Menceritakan tentang Detektif Dean sebagai seorang Kapten polisi yang memecahkan misteri pada kasus-kasus pembunuhannya. Petualangannya bersama rekannya Bima membawa mereka pada pengalaman mengungkap para pembunuh di sekitarnya. Ada kasus yang benar-benar membuat Dean akhirnya mengungkap trauma masalah lalunya. Pertemuannya dengan korban pemerkosaan di sebuah Kampung Orang menjadi titik awal bagi Dean mengulik pikiran seorang pembunuh.
Cerita ini akan membawamu ikut berpetualang dalam misteri dan aksi yang menakjubkan. Kamu akan terbawa oleh pikiran terkelam seorang pembunuh hingga tidak menyadari jika mereka ada di dekatmu. Jangan pernah lengah untuk selalu berhati-hati karena bisa jadi kamu ada dalam pikiran seorang pembunuh.
Pembunuh yang haus akan keinginan membunuhnya.
#Novel ini sarat dengan adegan horor, aksi dan misteri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Berjalan Maju
Seperti musim yang silih berganti, seperti bunga yang layu dan berkembang lagi, seperti air yang surut dan pasang, seperti dedaunan yang kering dan kembali rindang, seperti awan yang bergumpal mendung dan kembali terang, seperti kehidupan ada kematian dan kelahiran. Seperti hidupku yang lalu biarlah tenggelam hingga masanya, kini berganti dengan diriku yang baru. Meninggalkan kenangan masa lalu untuk dijadikan pelajaran dan menjadi semangat untuk masa depan yang cemerlang. Aku hanya ingin memulainya dari awal.
Selama ini aku tidak pernah merasa punya hak untuk menjalani hidup seperti yang kuinginkan. Tidak punya keberanian untuk mengatakan apa mauku. Meskipun keinginan terdalamku hanya satu yaitu inginkan kebahagian. Jauh dari ketakutan, mencoba segalanya, berjalan sejauh mataku memandang dan tidak takut meskipun sendirian.
Tidak lagi dikuatirkan oleh ketakutan, sesuatu yang mengikuti dan mengintai. Aku ingin hidup normal seperti lainnya. Tidak melulu membebani pikiran hal-hal yang belum terjadi. Jika begini nanti begitu, memikirkannya saja sudah membuat bahuku semakin berat dan lelah. Aku hanya akan mengosongkan pikiran dan bersikap spontan.
Mulai hari ini aku ingin menjalani hidupku tanpa ragu-ragu. Aku ingin merasakan siang sambil memakan eskrim atau hotdog, pergi ke taman dan membaca buku, berbelanja dipasar malam, ke supermarket atau hanya ke toko buku dan seharian membaca gratis disana. Aku tidak akan menyia-yiakan masa mudaku dengan pikiran-pikiran yang menakutkan. Lagipula semua hal yang mengerikan sudah berakhir. “Edgar si Pembunuh” sudah berhasil ditangkap dan akan
dipenjara untuk waktu yang lama.
Aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan paruh waktu diperusahaan itu. Ingin meneruskan kuliah, bergaul dan menikmati masa muda. Aku tidak ingin lagi seperti dulu hidup dalam sangkar, hidup dalam tempurung atau berada diketiak orang tua. Aku tidak mau julukan seperti itu hinggap didiri ini.
Ingin terbang setinggi yang kumampu, ingin pergi sejauh yang kumau. Jika aku bekerja bukan karena harus tapi karena menyukainya. Jika aku
menikah bukan karena tuntutan umur tapi karena sudah siap dan yakin dengannya.
Aku ingin memiliki tempat tinggal sendiri suatu hari nanti. Ingin menjadi seseorang yang kuinginkan. Bukan seseorang yang seharusnya apa kata orang. Hidup yang seperti apa yang berhak menentukan adalah diriku sendiri.
Sudah terlambat jika aku berandai-andai untuk mengulang waktu, itu tidak mungkin. Aku hanya harus berjalan maju dan tidak menoleh kebelakang. Semua harus kuterima dengan lapang dada meskipun itu harus diperjuangkan setiap detik dan menitnya.
Tidak mudah melupakan kejadian yang telah membuat trauma. Apalagi kejadian ini berbekas secara fisik dan kejiwaan, tetapi aku tidak akan bahagia jika tidak mengikhlaskan.
Lepaskanlah, biarkan waktu yang akan mengobatinya. Hiruplah udara yang sejuk ini selagi aku bisa menghirupnya, biarkan udara yang
masuk kedalam pikiran menyegarkan ingatanku. Biarkanlah tersapu semua keburukan menjadi debu. Terbawa angin dan menghilang.
Tidak akan kubiarkan semuanya berjalan semaunya takdir membawa. Itu semua omong kosong, aku tidak mau terlahir menderita, tidak ingin menjadi seseorang yang tidak bahagia. Bagaimana bisa aku berdiri diatas kedua kaki ini jika keinginan untuk meraih kebebasan tidak ada. Aku harus menetapkan pilihan untuk maju kedepan, karena menyerah bukan pilihan.
Aku bukan perempuan sempurna tetapi satu hal yang kutahu, aku bukan pengecut. ucapku dengan yakin.