Bau kemenyan menyengat hidung Raka jam 12 malam pas. Bukan dari kamar bapak nya yang udah kosong 40 hari. Dari punggung nya sendiri. Pekat, anyir, kayak kemenyan di campur darah basi.
"Arghh!" Raka jatuh dari kasur, sprei putih nya ketarik. Punggung nya serasa di sayat silet panas dari tulang ekor sampe tengkuk. Keringet dingin langsung mengucur segede jagung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvian Adi Pratamaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 PILIHAN TERAKHIR KALA RAJA
Cahaya pertama matahari menyambar wajah Raka dengan tajam. Sudah tiga bulan dia tidak merasakan cahaya matahari. Sejak dia turun ke Istana Bawah Tanah, dunianya hanya gelap, bau darah, dan suara kutukan yang tidak pernah berhenti berbisik. Sekarang cahaya itu terasa seperti ribuan jarum halus menusuk matanya yang sudah berubah menjadi emas gelap. Dia ingin memejamkan mata, tapi sesuatu di dalam dirinya memaksa dia untuk tetap menatap. Seperti ini adalah ujian terakhir.
Suara Kyai Wirajaya masih bergema di kepalanya, semakin pelan, semakin jauh, tapi kata-katanya tidak hilang. "Pilih, Raka. Jadi manusia atau mati sebagai iblis."
Mahkota Kala Raja di kepalanya retak. Retakan itu merambat cepat dari dahi ke pelipis, mengeluarkan asap hitam tipis yang berbau besi terbakar. Sembilan keris yang melayang di sekelilingnya bergetar hebat. Suara mereka seperti logam yang sedang menangis.
Dewi Kala Sundari berlari ke arahnya dengan wajah putus asa.
"Raka, jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin menipumu lagi. Bunuh dia. Bunuh semua orang di kota ini. Ambil kembali kerajaanmu." Suaranya penuh bujukan, tapi Raka tidak lagi mendengar. Matanya hanya terpaku pada cahaya matahari yang perlahan naik di atas bukit.
Di belakangnya, seribu arwah pengkhianat Majapahit berhenti bergerak. Mereka merasakan sesuatu yang aneh. Kekuatan yang selama ini mengikat mereka mulai melemah.
Di kejauhan, kota Solo yang hancur masih berasap. Tapi di tengah asap itu, orang-orang mulai keluar dari tempat persembunyian. Anak kecil, ibu-ibu, orang tua. Mereka tidak lari.
Mereka tidak berteriak. Mereka hanya menatap ke arah bukit tempat Raka berdiri. Seperti mereka tahu bahwa ini adalah akhir dari segalanya.
"Kau ingat ini, Raka?" Suara ayahnya tiba-tiba muncul di kepalanya. Bukan suara Kala Rahu yang selama ini mengganggunya. Ini suara almarhum ayahnya. Suara yang sudah tiga tahun tidak dia dengar. Sebuah memori muncul tiba-tiba tanpa bisa dia cegah. Raka kecil berumur delapan tahun jatuh dari pohon mangga di belakang rumah. Lututnya berdarah, bajunya kotor, dan dia menangis sejadi-jadinya. Ayahnya berlari menghampirinya. Tidak marah. Tidak membentak. Ayahnya hanya duduk di sampingnya, mengelap darah di lututnya dengan kain putih yang selalu dia bawa di saku.
"Sakit, Nak?" Ayahnya bertanya pelan sambil tersenyum.
"Sakit, Yah." Raka kecil mengangguk sambil mengusap air matanya.
"Nanti juga sembuh" kata ayahnya. "Yang penting, jangan pernah berhenti jadi manusia yang baik, ya? Sekuat apapun kau nanti, jangan pernah lupa rasanya sakit. Karena kalau kau lupa, kau akan jadi monster."
Memori itu menghilang secepat ia datang, tapi kata-kata terakhirnya tinggal dan menancap di kepala Raka seperti paku. Jangan pernah lupa rasanya sakit.
Raka menunduk. Tangannya gemetar. Gue ingat, Yah, bisiknya. Gue ingat rasanya sakit. Mahkota Kala Raja retak lebih dalam. Sebuah suara menggeram dari dalam kepalanya, suara yang penuh kemarahan dan ketakutan.
"Tidak. Jangan dengarkan dia, Raka. Aku adalah kekuatanmu. Tanpa aku, kau tidak ada apa-apanya" Itu suara Kala Rahu. Untuk pertama kalinya dalam dua ratus tahun, makhluk itu takut. Kau akan mati bersama manusia-manusia lemah itu. Kau akan kehilangan semuanya.
Raka mengangkat kepala. Matanya yang emas gelap menatap langsung ke arah matahari.
"Iya," jawabnya pelan. "Gue akan kehilangan semuanya" Dia mengangkat tangan kanannya.
Sembilan keris di sekelilingnya langsung berhenti berputar.
Tapi gue akan mendapatkan diri gue sendiri kembali. Hancurkan, Kala Rahu. Dia mencabut mahkota Kala Raja dari kepalanya dengan kedua tangan. Suara retakan keras terdengar.
Mahkota itu hancur berkeping-keping. Cahaya hitam menyembur keluar dari retakannya, mencoba masuk lagi ke tubuh Raka. Tapi cahaya matahari lebih cepat.
