Semua berawal saat Aisyah mengikuti acara kemping di sekolahnya, di tengah perjalanan, bus yang ditumpangi Aisyah dan teman-temannya mogok, sedangkan bus yang membawa Siswa-Siswi SMA Pertiwi sudah sampai tujuan, jadi mereka terpaksa harus menunggu bantuan datang. Saat tengah malam ketiga sahabatnya, Rudi, Dara, dan Andi. Mereka pergi melihat-lihat tempat sekitar, namun entah bagaimana caranya sampai mereka bisa tiba-tiba ada di sebuah kampung, dan Aisyah juga ikut terjebak di sana, bisakah mereka kembali dengan selamat?
"Yuk ikuti kisah menegangkan mereka!
Tahap revisi 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rijal Nisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Denis
"Dara ada di sini juga sayang, dia ada di kamar sebelah."
Mendengar kabar buruk itu Aisyah merasakan kepalanya semakin sakit.
"Aku tambah bingung dengan ini semua, Bun. Kenapa aku dan Dara bisa berada di sini, lalu teman-teman kita yang lain pada ke mana? Mereka di mana? Apa mereka juga selamat?" Aisyah terus bertanya, dia belum bisa tenang sebelum mengetahui keadaan teman-temannya.
Pertanyaan Aisyah membuat ibundanya gelagapan, wanita itu tidak tahu harus jawab apa. Karena semua teman-teman Aisyah sudah meninggal dalam kecelakaan tersebut, yang selamat hanya mereka berdua.
Melihat mata ibundanya yang mulai berkaca-kaca, Aisyah semakin khawatir, dia mulai berpikir yang bukan-bukan.
"Bunda, tolong jawab pertanyaan Aisyah! Bagaimana dengan teman-teman Aisyah yang lain? Rudi, Andi, dan mereka semua baik-baik saja kan?" kembali Aisyah bertanya.
"Mereka semua tidak selamat, Syah. Hanya kamu dan Dara yang selamat," ibundanya menjawab dengan nada sedih, tangis Aisyah tumpah seketika mendengar kabar buruk itu.
"Kenapa? Kenapa bisa jadi begini Bun, tolong anterin Aisyah ke ruangan Dara, Aisyah ingin bertemu Dara," pinta Aisyah, air matanya mengalir deras dia tak kuat menahan tangisnya. Dia harus kehilangan kedua sahabatnya secara bersamaan dan itu membuat hatinya hancur.
\*\*\*\*
Bu Indri mendorong kursi roda Aisyah menuju ruangan Dara dirawat.
Ternyata Dara juga sudah siuman, dan dia ditemani oleh ibu dan ayahnya.
Setelah Aisyah masuk, mereka semua sepakat untuk keluar dari ruangan itu agar anak-anak mereka bisa saling bicara dengan nyaman.
"Apa kamu merasa aneh dengan semua kejadian yang menimpa kita, Dar?" tanya Aisyah langsung ke intinya.
"Aku merasa ini semua tidak masuk akal Syah," jawab Dara.
"Apa kamu juga masuk ke kampung itu?"
"Ya, kita semua berada di sana termasuk Andi dan Rudi, tapi pada akhirnya hanya kita yang bisa kembali karena kita masih memiliki jasad di dunia, sedangkan Rudi dan Andi mereka berdua sudah tiada." Dara menatap hampa ruangan itu, dia sedih sama halnya dengan yang Aisyah rasakan.
"Aku pikir kampung sihir itu masih ada dan nyata, tapi tak tahunya itu semua hanya tipu daya Iblis yang membawa jiwa kita ke alamnya, dan menjadikan kita lupa bahwa sebenarnya kita sedang terbaring lemah di rumah sakit."
"Apa kamu masih ingat bagaimana kejadiannya hingga bus yang kita tumpangi bisa mengalami kecelakaan?" tanya Dara.
"Aku masih ingat, saat itu ada seorang kakek tua melintas di depan bus kita. Membuat pak Yanto menginjak rem tiba-tiba, dan dia membanting setir mobil hingga akhirnya, bus yang membawa kita pergi hari itu menabrak pohon yang cukup besar di tepi jalan yang sunyi," ujar Aisyah mengingat kembali kejadian tragis hari itu.
"Lelaki yang dilihat pak Yanto dan kita semua sebenarnya sudah tidak ada, dia sudah meninggal,' ungkap Dara.
Mata Aisyah membelalak lebar mendengarnya. "Kenapa kamu bisa tahu akan hal ini? Kamu tahu dari siapa?"
"Ibu dan ayahku yang mengatakannya tadi, dan cerita tentang kampung sihir itu memang ada, aku sangat bersyukur kita masih bisa kembali." Air mata Dara mengalir keluar dari sudut matanya, tangisan itu adalah tangis bahagianya juga tangis kesedihannya karena dia harus kehilangan dua sahabat baiknya.
"Anak kecil yang ikut kabur bersama kalian, dia juga ada di sini," ucap pak Aryo, ayahnya Aisyah. Lelaki itu entah sejak kapan berada di dekat mereka.
"Ayah juga kenal sama Denis?" Aisyah makin bingung dibuatnya.
"Iya, dia anaknya pak Surya. Cerita di balik kampung sihir itu sangat panjang Aisyah. Dan apa yang kalian alami di alam bawah sadar kalian itu semua pernah terjadi, itu nyata."
"Bolehkah kami menemui Denis?" tanya Dara berharap.
"Boleh saja, tapi jangan terkejut saat kalian melihat dia!" pesan pak Aryo.
"Maksud Ayah?" Aisyah menyipitkan matanya, tidak mengerti maksud dari ucapan ayahnya.
