Blurb:
Seminggu menjelang pernikahaannya, Anna mendapatkan berita tidak terduga. Zico, sang tunangan menikah dengan wanita lain, di mana Anna telah siap memberikan kejutan atas kehamilannya.
Tidak menerima kenyataan ia ditinggal menikah saat hamil, Anna memilih untuk mengakhiri hidupnya. Akan tetapi, Amar hadir menyelamatkannya.
Amar dipaksa untuk menikahi Anna oleh neneknya ... Bagaimana kelanjutannya? Apakah Amar bersedia menikahi Anna, sementara ia sendiri memiliki seorang kekasih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Bayar dalam seminggu
"Lalu, apa hubungannya dengan saya?" tanya Zico dingin.
"Karena kamu harus berani meminta maaf kepada istri saya, atas segala yang sudah kamu perbuat! Semuanya!"
Zico melengos membuang mukanya. "Saya merasa tidak memiliki masalah apa pun dengan Anna, istrimu itu!"
"Siapa istrinya? Anna?" sela Silvi terkejut.
"Iya, Anna," jawab Zico sedikit tertahan.
"Anna mantanmu yang sudah selingkuh darimu itu kan? Lalu kita berdua menikah, dia malah ngamuk-ngamuk kayak orang gil* mukulin kamu di pesta kita." Silvi kembali teringat kekacauan saat pesta pernikahannya dulu.
"Ekhem ..."
Silvi menghentikan ucapannya dan menyadari baru saja mengatakan hal yang salah. Dia terdiam dan menunduk menutup mulut merasa melakukan hal yang bodoh.
"Kita kembali pada pembicaraan awal. Jadi, kapan Anda bisa membayar denda karena telah melanggar kontrak tersebut?"
Silvi mengerutkan kening merebut surat yang masih berada di tangan suaminya. Dalam beberapa waktu ia membaca butir-butir tuntutan yang ada di dalam surat itu. Tidak lama setelah itu ia terdengar geram. "Kenapa semuanya salah suamiku? Dia kan keluar dari perusahaanmu gara-gara merasakan mendapat perlakuan yang semena-mena." Silvi melempar map tersebut ke atas meja.
"Bagaimana pun alasannya, perjanjian kontrak tak bisa dilanggar begitu saja," ucap Darma dengan tegas.
"Jika tidak dibayar atau terlambat membayarnya, gimana?"
"Paling, mendapat hukuman di penjara ditambah denda negara," ucap Darma membuat Amar tersenyum sinis.
Mendengar penjelasan tersebut, Zico merasa semakin ketakutan hingga memasang wajah merajuk dan memohon di hadapan Silvi.
Silvi menatap Zico dengan kesal. "Gimana dong, duitku udah abis buat bayarin DP mobil kamu!" cetus Silvi kembali. Silvi melirik kepada Ayahnya Wage.
"Papa tidak ikut campur dengan urusanmu bersama suamimu itu. Yang jelas, papa sudah menempatkan suamimu bekerja di sini. Papa sudah menutup mata dan telinga dari cecaran para karyawan di sini itu untuk kamu. So ... Sekarang kamu dan suamimu itu berusahalah! Dia bisa memikirkan cara agar dia bisa melunasi denda tersebut dengan segera."
"Papa? Kenapa Papa tega kepadaku? Mas Zico sedang mendapat kesulitan, Pa? Tolong lah dia?" pinta Silvi dengan sangat memohon.
Wage menggeleng kesal dan beranjak dari ruangan ini. Zico menangkupkan kedua tangan Silvi memasang wajah memelas. "Biarkan saja aku menghabiskan waktu mendekam di penjara. Sepertinya aku memang pantas mendapatkan itu."
Amar melihat reaksi Zico, tersenyum kecut dan terlihat jijik. 'Dan tidak habis pikirnya lagi, Anna jatuh kepada pria br*ngsek kayak gini? Bahkan, saat ini sedang memgandung anak si k*parat ini.'
Amar bangkit merasa sudah tidak kuat dengan tontonan yang membuatnya mual. "Baik lag, kalau begitu saya anggap kamu sepakat untuk dipenjara dari pada mengeluarkan uang bukan? Baik lah, penjara yang saya tuntut nggak lama kok. Cuma sepuluh tahun dengan pasal berlapis." Amar bergerak memberi kode kepada Darma untuk meninggalkan tempat ini.
Zico mencegat langkah Amar. "Tunggu dulu! Kita belum seleaai berbicara!" Zico nenarik tangan Amar memaksanya duduk kembali.
"Tunggu dulu dong? Kita belum menyelesaikan pembicaraan ini?"
"Katanya tadi memilih dipenjara?" tanya Amar kembali. Namun, Zico menggelengkan kepala dengan cepat.
"Lalu bagaimana keputusanmu? Saya tak bisa berlama-lama! Saya ingin mengabarkan berita ini kepada istri saya!" bentaknya.
"Tunggu dalam satu minggu! Saya akan berusaha dalam seminggu untuk dapat membayarkan semua denda dan biaya ganti rugi itu."
Amar tersenyum sinis tanpa mengatakan apa-apa keluar dari ruangan kerja tersebut.
"Kamu mau bayar semua itu pakai apa?" cicit Silvi merangkul lengan Zico.
"Dosa apa kita hingga mendapatkan cobaan seberat ini?"