatnya berada pada titik pasrah yang bercampur rasa cemas.

Lamunannya buyar seketika saat langkah kaki terdengar dari ruangan sebelah. Zia melihat sesosok pemuda sedingin es melangkah masuk. Ia menatap pemuda itu sejenak dengan alis yang bertaut heran.

Zizan yang telanjur canggung karena melihat keberadaan Zia di ruang tamu, akhirnya memilih untuk menahan diri dan berdiam di ruangan sebelah. "Masih ada waktu, semoga Abah lama berdiskusi dengan Zia. Supaya aku bisa mengatur napas dulu di sini sambil mempersiapkan mental jikalau harus disidang," batin Zizan mencoba menenangkan diri, meski lututnya mulai terasa seperti sedikit linu.

Zia sendiri sama sekali tidak menduga mengapa Zizan bisa berada di tempat yang sama pada waktu yang sama, hingga akhirnya Abah kembali melintas dan mengambil posisi duduk di kursi tengah ruang tamu dengan penuh wibawa.

Ketegangan di dada Zia semakin memuncak, berubah menjadi sebuah misteri besar yang polanya tidak bisa dibaca oleh logika.

"Zan, kenapa malah menunggu di sana? Kemari!" panggil Abah.

Tanpa ragu meski agak gemetar, Zizan melangkah mendekat. Ia mengambil posisi duduk yang hampir sejajar dengan Zia. Menyadari hal itu, Zia segera menggeser tubuhnya agak jauh ke sebelah kanan, menciptakan jarak pembatas di antara mereka.

Kini, keduanya telah duduk bersila di hadapan Abah.

Zizan semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Abah. Ketakutannya dengan hukuman atas kejadian tadi pagi seketika hilang, digantikan oleh teka-teki baru, "Kenapa ada Zia di sini? Apa kita bakal menerima perintah yang sama atau berbeda? Atau jangan-jangan... Ah, nggak mungkin! Kita kan nggak pernah berinteraksi sebelumnya," Zizan buru-buru menepis pikiran liarnya jauh-jauh.

Sementara Zia, jantungnya semakin tidak karuan dan pikirannya sudah berkelana entah ke mana. "Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Zizan? Dan kenapa hanya kita berdua?"

Keduanya kini terperangkap dalam kebingungan yang sama, menunggu kalimat yang akan keluar dari lisan Abah tanpa ada petunjuk sedikit pun yang bisa mereka tebak.

Abah berdehem pelan kemudian perlahan merogoh saku jubahnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna putih tanpa tulisan apa pun di permukaannya, lalu meletakkannya tepat di atas meja kayu di hadapan kedua santri tersebut.

Mata Abah menatap bergantian ke arah Zizan dan Zia dengan senyuman misterius yang sulit diartikan, sebuah senyum yang tampak menenangkan bagi mereka yang sedang dilanda rasa khawatir.

"Zizan, Zia," panggil Abah dengan nada suara yang sangat tenang, yang membuat dada kedua anak muda itu terasa mau meledak. "Abah sengaja mengumpulkan kalian berdua di sini karena ada satu amanah besar yang Abah rasa hanya kalian yang mampu menanganinya.

Abah kembali menatap mereka yang sudah sangat tegang, lalu meletakkan amplop tersebut di hadapannya.

"Amanah ini berat, taruhannya adalah nama baik pondok pesantren kita, dan Abah melihat potensi besar itu ada pada kalian berdua, Zia dengan ketelitiannya, dan Zizan dengan ketangkasannya yang di luar prediksi. Abah harap kalian tidak mengecewakan Abah, jadi malam ini juga, pelajari baik-baik lembaran rahasia di dalam amplop ini, persiapkan mental kalian.

Zizan dan Zia sontak menegakkan punggung dengan gerakan refleks yang kompak, mereka terkejut. Suasana semakin tegang saat Abah meletakkan amplop itu tepat dihadapan mereka.

Pandangan teduh dan penuh penekanan dari sang kiai, ditambah suasana ruang tamu ndalem yang mendadak terasa begitu khidmat, membuat dada kedua santri itu berdebar kencang diliputi rasa takzim sekaligus penasaran yang luar biasa.

Abah kembali menyandarkan punggungnya sambil memberikan senyum penuh teka-teki, membiarkan mereka berfikir dan bertanya apa yang sebenarnya ada dalam amplop tersebut.

1
ken darsihk
Aq mampir
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca
Emma Alhabsyi
ih boleh banget kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!