NovelToon NovelToon
PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

PEMBERONTAK PARA DEWA LAST SEASON

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).

Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.

Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 14

Dunia Fana – Jantung Hutan Bambu Hitam.

Kabut tebal berwarna ungu kelabu merayap di antara batang-batang bambu, menelan cahaya matahari pagi yang seharusnya menyinari lantai hutan. Di sebuah hulu sungai terpencil yang tersembunyi di balik tebing batu, atmosfer fana telah terkontaminasi oleh bau anyir darah.

Sesosok makhluk kerdil berkulit hijau legam dengan empat lengan bersisik sedang berjongkok di atas batu besar. Namanya Gui Feng, seorang kapten pengintai dari barisan pelopor Semesta Sembilan Nether. Kultivasinya berada di puncak tahap Inti Emas (Golden Core), sebuah tingkatan yang di Dunia Fana ini sudah cukup untuk menyapu bersih sebuah kerajaan kecil.

Dengan menggunakan kuku-kukunya yang panjang dan tajam, Gui Feng sedang mengukir Rune terlarang di atas permukaan batu, membentuk sebuah Altar Darah Nether.

"Cepat! Alirkan esensi jiwa binatang gunung itu ke dalam inti formasi!" perintah Gui Feng melengking, sepasang mata merahnya berkilat penuh kegilaan. "Begitu altar koordinat ini aktif, Tuan Muda Mo Yuan bisa mengirimkan sepuluh ribu prajurit bayangan langsung ke planet rongsokan ini!"

Di bawah batu, belasan iblis kerdil lainnya sedang menyembelih beberapa ekor rusa gunung, mengalirkan darahnya ke parit-parit formasi yang mereka gali di tanah.

Namun, sebelum rune terakhir selesai diukir, seberkas suara petikan senar yang berdenting merdu tiba-tiba memecah kesunyian hutan.

TENG...

Gelombang suara itu tidak keras, tetapi riak energinya seketika membubarkan kabut ungu dalam radius seratus tombak. Sisa-sisa Qi Iblis yang pekat di udara terurai paksa, digantikan oleh aroma harum bunga teratai yang murni.

Gui Feng tersentak, keempat lengannya menegang. Dia mendongak dan melihat lima sosok melayang turun dari atas dahan bambu dengan keanggunan yang menakutkan.

Lima Penjaga Teratai.

Lu Bai berdiri di depan, memeluk kecapi emasnya dengan ekspresi dingin yang dibuat-buat, meskipun sudut bibirnya masih menyisakan sedikit bekas kunyitan singkong rebus dari bab sebelumnya. Atas pencerahan yang didapat dari Shi Hao, aura jubah hijaunya kini samar-samar dialiri oleh benang-benang cahaya emas Mortal Dao.

"Tikus-tikus Nether," kata Lu Bai, suaranya bergema dipenuhi otoritas. "Kalian berani mendirikan altar kotor di bawah hidung kami? Apakah kalian tidak tahu bahwa tempat ini adalah wilayah terlarang yang dijaga oleh Kekaisaran Asura?"

Gui Feng memandangi kelima orang itu.indra spritualnya memindai bahwa fluktuasi energi mereka berada di tahap Soul Transformation (Transformasi Dewa). Baginya, itu adalah tingkatan yang sangat mengerikan. Namun, Gui Feng tidak panik. Dia menyeringai buas, memperlihatkan gigi-giginya yang berlapis racun.

"Heh! Bermodal ranah Transformasi Dewa kalian berani sombong di depan hukum Sembilan Nether?!" Gui Feng tertawa melengking. "Altar ini terhubung langsung dengan kehendak Dewa Iblis Shen Yu! Begitu kuaktifkan, hukum dunia fana ini akan runtuh, dan kalian semua akan menjadi makanan bagi Tuan kami!"

Gui Feng langsung menghantamkan telapak tangannya ke pusat altar, berniat memicu ledakan koordinat spasial secara paksa. "Aktiflah! Altar Jiwa Pemanggil Nether!"

Cahaya ungu pekat meledak dari batu raksasa itu. Bumi mulai bergetar, dan pusaran lubang hitam kecil setinggi manusia mulai terbentuk di atas altar.

"Kak Lu Bai! Hancurkan altarnya!" teriak Hong Hua, sudah bersiap melempar ribuan jarum teratainya.

