NovelToon NovelToon
JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

JERAT GAIRAH DI BALIK KABUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Misteri / Fantasi
Popularitas:838
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: PESTA PURA-PURA DAN BAYANG-BAYANG YANG LEBIH GELAP

Matahari siang menyengat Lembah Shrouded dengan kehangatan yang belum pernah dirasakan oleh generasi mana pun di desa itu selama dua ratus tahun terakhir. Setelah sisa-sisa keintiman yang membara dan mengikat jiwa mereka di dalam kamar tidur yang hangat, Dion dan Mayang akhirnya melangkah keluar. Pemandangan di luar rumah sudah berubah drastis. Jalanan tanah desa yang biasanya sepi, mencekam, dan dipenuhi aroma ketakutan, kini berubah menjadi lautan manusia yang sedang bersuka ria.

Lonceng kuil desa yang biasanya berdentang sebagai tanda peringatan maut untuk mengunci pintu, kini justru ditabuh dengan ritme yang riang. Anak-anak kecil berlarian di halaman tanpa takut lagi akan hawa dingin yang menusuk paru-paru. Para wanita tua menari di bawah siraman cahaya matahari, sementara para pria dewasa mulai membakar daging dan menyiapkan pesta perayaan besar-besaran di alun-alun desa. Bagi mereka, mati rasa dan penderitaan panjang yang mengurung garis keturunan mereka telah resmi usai seiring dengan tumbangnya Tetua Gidion yang kini dikurung di ruang bawah tanah kuil dalam kondisi sekarat tanpa sihir.

"Lihat itu, Dion," bisik Mayang, jemari lentiknya menyelinap masuk ke dalam genggaman tangan kanan Dion yang besar dan hangat saat mereka berjalan menyusuri jalan desa. Wajah cantik Mayang memancarkan kebahagiaan yang tulus, sepasang matanya yang jernih berbinar menatap kedamaian baru di sekelilingnya. "Selama ini kami hidup seperti tahanan di rumah kami sendiri. Aku tidak pernah menyangka akan melihat senyum lepas dari wajah tetangga-tetanggaku seperti ini. Semua ini karena keberanianmu."

Dion menoleh ke arah Mayang, menatap wajah gadis yang baru saja menyerahkan seluruh raga dan jiwanya ke dalam dekapannya tadi pagi. Namun, alih-alih ikut tersenyum gembira, mata abu-abu badai Dion justru memancarkan riak kegelisahan yang amat dalam. Tatapannya terus bergerak waspada, menyapu sela-sela atap rumah dan bayangan pepohonan pinus di perbatasan hutan yang kini tampak terlalu tenang. Pegangan tangannya pada jemari Mayang mendadak mengencang, seolah ia takut gadis itu akan lenyap dari pandangannya dalam sekejap mata.

"Mereka terlalu cepat merayakan sesuatu yang belum benar-benar selesai, Mayang," ujar Dion, suaranya baritonnya terdengar rendah, berat, dan dipenuhi oleh firasat buruk yang mencengkeram sanubarinya.

Mayang menghentikan langkah kakinya, menatap Dion dengan kening yang sedikit berkerut bingung. Semburat kesalahpahaman kecil mulai terbit di benaknya ketika melihat ekspresi pria itu yang tampak begitu dingin di tengah kegembiraan massal. "Apa maksudmu, Dion? Bukankah Tetua Gidion yang licik itu sudah kalah? Sihir darahnya yang mengurung bunga Lunaria sudah hancur, dan kabut kelabu di langit pun sudah musnah disapu oleh kekuatan kita. Apalagi yang harus dikhawatirkan? Apakah kau... tidak suka melihat desaku kembali damai?"

Dion menarik napas dalam-dalam, rahang tegasnya mengencang menahan beban rahasia yang teramat berat. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Mayang, memegang kedua bahu gadis itu dengan tatapan yang mengunci pergerakan. "Bukan begitu, Cantik. Aku hanya... aku tahu bagaimana sifat dasar dari klan kabutku. Gidion mungkin bersalah karena menggunakan cara yang keji dan mengorbankan warganya sendiri demi menjaga segel rahasia itu. Tapi, ketakutan Gidion terhadap klanku... itu bukanlah sebuah kebohongan tanpa dasar. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan di balik semua ini, Mayang. Sesuatu yang bahkan mengancam nyawaku jika aku tidak menuruti perintah mereka."

Mayang tertegun, tangannya perlahan terlepas dari genggaman Dion. Kata-kata Dion terdengar ganjil dan memicu tanda tanya besar yang tidak menyenangkan di dalam kepalanya. "Perintah mereka? Siapa yang kaukasud dengan 'mereka', Dion? Bukankah kau bilang kau adalah keturunan terakhir dari Klan Kabut Kuno yang dibantai?"

