Tak ada yang menginginkan perceraian terjadi, demikian halnya dengan Sabina Carissa. Wanita 32 tahun yang hidup di Jakarta itu harus menelan pil pahit. Pernikahannya dengan Radis yang berjarak usia 12 tahun akhirnya kandas di tengah jalan.
Galih Ahsan, lelaki 25 tahun yang bekerja menjadi reporter surat kabar mendadak terjebak pernikahan dengan Sabina tanpa dihadiri orang tuanya. Tak ada pilihan, dua insan akhirnya memutuskan saling membuka diri, hingga Galih mendapat kabar ibunya sakit dan keduanya harus pulang ke kota kelahiran Galih.
Di kota dengan sebutan kota pelajar, bahtera yang dibangun Galih mulai diterpa badai. Sebuah kebenaran terbuka, ayah tiri Galih yang baru satu tahun menikahi ibunya adalah mantan suami Sabina.
Mampukah Galih mempertahankan keutuhan rumah tangganya sedang Radis mulai menyesali perceraiannya?
"Kamu ngapain selalu ikutin aku? Aku janda, anakku dua. Berhenti ganggu aku!" (Sabina)
"Masa sih? Aku pikir mbak baru lulus SMA!" (Galih)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ITU ANAK SABINA
Sabina memejamkan mata merasakan sapuan semilir angin menyapu wajahnya. Sabina membuka mata dan menoleh ke arah kanan di mana putra kecilnya tengah menatap ke luar jendela yang tertutup. Entah apa yang sedang dilihat Zio, tapi putra kecil Sabina itu begitu menikmati aktivitasnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri seolah ada banyak hal yang ingin ia lihat.
Zio memang jarang dan hampir tak pernah Sabina ajak ke pusat kota di mana banyak lampu-lampu dan bangunan tinggi menjulang yang memanjakan mata siapa yang memandang. Zio biasanya hanya melihat pemandangan di sekitar apartemen Viola saja, namun kini Zio tahu bahwa keadaan di pusat kota lebih gemerlap dan terdapat lebih banyak bangunan tinggi pula. Ia pun merasa senang.
Beberapa saat lalu seorang sopir keluarga Edo memang datang menjemput Sabina dan langsung mengajak Sabina dan Zio menuju mobil yang terparkir di pelataran. Sabina yang awalnya ingin mengajak Viola harus mengurungkan niatnya karena Viola terlihat begitu lelah, Sabina urung mengganggu Viola dan akhirnya hanya berangkat bersama Zio.
Bersyukur lalu lintas malam itu cukup lancar. Dalam dua puluh menit perjalanan, mobil yang membawa Sabina sudah sampai ke tempat yang dituju. Pak sopir pun langsung mengarahkan Sabina ke dalam rumah nyaman berlantai dua yang tampak cantik dalam dominasi biru mudanya.
Sabina merasakan eratan jemari Zio bertambah kuat saat keduanya masuki rumah dengan beberapa lukisan abstrak tersebut. Sabina berhenti, ia memeluk Zio dan berbisik. "Tenang Sayang ... penghuni rumah di sini baik-baik semua. Zio jangan takut, ya!" Sebuah kecupan didaratkan Sabina setelahnya di puncak kepala Zio. Zio mengangguk. Sabina melihat kondisi Zio lebih baik, bahkan eratan jemari Zio telah merenggang. Sabina tersenyum.
Dua raga seketika menghampiri saat diketahui sosok yang sejak tadi ditunggu telah tiba. Senyum tergambar di wajah sepasang suami istri tersebut. Arumi sang istri langsung mendekat dan memeluk hangat Sabina, ia senang Sabina bisa memenuhi undangannya dan tak berubah pikiran. Sebaliknya Edo sang suami terlihat menganggukkan kepala melihat keberadaan Sabina di rumahnya.
Arumi yang sejak awal bertemu sudah menyukai Zio, langsung spontan memeluk tubuh kecil Zio dan mendaratkan beberapa kecupan di pipi chubby Zio. Zio tampak malu, ia menyembunyikan wajah setelahnya di belakang tubuh Sabina.
"Ayo kita langsung ke ruang makan, yuk!" ajak Arumi hangat dengan senyum sumringah. Sabina menurut mengikuti gerak langkah Arumi ke meja makan. Netra Sabina membulat melihat banyaknya menu terhidang.
Kami hanya berempat, mengapa menunya banyak sekali, bukankah ini suatu kemubadziran?