Cahaya putih dari doa tujuh wali yang ditinggalkan Kyai Wirajaya menyambar mahkota itu. Mahkota Kala Raja meleleh seperti lilin yang terbakar, berubah menjadi abu hitam yang beterbangan tertiup angin. Roarrr. Jeritan terakhir Kala Rahu mengguncang langit. Tubuhnya yang berupa bayangan hitam besar muncul di atas Raka. Tinggi lima puluh meter, dengan wajah tanpa mata dan mulut yang robek dari telinga ke telinga.
"Kau akan menyesal, Raka Wiraatmaja. Aku akan kembali. Aku akan menunggumu di neraka."
"Tidak perlu," bisik Raka. Dia mengangkat Keris Kala Naga yang tersisa. Keris terakhir yang masih utuh.
"Gue yang akan turun ke neraka untuk nemui lu." Tanpa ragu, Raka menusukkan keris itu ke dadanya sendiri.
"Jlebb." Darah menyembur deras. Tapi kali ini darahnya merah. Merah seperti darah manusia biasa. Cahaya hitam yang selama ini mengikat tubuhnya keluar semua sekaligus. Mengalir deras dari dadanya menuju tubuh Kala Rahu.
Kala Rahu berteriak kesakitan. Tubuhnya terbakar oleh cahaya putih murni. Dia mencoba lari, mencoba menghilang, tapi sudah terlambat.
"Buakkk". Ledakan cahaya putih menghapus Kala Rahu dari muka bumi. Tidak ada debu.
Tidak ada sisa. Hanya keheningan yang tiba-tiba turun di seluruh lembah. Seribu arwah di belakang Raka langsung berlutut. Kutukan yang mengikat mereka selama dua ratus tahun terputus dalam sekejap. Tubuh mereka perlahan menjadi transparan, lalu menghilang satu per satu. Pergi ke tempat yang seharusnya.
Dewi Kala Sundari menjerit histeris. "Kutukan. Kutukan ini tidak boleh berakhir."
Dia menyerbu ke arah Raka dengan kuku yang memanjang, ingin mencabik wajahnya. Tapi sebelum dia menyentuh Raka, tubuhnya hancur menjadi debu hitam. Dia adalah bagian dari kutukan. Ketika kutukan mati, dia ikut mati. Tidak ada pengecualian.
Raka jatuh berlutut. Kekuatan sudah habis. Tubuhnya dingin, basah oleh keringat dan darah.
Napasnya tersengal-sengal. Setiap tarikan napas terasa seperti ada pisau yang mengiris paru-parunya.
Di kejauhan, orang-orang mulai mendekat. Mereka takut, tapi rasa penasaran mengalahkan rasa takut itu.
Seorang anak kecil berumur enam tahun berlari mendahului orang tuanya. Dia berhenti tepat di depan Raka. Anak itu tidak menangis. Dia hanya menatap Raka dengan mata besar yang penuh rasa ingin tahu.
"Kak sakit?" tanyanya polos.
Raka tersenyum lemah. Ini adalah senyum pertama yang benar-benar keluar dari hatinya dalam tiga bulan terakhir. "Iya, Dek. Kakak sakit."
Anak itu mengulurkan tangan kecilnya. Dengan hati-hati, dia menyentuh pipi Raka yang berlumuran darah kering. "Biar aku tiup ya, biar sembuh."
Raka tertawa pelan. Suara tawanya pecah dan serak, tapi tulus. Air mata jatuh dari matanya. Air mata pertama sejak ayahnya mati.
"Makasih, Dek," bisiknya.
Dari kejauhan, Kyai Wirajaya muncul. Tubuhnya transparan, seperti asap yang hampir menghilang. Dia sudah mati, tapi jiwanya datang untuk melihat akhir dari semua ini.
"Bagus, Raka. Kau memilih jalan yang benar," katanya pelan.
Raka menoleh dengan susah payah. "Kakek. Istirahatlah sekarang, cucu Sangkala. Kutukan sudah berakhir. Majapahit sudah bebas. Tapi gue capek, Kek," bisik Raka. Matanya mulai berat.
"Tidurlah, Raka. Kau sudah menang."
Raka menutup mata. Tubuhnya limbung ke depan. Anak kecil itu langsung memeluknya, mencegah dia jatuh ke tanah.
"Kak. Kak bangun."
Raka tidak menjawab. Dia pingsan. Tapi dadanya masih naik turun pelan. Dia hidup. Dia tidak mati. Di atas langit, awan hitam terakhir menghilang terbawa angin pagi. Kutukan dua ratus tahun yang mengikat darah Sangkala akhirnya putus. Tapi perjalanan Raka belum selesai. Masih ada luka yang harus dia sembuhkan. Masih ada hidup yang harus dia jalani sebagai manusia biasa.
Di kejauhan, tanah di bawah kota Solo bergetar pelan. Sangat pelan, hampir tidak terasa. Tapi bagi Raka yang masih setengah sadar, getaran itu terdengar seperti bisikan.
"Kala Raja, kau belum selesai." Raka tidak mendengar dengan jelas. Kesadarannya sudah terlalu jauh. Yang dia dengar hanya suara anak kecil yang terus memanggil namanya. "Kak. Kak bangun."
Matahari sudah naik tinggi. Dan untuk pertama kalinya, cahaya itu tidak menyakitinya lagi.
[BERSAMBUNG KE BAB 32: KEBANGKITAN SANG PENJAGA TUA]