Bagi sepasang suami istri, setelah mereka bercerai semua masalah akan berakhir. Terlebih lagi saat mereka sudah memiliki keluarga masing-masing. Namun, bagaimana perasaan anak yang lahir dari cinta mereka?
Itulah yang dirasakan Alika saat ini, ia tinggal bersama dengan neneknya sedangkan ayah dan ibunya sudah memiliki keluarga masing-masing.
Merasa diabaikan oleh mereka, membuat Alika terus aja merasa sakit hati. Namun, sebisa mungkin ditahannya dan berusaha untuk tak membenci kedua orang.
Sejak kecil mereka selalu dibanding-bandingkan, Dena yang hanya anak tiri lebih disayang daripada Alika sendiri sebagai anak kandung ibunya. Membuat ia membenci Dena hingga mereka dewasa.
Apa yang diinginkan Dena akan dia rebut. Dena sudah mengambil ibunya darinya.
Melihat Dena yang dekat dengan seorang pria tampan, membuat Alika bertekad untuk merebut pria itu dari saudara tirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon m anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Alika
Sepanjang perjalanan pulang, Alika terus melihat ke arah luar. Ia berusaha untuk menahan isak tangisnya, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Kenzie.
"Kenzie, apa kamu mendengar apa yang tadi ibumu katakan?" tanya nenek membuat Kenzie melirik ke arah nenek sebentar, kemudian kembali menoleh ke arah jalan raya. Namun, Alika langsung melihat ke arah neneknya.
"Iya, Nek. Aku dengar, aku akan melakukan apa saja yang ibu katakan, termasuk jika memang Ibu ingin aku menikahi Alika. Tapi, tentu saja jika Alika mau menikah denganku dan juga nenek mau menerimaku, merestui ku menjadi cucu menantu Nenek," ucap Kenzie. Alika melihat Kenzie dan senyum terbit di bibir nenek. Sedangkan, Alika juga menarik garis senyumnya.
"Tentu saja Nenek setuju, Nenek yakin kamu akan membahagiakan Alika dan aku yakin Alika juga pasti Setuju," ucap nenek melihat ke arah Alika, begitupun dengan Kenzie kembali melirik sebentar kepada Alika kemudian kembali mengemudi. "Iya, Kan, Alika?" lanjut nenek.
Alika tak mengatakan apa-apa, ia tetap menatap lurus ke depan.
"Bagaimana Alika, apa kamu mau menikah denganku?" tanya Kenzie, walau mereka baru beberapa kali bertemu. Namun, Kenzie juga yakin jika Alika adalah wanita yang baik dan pantas untuk menjadi istrinya.
Alika menghela nafas, "Lalu bagaimana dengan Dena? Bagaimana dengan Ibu? Mereka pasti tak akan membiarkan itu terjadi, Ibu pasti akan marah dan membela Dena dalam hal ini," ucap Alika masih menatap urus ke depan. Bayangan wajah Ibunya yang marah padanya masih terbayang di ingatannya, belum lagi saat ibu menarik Dena menjauhi mereka dan berjalan sambil mengelus punggungnya, padahal dalam hal ini dialah yang menjadi korban. Dena telah menarik rambutnya dengan begitu kuat sampai kepalanya terasa sakit, seharusnya kepalanya lah yang diusap oleh ibunya bukannya malah Dena.
"Kalau masalah Dena dan Ibumu itu urusan kami, kamu hanya mengatakan iya saja. Aku akan segera menikahimu, setelah menikah tak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu lagi termasuk Dena ataupun Ayah dan Ibumu," ucap Kenzie menatap lurus ke depan sambil mencengkeram setir mobilnya. Ia masih mengingat bagaimana cerita nenek tentang kehidupan Alika, ia bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya Alika menghadapi hari-harinya. Itu juga yang membuat Kenzie yakin jika Alika adalah sosok yang baik dan sabar. Selain itu, Kenzie juga akui jika wajah Alika memang cantik, lebih cantik dari Dena dibalik kesederhanaannya. Sejak pertama kali ia bertemu, ia sudah tertarik melihat kecantikan Alika. Namun, waktu itu di hatinya masih ada Dena, berbeda dengan saat ini. Nama Dena di hatinya sudah benar-benar terhapus karena perbuatan Dena sendiri.
Sementara itu di kediaman Dena, ia menghamburkan semua barang-barang yang di kamarnya dan memecahkan cermin meja riasnya. Ia berteriak bagaikan orang kesurupan.
"Pokoknya aku nggak mau, Bu! Kenzie harus tetap menjadi milikku! Aku tak terima dikalahkan oleh Alika, aku lebih berhak menikah dengan Kenzie daripada Alika. Alika itu hanya wanita miskin tak punya apa-apa, dia tak terpelajar, dia itu tak pantas untuk Kenzie," ucapnya meraung-meraung dan melepaskan semua kekesalannya dengan melemparkan barang-barangnya.
"Dena, tenanglah. Jika kamu bersikap seperti ini Ibu pusing harus melakukan apa, Ibu janji akan berusaha menikahkan kalian, Ibu akan bicara dengan Alika. Alika pasti menurut apa yang Ibu katakan, dia tak boleh menerima lamaran Kenzie, kamu tenang saja," ucap Dewi berusaha untuk menenangkan anak tirinya itu yang kesetanan karena takut jika Kenzie benar akan menikahi Alika.
ihhh..masak pemeran utama kek gt...