Sabina hanya bisa membatin dalam hati. Bagaimana pun ia hanya seorang tamu, Sabina tak ingin kata-katanya tak sesuai hati pemilik rumah.
"Jangan bengong, ayo duduk!" kata Arumi lagi berusaha menyemarakan suasana yang hening. Sabina tersenyum dan duduk di tempat yang ditunjuk Arumi demikian pula dengan Zio.
"Jangan sungkan, Bin! Anggaplah di rumahmu sendiri," kata Edo mendekatkan wadah nasi ke dekat Sabina. Edo berusaha menjamu tamu sebaik mungkin.
"Terima kasih, Pak."
Sabina setelahnya mengambil nasi dan beberapa lauk ke piringnya. Berhubung Zio sudah makan di rumah tadi, Zio hanya memakan bubur kacang hijau dengan roti tawar yang sengaja dibuat Arumi spesial untuk Zio. Zio begitu menyukai bubur kacang buatan Arumi, ia begitu lahap menyantapnya.
"Apa tadi di perjalanan macet?" tanya Edo setelah menelan makanan di mulutnya.
"Alhamdulillah lancar, Pak," jawab Sabina mengambil tisu dan menyapu bubur kacang yang tercecer di sudut bibir Zio.
"Apa aktivitasmu beberapa hari belakangan ini, Bin?" tanya Arumi setelahnya sambil menambahkan rendang ke piring Sabina.
"Mbak, jangan! Ini sudah cukup!" Sabina tersenyum getir melihat lauk bertambah lagi di piringnya.
"Gpp, kamu harus makan banyak di sini! Oh ya, jadi gimana, apa saja aktivitasmu belakangan ini?" Arumi memasukkan suapan ke mulutnya dan mengunyah perlahan.
"Aku masih fokus menghabiskan waktu sama Zio, Mbak. Ya, sambil melakukan setiap aktivitas ibu-ibu pada umumnya," terang Sabina. Arumi mengangguk.
"Dan selanjutnya, apa rencana kamu?" sergah Edo. Ia menatap wajah Sabina sekilas dan mengalihkannya. Edo harus menjaga perasaan Arumi dan menjaga hubungannya yang telah membaik.
"Rencananya saya akan berjualan online, Pak."
Edo menatap Sabina tanpa kata. Ia melanjutkan aktivitas makannya. Suasana makan masih berlangsung saat Galih tiba-tiba muncul ke ruang makan. Galih terlihat kaget sebab ada Sabina di rumah om dan tantenya.
"Gal, kamu datang? Tumben nggak mengabari lebih dulu sih. Kamu sudah makan belum? Langsung gabung yuk, kita makan malam bareng!" ucap Arumi santai.
Galih sedang fokus melihat lelaki kecil yang duduk di sisi Sabina hingga tak mendengar jelas ucapan Arumi.
"Gal!"
"Eh i-ya, Tante."
"Kok bengong, ayo sini gabung kita makan malam bersama!" kata Arumi lagi. Galih akhirnya mengangguk. Ia berjalan mendekati meja makan dan duduk di hadapan Sabina duduk.
"Ambil nasi yang banyak kamu, Gal! Badan kamu kayaknya agak kurusan," kata Edo saat Galih mulai menyendok nasi ke piring.
"Masa sih, Om. Kayaknya segini-segini aja deh. Oh ya, tumben ada tamu di rumah, dalam rangka apa, Om?"
"Memangnya kalau mengundang tamu ke rumah harus ada acara, Hem? Kami nggak ada momen apapun, lagi pengen ajak Sabina makan di rumah aja," sergah Arumi meletakkan satu gelas air mineral ke dekat Galih.
"Oh ya, i-ni siapa?" kata Galih menatap lekat Zio. Zio berkali melirik Galih namun kembali melihat bubur kacang hijau yang sedang dimakannya.
"Itu anaknya Sabina! Lucu ya, Gal!" lontar Arumi menambahkan kentang balado ke piringnya. Ia melanjutkan makan setelahnya.
"O-h ja-di ... ini anak Sabina?"
"Kok malah nanya lagi sih? Kurang jelas Tante bicara, Iya itu anak Sabina!"
______________
Bersambung ....
beraninya keroyokan.
lawan sendiri kalo berani
Sementara jafi suster pribadinya Galih aja Bina
pastinya ditolong lah ya sisi kemanusiaan Bina kan masih tinggi