"Papa, jahat! Rara mau mama bukan bunda!"
Rara berlari keluar rumah tanpa menggunakan alas kaki. Bara dengan cepat mengejar Rara yang berlari sembari menangis. Ia menyesal.
Bara meraih tubuh anaknya yang sudah dewasa, bukan lagi anak kecil yang dulu selalu dimanja.
"Papa jahat ... hiksss ...." Rara menangis dalan pelukan Bara. Melepas semua rasa rindu yang ia tahan selama bertahun-tahun untuk mamanya.
"Kita cari keberadaan mama ya," bisik Bara ditengah pelukan mereka. Membuat Rara semakin menangis usai mendengar perkataan sang papa.
"Papa harus menuhin janji itu. Rara nggak mau kalau Papa ingkar lagi." Bara mengiyakan permintaan anaknya.
Hatinya seperti tercabik-cabik melihat buah hatinya yang sudah lama tak bertemu Rida menangis pilu di hadapannya karena keputusannya yang bodoh juga rindu yang menggebu di hati sang anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arina rizqin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Mama 21
"Aku sudah membuatnya tidak sadarkan diri." Nanda mengirim pesan teks tersebut pada nomer rahasia di handphonenya.
"Lanjutkan." Balasan pesan dari nomer rahasia membuat Nanda tersenyum miring.
Ia menatap Rida yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di atas ranjangnya. Ia memperhatikan setiap inci wajah Rida, juga tubuhnya yang semampai. Cantik.
Ia melangkah mendekat ke arah Rida seraya melepas baju atasnya. Ia menaiki kasur, lalu sedikit menurunkan baju yang Rida kenakan hingga sedikit memperlihatkan dadanya.
Ia berbaring di samping Rida dan memeluknya dari samping. Nanda menaiki selimut sampai menutupi hingga batas dada.
Ia meraih ponselnya yang berada dalam saku, membuka lockscreenn dan memencet kamera. Layar handphonenya langsung memperlihatkan Nanda juga Rida yang nampak seperti orang sehabis melakukan hubungan intim.
Ckrek ....
Ia tersenyum puas melihat jepretannya, benar-benar jernih. Sehingga siapa pun yang melihatnya pasti langsung berpikir yang tidak-tidak.
Ia mengirim foto tersebut ke nomer rahasianya. Ia sungguh tidak sabar untuk mendengar kabar usai 'si target' menerima fotonya.
"Bagus! Kerjamu bagus sekali." Pesan dari nomer rahasia membuatnya tersenyum bangga.
***
Sepanjang perjalanan, senyum tersungging dari bibir Bara. Ia merasakan perasaan bahagia yang sudah lama tidak ia rasakan.
Rara menikmati es krim di pangkuannya tanpa memperdulikan sang ayah yang tersenyum seorang diri. Rasa bahagia seperti menyalur pada otaknya hingga membuat hatinya terasa tenang.
"Rara seneng, sayang?" Bara menolehkan kepala, memperhatikan gadis kecilnya yang sedang menyantap es krim di tangannya dengan nikmat.
"Seneng banget, Pa." Rara tersenyum lebar membuat mmatanya nampak mengecil. Bara gemas hingga akhirnya menjiwil pipi gembil sang anak.
"Maafin Papa ya, sayang." Bara mengusap kepala Rara menggunakan tangan kirinya yang tidak menyetir.
Rara hanya menganggukkan kepala tanpa tau maksud dari ucapan maaf ayahnya. Yang Rara tau, hatinya sedang bahagia.
"Rara mau cerita sama Bibi!" seru Rara semangat ketika mengingat momen hari ini. Ia akan menceritakan kisahnya dengan sang mama hari ini kepada sang pembantu yang sudah dianggap nenek sendiri oleh Rara.
Bara tak menanggapi lanjut, hanya tersenyum lebar seraya mengelus rambut halus milik Rara dengan sayang.
Mereka sudah tiba dipekarangan rumah, matahari yang mulai turun perlahan menunjukkan pergantian waktu yang akan datang. Bara membukakan pintu mobil untuk Rara layaknya seorang putri kerajaan.
