Arsyila Qiana Azzahra. Perempuan berusia 32 Tahun. Belum Menikah. Cerdas, Mandiri, Berprestasi dan Berbakti kepada kedua orang tua.
Satu yang belum Arsyila miliki diusianya yang sudah kepala tiga, SUAMI!
Kedua Orang tua Arsyila menginginkan putri satu-satunya menikah seperti anak perempuan keluarga lain seusianya bahkan telah memiliki anak.
Beberapa pria datang melamar Arsyila namun Arsyila menolak hingga disatu titik ucapan Bapaknya seolah mengetuk sanubari Arsyila.
Akankah Arsyila tetap Menanti Cintanya? atau Takdir yang akan mempertemukan Arsyila dengan jodohnya?
Semoga cerita ini bisa menjadi insprirasi dan dapat diambil pelajaran baik dan buruknya jangan diikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pradana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penutupan KKN
..._________🍃🌺🍃_________...
...Assalamualaikum Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Selamat Membaca!...
..._________🍃🌺🍃_________...
..."...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”...
...(QS Al Baqarah [2]: 216)....
Sebagai Dosen pembimbing KKN, kedatangan Syila hari ini di desa Mekarsari mendampingi mahasiswa bimbingannya yang menjalankan tugas KKN di desa Mekarsari dan sampailah dipenghujung waktu dimana hari ini adalah hari terakhir sekaligus penutupan kegiatan KKN mahasiswa di desa tersebut.
Tampak kejadiran Pak Kades beserta jajarannya tak lupa pengurus PKK yang selama ini melibatkan Mahasiswa dalam kegiatan mereka.
Rangkaian acara demi acara berlangsung dengan lancar.
Sambutan oleh perwakilan mahasiswa diwakilkan oleh Angga sebagai ketua kelompok menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan kegiatan KKN ada kesalahan baik yang disengaja maupun tidak.
Selanjutnya sambutan dari Pak Kades desa Mekarsari.
Dalam sambutan Pak Kades mengucapkan terima kasih dan peemohonan apabila penyambutan dan penerimaan selama adik-adik mahasiswa melaksanakan kegiatan KKN di desa Mekarsari ada yang kurang berkenan.
Sambutan terakhir tentu saja datang dari Arsyila selaku dosen pembimbing KKN sekaligus perwakilah Universitas Gemilang mengucapkan terima kasih atas kesediaan desa Mekarsari sudah berkenan untuk menerima mahasiswa dalam menjalankan kegiatan KKN.
Tak lupa Arsyila meminta maaf apabila selama pelaksanaan KKN dan keberadaan mahasiswa di desa Mekarsari membuat tidak nyaman, mengganggu aktivitas atau ada salah, khilaf yang disengaja maupun tidak.
Sesi yang ditunggu adalah pemberian cinderamata dari pihak mahasiswa kepada desa Mekarsari dalam hal ini di wakilkan oleh Pak Kades yaitu Bapak Bima.
Sebuah Plakat bertuliskan nama dan logo kampus yang ditandatangani oleh Pak Rektor resmi diserahkan kepada Bapak Kepala Desa secara simbolis.
Dilanjutkan dengan foto bersama.
Pak Bima yang berdampingan dengan Arsyila dan kemudian disusul barisan mahasiswa KKN dan jajaran perangjat Desa dan pengurus PKM.
Ramah tamah dan santap siap kini berlangsung penuh keakraban.
Mahasiswa yang dibantu warga desa untuk mewujudkan semuanya tentu saja kedekatan tercipta selama KKN berlangsung.
Saat sedang menikmati jamuan, Pak Bima mendekati Arsyila.
"Bu Syila bisa bicara sebentar?"
"Silahkan Pak Kades."
"Maaf Bu Syila apakah sudah berkeluarga?" basa basi Bima walaupun ia sudah tahu beberapa hal pribadi mengenai status Syila yang masih lajang belum menikah.
"Maaf Pak Kades. Mengapa Bapak bertanya begitu?"
"Maafkan Saya Bu Syila. Bukan bermaksud apapun hanya saja Saya ingin mengatakan sesuatu, dan Saya harap Saya tidak salah. Untuk itu Saya harus memastiakn satu hal."
"Maksud Bapak apa ya?"
"Saya ingin menyampaikan kepada Bi Syila, bahwa Saya menyukai Bu Syila. Untuk itu Saya bertanya apakah Bu Syila sudah menikah atau sudah di lamar oleh seseorang?"
Jeger!
Pengakuan cinta Bima tentu saja mengejutkan Arsyila.
"Maafkan Saya Pak Kades, namun Saya memiliki pemahaman tidak untuk berpacaran."
Syila menangkupkan kedua tangannya di dada sambil menetralisir keterkejutannya.
"Saya juga tidak mengajak Bu Syila pacaran. Saya sudah cukup usia Bu untuk hal itu. Saya berniat yang lebih serius dengan Bu Syila. Jika diperkenankan bolehkah Saya mendatangani orang tua Bu Syila, karena Saya ingin melamar ibu kepada kedua orang tua Bu Syila."
Tentu saja sekilas Syila menatap pada Bima, namun Syila segera menurunkan pandangannya beristigfar bagaimanapun Syila tahu tak layak pandangannya seperti itu pada yang bukan mahrom.
