NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

celah di balik es

Pukul 13.45, sedan hitam berhenti tepat di depan gedung fakultas. Jadwal kuliahku yang tadinya jam 9 pagi sekarang digeser ke jam 2 siang. Kelonggaran kecil dari Axel, tapi justru itu yang bikin dadaku sesak.

Aku melangkah masuk kelas evaluasi dengan map biru tua di tangan. Di dalamnya laporan ketujuh belas yang kutik semalaman, tinta mesin ketiknya masih meninggalkan jejak di ujung jariku. Dosen memujinya “sistematis dan tajam”. Aku cuma mengangguk. Kepalaku masih di mansion batu hitam.

Di koridor, pengawal berjas kasual itu masih ada. Jaraknya selalu sama: lima langkah di belakangku. Ga mengintimidasi secara langsung, tapi cukup buat bikin semua mahasiswa yang biasanya nyapa jadi pura-pura sibuk dengan ponselnya. Axel emang jago ngurung orang tanpa kunci.

Pukul 5 sore, aku kembali ke mansion. Ruang tengah sudah berubah. Meja kaca kemarin diganti dengan meja kayu panjang. Di atasnya: setumpuk foto hitam putih. Foto-foto human interest yang dulu jadi hobiku sebelum kontrak ini dimulai.

Aku menegang. Itu foto-foto hasil buruanku sendiri. Axel ngumpulin.

“Tugasmu malam ini,” suara baritonnya terdengar dari arah tangga. Axel turun dengan langkah pelan, masih pakai kemeja hitam lengan digulung. Tato ular di lehernya samar-samar keliatan di bawah kerah yang kebuka satu kancing. “Kau bilang suka memburu cerita manusia. Buktikan.”

Aku menatap foto-foto itu. Ada anak jalanan, nenek pemulung, pedagang kaki lima yang ketawa sambil menutup dagangannya saat hujan. Dulu aku motret mereka karena kagum sama ketegarannya.

“Sekarang pilih satu,” Axel duduk di sofa, menyilangkan kaki panjangnya. “Analisis. Bukan secara jurnalistik. Secara psikologis. Apa yang membuat mereka bertahan, padahal dunia memperlakukan mereka seperti sampah?”

Pertanyaan itu ngena. Karena itu juga yang jadi pertanyaanku tiap malam di kamar kenapa aku masih bertahan di sangkar ini?

Tanganku meraih satu foto seorang anak kecil memeluk kardus bekas, tiduran di bawah kolong jembatan. Matanya kosong, tapi bibirnya tersenyum ke arah kamera.

“Dia bertahan karena dia belum tau rasanya kehilangan harapan,” jawabku pelan, tanpa menoleh ke Axel. “Kalau udah tau, senyumnya pasti hilang.”

Keheningan. Hanya suara jam dinding yang berdetak.

“Berarti kau masih punya harapan, Aira,” Axel tiba-tiba bicara, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Makanya kau belum hancur sepenuhnya.”

Aku refleks mendongak. Mata hitamnya menatapku. Bukan tatapan naga yang mengukur aset. Kali ini... kosong, tapi lelah. Seperti orang yang udah terlalu lama hidup di tengah dendam.

Jantungku berdegup aneh. Aku buru-buru menunduk lagi, pura-pura fokus ke foto.

Axel berdiri, berjalan mendekati meja. Dia berhenti tepat di belakang kursiku. Jaraknya dekat, tapi dia ga nyentuh. Hanya bayangan tubuhnya yang menjulang menutupi cahaya lampu.

“Kau boleh simpan satu foto itu,” ucapnya datar. “Anggap hadiah karena laporan ketujuh belasmu lulus.”

Aku menggenggam foto anak kecil itu lebih erat. “Terima kasih, Tuan Axel.”

Dia ga jawab. Langkahnya menjauh, naik ke lantai dua. Sebelum pintu ruang kerja tertutup, aku sempat dengar bisikannya, nyaris kayak gumaman:

“Jangan biarkan senyum itu hilang. Setidaknya... belum.”

Pintu tertutup. Tinggal aku, foto kardus bekas, dan tanya yang makin nyangkut di kepala

Kalau Axel benci ku sampai mau bikin aku hancur... kenapa dia minta senyumku tetap ada?

Malam itu aku tidur di kasur untuk pertama kalinya sejak hukuman mesin ketik. Tapi sebelum merem, aku selipin foto itu di bawah bantal.

Di luar, hujan turun lagi. Mengaburkan batas antara penjara dan perlindungan, Suaranya menabrak kaca jendela kamar seperti ribuan jari yang mengetuk minta masuk. Aku menarik selimut beludru sampai dagu, tapi dinginnya bukan dari cuaca. Dinginnya dari dalam kepala.

Foto anak kecil dengan kardus bekas itu kulihat lagi di bawah cahaya lampu meja. Senyumnya tipis, hampir pudar. Tapi ada aku menekan ujung foto itu ke dada. Kalau anak itu bisa bertahan di kolong jembatan, masa aku ga bisa bertahan di mansion yang semua fasilitasnya lengkap?