Namun, tepat pada detik yang sangat krusial itu...

Di Halaman Belakang Gubuk Keluarga Shi.

Jaraknya sekitar sepuluh mil dari hutan bambu.

Shi Hao sedang berjongkok di samping kandang ayam bambu miliknya. Pagi ini, kandang ayam itu sedikit rusak karena disenggol oleh ekor berduri Hitam Satu saat anjing iblis itu sedang mengejar kupu-kupu.

"Hitam Satu, lain kali kalau main jangan dekat-dekat kandang ayam," omel Shi Hao, menepuk kepala anjing neraka itu dengan palu kayu kecil di tangannya. Hitam Satu hanya bisa menunduk pasrah sambil mengeluarkan suara rengekan kecil.

Shi Hao mengambil sepotong pasak kayu pinus baru untuk menyambung tiang kandang yang patah. Karena matanya buta, dia meraba-raba posisi tiang tersebut dengan tangan kirinya.

"Nah, di sini," gumam Shi Hao.

Dia menempatkan pasak kayu itu di atas tanah, lalu mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi. Dia mengayunkannya ke bawah dengan ingatan otot seorang petani biasa yang sedang bekerja.

Namun, saat palu itu bergerak turun, koordinat spasial di tangannya secara tidak sengaja selaras dengan Urat Nadi Bumi (Earth Ley Lines) terbesar yang melintasi planet fana tersebut. Sisa-sisa Chaos Qi yang tertidur di dalam tulang tangannya bergetar, mentransmisikan bobot dari seluruh hukum Mortal Dao langsung ke ujung pasak kayu.

BAM!

Palu kayu Shi Hao menghantam pasak kayu tersebut, menancapkannya ke dalam tanah halaman belakang sedalam tiga inci.

Pukulan itu terlihat sangat biasa. Tidak ada suara ledakan di halaman rumahnya.

Tetapi, getaran kinetik dan hukum yang dialirkan oleh Shi Hao merambat menembus lapisan kerak bumi fana secepat kilat, melesat menyusuri urat nadi bumi layaknya naga emas yang mengamuk, dan lurus menuju ke arah... Sektor Utara Hutan Bambu Hitam.

Kembali ke Hutan Bambu.

Pusaran lubang hitam di atas Altar Darah milik Gui Feng sudah melebar hingga dua meter. Wajah iblis raksasa Mo Yuan bahkan sudah mulai terlihat samar-samar di balik dinding dimensi, siap melangkah keluar.

"Hahaha! Sudah terlambat! Gerbang telah terbuka!" teriak Gui Feng dengan gembira.

Lu Bai dan yang lainnya sudah bersiap melepaskan jurus terkuat mereka untuk melakukan benturan mati-matian.

Namun... DUM!

Bumi di bawah altar tiba-tiba bergetar satu kali. Getaran yang sangat pendek, tetapi getaran itu membawa hukum Kekosongan Mutlak yang dikirimkan dari palu kayu Shi Hao dari jarak sepuluh mil.

Riak energi emas merembes keluar dari dasar tanah, langsung menghantam batu raksasa tempat altar darurat itu berdiri.

KRETEK...

Senyuman di wajah Gui Feng membeku.

Batu raksasa sekeras besi bintang itu tiba-tiba retak menjadi jutaan kepingan kecil, bukan karena dihancurkan oleh kekuatan fisik, melainkan karena seluruh struktur Qi Nether di dalam batu itu telah dinetralkan oleh hukum kemanusiaan. Altar itu secara harfiah dipaksa kembali menjadi batu kali biasa yang rapuh.

PRANG!

Altar Darah hancur berkeping-keping. Pusaran lubang hitam yang baru saja terbentuk mendadak kempis seperti balon yang ditusuk jarum, memutuskan koneksi dimensi seketika. Di seberang sana, terdengar suara geraman marah dari Mo Yuan yang terputus di tengah jalan karena gerbangnya runtuh menimpa wajahnya.

"A-Apa... Apa yang baru saja terjadi?!" Gui Feng menatap tangannya yang kini hanya memegang debu batu. Hukum baka dari Sembilan Nether miliknya hancur oleh getaran tanah fana? Ini benar-benar menghancurkan seluruh logika kultivasi yang dia pelajari selama tiga ratus tahun!

