Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.
Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pelukan yang Memberikan Rasa Aman
Pagi itu Rubi terbangun lebih lambat dari biasanya.
Mungkin karena semalam ia baru bisa tidur setelah berbicara cukup lama dengan Alexander.
Anehnya, akhir-akhir ini setiap kali pria itu berada di dekatnya, rasa cemas yang sering muncul perlahan menghilang.
Padahal kalau dipikir-pikir, Alexander adalah orang yang seharusnya paling membuatnya takut.
Seorang mafia.
Pria yang namanya membuat banyak orang berhati-hati.
Namun justru di dekat pria itulah Rubi merasa paling aman.
"Ini aneh sekali."
gumam Rubi sambil duduk di atas ranjang.
Tangannya mengusap pelan perut yang semakin membesar.
Saat ini usia kehamilannya hampir memasuki tujuh bulan.
Gerakan bayinya semakin aktif dari hari ke hari.
Kadang membuatnya tertawa sendiri.
Kadang juga membuatnya meringis karena tendangan kecil yang cukup kuat.
Seperti pagi ini.
Tap.
"Aduh."
Rubi memegang perutnya sambil tersenyum.
"Kamu bangun lebih dulu ya?"
Seolah menjawab perkataannya, bayi itu kembali bergerak.
Membuat Rubi tertawa kecil.
---
Saat turun ke ruang makan, Alexander ternyata sudah selesai sarapan.
Pria itu sedang berdiri di dekat jendela sambil berbicara melalui telepon.
Wajahnya terlihat serius.
Sangat serius.
Begitu menyadari Rubi masuk ke ruangan, tatapannya langsung berpindah.
Ekspresinya sedikit berubah.
Tidak terlalu terlihat bagi orang lain.
Namun cukup jelas bagi Rubi.
Seolah pria itu tanpa sadar selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Setelah menutup telepon, Alexander menghampiri.
"Kau terlambat bangun."
ucapnya.
Rubi duduk di kursinya.
"Aku mengantuk."
Alexander mengangguk.
Kemudian tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi di sebelah Rubi dan duduk.
Biasanya mereka duduk berhadapan.
Sekarang di samping.
Membuat beberapa pelayan saling bertukar pandangan diam-diam.
Karena perubahan hubungan keduanya semakin terlihat jelas.
"Dokter menelepon tadi pagi."
kata Alexander.
Rubi langsung menoleh.
"Kenapa?"
"Pemeriksaan berikutnya dimajukan."
"Dimajukan?"
Alexander mengangguk.
"Besok."
Rubi mengerutkan dahi.
Biasanya pemeriksaan dilakukan minggu depan.
Namun ia memilih tidak terlalu memikirkannya.
"Baiklah."
---
Setelah sarapan selesai, Rubi memutuskan berjalan-jalan di taman belakang.
Cuaca hari itu sangat cerah.
Bunga-bunga bermekaran.
Angin bertiup lembut.
Suasana yang sempurna untuk bersantai.
Namun sejak kejadian bunga misterius beberapa waktu lalu, Rubi tidak pernah benar-benar sendirian.
Selalu ada pengawal yang mengikuti dari kejauhan.
Awalnya ia merasa terganggu.
Tetapi lama-kelamaan mulai terbiasa.
Saat sedang duduk di gazebo, suara langkah kaki terdengar.
Rubi menoleh.
Dan tersenyum.
Alexander.
"Kamu tidak berangkat kerja?"
tanyanya.
"Aku berangkat siang."
jawab pria itu.
Rubi sedikit terkejut.
Karena biasanya Alexander berangkat sejak pagi.
"Ada rapat penting?"
"Tidak."
Lalu pria itu duduk di sebelahnya.
Beberapa detik berlalu.
Hanya suara burung dan hembusan angin yang terdengar.
Sampai akhirnya Rubi berkata,
"Kamu berubah."
Alexander mengangkat alis.
"Berubah?"
"Iya."
"Dalam hal apa?"
Rubi berpikir sejenak.
"Dulu kamu tidak pernah punya waktu seperti ini."
Tatapan Alexander tertuju pada taman di depan mereka.
"Orang bisa berubah."
jawabnya singkat.
Rubi tersenyum kecil.
"Iya."
Namun jauh di dalam hati, ia tahu alasan perubahan itu.
Dan alasan tersebut membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
---
Di sisi lain kota.
Viktor Romanov sedang duduk di ruangannya.
Di atas meja terdapat beberapa foto terbaru keluarga Dimitri.
Termasuk foto Rubi.
Pria itu memperhatikan foto tersebut cukup lama.
Kemudian tersenyum dingin.
"Dia terlihat bahagia."