Rara tersenyum bahagia seraya loncat keluar dengan tangan Bara sebagai tumpuannya. Tanpa menghiraukan sang ayah, Rara berlari kencang menuju dapur rumah.
"Nenek," teriak Rara membuat Bi Iyem terkejut. Syukur saja piring ditangannya tidak jatuh.
"Ada apa, Neng Rara?" Bi Iyem mensejajarkan dirinya dengan Rara sembari memperhatikan anak majikannya itu.
"Rara bahagia banget," ucap Rara menggebu. Tubuh mungilnya langsung menubruk tubuh Bi Iyem, membuatnya hampir terjungkal.
"Coba cerita ke Nenek, apa yang membuat Neng Rara bahagia banget?"
"Rara habis ketemu Mama. Terus tadi mama masak untuk Rara dan papa, terus kita pergi bermain di mall." Pancaran mata bahagia membuat hati Bi Iyem senang. Sudah lama sekali ia tidak mendengar cerita dari Rara, anak majikannya yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri.
"Mama masak apa untuk Neng Rara?" tanya Bi Iyem menanggapi Rara.
"Mama masak telur bawang kesukaan Rara. Rara cinta masakan mama dan Nenek. Hihihi." Rara cekikikan seraya menutup bibir kecilnya dengan tangan mungilnya.
"Pasti Neng Rara capek, 'kan? Ayo Nenek anterin ke kamar." Bi Iyem meraih Rara ke dalam gendongannya, ia membawa Rara menuju kamarnya Rara yang berada di lantai satu.
Rara terlihat senang saat Bi Iyem menggendongnya, ia mulai mengalungkan tangannya pada leher Bi Iyem, kepalanya bersender di pundak dan matanya pun terpejam secara perlahan-lahan seiring langkah kaki Bi Iyem membawanya menuju kamar.
Beberapa menit usai Bi Iyem meletakkan Rara di kamarnya. Bara datang menghampiri dengan paper bag di tangannya.
"Ini oleh-oleh dari Rida untuk bibi." Nada Bara saat mengatakan nada Rida seperti mengandung emosi yang sulit ditahan.
Ya, Rida memang membelikan baju untuk Bi Iyem juga Dadang. Dia menitip pada Bara oleh-oleh dari mall untuk mantan kedua pembantunya itu.
"Ya Allah, Bibi jadi kangen sama Nyonya." Bi Iyem terlihat menghapus air matanya yang akan menetes. Pembantu di sana memang terbilang cukup dekat dengan keluarga tersebut.
"Ini sekalian nitip buat Pak Dadang ya, Bi. Soalnya saya mau pergi dulu, nitip Rara sebentar." Bara menyodorkan paper bag milik Pak Dadang. Ia membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan rumah.
Nadia yang sedari tadi mendengar percakapan antara Bi Iyem dan Bara mengepalkan tangan. Matanya menyiratkan amarah yang membara. Bagaimana bisa Bara memberikan barang penitipan dari Rida? Bukankah sama saja mereka bertemu? Ia membatin.
Nadia meninggalkan tempatnya mencuri dengar percakapan Bara. Ia berlari ke kamarnya dan meraih ponsel juga tasnya. Lalu, ia turun melewati Bi Iyem yang menatapnya aneh.
Di rumah itu, tidak ada yang menganggap keberadaan Nadia. Bahkan, jika Rara sudah besar pasti ia yang akan paling menentang keberadaan wanita yang sudah membuat orang tuanya tidak tinggal bersama lagi.
***
Bara mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia menggenggam kemudi setir dengan erat, menyalurkan amarahnya yang sedang mencuat.
Ia melirik handphonenya yang sedang menunjukkan foto mantan istrinya yang sebenarnya belum ia ceraikan. Ah! Ia tidak pernah menceraikan Rida secara sah! Jadi, Rida masih tetap istrinya.
Bagaimana bisa istrinya itu bersetubuh dengan lelaki lain saat dirinya masih berstatus sebagai suaminya? Mengapa semuanya menjadi semakin rumit!?