“Berbeda, Ai,” bisikku ke diri sendiri. “Dia berjuang buat hidup. Kau berjuang buat ga kehilangan dirimu sendiri.”

Klek.

Suara kunci pintu yang diputar dari luar bikin aku refleks duduk tegak. Jantungku langsung berpacu jam dinding menunjukkan pukul 23.17 Terlalu larut untuk Pak Bara antar susu hangat.

Pintu terbuka perlahan bayangan tinggi Axel muncul di ambang, tertutup siluet dari koridor yang cuma diterangi lampu temaram. Dia ga pakai jas malam ini. Hanya kaus hitam polos dan celana bahan yang ujungnya basah kena hujan. Rambutnya berantakan, setetes air menetes dari pelipis ke rahang tegasnya.

Aku langsung merapatkan selimut, insting bertahan hidup menyala. “Tuan Axel?” suaraku keluar serak.

Dia ga jawab. Dia langsung masuk, menutup pintu pelan, lalu berhenti dua meter dari tepi ranjang. Jarak aman Tapi di mansion ini, dua meter rasanya kayak dua sentimeter.

Axel menatapku lama. Tatapannya turun ke tanganku yang masih menggenggam foto itu Alisnya sedikit berkerut, tapi cepat dia netralin lagi jadi datar.

“Kau belum tidur,” katanya. Bukan pertanyaan. tapi pernyataan.

“Belum, Tuan. Hujan terlalu berisik,” jawabku hati-hati, milih kata yang netral.

Axel melangkah maju satu langkah. Lalu berhenti. Kepalan tangannya mengepal di sisi tubuh, lalu dilepas. Gerakan kecil yang ga dia sadari, tapi aku liat. Itu pertama kalinya aku lihat naga ragu di ambang pintu kamar tawanan.

“Aku mimpi buruk,” ucapnya tiba-tiba datat. Tanpa emosi seolah ngelaporin data cuaca.

Aku terdiam. Otakku muter cepat Axel Reynard? Mimpi buruk? Pria yang bahkan ketawa sinis aja langka?

“Maaf, Tuan... saya tidak mengerti,” ujarku pelan.

Dia menghela napas, pendek dan kasar. “Tidak penting. Aku cuma memastikan kau masih bernapas di kamar ini. Pak Bara bilang kau pilih duduk di lantai dekat jendela semalam. Kebiasaan bodoh.”

“Oh.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Karena apa lagi yang bisa kukatakan ke orang yang nyuruhku ngetik 17 laporan semalaman, lalu muncul tengah malam cuma buat cek napasku?

Axel menatap jendela. Tetes hujan bikin pantulannya jadi kabur. “Ayahku juga suka duduk di lantai dekat jendela. Setiap kali habis disiksa utang dan pengkhianatan. Katanya... lantai dingin bikin kepala lebih jernih daripada kasur empuk.”

Kalimat itu meluncur begitu aja tanpa konteks. Tanpa Tuan Muda atau aset. Cuma ayahku.

Dadaku sesak Ini pertama kalinya dia ngomong soal keluarganya tanpa nada benci. Tanpa perintah Cuma... kenangan.

Aku memberanikan diri, suara hampir ga kedengeran. “Lalu... kenapa Tuan sekarang berdiri di sini, bukan duduk di lantai?”

Axel menoleh cepat. Mata hitamnya tajam, menembus pertahananku Satu detik. Dua detik Aku udah siap dia marah karena kelewat batas.

Tapi yang keluar cuma “Karena aku bukan dia, Aira.”

Lalu dia berbalik, langkahnya cepat menuju pintu. Tangannya di gagang pintu, berhenti sepersekian detik.

“Foto itu. Simpan baik-baik jangan sampai basah kena hujan,” katanya tanpa menoleh. “Besok pagi Pak Bara akan ambil untuk di-frame. Kau boleh taruh di meja belajarmu.”

Pintu tertutup. Kembali sunyi.

Aku menatap foto di tangan. Tetes air dari ujung rambut Axel ternyata jatuh di sudut foto, bikin kertasnya sedikit mengeriting. Aku usap pelan pakai ujung selimut.

Dia nyuruh aku jangan sampai senyum itu hilang. Tapi dia sendiri yang datang tengah malam dengan mata lelah dan cerita tentang ayahnya yang hancur.

“Axel Reynard... kau nyiksa aku karena aku saksi di dermaga itu, kan? Tapi kenapa caramu jaga aku malah kayak orang takut kehilangan sesuatu?”

Aku merebahkan diri lagi, memeluk foto itu. Untuk pertama kalinya sejak masuk mansion, aku tidur bukan karena kelelahan dipaksa kerja. Tapi karena kepalaku penuh tanda tanya yang lebih menyiksa daripada mesin ketik.

Dan di lantai dua, di ruang kerja yang gelap, Axel menyandarkan dahinya ke pintu kayu yang baru saja dia tutup. Mengepalkan tangan. Mengutuk dirinya sendiri dalam hati karena sedetik tadi, dia hampir duduk di tepi ranjang itu.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!