Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrak Ibu Susu
Sore harinya, setelah Kael tertidur lelap akibat kekenyangan, Bi Asih mengantarkan Aisha menuju paviliun belakang. Bangunan tersebut terpisah dari mansion utama, melewati sebuah koridor panjang yang dikelilingi taman asri dengan pembatas dinding kaca.
Meski disebut "paviliun belakang", fasilitas di dalamnya tetap terasa sangat mewah bagi Aisha. Kamar tidurnya luas, dilengkapi dengan ranjang king size, kamar mandi dalam yang bersih, serta sebuah lemari besar yang sudah diisi penuh dengan pakaian baru yang longgar, bersih, dan sangat nyaman untuk seorang ibu yang sedang menyusui.
"Istirahatlah di sini, Nak Aisha," ujar Bi Asih lembut sembari menata beberapa perlengkapan bayi di atas meja. "Semua keperluanmu sudah disiapkan oleh Tuan Adrian. Jika kamu butuh apa-apa, tinggal tekan tombol telepon di dinding ini, langsung tersambung ke dapur utama."
Aisha tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Terima kasih, Bi. Tempat ini... terlalu bagus untuk saya."
"Ini semua demi kenyamananmu, karena kenyamananmu memengaruhi kualitas air susumu untuk Den Kael," jawab Bi Asih dengan nada menenangkan sebelum pamit undur diri dari kamar.
Saat pintu tertutup, keheningan malam mulai merayap masuk. Aisha duduk di tepi ranjang, menatap pakaian barunya. Kemewahan ini tidak lantas membuat hatinya tenang. Pikirannya kembali melayang pada bayinya yang malang, yang bahkan belum sempat ia timang namun sudah dinyatakan meninggal oleh mertuanya yang kejam.
Aisha meremas dadanya yang terasa ngilu oleh rasa rindu, hingga akhirnya ia tertidur dalam tangisan yang tertahan di balik bantal.
---
Keesokan paginya, Aisha kembali dipanggil ke ruang kerja Adrian di mansion utama. Kali ini, di atas meja marmer sang CEO, sudah ada dua map dokumen yang terbuka serta sebuah amplop tebal berwarna cokelat.
Adrian duduk dengan posisi tegap, tatapannya sedingin es, mengawasi Aisha yang berjalan masuk dengan kepala menunduk.
"Duduk," perintah Adrian singkat.
Aisha duduk di kursi kulit di hadapan Adrian, merapatkan kedua tangannya di atas pangkuan.
"Kemarin kita sudah sepakat secara lisan. Hari ini, dokumen hitam di atas putih ini harus kita patuhi bersama," kata Adrian, menggeser salah satu dokumen ke hadapan Aisha. "Ini adalah **Kontrak Ibu Susu** secara detail. Ada beberapa poin tambahan yang wajib kamu tanda tangani dan patuhi tanpa bantahan."
Adrian mengetukkan pulpennya ke meja, membacakan poin-poin tersebut dengan nada suara yang tegas dan mengintimidasi.
"Pertama, statusmu di rumah ini adalah rahasia mutlak. Di luar rumah ini, tidak boleh ada satu pun orang, termasuk media atau keluargamu, yang tahu bahwa kamu adalah ibu susu dari putraku. Jika rahasia ini bocor dari mulutmu, hukumannya adalah penjara."
Aisha meneguk ludahnya dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. "Baik, Tuan."
"Kedua," lanjut Adrian, matanya menyipit tajam. "Kamu dilarang keras membawa atau menunjukkan emosi pribadi yang berlebihan di depan Kael. Ingat posisimu, kamu bukan ibunya, kamu hanya penyedia ASI yang dibayar. Jangan pernah berharap atau bermimpi untuk menaikkan kastamu melalui anakku."
Kata-kata Adrian yang begitu tajam terasa seperti sembilu yang mengiris hati Aisha. Pria di depannya benar-benar tidak memiliki celah kehangatan. Ia memperlakukan kasih sayang seorang ibu seperti sebuah transaksi bisnis semata.
"Dan yang ketiga," Adrian menggeser amplop cokelat tebal ke arah Aisha. "Ini adalah uang muka untuk bulan pertama tugasmu. Jumlahnya seratus juta rupiah. Uang ini akan masuk ke rekeningmu setiap bulan, di luar semua fasilitas hidup dan jaminan kesehatan yang kamu terima di rumah ini."
Aisha menatap amplop tebal itu dengan tatapan kosong. Bagi orang lain, uang sejumlah itu adalah keberuntungan luar biasa. Namun bagi Aisha yang baru saja kehilangan bayinya, uang melimpah itu terasa hambar. Kehadiran Kael-lah yang sebenarnya menjadi satu-satunya alasan mengapa ia bersedia bertahan di tempat yang asing dan dingin ini.
"Saya tidak butuh uang sebanyak ini, Tuan Adrian. Seperti yang saya katakan kemarin, saya hanya ingin..."
"Aku tidak menerima penolakan," potong Adrian dengan cepat dan mutlak. "Keluarga Arkan tidak pernah berutang budi pada siapa pun, apalagi mempekerjakan orang tanpa bayaran. Ambil uang itu, tandatangani kontraknya, dan jalankan tugasmu dengan benar."
Aisha mengembuskan napas pasrah. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia meraih pulpen dan membubuhkan tanda tangannya di atas meterai yang telah disediakan.
Setelah selesai, Adrian menarik kembali dokumen tersebut. Sesaat, tatapan mata mereka saling beradu. Ada ketegangan yang aneh di antara mereka—Adrian dengan keangkuhan dan kedinginannya yang membenteng, serta Aisha dengan kerapuhan namun menyimpan keteguhan hati yang luar biasa demi melindungi bayi mungil yang kini bergantung hidup padanya.
"Mulai hari ini, kontrak ini resmi berjalan," ucap Adrian pelan, mengunci dokumen tersebut ke dalam brankas pribadinya.
Pertemuan itu berakhir, menandai dimulainya babak baru kehidupan Aisha di bawah atap kediaman sang CEO dingin, tanpa ia sadari bahwa kontrak yang baru saja ia tanda tangani akan menyeretnya ke dalam pusaran rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari masa lalunya.
---
Bersambung