Bara berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang nampak kosong. Ia keluar dari mobil dengan membanting pintu mobilnya hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Dari mana kau mendapatkan foto ini!?" Bara langsung menendang pintu rumah tersebut, membuat sang penghuni terkejut sebelum akhirnya tersenyum licik.
"Seperti permintaanmu diawal perjanjian, aku mengawasi istrimu dengan ketat. Apapun yang ia lakukan berada di bawah pengawasanku. Untuk informasi dari mana aku mendapatkan foto ini, kau tidak perlu mengetahuinya." Sari tertawa lantang dalam hatinya. Akhirnya! Akhirnya ia bisa mempermainkan perasaan orang-orang. Bahkan, anaknya sendiri ia jadikan mainannya.
Bara mengepalkan tangan usai mendengar perkataan wanita tua di hadapannya. Dadanya nampak naik turun memperlihatkan amarah yang sedang menguasainya.
"Jangan pernah bermain-main denganku," desis Bara seraya menatap Sari tajam. Namun, tatapan yang biasanya mampu membuat orang lain takut padanya tak berlaku pada wanita tua di hadapannya.
"Hahahah." Sari tertawa lantang melihat tatapan Bara yang tidak ada artinya.
"Aku bukan bocah kecil yang akan takut saat kau menatapnya seperti itu. Aku sudah melewati fase kehidupan lebih lama darimu, bahkan aku pernah bertemu dengan lelaki bertatapan tajam yang melebihi tatatapanmu itu. Jadi, hentikan tatapan menggemaskan itu."
Bara merasa harga dirinya sedang direndahkan. Namun, dirinya masih waras untuk tidak melakukan hal yang diluar batasan.
"Jangan menggangguku selama kesabaranku masih ada." Bara memperingati sembari melangkah keluar dari rumah tersebut.
"Dia bukan lagi istrimu! Jadi, untuk apa kau marah?" Sontak saja perkataan Sari membuat Bara terhenti melangkah.
"Kau tidak tau apa-apa! Yang kau tau hanyalah rencanamu berjalan lancar! Ingat, aku bisa lebih jahat darimu jika kau berani macam-macam denganku. Dan aku paling benci di bohongi." Kali ini Bara benar-benar keluar rumah itu tanpa menghiraukan Sari yang mengepalkan tangan dan menatap Bara sinis.
Usai Bara pergi meninggalkan kediaman Sari, Nadia datang ke sana dengan mata dipenuhi amarah.
Brak ....
Kedatangan Nadia tentu saja membuat ibunya terkejut. Karena, ia merasa tidak memanggil Nadia untuk datang padanya.
"Mau apa kamu, Nad?" tanya Sari heran. Serta menahan diri untuk tidak melempar anaknya dengan handphone di tangannya.
"Mama bilang akan membantuku untuk mendapatkan Bara! Tapi, kenapa sekarang aku merasa Bara akan kembali bersama Rida!? Apa Mama tau kalau mereka sehabis pergi berjalan-jalan bersama anaknya itu!?" Napas Nadia memburu, dadanya kembang kempis dengan tangan mencengkram tasnya erat. Berusaha mengendalikan emosinya.
"Kita butuh proses, sayang. Tenang saja. Saat semuanya sudah kondusif, Mama akan melakukan janji yang Mama ucapkan padamu. Mama akan menjamin kalau Bara dan Rida tidak akan kembali bersama." Ucapan yang Sari ucapkan nyatanya tak membuat emosi Nadia langsung reda. Nadia masih dengan amarah ketika datang.
"Mama tau? Mama udah berkali-kali bilang kayak gitu! Tapi, sejauh ini nggak ada apapun yang aku dapatkan. Bahkan, ucapan merendahkan selalu aku dapatkan dari Bara! Aku capek, Mah!" Nadia mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam pada sang mama.
"Sebagai jaminan. Kalau Mama melanggar janji Mama, Mama akan membebaskan kamu untuk hidup sesuai keinginan kamu."
Amarah Nadia berangsur reda usai mendengar jaminan dari sang mama atas usahanya. Tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakannya!
ditunggu lanjutannya