Sebelum Dion sempat membuka mulut untuk menjelaskan tentang ancaman dari penguasa tertinggi klan kabut yang mengendalikan dirinya bagai bidak catur, sebuah perubahan drastis mendadak terjadi di langit desa.

GURUUUUMMMMMMM!

Suara gemuruh yang sangat dahsyat, jauh lebih besar daripada ledakan sihir Gidion semalam, menggelegar membelah angkasa. Bumi tempat mereka berdiri mendadak berguncang hebat, membuat beberapa warga desa yang sedang menari jatuh tersungkur ke atas tanah. Musik riang pesta seketika terhenti, digantikan oleh jeritan kepanikan yang kembali memecah keheningan siang.

Matahari yang semula bersinar benderang mendadak tertutup oleh kepulan kabut baru. Namun, ini bukan lagi kabut kelabu keperakan yang biasa mereka lihat selama ratusan tahun. Kabut yang turun kali ini berwarna hitam pekat sehitam jelaga, meluncur turun dari puncak gunung tertinggi dengan kecepatan yang tidak masuk akal bagai ombak tsunami kegelapan yang siap menelan seluruh lembah. Hawa dingin yang dibawa oleh kabut hitam ini begitu ekstrem hingga permukaan air di sumur desa langsung membeku menjadi es dalam hitungan detik, dan tanaman hijau yang baru tumbuh mendadak layu membusuk.

Dari dalam gulungan kabut hitam yang pekat itu, terdengar suara tawa yang menggema dari segala arah—sebuah suara yang berlapis-lapis, dingin, berwibawa, dan memancarkan tekanan magis yang begitu masif hingga membuat beberapa penduduk desa berlutut sambil memegangi kepala mereka yang mendadak pening luar biasa.

"Pesta yang sangat menyedihkan bagi sekumpulan domba fana," sebuah suara gaib menggelegar dari balik kabut hitam, membuat bulu kuduk Mayang meremang hebat. "Kalian pikir tirani telah berakhir hanya karena satu manusia tua lumpuh? Kalian salah. Penguasa lembah yang sesungguhnya telah kembali untuk menagih seluruh hutang darah kalian."

Bersamaan dengan suara itu, ratusan pasang mata berwarna merah menyala mendadak muncul dari balik kegelapan kabut hitam yang mengitari batas desa. Itu adalah pasukan The Stalker, namun dalam ukuran yang jauh lebih besar, lebih padat, dan mengenakan pelindung dada kuno yang terbuat dari logam hitam yang berkarat. Jumlah mereka yang tak terhitung membuat seluruh warga desa benar-benar lumpuh oleh rasa bingung dan ketakutan yang teramat sangat. Penderitaan mereka ternyata belum berakhir; bahaya yang jauh lebih mengerikan baru saja mengetuk pintu depan desa mereka.

Mayang mundur satu langkah, wajah cantiknya memucat pasi saat matanya beralih menatap Dion. Ia melihat asap perak yang keluar dari belati Dion tampak beresonansi, bergerak selaras dengan kabut hitam yang mengepung mereka, seolah-olah mereka berasal dari rahim magis yang sama.

Rasa curiga dan kesalahpahaman yang besar seketika meledak di dalam dada Mayang. Ingatannya kembali pada kata-kata Gidion semalam tentang kelicikan klan kabut, dan melihat bagaimana Dion tampak mengetahui kedatangan bahaya ini lebih awal, Mayang merasa dunianya runtuh seketika.

"Dion..." suara Mayang bergetar, air mata kekecewaan mulai menggenang di pelupuk matanya yang indah. "Kau... kau sudah tahu bahwa ini akan terjadi, bukan? Siapa sebenarnya dirimu? Apakah keintiman kita semalam... dan perlindunganmu selama ini... hanyalah bagian dari rencana klanmu untuk membuat kami semua lengah dan menghancurkan desa ini dari dalam?!"

Dion membelalakkan matanya, merasakan tusukan yang amat perih di dadanya melihat tatapan penuh pengkhianatan dari wanita yang dicintainya. "Tidak, Mayang! Dengar dulu penjelasanku—"

Namun, sebelum kesalahpahaman itu bisa diluruskan, seekor The Stalker berzirah hitam melompat jatuh tepat di antara mereka berdua, menghantam tanah hingga memisahkan jarak di antara sepasang kekasih tersebut dengan kejam. Tirani yang sesungguhnya telah tiba di Lembah Shrouded, menguji sumpah setia yang baru saja mereka ikatkan di atas ranjang fajar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!