Salah satu bawahannya berdiri di samping.
"Kita sudah menemukan celah keamanan, Tuan."
Senyum Viktor semakin lebar.
"Bagus."
"Apakah kita bergerak sekarang?"
Pria itu menggeleng.
"Belum."
Ia mengambil foto Rubi.
Lalu memperhatikannya.
"Kita tunggu waktu yang tepat."
---
Sore harinya, Rubi sedang berada di ruang bayi.
Ruangan itu kini hampir selesai sepenuhnya.
Dinding berwarna krem lembut.
Perabotan kayu putih.
Dan berbagai mainan kecil yang memenuhi rak.
Rubi sedang menyusun pakaian bayi ketika pintu terbuka.
Alexander masuk.
"Kau ada di sini."
ucapnya.
Rubi tersenyum.
"Aku sedang memilih baju."
Alexander melihat tumpukan pakaian kecil di atas meja.
Lalu mengangkat salah satu kaos bayi.
Ukurannya bahkan lebih kecil dari telapak tangannya.
"Aku masih tidak percaya manusia bisa sekecil ini."
katanya.
Rubi langsung tertawa.
"Kamu lucu sekali."
Alexander memandang pakaian itu lagi.
Lalu kembali meletakkannya.
"Aku serius."
"Justru itu yang lucu."
Mendengar tawa Rubi, sudut bibir Alexander ikut terangkat.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk membuat suasana terasa hangat.
---
Menjelang malam.
Langit yang sejak sore cerah mulai berubah mendung.
Hujan turun perlahan.
Mengingatkan Rubi pada malam badai di villa.
Malam pertama mereka tidur dalam satu kamar.
Tanpa sadar senyum kecil muncul di wajahnya.
Ia sedang duduk di ruang keluarga ketika bayi dalam kandungannya tiba-tiba bergerak cukup kuat.
Tap!
"Aduh."
Rubi meringis.
Gerakan kedua datang tidak lama kemudian.
Kali ini lebih kuat.
Alexander yang sedang membaca laporan langsung menoleh.
"Ada apa?"
"Biasa."
jawab Rubi.
"Dia sedang aktif."
Namun kali ini gerakan bayi tidak berhenti.
Beberapa kali berturut-turut.
Membuat Rubi mulai merasa tidak nyaman.
Alexander langsung meletakkan dokumen di tangannya.
Kemudian berpindah duduk lebih dekat.
"Boleh?"
tanyanya pelan.
Rubi mengangguk.
Pria itu meletakkan telapak tangannya di atas perut Rubi.
Dan beberapa detik kemudian...
Tap!
Gerakan kecil itu terasa jelas.
Alexander langsung memperhatikannya.
Bahkan setelah bertahun-tahun menghadapi berbagai situasi berbahaya, ia masih selalu terkejut setiap kali merasakan bayinya bergerak.
Rubi memperhatikan ekspresinya.
Dan lagi-lagi merasa hangat.
---
Namun saat hendak berdiri, Rubi tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Mungkin karena duduk terlalu lama.
Atau karena gerakan bayi yang cukup kuat.
Yang jelas tubuhnya sedikit oleng.
"Rubi."
Sebelum sempat jatuh, Alexander langsung menangkapnya.
Tangannya melingkari pinggang Rubi.
Menahan tubuh wanita itu agar tidak terjatuh.
Jantung Rubi langsung berdetak kencang.
Karena sekarang mereka berada sangat dekat.
Sangat dekat.
Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Alexander.
"Kamu baik-baik saja?"
tanya pria itu.
Rubi mengangguk pelan.
"Iya."
Namun Alexander tidak langsung melepaskannya.
Sebaliknya, ia justru memastikan posisi Rubi benar-benar stabil.
Dan tanpa sadar, pelukan singkat itu terasa begitu hangat.
Begitu aman.
Untuk beberapa detik tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya ada mereka berdua.
Sampai akhirnya Rubi menyadari sesuatu.
Ia tidak ingin pelukan itu berakhir terlalu cepat.
Dan kesadaran tersebut membuatnya terkejut pada dirinya sendiri.
Sementara Alexander juga merasakan hal yang sama.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa takut.
Bukan karena musuh.
Bukan karena ancaman.
Tetapi karena wanita yang ada dalam pelukannya kini telah menjadi seseorang yang sangat penting baginya.
Seseorang yang tidak ingin ia kehilangan.
Dan jauh di luar mansion, bahaya yang selama ini mengintai mulai bergerak semakin dekat.
Tanpa mereka sadari.
Tanpa mereka ketahui.
Badai yang sesungguhnya akan segera datang.
kalo sempat mampir ya thor🤭😉