NovelToon NovelToon
SANGKAR DERITA WANITA MALAM

SANGKAR DERITA WANITA MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / TimeTravel
Popularitas:309
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

​Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
​Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
​Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RIAK DI AIR TENANG

Pagii itu, udara desa terasa begitu bersih saat Kirana mengikatkan tali caping bambunya di bawah dagu. Setelah berbulan-bulan terbiasa dengan aroma alkohol dan asap cerutu yang menyesakkan di The Velvet Rose, menghirup aroma lumpur sawah yang basah terasa seperti kemewahan yang tak ternilai. Dengan cangkul tua milik mendiang bapaknya di bahu, Kirana melangkah mantap menuju petak sawah peninggalan suryo

​"Selamat pagi, Mbak Kirana! Wah, beneran langsung turun ke sawah toh?" sapa Pak RT yang kebetulan lewat bersepeda membawa sabit.

​Kirana tersenyum tulus—senyum yang selama di kota selalu ia sembunyikan di balik topeng ketegasan. "Pagi, Pak RT. Nggih, eman-eman kalau tanahnya didiamkan lama-lama. Eman kalau berkahnya putus."

​"Bagus, Nak. Oh ya, nanti malam ada rembuk warga di balai desa. Kepala desa mau membahas soal pengembalian sertifikat tanah dari kabupaten. Datang ya? Warga butuh orang pintar seperti kamu untuk memandu jalannya rapat," ujar Pak RT penuh harap.

​Kirana mengangguk seraya berterima kasih. Ia merasa hidupnya kini kembali memiliki arti yang murni. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

​Siang harinya, saat Kirana sedang beristirahat di bawah pohon beringin tepi sawah sembari meminum air kendi, ia menyadari adanya perubahan atmosfer di sekitarnya. Tiga orang ibu-ibu desa yang sedang berjalan memanggul bakul mendadak menghentikan tawa mereka begitu melihat Kirana.

​Mereka tidak menyapa seperti biasanya. Sebaliknya, mereka saling berbisik, melemparkan tatapan mata yang penuh selidik, lalu mempercepat langkah seolah-olah Kirana adalah wabah penyakit.

​"Itu toh si Kirana? Hih, penampilannya saja sekarang sok alim pakai baju kurung lusuh," samar-samar suara Bu Warsi, istri mantan mandor pabrik gilingan padi milik Juragan Jaya, terdengar oleh telinga tajam Kirana.

​"Iya, jare (katanya) kasak-kusuk orang kecamatan, di kota dia itu kerjanya bukan jadi sekretaris kantoran. Tapi jadi perempuan pajangan di tempat maksiat kelas atas. Pakaiannya saja kurang bahan!" sahut yang lain dengan nada mencibir.

​"Pantas saja bisa langsung menjebak Juragan Jaya sampai dipenjara. Pasti pakai cara yang ‘nggak bener’. Ih, amit-amit... uang yang dibawa pulang jangan-jangan uang haram semua itu."

​Deg.

​Dada Kirana seketika berdenyut nyeri. Gelas plastik di genggamannya perlahan meremuk. Luka lama yang mati-matian ia kubur di Valerion tiba-tiba dipaksa menganga kembali. Tangan yang ia gunakan untuk menghancurkan dinasti korup Juragan Jaya, kini mulai dicap kotor oleh orang-orang yang justru sedang ia coba selamatkan. Kirana menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai gemuruh di dadanya. Tenang, Kirana. Kamu ke sini untuk Bapak, bukan untuk pujian mereka, batinnya menguatkan diri.

​Malam harinya, Balai Desa sudah dipadati oleh puluhan warga. Riuh rendah suara obrolan mendadak hening begitu Kirana melangkah masuk. Tatapan warga kini terbagi dua; ada yang menatapnya penuh rasa bersyukur, namun tidak sedikit yang menatapnya dengan pandangan sinis akibat desas-desus yang mulai menyebar sejak sore tadi.

​Baru saja Kepala Desa hendak membuka asbak dan memulai pembicaraan, suara raungan mesin mobil yang asing memecah keheningan malam desa.

​Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti tepat di halaman balai desa, kontras dengan motor-motor tua dan sepeda kumbang milik warga. Sepasang lampu LED-nya yang terang menyorot tajam ke dalam ruangan, membuat beberapa warga silau dan menyipitkan mata.

​Pintu mobil terbuka. Sepatu kulit hitam yang sangat bersih dan mengkilap melangkah turun, menginjak tanah desa yang becek tanpa ragu.

​Seorang pemuda berusia akhir dua puluhan keluar dari mobil. Ia mengenakan setelan jas abu-abu formal tanpa dasi, potongan rambutnya rapi khas pria kelas atas kota Valerion, dan wajahnya memiliki garis tegas yang sangat mirip dengan seseorang yang sangat Kirana kenali.

​Di belakangnya, dua orang pria berbadan tegap dan seorang pria paruh baya berkacamata yang membawa koper kulit hitam—tipikal seorang pengacara—mengikuti dengan langkah angkuh.

​Pemuda itu melangkah masuk ke dalam balai desa, mengabaikan kasak-kusuk warga yang ketakutan. Matanya yang tajam dan dingin menyapu ruangan, hingga akhirnya pandangan itu terkunci tepat pada sosok Kirana yang duduk di barisan depan.

​Sebuah senyum tipis yang penuh kelicikan terkembang di bibir pemuda itu.

​"Selamat malam, bapak-bapak sekalian. Maaf saya terlambat menghadiri rapat penting ini," suara pemuda itu terdengar berat, bergema di langit-langit balai desa yang sepi.

​Pak RT berdiri dengan tegas. "Maaf, Anda siapa ya? Ini rapat internal warga desa."

​Pria berkacamata di belakang pemuda itu maju satu langkah, membuka kopernya, dan menunjukkan sebuah dokumen resmi. "Perkenalkan, ini adalah Tuan Baskara Jaya, putra mahkota sekaligus ahli waris sah dari seluruh aset Jaya Group. Dan kami datang ke sini untuk memberitahukan bahwa seluruh tanah, sawah, termasuk pabrik gilingan padi di desa ini... secara hukum masih berstatus di bawah sita jaminan perusahaan kami. Rapat malam ini ilegal."

​Suasana balai desa seketika gempar. Warga mulai panik dan saling berteriak ketakutan.

​Baskara melangkah perlahan mendekati meja tempat Kirana berada. Ia membungkukkan badannya sedikit, menatap langsung ke dalam manik mata Kirana, lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.

​"Lama tidak berjumpa, Mawar Hitam dari The Velvet Rose. Kamu pikir, setelah menjebak ayahku yang sudah tua itu, kamu bisa hidup tenang jadi gadis desa yang suci di sini?" Baskara terkekeh rendah, sebuah seringai kejam menghiasi wajah tampannya. "Permainan kita baru saja dimulai, Kirana."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!