NovelToon NovelToon
Kau Milikku Sayang

Kau Milikku Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: ewie_srt

"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

dua

Mata elang xavier mengamati lalu lalang manusia di penyebrangan lampu merah. Kernyitan di keningnya terlihat semakin menebal, wajah tampannya menegang.

Dipanas siang hari begini, ketukan seorang pengamen di kaca mobilnya membuat wajah tampannya terlihat kesal.

Tak ada niat untuk membuka kaca jendela itu, apalagi untuk mengulurkan recehan. Rasa kesalnya semakin memuncak, apalagi para pengamen yang berdiri di samping mobilnya mulai terlihat sedikit tak sabaran.

Dengan kesal xavier akhirnya melemparkan selembar uang ratusan, dan langsung menutup kembali kaca mobilnya.

Pengamen tadi kelihatan hampir marah, namun melihat uang ratusan itu, wajah sangar pengamen itu tersenyum sumringah.

Xavier tak melirik, begitu lampu hijau menyala ia langsung tancap gas. Meninggalkan kepulan asap tepat di wajah para pengamen yang memaki.

Rasa kesal sejak pagi menyelimuti hatinya, paksaan omanya selalu membuat xavier sakit kepala. Perjodohan demi perjodohan yang omanya siapkan selalu mampu membuat xavier kesal seharian.

Suara decitan ban mobilnya terdengar keras, saat ia parkir di depan sebuah restoran. Xavier mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang menunggunya.

Lambaian tangan dari seorang pria, membuat wajahnya yang menegang marah tadi sedikit melembut. Xavier melangkah pasti, mendekati pria itu yang tersenyum cerah dengan wajah tampannya.

"sendirian?" tanya xavier dengan suara baritonnya, sembari menarik kursi yang ada di hadapan pria itu.

"bareng mona dan raya anakku, tapi mereka minta diturunkan di mall tadi, ntar pulangnya minta di singgahin" sahut pria tampan itu tersenyum.

"kamu pasti lagi kesal yah?"

Xavier mengangguk lesu, tangannya meraih gelas kopi yang sudah tersedia.

"oma menyiapkan perjodohan lagi?"

Xavier mengangguk lagi, suara sesapan kopinya terdengar nikmat.

"aku nggak bisa menikah, roy. Bagaimana aku menikahi perempuan pilihan oma kalau aku tak berhasrat pada mereka!"

Pria bernama roy itu, menarik nafasnya berat. Kepalanya terlihat mengangguk paham.

"sudah 6 tahun loh, dan kamu sudah ke dokter. Kata dokter juga nggak ada masalah kan?"

Xavier mengangguk lesu, matanya menatap lekat sahabatnya itu.

"apa kamu pernah mencobanya, setelah itu?"

"pernah.." sahut xavier cepat.

"bahkan aku pernah mencobanya dengan cathy, dan hasilnya tetap, aku tak mampu"

"padahal sebelum-sebelumnya dengan cathy nggak masalahkan?" tanya roy lagi penuh selidik.

Kepala xavier kembali menggeleng, "aku takut, aku mati rasa pada wanita dan imp*tensi karenanya"

Roy tertawa, namun kepala pria itu menggeleng tak setuju.

"apakah kamu tak memiliki sedikitpun informasi tentang perempuan itu?"

"tidak.." sahutnya lesu, " wajahnya saja samar dalam ingatanku"

"hhhhhhh" bersamaan xavier dan roy menghembuskan nafasnya.

Mereka saling pandang dengan raut bingung, xavier menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.

"bagaimana kalau kamu menemui psikiater saja?" saran roy dengan hati-hati, menatap wajah xavier yang sedikit tersentak.

"aku yakin yang jadi masalah adalah psikismu, kamu harus melupakannya, xavi! Move on dari wanita itu"

"apa maksudmu move on?" tanya xavier kesal, matanya melotot.

"seakan-akan aku memiliki hubungan dengan wanita sialan itu"

Roy tertawa kecil, "akui saja bung!, kamu memang menganggap wanita itu spesial kan?"

Xavier mendengus kesal, dia tidak bisa menampik sama sekali. Ucapan roy membuat xavier tak berkutik, ia juga sadar memang perempuan itu benar-benar menyita pikirannya. Mungkin juga perempuan itu spesial, namun bukan spesial dalam artian asmara.

"apa yang paling kamu ingat dari perempuan itu?" tanya roy, setelah pria itu meletakkan gelas kopi yang baru disruputnya.

Xavier tertegun, matanya menerawang sedang mengingat sesuatu.

"aroma wanita itu, dia beraroma mint. Tubuhnya mungil berkulit putih, mungkin.." ujarnya ragu, kernyitan di keningnya masih terlihat.

Roy tercenung sesaat, "apakah malam itu kamu mabuk berat, sampai nggak bisa mengingat wanita itu" tanyanya penasaran.