"Pak Kades dan Saya sama-sama sudah cukup usia. Bagaimanapun, hal ini tentu saja harus Saya fikirkan dan Saya bicarakan dulu dengan kedua orang tua Saya."
"Baiklah Bu Syila. Saya menunggu jawaban atas kesediaan ibu atas permintaan yang Saya sampaikan tadi. Berapa lama?"
Syila menarik nafasnya sebentar.
Sungguh hal yang diluar nalar dan prediksi Syila.
Syila sendiri tak pernah terpikir akan perasaan Bima padanya.
"5 hari." jawab Syila.
Bima sekilas memandang wanita yang akan membuat ia harap-harap cemas selama 5 hari kedepan.
"Baiklah. Semoga bisa lebih cepat. Insha Allah Saya akan menunggu kabar dari Bu Syila. Besar harapan Saya Bu Syila memberikan jawaban yang Saya harapkan."
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun Pak Kades. Karena waktu yang Saya minta tersebut akan Saya gunakan untuk berdiskusi dengan kedua orang tua Saya dan tentunya petunjuk dari Allah."
"Jika begitu, Sayapun akan melangitkannya dalam sepertiga malam. Agar doa kita saling bertemu dan Allah merestui itu."
"Semoga Allah memberikan petunjuk dan menuntun kita mengambil langkah yang terbaik menurut kehendaknya."
"Aamiin."
Bima mengaminkan perkataan Syila dengan harapan besar Allah akan memuluskan jalannya menjadikan wanita yang sejak pertama kali kejadirannya di Desa Mekarsari telah mencuri hati Bima.
"Permisi Pak Kades, Bu Syila. Saya ingin menyampaikan acara sudah selesai. Kami mohon izin untuk packing dan bersiap pulang."
Kehadiran Angga memecah canggung dan membuat keduanya kembali berbaur dengan lainnya.
"Pak Kades Saya mau melihat mahasiswi Saya dulu. Permisi."
Syila pamit meninggalkan Angga dan Pak Kades.
"Silahkan Bu Syila."
Syila berlalu meninggalkan kedua pria yang mengiri langkahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Angga hendak berbalik sebelum langkahnya dihentikan oleh Bima.
"Mas Angga, bisa kita berbicara sebentar?"
Angga menatap pada Pak Kades kemudian mengikuti Bima masuk ke dalam ruangan dan mereka berbicara.
Kini Syila beserta rombongan Mahasiswa sudah berada dalam mobil.
Syila yang sedang duduk sambil melihat jalan tak menyadari sejak tadi Angga yang sedang mengemudikan mobil sesekali melirik Bu Dosen cantiknya.
Angga teringat perbincangannya dengan Pak Kades seputar Arsyila.
Entah ada rasa yang sulit didefinisakan kata untuk Angga di dalam hatinya manakala mendengar peenyataan Pak Kades kepada Angga untuk Dosen yang memiliki paket komplit menurut Angga.
Hingga tak menyadari Angga larut dalam lamunannya Angga hampir saja menabrak seekor kucing namun berhasil dihentikan karena suara Syila menyadarkan lamunan Angga.
"AstagfirullahAladzhim."
Untung saja Angga sigap mengerem sebelum kucing itu tertabrak.
"Angga kamu tidak apa-apa?"
Syila melihat Angga yang sempat melamun.
Bukannya menjawab Angga justru mengkhawatirkan Syila.
"Masya Allah, maafkan Saya Bu Syila. Bu Syila tidak apa-apa kan?"
Mata Anda memperhatikan dan memastikan Syila tak terbentur karena rem mendadak.
Angga segera memalingkan pandangannya manakala kedua mata mereka beradu pandang.
Bagaimanapun keduanya tentu pria dan laki-laki dewasa berdosa bila memandang terlalu lama kepada yang bukan mahrom.
"Tidak, Ibu tidak apa-apa. Kamu yakin bisa melanjutkan menyetir?"
"Saya gapapa Bu. Alhamdulillah, Syukurlah Bu Syila tidak apa-apa. Sskali lagi Saya mohon maaf karena telah hampir membuat Bu Syila dan dan yang lain celaka."
Syila dan Angga kompak memastikan penumpang di baris tengah namun nampaknya Hanum dan Danu malah tidur nyenyak sekali tak terbagun dan tidak menyadari kejadian tadi.
"Sepertinya penumpang aman Bu. Masih asik bikin film di mimpi."
Mendengar perkataan Angga Arsyila tersenyum.
"Masya Allah senyum Bu Syila. Tapi, Ah sudah lah." Angga berbicara dalam hatinya.
"Kita lanjut ya Bu. Bismillahirrahmahnirrahim."
Angga kembali menjalankan mobil dengan doa mengiringi keselamatan mereka sampai tujuan.
...”Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” ...
...(QS Al-Baqarah: 235)....
..._________🍃🌺🍃_________...
...Waalaikumsalam Wr.Wb....
...Reader jangan lupa support...
...Like dan Kembang Kopinya ya!...
...Terima Kasih sudah membaca karya Author...
...Alhamdulillah...
..._________🍃🌺🍃_________...
sementara ibu nya Dimas sudah mau memberikan Restu dan mendatangi kedua orang tua syila
tapi koq gak jadi
ya seperti flasback gitu kak biar gak penasaran aja para readers nya
akhirnya syila menemukan jodoh nya
semoga samawa