\*\*\*\*\*
Sore harinya Aisyah dan Dara masih berada di rumah sakit, mereka belum diizinkan untuk pulang ke rumah, karena kondisinya belum benar-benar pulih. Jadi, sore ini mereka pergi menjenguk Denis, dia juga berada di rumah sakit yang sama seperti mereka.
"Assalamualaikum..." ucap Aisyah dan Dara bersamaan.
"Waalaikumussalam..."
Begitu melihat sosok yang terbaring di atas ranjang rumah sakit, membuat Aisyah dan Dara memutar balik badan mereka hendak keluar dari ruangan itu. Karena mereka pikir bahwa ruangan yang mereka masuki bukan ruangan Denis.
"Kalian mau ke mana Aisyah, Dara?" tanya cowok itu, suaranya begitu indah terdengar di telinga Aisyah.
"Kita salah masuk ruangan enggak sih?" bisik Dara
"Denis kan anak kecil, tapi ini kok malah orang dewasa, ya?"
"Kalian tidak salah masuk ruangan, aku memang Denis," ucap cowok itu memberi tahu.
Serentak Aisyah dan Dara kembali memutar badan mereka dan berjalan lebih dekat dengan cowok yang dianggap Denis.
Aisyah pun akhirnya paham maksud dari ucapan ayahnya, yang mengatakan bahwa jangan sampai mereka terkejut saat melihat Denis, ternyata Denis bukan lagi anak kecil yang dilihat mereka saat berada di dunia lain.
Di sudut ruangan ada dua buah kursi, mereka kemudian mengambil kursi itu dan duduk di sisi ranjangnya Denis.
"Kalian ke sini pasti karena penasaran dengan kejadian yang serasa nyata itu, iya kan?"
"Iya, dan kamu bukannya Denis anak kecil itu ya?" tanya Dara, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, seandainya Denis tidak menyebut nama mereka berdua.
"Iya, aku memang denis anak kecil yang ikut kabur bersama kalian."
Denis akhirnya menceritakan kisah bagaimana dia bisa terjebak di kampung itu dan menjadi cucunya ki Dani.
Jadi, suatu hari Denis ingin pulang ke kampung halamannya, dan dia sengaja mengambil jalan pintas itu supaya terhindar dari macet, namun siapa sangka kalau kejadian yang menimpa Aisyah dan teman-temannya ternyata juga menimpa Denis.
Jiwanya juga ikut dibawa pergi oleh makhluk halus penunggu hutan itu. Saat membuka matanya Denis terkejut karena dirinya kembali lagi ke masa kecilnya sebagai cucu dari ki Dani, laki-laki yang menganut ilmu hitam.
Denis memang cucu ki Dani, dia adalah cucu kesayangan lelaki tua itu. Karena rasa sayang itulah makanya ki Dani tidak mau menjadikan Denis sebagai tumbal, namun permintaan Iblis harus diturutinya. Saat itu ki Dani tidak punya cara lain hingga dia menjadikan nyawa warga kampung sebagai tumbalnya hanya untuk menyelamatkan cucunya sendiri.
Denis kecil disuruh pergi dari kampung itu, di saat malam pemujaan dilaksanakan.
Denis pergi ke kota dan ki Dani langsung melakukan tugasnya, di malam yang sunyi dan rintik hujan mulai turun, di saat itulah dia membakar kediaman warga kampung, orang-orang di sana menjerit-jerit minta tolong, namun tak ada siapa pun yang datang.
Karena marah akhirnya Iblis itu menagih janji pada ki Dani, dia meminta nyawa lelaki tua itu karena sudah melanggar janjinya dengan menyuruh Denis untuk kabur dari sana.
Bukan nyawa warga kampung yang diinginkannya, melainkan nyawa cucunya sendiri. Tapi karena cucunya sudah tidak ada, maka ki Dani yang harus menggantikannya. Dan akhirnya ki Dani membakar tubuhnya sendiri dengan api yang sudah berkobar-kobar, dia mati.
Hingga kini tidak ada lagi orang yang berani menginjakkan kakinya di kampung itu, banyak yang bilang jalanan di sana sangat menyeramkan, dan angker. Jika ada yang melewati jalan itu pasti ujung-ujungnya akan mengalami kecelakaan, jika dia masih punya masa di dunia maka akan selamat, tapi jika tidak, maka dia akan mati di tempat itu juga. Dan nyatanya itu benar-benar terjadi, mereka adalah saksi akan peristiwa itu. Sebagian orang yang tidak percaya akan hal gaib seperti itu, mereka menganggapnya hanya sebagai mitos saja, namun ada juga yang percaya dan mereka menghindarinya supaya hal buruk tidak terjadi.
"Pantesan aja kalender di sana masih di tahun 2001," ucap Aisyah setelah Denis selesai menceritakan tentang kisah kampung sihir itu.
"Lalu sekarang kamu tinggal sama siapa?"
"Aku tinggal bersama tante aku, tapi mereka sekarang masih berada di luar kota, jadi tidak bisa menjenguk aku di sini."
"Kamu pasti sangat menyayangi kakek mu," lirih Dara, dia melihat mata Denis yang sepertinya menyimpan luka yang sangat dalam saat menceritakan akhir tragis dari kehidupan kakeknya.
"Ya, kamu benar, aku memang sangat menyayangi kakek ku, aku tidak menyangka kalau di akhir hayatnya dia masih menjadi budak setan." Mata Denis mulai berair, dia berusaha menahan tangisnya.
Sekarang mereka bertiga memang sudah kembali ke alam nyata, tapi apakah semua itu sudah berakhir, apakah Iblis itu tidak akan mengikuti mereka lagi?
Ini semua belum berakhir, ini baru akan di mulai, dan akan menjadi lebih menegangkan.
🌹