Lu Bai, yang memiliki kepekaan spiritual paling tinggi karena baru saja memakan singkong beraura Chaos, langsung menyadari asal-muasal getaran bumi barusan. Di mata batinnya, getaran itu memiliki tanda tangan energi yang sangat spesifik: ketukan palu kayu biasa dari arah gubuk Tuan Besar mereka.

Lu Bai menatap serpihan altar yang hancur, lalu menatap ke arah desa di kejauhan dengan mata membelalak penuh kekaguman yang semakin gila.

"Tuan Besar..." bisik Lu Bai, suaranya gemetar menahan haru. "Beliau bahkan tidak perlu melangkah keluar dari halaman rumahnya... Hanya dengan satu ketukan alat pertukangan fana, Beliau sudah menghancurkan koordinat kosmik Dewa Iblis dari jarak sepuluh mil!"

"Ini... ini adalah kemampuan Membalikkan Takdir dalam Jarak Jauh (Omnipresent Will)!" tambah Hei Gen, wajah mayatnya kini dipenuhi pias pemujaan religius yang mutlak.

Gui Feng yang melihat musuhnya mendadak sibuk berkomat-kamit memuja sesuatu, mulai dilanda kepanikan masif. Dia berbalik, mencoba melompat ke dalam sungai untuk melarikan diri.

"Mau lari ke mana, Tikus Kecil?" Hong Hua menyeringai dingin.

Hong Hua mengibaskan lengannya. Tiga buah jarum teratai emas melesat tanpa suara, langsung menembus titik Dantian Gui Feng, mengunci seluruh aliran Qi Inti Emas-nya dalam sekejap. Pria iblis itu jatuh tersungkur ke dalam air dangkal dengan bunyi plung yang menyedihkan.

Lu Bai melangkah maju, berdiri di atas air, menatap Gui Feng yang merangkak ketakutan.

"Kalian beruntung karena Tuan Besar kami sedang ingin hidup damai sebagai manusia," kata Lu Bai dingin, mengangkat tangannya yang diselimuti cahaya pedang teratai. "Jika tidak, ketukan palunya tadi tidak hanya akan menghancurkan altarmu, tetapi akan meratakan seluruh garis silsilah klanmu di Sembilan Nether."

ZRAASH!

Cahaya pedang berkelebat. Gui Feng dan belasan pengintai kerdil lainnya langsung berubah menjadi abu hijau yang larut bersama aliran air sungai fana, membersihkan hutan dari noda kejahatan seutuhnya.

Sementara itu, kembali di halaman gubuk.

Shi Hao mengangkat palunya kembali, meraba pasak kayu pinus yang baru saja dia ketuk.

"Eh? Kok miring ya?" gumam Shi Hao polos, mendapati pasak kayunya melesat beberapa inci dari lubang tiang yang seharusnya. "Ah, sepertinya tanganku agak goyang tadi karena mengantuk. Istriku! Pasak kayunya miring sebelah!"

Gu Qing Yi keluar dari dapur sambil membawa keranjang cucian. Dia melihat ke arah utara, merasakan bagaimana sisa-sisa energi Nether di hutan bambu baru saja terhapus bersih oleh riak nadi bumi dari ketukan palu suaminya.

Qing Yi tersenyum sangat manis, berjalan menghampiri Shi Hao dan memijat lembut pundak suaminya.

"Tidak apa-apa, Suamiku," kata Qing Yi selembut sutra. "Miring sedikit justru membuat kandang ayamnya terlihat unik. Lagipula... pagar desanya sekarang sudah jauh lebih kokoh dari sebelumnya."

Shi Hao tertawa lepas, melanjutkan pekerjaannya memahat kayu tanpa pernah menyadari bahwa setiap ketukan kecil dari kehidupan fananya adalah keputusan takdir bagi jutaan nyawa di atas langit.

1
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
kasian berkali kali manggg wuuuu ini....
saniscara patriawuha.
sakit banget tuhhh rasaneee...
saniscara patriawuha.
sikattttttt lagiiii mangggg shiiiiii.....
saniscara patriawuha.
mantaffffff surataffff....
Hendra Saja
makin penasaran.....apa tidak bertemu dengan sang tiran Thor....
yos helmi
👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🙏🙏🙏🙏
HINATA SHOYO
mantapp jiwa kerennn cuuyyyyy
HINATA SHOYO
kerenn poolĺll lanjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!