Xavier mengangguk lagi, wajahnya lesu.

"itu, saat cathy menolak menikah denganku, karena oma memaksa kami harus memiliki anak. Seperti yang kamu tahu, cathy seorang model, memiliki anak sama dengan membunuh kariernya, kamu tahukan dia sangat mencintai profesinya itu"

"hhhhhhh" roy menghela nafasnya cukup keras.

"aku ingin membantumu, tapi info yang kamu miliki terlalu minim.."

Xavier mengangguk setuju, "sepertinya aku memang akan menikahi wanita pilihan oma, roy" nafasnya yang berat terdengar dari dengusannya.

"aku juga sudah lelah mencari wanita sialan itu"

<<<<<<<>>>>>>>

Xavier menghempaskan tubuhnya yang terasa penat ke ranjangnya.

Ranjang itu bergelombang menerima hempasan tubuhnya, tangan xavier sibuk membuka kancing jas, dan mencampakkan jas itu ke lantai.

Matanya menatap langit-langit kamarnya yang tinggi, benaknya masih sibuk berpikir. Apa sebenarnya yang membuat dia menjadi seperti ini.

Perempuan sialan itu, merenggut kepercayaan diri dan ego yang sangat tinggi yang ia punya. Saat ia terbangun pagi itu, xavier tidak menemukan siapapun di sisinya.

Hanya noda darah wanita itu yang membasahi seprei hotel, menjadi saksi bisu bahwa telah terjadi sesuatu sebelumnya.

Perempuan itu meninggalkan xavier bagai seonggok kotoran, hanya meninggalkan secarik kertas tertulis 'terima kasih'.

Bagaimana harga dirinya tak terluka, wanita manapun yang pernah tidur dengannya mengakui betapa perkasanya xavier. Dan wanita-wanita itu akan menempel seperti lem setan padanya, jika xavier membiarkannya.

Tapi perempuan sialan itu, meninggalkannya begitu saja. Seakan ia hanya seonggok kain bekas yang layak dibuang, tak berharga.

"hhhhhhhh" xavier kembali menghembuskan nafasnya yang terasa sesak.

Bagaimana mereka bisa terdampar di kamar hotel melati itu pun, xavier tak tahu. Yang ia ingat hanya, sejumlah uang yang ia ulurkan kepada seorang pria, untuk mencarikan dia seorang perempuan.

Perempuan biasa, itu yang xavier ingat. Dia tak mau perempuan penghibur atau lc atau apapun sebutannya.

Dia hanya meminta wanita biasa, karena xavier tak mau tertular penyakit, dan dia juga tak suka memakai pelindung.

Xavier mengernyitkan keningnya, ia teringat sesuatu. Malam itu, seingat xavier ia mencumbu wanita itu tanpa henti dan ia sangat yakin malam itu juga dia sama sekali tidak menggunakan pengaman apapun.

Bagaimana jika wanita itu hamil, apalagi dengan jelas ia tahu bahwa dia yang merenggut kehormatan gadis itu.

Tiba-tiba xavier terduduk, ia semakin mengernyitkan keningnya. Kenapa baru terpikir olehnya kemungkinan itu, xavier perlahan bangkit dari ranjangnya.

"aku harus menemukan wanita itu, harus. Aku nggak mau begini terus"

Xavier melepas kemeja dan celana panjangnya kasar, melemparkan ke atas keranjang pakaian kotornya, menunjukkan tubuh toplessnya dengan hanya boxer sebagai dalaman.

Tubuhnya yang tinggi besar, dengan bentuk 'v' terlihat sangat gagah. Ia melangkah ke kamar mandinya, xavier ingin berendam di air dingin.

Ia ingin mendinginkan berisiknya isi kepalanya itu, mungkin dengan berendam akan meredam keberisikan itu.

Xavier menuang busa mandi ke dalam bathupnya, setelah menyemprotkan aroma terapi dan juga menyalakan lilin. Ia bersiap masuk ke dalam bathup, namun tiba-tiba xavier teringat, sambil berendam pasti akan lebih nikmat jika di temani segelas wine.

Xavier menyambar handuknya, keluar kamar mandi, dan melihat gelas winenya yang terletak di atas meja dalam posisi terbalik.

Senyum khasnya terbit, menyadari betapa art di rumah omanya itu sangat paham kebiasaan yang ia punya.

Xavier membawa sebuah gelas dan sebuah botol wine ke dalam kamar mandinya, menuangkan ke dalam gelas berpinggang ramping itu.

Masuk ke dalam bathup berisi air dingin, dan mulai merileksasi tubuhnya dengan nyaman. Terdengar desah nafasnya lega, mata elangnya terpejam perlahan.

Bersambung...

1
Sri S
lanjut
Sri S
suka
Sri S
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!