Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sahabat yang Disalahpahami dan Tamu Tak Diundang di Rumah Besar
Hari‑hari terus bergulir damai di Desa Bukit Jernih. Dr. Rendra makin akrab dan leluasa datang ke rumah kayu Ayranza, sering membawa kebutuhan sederhana, membantu pekerjaan berat, atau sekadar duduk lama berbincang bersama Angga dan Arshen. Sikapnya yang lembut, perhatiannya yang tulus, dan kesediaannya ada di saat sulit membuat Ayranza sangat menghargai kehadirannya. Baginya, dokter muda itu tak beda jauh dengan Pak Surya atau Bu Marni: sosok penolong dan teman baik yang bisa diandalkan saat jauh dari keluarga.
Suatu sore yang cerah, saat Angga dan Arshen sedang bermain jauh di tepi ladang, Dr. Rendra duduk berhadapan dengan Ayranza di beranda depan. Alex tertidur pulas di ayunan gantung di antara mereka. Suasana hening dan hangat, hanya terdengar suara angin berdesir di dedaunan.
“Ayranza,” kata Rendra memulai dengan nada agak berubah, lebih berat dan bergetar dari biasanya. “Melihatmu makin kuat dan bahagia di sini, rasanya hati saya pun ikut lega sekaligus… penuh harapan.”
Ayranza tersenyum ramah sambil merapikan selimut bayi.
“Terima kasih banyak, Dokter. Kalau tak ada bantuanmu dan warga desa, kami pasti takkan semudah ini menjalani hari‑hari berat. Dokter benar‑benar sahabat terbaik kami.”
Saat kata “sahabat” itu meluncur begitu saja dari mulutnya, Dr. Rendra menahan napas sebentar. Di hatinya, ia sudah lama menafsirkan perlakuan ramah, percakapan panjang, dan keterbukaan Ayranza sebagai tanda rasa yang lebih dari sekadar persahabatan. Ia mengira nama Alex yang diambil dari suaminya dulu hanyalah sisa kenangan yang perlahan akan pudar diganti kebersamaan baru.
“Sahabat…” ulangnya pelan, lalu memberanikan diri menatap lurus ke manik mata wanita itu. “Ayranza, saya kira kau pun mulai merasakan hal yang sama seperti saya. Bahwa kebersamaan ini perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.”
Ayranza tertegun sesaat, sedikit terkejut namun tetap tenang. Ia segera mengerti. Rendra salah menangkap maksud sikapnya. Dengan lembut namun tegas ia menjawab, tak ingin memberi harapan palsu sedikit pun.
“Dokter Rendra… sungguh saya sangat menghargai segala kebaikanmu. Tapi percayalah, sampai detik ini saya hanya menganggapmu teman baik dan penolong yang sangat berharga. Tak ada rasa lain di hati saya. Saya masih istri orang, meski sedang berjauhan dan terluka. Dan nama anak kami, Alex, adalah bukti bahwa separuh jiwa saya masih terikat pada masa lalu itu.”
Wajah Dr. Rendra perlahan berubah, sempat tampak kecewa mendalam dan sedikit malu karena salah paham begitu besar. Namun ia pun sadar wanita itu bicara jujur dan tak bermaksud menyakiti. Ia mengangguk pelan berusaha menerima kenyataan.
“Maafkan saya, Ayranza. Saya terlalu berharap dan membaca tanda sesuka hati sendiri. Terima kasih sudah bicara terus terang begini. Mulai sekarang saya akan menjaga sikap dan jarak sebagaimana sahabat sejati seharusnya.”
Meski begitu, rasa kecewa itu tetap membekas. Saat Angga dan Arshen pulang sore itu, mereka melihat Dr. Rendra berjalan pulang dengan langkah lebih lambat dan diam, sementara Ayranza duduk diam merenung seolah ada beban baru yang muncul di hatinya.
Di sisi lain kota, Cindy makin tak kenal lelah mendekati Axel. Karena usahanya yang terus‑menerus ditolak, ia bertekad mengambil jalan lain. Ia mendatangi langsung kediaman besar keluarga Alexander, berniat meluluhkan hati orang tua Axel terlebih dahulu agar mereka mendukung keinginannya menjadi pendamping Axel.
Pagi itu Cindy datang berpakaian sangat rapi dan mahal, membawa bingkisan mewah berisi buah‑buahan langka dan kue istimewa. Ia menyapa pengawal di gerbang dengan senyum manis dan percaya diri, menyebutkan tujuannya ingin bertemu Daddy Xavier dan Mommy Xena untuk urusan penting menyangkut masa depan Axel.
