"Sakit, Mas! Apa yang kamu lakukan ke aku itu sangat menyakiti hatiku! Gimana bisa kamu ngelakuin ini ke aku, dan itu adalah adikku sendiri. Lalu kamu, kenapa kamu tega sama kakak mu ini haah!!"
Suara Swastamita bergetar hebat ketika berkata demikia kepada suaminya, Erdio Rasmaluyo.
Betapa tidak bergetar, rasa sakit di hatinya sangat nyata. Suami yang memintanya untuk melepaskan karinya demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya ternyata malah berselingkuh dengan adik tirinya.
Yang lebih mengejutkan adalah, perselingkuhan yang dilakukan Erdio dan Medini itu diketahui oleh sang ibu.
Sakit hati Swastamita ketika mengetahui bahwa di rumah itu hanya dirinya yang tak tahu apa-apa.
Adik tiri yang sangat ia sayangi melebihi dirinya sendiri tega menjadi duri dalam daging pada rumah tangganya. Dan suami yang ia jadikan imam, malah menorehkan luka yang begitu dalam.
Bagaimana Swastamita menghadapi rasa sakit yang dirasakannya tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Tok tok tok
"Mit! Mita!!! Buka pintunya Mit!"
Setelah satu pekan sejak kejadian itu, Erdio akhirnya mendatangi Mita. Dia tidak bisa mengunjungi Mita dari kemarin karena kerja lembur yang harus dilakukannya. Tapi Malam ini Erdio langsung menuju ke rumah Mita meski dia baru saja pulang kerja lembur.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Pesan itu berupa foto tentang dokumen panggilan negeri agama Kota Magelang tentang gugatan perceraian.
Surat tersebut dijatuhkan ke alamat Bakri dan Jumilah, sehingga Erdio baru tahu setelah ayahnya mengiriminya pesan. Sontak Erdio terkejut. Ia pikir Mita yang diam saja tak akan berbuat sejauh ini. Terlebih Erdio yakin bahwa Mita begitu mencintainya.
"Mit! Mita!! Buka pintunya!" teriak Erdio lagi di depan pintu.
Mobil Mita yang tidak ada di depan rumah tak membuat Erdio menyerah. Dia sama sekali tidak berpikir bahwa Mita tidak ada di rumah. Erdio hanya berpikir bahwa Mita menyembunyikan mobilnya untuk sengaja menghindarinya.
Tok tok tok
MITA!!!
Kali ini Erdio memanggil nama Mita dengan begitu keras. Dia sungguh sangat tidak sabar ingin bisa bertemu dengan istrinya.
"Lho Mas, nyari Mbak Mita? Lha aku pikir Mbak Mita lagi d rumah mertuanya. Sudah seminggu ini rumah ini kosong kok."
Degh!
Seorang pria paruh baya yang lewat depan rumah menghampiri Erdio. Biasanya memang ada warga setempat yang melakukan ronda keliling seperti ini sambil mengambil jimpitan.
"Mita pergi?" tanya Erdio dengan kening yang berkerut.
"Iya Mas, udah seminggu ini rumah kosong. Jimpitan aja langsung dititipin sama Pak RT kok. Kok Mas Erdio malah ndak tahu to, kalian kan suami istri?" sahut bapak itu.
Erdio tak mengacuhkan ucapan si bapak. Dalam kepalanya sekarang hanya sibuk bertanya, dimana Mita sekarang ini?
Erdio langsung melenggang pergi setelah berpamitan. Di dalam mobil, Erdio mencoba menghubungi Mita. Namun mau sebanyak apapun dia mencoba menelpon dan mengirim pesan, tak ada satupun jawaban dari Mita.
"SIAL!"
Erdio mengumpat marah. Dia merasa kacau saat ini karena tak menemukan Mita di rumah.
"Kemana perginya dia? Dia kan nggak punya siapa-siapa?" tanyanya entah pada siapa.
Erdio mondar-mandir di teras rumah milik Mita. Dia mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri. Dia mencoba berpikir, kemana perginya Mita saat ini.
Bagaimanapun juga, Erdio merasa bahwa ia harus menemui Mita saat ini juga. Dia harus mengonfirmasi terkait surat gugatan yang dilayangkan Mita padanya.
"Nggak bisa. Ini nggak bisa dibiarin. Aku nggak boleh pisah dari Mita. Aku nggak bisa cerai dari wanita itu. Aku cinta sama dia, aku bener-bener nggak bisa pisah dari dia. Mit, nggak Mit. Aku nggak mau cerai sama kamu. Aku beneran nggak mau."
Drtzzzz
Drtzzzz
Ponsel Erdio berdering dengan sangat nyaring. Awalnya dia enggan menjawab panggilan tersebut karena berasal dari Medi, namun mau tidak mau ia pun harus menjawabnya karena sudah berkali-kali berbunyi.
Dengan kesal, Erdio menjawab panggilan dari wanita itu, "Ada apa?" ucapnya dengan nada ketus.
"Ughh Mas, perutku sakit banget. Tolong, Mas. Aku nggak bisa ngapa-ngapain. Ibu nggak ada di sini. Ibu pulang kampung ke Jawa Timur. Tolong Mas, ini sakit banget," jawab Medi di sebrang sana.
"Halah, jangan manja napa. Kamu ngapusi (bohong) kan? Kamu cuma mau aku ke situ kan?" sahut Erdio. Dia sangat enggan jika harus bertemu dengan Medi saat suasana hatinya sedang tidak baik seperti sekarang.
"Nggak Mas, aku nggak bohong. Perutku sakit banget. Aku takut Mas, aku takut keguguran. A-ada darah di kaki aku. Aku mohon Mas, kesini."
Mata Erdio membulat sempurna ketika mendengar ucapan Medi, namun tak lama kemudian sebuah seringai terbit di bibir pria itu.
"Ya udah tunggu, aku ke situ. Awas kalau bohong kamu ya."
Erdio menutup ponselnya. Dia bergegas masuk ke mobil dan melajukan mobilnya menuju ke tempat Medi berada.
"Bagus, aku harap itu bener-bener keguguran. Kalau Medi beneran keguguran, aku bisa balik sama Mita tanpa ada halangan apapun."
TBC
typo kak
stidak nya kasih epilog lh,spya tau lingga nnggu Mita menerima perasaannya brapa lama,,