Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Berubah
Arka membuka mata di apartemennya, jantungnya berdebar cepat. Sinar matahari pagi menembus jendela.
Dia bangun, melihat ke sekitar—semuanya terlihat sama. Sofa yang sama, foto-foto pemandangan yang sama. Tapi sesuatu terasa berbeda—ada perasaan yang sulit dijelaskan, seperti rumah yang baru saja diatur ulang perabotnya, tapi kamu tidak yakin yang berubah apa.
Tangannya bergerak ke ponsel, jantungnya berdebar saat membuka kontak.
Nadia.
Nama itu ada di sana.
Arka membuka chat. Ribuan pesan—percakapan yang membentang bertahun-tahun, jauh lebih banyak dari yang dia ingat. Dia menggulir ke atas, ke pesan-pesan paling lama.
Pesan pertama tertanggal 13 tahun lalu—sebuah pesan dari nomor yang belum tersimpan, isinya sederhana: "Halo Arka, ini Nadia. Aku minjam HP mama buat kirim ini. Besok kita main lagi kan?"
Arka tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca. Dia menggulir lebih jauh, melihat foto-foto—dia dan Nadia, sebagai anak-anak, remaja, lalu dewasa. Begitu banyak momen yang sebelumnya tidak ada—pertemanan masa kecil yang tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Dia membuka galeri foto, mencari foto-foto terbaru.
Dan dia menemukannya—foto Nadia, tersenyum, hidup, di sebuah tempat yang Arka tidak kenal—sebuah taman dengan bunga-bunga, beberapa hari yang lalu menurut tanggalnya.
Nadia masih hidup.
Arka duduk di lantai, menangis—tangis lega yang begitu besar sampai tubuhnya gemetar.
Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama.
Dia membuka kontak lagi, mencari nama lain—nama yang dia khawatirkan sejak tadi.
Damar.
Kontak itu masih tidak ada. Tentu saja—Damar sudah menghilang sejak perubahan pertama, dan perubahan kedua ini tidak akan mengembalikannya, karena kedua perubahan ini berdiri di "rantai" yang berbeda.
Tapi ada satu nama lagi yang membuat Arka membeku.
Dia mencari "Sera" di kontaknya.
Tidak ada.
Arka membuka aplikasi pesan ke forum—forum tempat dia pertama kali menemukan postingan Sera.
Forum itu... masih ada. Tapi ketika dia mencari thread lama, thread dengan judul "Apakah ada yang lain yang mengingat dunia yang berbeda?"—thread itu tidak ada.
Dia mencoba mengingat detail percakapan mereka—kafe Kopi Senja, jaket abu-abu, tujuh belas kali.
Dia bergegas ke kafe itu. Kopi Senja masih ada, dengan dinding bata yang sama, lampu kuning yang sama.
Dia bertanya ke pelayan, menggambarkan Sera—rambut sebahu, jaket abu-abu, sering datang sendirian.
Pelayan itu menggeleng. "Maaf, Mas, saya kerja di sini udah dua tahun. Nggak ada pelanggan kayak gitu yang sering datang."
Arka berdiri di luar kafe, hujan mulai turun lagi—seolah selalu turun setiap kali dia menyadari kehilangan baru.
Dia akhirnya memahami apa yang terjadi.
Dalam dunia yang lama—di mana Damar menghilang—Arka bertemu Sera melalui forum, sebagai dua orang yang sama-sama "tahu" tentang perubahan dunia karena mereka masing-masing membawa ingatan dari dunia yang sebelumnya.
Tapi sekarang, di dunia baru ini—di mana Nadia dan Arka berteman sejak kecil—rangkaian kejadian Arka berbeda sepenuhnya. Mungkin Arka tidak pernah "perlu" mencari forum itu, karena dia tidak pernah kehilangan Damar dalam perubahan ini—tunggu, tidak. Damar tetap hilang. Tapi mungkin... mungkin alasan Arka mencari forum itu di dunia lama berhubungan dengan waktu dan keadaan tertentu—keadaan yang sekarang sudah tidak ada, karena hidupnya bergerak dengan ritme yang berbeda sejak kecil bersama Nadia.
Atau mungkin—dan ini yang membuat Arka merasa dingin—Sera sendiri tidak pernah mengalami "tujuh belas kali" itu di dunia ini. Mungkin di dunia ini, hidup Sera berjalan berbeda sejak awal. Mungkin di dunia ini, Sera tidak pernah punya kekuatan itu sama sekali—mungkin di dunia ini, Sera hidup normal, bahagia, dengan keluarganya, tanpa pernah tahu apa yang "bisa" terjadi padanya.
Arka tidak tahu mana yang benar. Tapi ada satu hal yang dia tahu pasti: Sera—orang yang memberinya peringatan, orang yang membantu dia memahami semua ini—sekarang menghilang dari hidupnya, seperti Damar.
Bedanya, kali ini Arka tidak tahu apakah itu hal buruk atau baik. Jika Sera hidup normal di dunia ini—tanpa kekuatan, tanpa tujuh belas kali kehilangan—mungkin ini adalah hal terbaik yang bisa terjadi padanya, meski itu berarti Sera tidak akan pernah mengingatnya, tidak akan pernah tahu bahwa dia pernah membantu seseorang.
Arka pulang ke apartemennya sore itu, basah kuyup oleh hujan, duduk di sofa sambil menatap ponselnya—menatap nama Nadia di kontak, menatap riwayat foto-foto mereka yang sekarang membentang lebih dari satu dekade.
Dia mengetik pesan.
"Nad, kamu sibuk? Aku pengen ketemu."
Balasan datang cepat, penuh keceriaan yang familiar. "Nggak sibuk! Kebetulan aku mau cerita sesuatu juga. Ketemu di tempat biasa?"
"Tempat biasa"—Arka tidak tahu di mana itu dalam ingatan barunya, tapi dia tahu, tubuhnya, hidupnya yang baru, akan membawanya ke sana secara otomatis, seperti rute yang sudah dihafal selama bertahun-tahun.
Dia berdiri, mengambil jaketnya, dan untuk sesaat, menatap dinding penuh foto pemandangan tanpa wajah manusia.
Salah satu foto itu—foto pantai saat matahari terbenam—sekarang terlihat berbeda baginya. Bukan karena fotonya berubah. Tapi karena, untuk pertama kalinya, Arka ingat: foto itu diambil saat dia dan Nadia jalan-jalan ke pantai, tiga tahun lalu, dalam ingatan dunia yang baru. Nadia ada di sana, hanya beberapa langkah dari kamera, tertawa, sebelum Arka memutuskan untuk memotret pemandangan kosong tanpa dirinya.
Apakah aku selalu seperti ini? Selalu memilih untuk memotret yang kosong, padahal yang penting sedang berdiri di sampingku?
Arka menyimpan pertanyaan itu, dan berjalan keluar—kali ini, dengan niat untuk tidak melewatkan momen yang ada di depannya.