Di ruang tamu utama yang luas dan megah, Cindy duduk tenang berhadapan dengan kedua orang tua itu. Mommy Xena diam mengamati, sementara Daddy Xavier bersikap sopan namun dingin dan penuh selidik.
“Terima kasih sudah mau menerima saya,” kata Cindy membuka percakapan dengan nada halus. “Saya Cindy, teman dekat Axel belakangan ini. Saya tahu keadaan keluarga Bapak dan Ibu sedang tak sepenuhnya bahagia karena kepergian istri Axel.”
Mommy Xena sedikit menegakkan badan, menatap tajam.
“Memang benar ada masalah keluarga. Tapi apa kepentingan Nona Cindy datang ke sini?”
Cindy tersenyum makin manis, melangkah maju sedikit dalam pembicaraan.
“Saya datang karena sangat mengkhawatirkan kondisi Axel. Beliau tampak sangat kesepian, tertekan, dan sering melamun. Saya yakin kepergian istrinya itu takkan mudah berubah, bisa jadi wanita itu sudah tak mau kembali lagi. Kalau dibiarkan sendiri terus, saya takut kesehatan maupun semangat hidupnya makin menurun.”
Ia berhenti sejenak seolah memberi waktu kata‑katanya meresap, lalu melanjutkan dengan nada penuh bujukan.
“Oleh karena itu saya berniat tulus mendampingi Axel, menjadi pacarnya yang setia dan setara. Saya tahu cara bergaul di kalangan atas, bisa membantu mengembalikan semangatnya, menjaga nama baik perusahaan, dan membuatnya kembali bahagia seperti dulu. Saya berharap Bapak dan Ibu tak keberatan mendukung niat baik saya ini.”
Daddy Xavier diam cukup lama, wajahnya tak mengubah ekspresi sedikit pun. Ia baru bicara setelah Cindy selesai berusaha menjelaskan segala kelebihan dan kesanggupannya.
“Nona Cindy,” ucapnya rendah namun tegas. “Kami berterima kasih atas perhatian yang kau berikan pada anak kami. Namun ketahuilah satu hal. Sampai sekarang Axel masih berstatus suami sah Ayranza, cucu kami baru saja lahir entah di mana, dan kami masih berupaya keras menyatukan kembali keluarga ini. Tak ada tempat bagi pendamping baru selagi ikatan itu belum benar‑benar berakhir.”
Mommy Xena ikut menimpali dengan nada lembut namun tak kalah tegas.
“Niatmu boleh saja baik, Nak. Tapi Axel sendiri sudah berulang kali menolak kehadiranmu. Sebaiknya kau tak usah memaksakan diri lebih jauh lagi, apalagi sampai datang ke sini mendesak kami mendukung rencaramu. Itu hanya akan menambah beban pikiran kami sekeluarga.”
Wajah Cindy perlahan berubah kecewa dan sedikit kesal karena usahanya yang direncanakan matang‑matang tak berjalan seperti harapan. Namun ia tak langsung mundur sepenuhnya.
“Bapak dan Ibu pasti berpikir begitu sekarang,” katanya masih berusaha bertahan. “Tapi lihat saja nanti waktu berjalan. Kalau Ayranza tak kunjung pulang dan Axel makin rapuh, nanti pasti Bapak‑Ibu akan sadar saya satu‑satunya yang paling pantas ada di sisinya.”
Setelah berpamitan dan berjalan keluar gerbang besar itu, Cindy tak menyembunyikan kekesalannya. Namun di balik itu, tekadnya makin menguat, ia takkan berhenti sebelum Axel benar‑benar menjadi miliknya, entah lewat bujukan halus, dukungan orang lain, maupun memanfaatkan situasi makin sulit.
Di dalam rumah besar itu, setelah tamu tak diundang itu pergi, Daddy Xavier dan Mommy Xena saling pandang penuh kekhawatiran baru. Masalah pencarian yang belum selesai kini bertambah keruh dengan kehadiran wanita yang makin gencar mendekat. Mereka sadar benar: kalau Axel tak segera menemukan Ayranza dan membawa pulang keluarganya, godaan serta tekanan luar seperti ini makin lama makin berat dan berbahaya bagi keutuhan rumah tangga anaknya.
Sementara itu, di kejauhan desa yang damai, kesalahpahaman yang selesai dengan Dr. Rendra justru memberi kelegaan sekaligus pengingat bagi Ayranza. Meski ada tangan‑tangan penolong yang tulus, hatinya tetap tertambat pada sosok suaminya yang jauh, dan tak ada tempat lain bagi rasa cintanya selain menunggu sampai semuanya benar‑benar jelas.